NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Efek Dominasi

​Lampu operasi yang tergantung di langit-langit klinik pribadi Geovani berpijar dengan cahaya putih yang menyakitkan mata. Aroma disinfektan yang tajam merasuki rongga hidung Briella, beradu dengan bau anyir darah yang masih menempel di pori-pori kulitnya. Di atas meja bedah berbahan baja tahan karat yang dingin, tubuh Briella yang rapuh terbaring tak berdaya. Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang melayang di antara alam sadar dan kematian, ditarik kembali oleh tangan-tangan yang sangat terampil namun tidak memiliki belas kasihan.

​Geovani bergerak dengan presisi yang menakutkan. Ia sudah menanggalkan mantel panjangnya dan kini hanya mengenakan kemeja slim-fit yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot-otot lengan yang kokoh. Sepasang sarung tangan lateks membungkus jemarinya yang panjang saat ia mulai menyuntikkan cairan bening ke dalam selang infus yang tertancap di pergelangan tangan Briella.

​"Kau beruntung aku tidak sedang ingin melihat mayat malam ini," bisik Geovani dengan suara bariton yang berat.

​Briella mencoba membuka matanya, namun kelopak matanya terasa seberat timah. "Di... mana... ini?"

​"Klinik pribadiku di Upper-Chrome. Tempat di mana nyawa dan kematian hanyalah variabel yang bisa aku atur," jawab Geovani tanpa menoleh. Ia mengambil masker oksigen dan memasangkannya ke wajah Briella. "Tarik napas dalam-dalam, Little One. Obat bius ini akan segera bekerja, namun tubuhmu akan merasakan adrenalin yang berbeda."

​Efek obat itu menyebar secepat kilat melalui aliran darah Briella. Namun, alih-alih membuatnya jatuh tertidur lelap, kombinasi cairan kimia yang disuntikkan Geovani justru memicu reaksi saraf yang aneh. Rasa sakit yang tadi melumpuhkan tulang rusuknya mulai berubah menjadi sensasi panas yang menjalar ke seluruh saraf perifer. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin dalam dosis tinggi yang membuat setiap inci kulitnya menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan.

​"Dokter... tubuhku... terasa aneh," rintih Briella. Napasnya mulai memburu di balik masker oksigen.

​Geovani mendekatkan wajahnya. Di balik kacamata frameless itu, matanya yang tajam mengamati pupil mata Briella yang melebar. Ia melepaskan masker oksigen tersebut, membiarkan bibir pucat Briella terbuka sedikit untuk menghirup udara malam yang lembap.

​"Itu adalah efek samping dari kombinasi stimulan saraf yang aku berikan untuk mencegah kegagalan organmu. Tubuhmu sedang bertarung untuk tetap hidup, dan insting primitifmu mulai mengambil alih," jelas Geovani dengan nada datar, namun tangannya mulai menyentuh dahi Briella yang berkeringat.

​Sentuhan lateks dingin itu terasa seperti sengatan listrik bagi Briella. Ia menggeliat di atas meja bedah, mencoba melepaskan diri dari sensasi terbakar yang tidak tertahankan di dalam perutnya. Gaun tipis yang compang-camping dan berlumuran darah itu terasa sangat mengganggu kulitnya.

​"Panas... ini terlalu panas..." desis Briella.

​"Kau sedang berada di ambang batas, antara rasa sakit dan kesenangan yang terlarang," kata Geovani. Ia melepaskan sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis. Kini, jari-jari hangatnya yang tanpa penghalang menyentuh leher Briella, merasakan denyut nadi yang berpacu liar di sana.

​"Tolong aku... Dokter..."

​"Aku akan menolongmu, tapi dengan caraku sendiri," bisik Geovani tepat di telinga Briella.

​Geovani mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Ia tidak bisa menyangkal bahwa melihat tubuh gadis ini—yang hancur namun tetap memancarkan kecantikan yang liar di bawah lampu operasi—telah membangkitkan sisi gelap dalam dirinya. Sebagai pria yang selalu memegang kendali penuh, Geovani merasa tertantang oleh ketangguhan Briella yang menolak untuk mati.

​Klinik itu kini diselimuti oleh aura dominasi yang pekat. Suara detak monitor jantung yang tadinya beraturan mulai berbunyi lebih cepat, mengikuti irama napas mereka berdua yang kian menyatu. Geovani mengangkat tubuh Briella sedikit dari meja bedah, membiarkan punggung gadis itu yang memar bersandar pada lengannya yang kuat.

​"Kau tahu siapa aku?" tanya Geovani seraya menatap dalam ke mata Briella yang sayu karena pengaruh obat.

​"Penyelamat... atau iblis..." jawab Briella terbata.

​"Malam ini, aku adalah keduanya," sahut Geovani sebelum membungkam bibir Briella dengan ciuman yang brutal dan penuh tuntutan.

​Satu malam panas yang tak terelakkan meledak di tengah keheningan klinik medis itu. Tidak ada kelembutan dalam setiap gerakan Geovani; yang ada hanyalah dominasi mutlak seorang pria yang terobsesi pada objek eksperimennya. Briella, yang didorong oleh lonjakan adrenalin dan kaburnya logika akibat obat bius, membalas setiap sentuhan Geovani dengan gairah yang sama liarnya. Ia mencengkeram bahu kokoh sang dokter, membiarkan kuku-kukunya yang pecah meninggalkan goresan di punggung pria itu, seolah-olah ia sedang mencoba menandai satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki di dunia yang kejam ini.

​"Kau milikku malam ini, Little One. Jangan lupakan rasa sakit ini, karena rasa sakit inilah yang membuktikan bahwa kau masih hidup," gumam Geovani di sela-sela pergulatan mereka.

​Ruangan itu menjadi saksi bisu atas sebuah One Night Stand yang jauh dari kata romantis. Itu adalah sebuah pelepasan insting bertahan hidup yang dipadukan dengan hasrat gelap. Briella merasa seolah-olah setiap tulang rusuknya yang retak justru memberinya kekuatan untuk menahan beban tubuh Geovani. Rasa perih dari luka-lukanya justru menjadi katalis bagi gairah yang meledak-ledak, menciptakan paradoks antara kehancuran fisik dan kepuasan seksual yang ekstrem.

​Keringat bercampur dengan sisa darah kering di kulit mereka. Geovani terus menekan, memastikan Briella merasakan setiap inci dari kehadirannya. Ia tidak memberikan ruang bagi Briella untuk bernapas, terus mengeksploitasi setiap titik saraf gadis itu hingga Briella mencapai puncak kesadarannya yang paling liar.

​"Sebut namaku," perintah Geovani dengan napas yang terengah di ceruk leher Briella.

​"Geovani... Dokter Geovani..."

​Suara Briella terdengar seperti melodi di tengah kekacauan tersebut. Geovani semakin memperdalam intensitasnya, seolah ingin menanamkan eksistensinya ke dalam rahim Briella secara permanen. Ia tidak peduli jika tindakannya ini melanggar semua etika profesi atau moralitas yang ia junjung tinggi di Upper-Chrome. Baginya, Briella adalah anomali yang harus ia taklukkan sepenuhnya.

​Setelah badai gairah itu mereda, Geovani tidak lantas meninggalkan Briella. Ia membaringkan kembali tubuh gadis itu yang kini benar-benar lunglai di atas meja bedah. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia mengambil handuk hangat dan mulai membersihkan tubuh Briella dari jejak malam itu, seolah-olah ia sedang membersihkan sisa-sisa operasi yang baru saja selesai.

​"Tidur sekarang," bisik Geovani seraya menyuntikkan sedatif murni ke dalam selang infus. "Saat kau bangun nanti, duniamu tidak akan pernah sama lagi."

​Briella menatap langit-langit yang perlahan mulai berputar kembali. Rasa panas di tubuhnya perlahan meredup, digantikan oleh rasa kantuk yang sangat berat. Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, ia sempat melihat bayangan Geovani yang berdiri membelakanginya, mengenakan kembali kemejanya dengan rapi seolah tidak terjadi apa pun.

​Keheningan kembali menguasai klinik pribadi itu. Geovani berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit Etheria-Metropolis yang masih berselimut salju. Ia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya memenuhi ruangan yang baru saja menjadi saksi bisu atas skandal malam terlarang itu.

​Ia tahu bahwa gadis yang terbaring di meja bedahnya bukan sekadar donor darah kotor yang dibuang oleh keluarga Adijaya. Ada api di dalam diri Briella yang tidak sanggup dipadamkan oleh linggis besi maupun dinginnya salju. Geovani tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang telah menemukan mainan barunya.

​"Aku penasaran, apa yang akan dilakukan tunanganku saat dia tahu bahwa adiknya sedang mengandung rencanaku," gumam Geovani pelan sebelum mematikan bara rokoknya.

​Di atas meja bedah, napas Briella kini teratur. Tubuhnya yang hancur mulai memasuki proses penyembuhan secara biologis, namun jiwanya kini telah terikat oleh rantai kasat mata yang ditempa dalam gairah semalam. Satu malam panas itu bukan hanya menyelamatkan nyawanya, melainkan juga menanamkan benih balas dendam yang akan mengguncang pondasi kasta tertinggi di Etheria-Metropolis.

​Briella tertidur dalam pelukan obat-obatan dan sisa aroma Geovani, tidak menyadari bahwa di balik jas putih sang penyelamat, tersimpan rencana yang jauh lebih brutal dari apa pun yang pernah dilakukan Prilly kepadanya. Permainan kekuasaan baru saja dimulai, dan Briella telah secara tidak sengaja menyerahkan kartu as-nya kepada sang predator puncak.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!