Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Rumah besar milik keluarga Maheswari selalu terasa sepi, tapi entah kenapa malam ini terasa… menekan. Lampu-lampu menyala terang, namun tidak memberikan kehangatan sedikit pun.
Alya baru saja sampai di rumah. Tasnya masih ia genggam ketika langkahnya terhenti di ruang tengah.
“Alya.”
Suara itu langsung membuat tubuhnya menegang.
Ia menoleh perlahan,di sana ada Mahendra Maheswari, ayahnya yang sudah berdiri.
Seperti biasa rapi, tegap, dan penuh wibawa. Tapi juga dingin.
“Iya, Yah?” jawab Alya pelan.
“Masuk ke ruang kerja. Sekarang.”
Tidak ada pilihan dalam nada itu hanyalah perintah.
Alya mengangguk kecil. Jantungnya mulai berdetak tidak nyaman.Ia berjalan mengikuti ayahnya. Setiap langkah terasa berat. Seolah ia tahu sesuatu yang besar akan terjadi.
Ruang kerja itu selalu terasa menekan bagi Alya. Dindingnya dipenuhi rak buku dan dokumen. Meja besar berdiri di tengah, seperti pembatas yang tidak terlihat antara ayah dan anak.
Mahendra duduk lebih dulu.
Alya berdiri sebentar, lalu duduk perlahan di hadapannya.
Sunyi.
Beberapa detik, Mahendra menatapnya dalam.
“Alya, kamu sudah semester empat.”
“Iya, Yah.”
“Sudah cukup dewasa untuk mengerti tanggung jawab.”
Nada itu mulai terasa tidak biasa.
Alya menelan pelan.
“Ayah mau bicara tentang masa depan kamu.”
Kalimat itu membuat perasaan Alya semakin tidak enak.
“Masa depan…?” ulangnya pelan.
Mahendra mengangguk.
“Ayah sudah memikirkan semuanya.”
Alya diam.
Ia tahu Kalau ayahnya sudah berkata seperti itu berarti tidak ada ruang untuk pendapat lain.
“Ayah sudah menjodohkan kamu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja
Tanpa peringatan
Tanpa jeda.
Alya membeku.
Matanya sedikit membesar.
Seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar.
“…apa?”
Suaranya sangat pelan,hampir seperti bisikan.
“Ayah sudah menjodohkan kamu,” ulang Mahendra dengan tenang.
Seolah itu hal biasa.
Seolah itu bukan sesuatu yang bisa menghancurkan dunia seseorang.
Alya menatap ayahnya. Berharap melihat tanda bahwa ini hanya bercanda,tapi tidak ada,tidak pernah ada candaan dalam diri Mahendra.
“Dengan… siapa?” akhirnya ia bertanya.
Mahendra menyandarkan tubuhnya.
“Pria yang tepat.”
“Siapa, Yah?” suara Alya mulai bergetar.
“Kamu akan tahu nanti.”
Jawaban itu justru membuat Alya semakin gelisah.
“Kenapa aku gak dikasih tahu sekarang?”
“Karena tidak perlu.”
Alya mengepalkan tangannya.
Dada terasa sesak.
“Ayah…” ia mencoba menahan suaranya agar tetap stabil, “aku masih kuliah.”
“Tidak masalah.”
“Aku belum siap menikah.”
“Kamu akan siap.”
Jawaban itu cepat dan Tegas.
Seolah semua sudah diputuskan tanpa ruang untuk diskusi.
Alya mulai merasakan sesuatu yang jarang ia tunjukkan penolakan.
“Tapi ini hidup aku, Yah.”
Kalimat itu keluar.
Pelan tapi jelas.
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Mahendra menatapnya tajam.
“Dan Ayah yang membesarkan kamu.”
Alya terdiam.
Kalimat itu selalu menjadi akhir dari setiap perdebatan.
“Tugas kamu adalah mengikuti keputusan keluarga.”
“Itu bukan tugas…” bisik Alya, “itu memaksa.”
Mahendra langsung berdiri.
“Alya.”
Suaranya lebih rendah,lebih berat.
“Jangan membantah.”
Alya menunduk.
Tangannya bergetar.
Air mata mulai menggenang, tapi ia tahan.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
Tidak di depan ayahnya.
“Pernikahan ini akan tetap terjadi,” lanjut Mahendra.
“Cepat atau lambat.”
Alya menggigit bibirnya.
Dadanya terasa penuh.
“Kalau aku gak mau?”
Sunyi.
Pertanyaan itu menggantung.
Mahendra menatapnya lama.
Sangat lama.
Lalu berkata pelan
“Kamu akan mau.”
Jawaban itu menghancurkan segalanya. Bukan karena keras,tapi karena pasti. Seolah apa pun yang Alya rasakan tidak akan mengubah apa-apa.
“Sekarang kamu boleh keluar,” kata Mahendra.
Pembicaraan selesai.
Sepihak.
Seperti biasa.
Alya berdiri perlahan.
Kakinya terasa lemas.
Ia keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa lagi. Begitu pintu tertutup air mata langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
Sesaat kemudian....
Alya berjalan cepat menuju kamarnya. Tangannya gemetar saat menutup pintu.
Begitu terkunci, ia bersandar di balik pintu.
Lalu…
perlahan turun ke lantai. Air matanya jatuh tanpa suara.
Dadanya terasa sesak,seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Kenapa…” bisiknya pelan.
Ia tidak tahu harus marah ke siapa.
Ke ayahnya?
Ke keadaan?
Atau… ke dirinya sendiri yang tidak pernah cukup berani melawan?
Beberapa menit berlalu.
Tangisnya mulai mereda,tapi perasaan itu tetap ada.
Kosong.
Sesak.
Dan tidak berdaya.
tiba-tiba
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari raka
“Lo udah di rumah?”
Alya menatap layar lama.
Lalu mengetik
“Udah.”
Balasan datang cepat.
"Kenapa sih dari tadi gue ngerasa lo aneh?”
Alya terdiam.
Jari-jarinya menggantung di atas layar.
Ia ingin cerita.
Tapi…
ia tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya ia mengetik
“Ra… kalau hidup lo ditentuin orang lain, lo bakal gimana?”
Beberapa detik.
Lalu balasan muncul.
“Tergantung. Itu buat kebaikan gue atau bukan.”
Alya menarik napas.
" Kalau bukan?”
Balasan Raka kali ini lebih cepat.
“Gue lawan.”
Alya tersenyum pahit.
Sederhana.
Tapi sulit.
Di sisi lain kota…
Seorang pria berdiri di balkon apartemennya.
Lampu kota berkilau di bawah sana,tapi matanya tidak benar-benar melihat itu.
"Arka Wijaya"
Tangannya memegang ponsel. Pesan dari Mahendra masih terbuka.
“Saya harap kamu tidak berubah pikiran.”
Arka membaca lagi,lalu menghela napas pelan.
Ia bukan tipe pria yang ragu.
Tapi…
ini bukan keputusan biasa.
Matanya menatap jauh,seolah melihat sesuatu di masa lalu.
Sesaat.
Hanya sesaat.
Ekspresinya berubah,lebih dalam, lebih berat, namun dengan cepat kembali seperti semula, Dingin dan Terkontrol.
Ia mengetik balasan singkat
"Tidak.”
Hanya satu kata tapi cukup. Keputusan sudah dibuat. Dan ia tidak berniat mundur.
maaf lancang🙏🙏🙏