NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Bambang — Mantan Polisi, Pensiunan Guru, dan Satu-satunya Harapan

Hari Kamis, pukul 13.30. Usai jam pelajaran.

Pak Bambang ada di ruang BK, seperti biasa. Tapi kali ini, aku tidak dipanggil—aku yang mendatangi.

"Pak Bambang, saya mau bicara."

Pak Bambang menoleh. Wajahnya berubah begitu melihatku—seperti dia sudah tahu apa yang akan kukatakan.

"Mau bicara tentang apa, Nayla?"

"Tentang ayah kandung saya."

Pak Bambang terdiam. Lalu dia berdiri, menutup pintu ruangannya, dan menarik tirai jendela.

"Duduk."

Aku duduk. Rasya duduk di sampingku.

"Siapa bilang?" tanya Pak Bambang.

"Kayla. Siswa baru."

"Kayla Maharani?"

"Iya. Dia adik Rio."

Pak Bambang menghela napas panjang. Dia meraih sebuah foto dari laci mejanya—foto lama, berwarna agak luntur. Di foto itu, dua orang polisi muda berdiri berdampingan, tersenyum lebar.

"Yang kiri," kata Pak Bambang, menunjuk, "adalah aku. Yang kanan... adalah Komisaris Aditya Pratama. Ayah kandungmu."

Aku menatap foto itu. Wajah pria itu—wajah ayah kandungku—ternyata sangat mirip denganku. Mata yang sama, bentuk wajah yang sama.

"Dia... tampan," kataku bodoh.

Pak Bambang tersenyum pahit. "Dia orang baik. Terlalu baik untuk dunia ini."

"Pak Bambang tahu siapa yang membunuhnya?"

"Jenderal Purnomo."

"Kenapa tidak ada yang menangkap dia?"

"Karena Jenderal Purnomo punya kekuatan. Duit. Jaringan. Semua orang takut padanya." Pak Bambang mengepalkan tangan. "Termasuk aku."

"Tapi sekarang..."

"Sekarang, dia sudah pensiun. Tapi kekuatannya masih ada. Anak buahnya masih tersebar di mana-mana."

"Tapi kita punya bukti," kataku. "Kayla punya bukti."

Pak Bambang mengerjap. "Apa?"

"USB berisi semua kejahatan Jenderal Purnomo. Kayla memberikannya—sebagai ganti kebebasannya."

"Kayla mau jadi saksi?"

"Kayla mau bebas dari bayang-bayang Jenderal. Dia capek."

Pak Bambang diam. Matanya bergerak cepat—seperti sedang menghitung risiko.

"Ini gila," katanya akhirnya.

"Aku tahu."

"Ini bisa membuat kita semua mati."

"Aku tahu."

"Kamu masih mau lanjut?"

Aku menatap Rasya. Rasya mengangguk.

"Aku mau," jawabku. "Untuk ayah kandungku. Untuk Rasya. Untuk semua orang yang jadi korban Jenderal Purnomo."

Pak Bambang menatapku lama.

Lalu dia berdiri.

"Aku akan hubungi teman-teman lamaku. Mereka yang masih setia pada almarhum ayahmu." Dia meraih handphonenya. "Tapi aku tidak bisa janji apa-apa."

"Aku hanya butuh Bapak mencoba, Pak."

Pak Bambang tersenyum—senyum pertama yang aku lihat dari wajahnya yang biasanya galak.

"Kamu mirip banget sama ayahmu, Nayla."

"Apa?"

"Keras kepala."

---

Tiga hari kemudian.

Pak Bambang berhasil mengumpulkan lima orang mantan polisi yang dulu bertugas bersama ayahku. Mereka semua setuju membantu—dengan satu syarat: identitas mereka harus dirahasiakan, bahkan dari kami.

"Untuk keamanan," kata Pak Bambang. "Kami tidak tahu siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak."

Aku mengerti.

Pertemuan pertama diadakan di rumah Pak Bambang, malam Jumat. Aku, Rasya, Sasha, dan Kayla hadir. Kayla membawa USB itu—bukti kejahatan Jenderal Purnomo.

Pak Bambang mencolokkan USB ke laptop.

File-file terbuka.

Foto-foto. Rekaman video. Transaksi bank. Nama-nama polisi dan politisi yang terlibat.

"Astaga," bisik Sasha, matanya membelalak. "Ini sebesar ini?"

"Jenderal Purnomo sudah puluhan tahun berkuasa," ucap Kayla. "Dia punya tangan di mana-mana. Di kepolisian, di pemerintahan, di pengadilan."

"Kenapa Rio bisa menjadi anak buahnya?"

"Karena ayahku—ayah Rio dan aku—adalah orang kepercayaan Jenderal. Ayahku yang menjalankan operasi kotor di lapangan. Tapi ayahku meninggal tahun lalu. Rio menggantikannya."

"Dan kamu?"

"Aku... dibiarkan." Kayla menunduk. "Jenderal tidak menganggapku penting karena aku perempuan. Dia pikir aku tidak akan berbuat apa-apa."

"Tapi dia salah," kataku.

Kayla mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.

"Iya. Dia salah."

"Kita harus membawa bukti ini ke media," usul Pak Bambang. "Ke komisi pemberantasan korupsi. Ke lembaga independen."

"Tapi mereka bisa disuap," kata Rasya.

"Maka kita ke semua sekaligus. Media, KPK, lembaga swadaya masyarakat. Kita membuatnya publik—sehingga tidak ada yang bisa menutup-nutupi."

"Risikonya besar," ucap salah satu mantan polisi—yang kami panggil 'Om Anton'. "Jenderal Purnomo tidak akan tinggal diam."

"Maka kita harus lebih cepat dari dia."

Pertemuan itu berlangsung hingga larut malam. Saat selesai, kami semua kelelahan, tapi juga bersemangat.

Untuk pertama kalinya, ada harapan.

 

Minggu Pagi — Kejutan

Aku baru saja selesai sarapan ketika handphoneku berdering.

Sasha (09.15): "Nay, CEPET BUKA TV!"

Aku buru-buru menyalakan TV.

Di layar, seorang presenter berita sedang berbicara dengan serius:

"Polda Metro Jaya mengumumkan telah menangkap Jenderal (Purn) Purnomo terkait kasus korupsi dan pencucian uang yang melibatkan puluhan polisi dan politisi. Penangkapan ini dilakukan setelah adanya bukti-bukti kuat yang diserahkan oleh sebuah kelompok masyarakat peduli hukum..."

Aku menjatuhkan remote.

Itu cepat. Sangat cepat.

Rasya (09.18): "Kamu lihat berita?"

Nayla (09.18): "IYA. KOK CEPET BANGET?"

Rasya (09.19): "Pak Bambang dan teman-temannya ternyata sudah menyusun rencana dari jauh-jauh hari. Mereka cuma nunggu bukti."

Nayla (09.19): "Jadi... Jenderal Purnomo sudah ditangkap?"

Rasya (09.20): "Sudah. Tadi malam. Saat kita tidur."

Aku tidak tahu harus merasakan apa. Lega? Tidak yakin. Takut? Sedikit.

Tapi satu hal yang aku tahu: perjuangan ini belum selesai.

Karena selama Jenderal Purnomo punya anak buah di mana-mana, selama itu pula kami tidak akan aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!