NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Sang Monster Terbangun

Pagi hari di Jakarta biasanya disambut dengan kemacetan yang bising dan hiruk-pikuk aktivitas manusia.

Namun, di dalam lantai teratas gedung Arlan Group, suasana terasa sepi seperti di dalam kuburan.

Tidak ada yang berani berbicara, bahkan suara mesin fotokopi pun terdengar seperti ancaman.

Semua karyawan bekerja dengan bahu yang tegang, mata mereka terus melirik ke arah pintu kayu besar ruangan sang CEO yang tertutup rapat sejak fajar menyingsing.

​Di dalam ruangan itu, Arlan duduk di balik meja kerjanya.

Penampilannya sangat jauh dari kata rapi.

Kemejanya kusut, matanya merah karena tidak tidur setik pun, dan tangan kanannya dibalut perban putih yang kini mulai merembas noda darah kering—akibat pecahan bingkai foto semalam.

Di depannya, layar monitor menampilkan titik-titik koordinat dan daftar transaksi bank yang semuanya berwarna merah.

​"Belum ada tanda-tanda, Pak," ucap Maya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Ia berdiri di sudut ruangan, merasa seolah-olah sedang berdiri di depan seekor singa yang sedang terluka dan siap menerkam siapa saja.

"Semua rekening Ibu Kinara sudah diblokir. Beliau tidak melakukan penarikan tunai atau transaksi kartu kredit di mana pun sejak semalam."

​Arlan tidak menyahut.

Ia hanya menatap sebuah titik di dinding dengan pandangan kosong yang mengerikan.

"Dia tidak sebodoh itu, Maya. Dia tahu aku bisa melacak uangnya. Dia pasti menggunakan uang tunai yang sudah dia siapkan."

​Arlan berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota.

"Dia pikir dia bisa hidup tanpa aku. Dia pikir dunia di luar sana aman untuknya." Arlan tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa emosi.

"Cari tahu semua teman sekolahnya. Cari tahu siapa saja yang pernah dia hubungi di grup penulis itu. Jika perlu, beli semua informasi dari penyedia layanan telekomunikasi. Aku ingin tahu di mana dia bersembunyi dalam satu jam ke depan."

​"Tapi Pak, itu akan melanggar privasi banyak orang dan—"

​"PRIVASI?!" Arlan berbalik dengan cepat, membanting sebuah vas bunga kristal di samping mejanya hingga hancur berkeping-keping.

"Istriku hilang! Dia lari membawa hatiku dan kau bicara soal privasi?! Lakukan saja atau kau akan menyusul manajer pemasaran yang baru saja kupecat tadi pagi!"

​Maya menunduk dalam, tangannya gemetar saat mencatat perintah itu.

Ia menyadari bahwa Arlan yang manja dan haus kasih sayang telah lenyap sepenuhnya. Sosok yang ada di depannya sekarang adalah monster yang lahir dari rasa takut kehilangan yang amat sangat.

​Sementara itu, di sebuah apartemen kecil yang tersembunyi di gang sempit daerah pinggiran, Kinara baru saja tersadar dari pingsannya.

Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk sarafnya. Ia melihat sekeliling dengan bingung sampai matanya menangkap sosok Lala yang sedang duduk di samping tempat tidur dengan wajah cemas.

​"Lala..." bisik Kinara serak.

​"Minum dulu, Kin," Lala membantu Kinara duduk dan memberikan segelas air hangat.

"Kau demam tinggi semalam. Kau terus memanggil nama Arlan dalam tidurmu. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau sampai basah kuyup dan ketakutan seperti itu?"

​Air mata Kinara kembali jatuh saat ingatan tentang pengakuan Arlan terlintas kembali.

"Dia menghancurkan Ayah, La. Dia yang membuat perusahaan Ayah bangkrut. Dia yang membunuh Ayah secara perlahan dengan keserakahannya. Selama ini... aku hidup dengan monster yang menggunakan topeng suami manja."

​Lala menutup mulutnya, terkejut. "Ya Tuhan... Jadi itu alasan kau lari?"

​Kinara mengangguk lemah. "Aku tidak bisa tinggal di sana lagi. Setiap kali aku melihat wajahnya, aku hanya melihat wajah Ayah yang putus asa sebelum meninggal. Aku harus pergi, La. Jauh dari sini."

​"Tapi Kin, kau tahu siapa Arlan. Dia punya mata di mana-mana. Kau tidak bisa hanya bersembunyi di sini selamanya," ucap Lala khawatir.

​"Aku tahu. Itulah sebabnya aku tidak akan menggunakan ponselku. Aku akan mengganti identitasku jika perlu. Aku lebih baik hidup miskin daripada harus bernapas di udara yang sama dengan pembunuh itu."

​Kembali ke kantor Arlan, suasana semakin memanas.

Seorang pria dari tim intelijen swasta masuk dengan membawa sebuah map cokelat.

​"Kami menemukan sesuatu, Pak. Ada sebuah taksi yang menurunkan seorang wanita dengan ciri-ciri Ibu Kinara di dekat area apartemen tua di Jakarta Barat. Namun, area itu tidak memiliki banyak CCTV yang berfungsi," lapor pria itu.

​Mata Arlan berkilat. "Jakarta Barat... Itu area yang kumuh. Apa yang dia lakukan di sana?" Arlan terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu.

Sebuah nama yang pernah disebutkan Kinara dalam salah satu ceritanya tentang masa sekolah. "Lala. Dia punya teman bernama Lala yang tinggal di area itu."

​Arlan mengambil jasnya dengan kasar. "Siapkan mobil. Kita ke sana sekarang."

​"Pak, apakah tidak sebaiknya kita menunggu konfirmasi lebih lanjut? Jika kita salah langkah, Ibu Kinara mungkin akan semakin ketakutan," Maya mencoba memberikan saran logis.

​Arlan berhenti di depan pintu, menoleh ke arah Maya dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuat Maya membeku.

"Ketakutan? Bagus. Aku ingin dia takut. Aku ingin dia tahu bahwa tidak ada tempat di bumi ini yang bisa menyembunyikannya dariku. Jika dia ingin bermain petak umpet, maka aku adalah pemburu terbaik yang pernah dia kenal."

​Di apartemen Lala, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi mencekam saat suara deru mobil-mobil mewah terdengar berhenti di depan gang sempit itu. Kinara, yang sedang mencoba makan sedikit bubur, menjatuhkan sendoknya. Firasatnya memburuk.

​"Ada apa, Kin?" tanya Lala.

​Kinara berjalan menuju jendela dan melongok ke bawah.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat iring-iringan mobil hitam yang sangat ia kenal. Dari mobil paling depan, Arlan keluar.

Pria itu tidak lagi menggunakan payung meskipun gerimis masih turun.

Ia menatap ke arah bangunan apartemen dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding beton.

​"Dia di sini, La. Dia menemukanku," bisik Kinara dengan suara bergetar.

​"Apa?! Bagaimana mungkin secepat ini?" Lala panik.

​"Lala, dengarkan aku. Kau harus pergi lewat pintu belakang. Jangan sampai kau terlibat. Dia akan menghancurkanmu jika kau melindungiku,"

Kinara mendorong Lala menuju pintu darurat.

​"Tidak, Kin! Aku tidak akan meninggalkanmu!"

​"Pergilah! Ini urusanku dengannya!"

​Tepat saat itu, suara gedoran keras terdengar di pintu depan. Bukan gedoran lembut, melainkan hantaman yang seolah ingin merubuhkan pintu itu seketika.

​"KINARA! BUKA PINTUNYA!" suara Arlan menggelegar, mengguncang seluruh ruangan kecil itu.

"AKU TAHU KAU DI DALAM! JANGAN MEMBUATKU HARUS MENGHANCURKAN TEMPAT INI!"

​Kinara berdiri di tengah ruangan, air matanya mengalir namun kali ini matanya memancarkan keberanian yang lahir dari keputusasaan.

Ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

​Di sana stands Arlan.

Berantakan, basah kuyup, dengan wajah yang menyerupai iblis yang sedang murka. Namun, begitu melihat Kinara, amarah di wajahnya sesaat tergantikan oleh rasa lega yang aneh, sebelum kembali menjadi dingin.

​"Pulang," ucap Arlan singkat. Itu bukan ajakan, itu adalah perintah mutlak.

​"Tidak akan pernah," jawab Kinara tegas. "Lebih baik aku mati di sini daripada kembali ke rumah yang kau bangun dari darah ayahku."

​Arlan melangkah maju, menjepit tubuh Kinara di antara pintu dan tubuhnya yang dingin.

Ia mencengkeram rahang Kinara dengan lembut namun penuh tekanan.

"Kau pikir kau punya pilihan? Aku bisa membuat apartemen ini rata dengan tanah dalam hitungan menit. Aku bisa membuat temanmu itu mendekam di penjara atas tuduhan penculikan. Pilihannya ada di tanganmu, Sayang."

​Arlan mendekatkan wajahnya ke telinga Kinara, berbisik dengan nada yang sangat mengerikan,

"Kembalilah padaku, jadilah istriku yang manis, dan aku akan membiarkan dunia ini berputar seperti biasa. Tapi jika kau menolak... aku akan pastikan tidak akan ada orang yang berani memberikanmu sepotong roti pun di kota ini. Kau milikku, Kinara. Sampai mati pun, kau milikku."

​Kinara menatap mata Arlan dan menyadari satu hal pahit: pria manja yang ia cintai sudah terkubur dalam-dalam, digantikan oleh obsesi yang akan menghancurkan mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!