NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02

Jeritan Cassandra memenuhi ruang bersalin, memantul di dinding putih yang berkilau oleh cahaya lampu operasi. Tidak ada kamera. Tidak ada gaun rancangan desainer. Tidak ada sorot mata publik seperti biasanya ketika nama Cassandra Rutherford muncul di panggung mode dunia. Yang ada hanya rasa sakit yang mencabik tubuhnya dan seorang adik yang berdiri di samping ranjang persalinan dengan wajah tegang.

“Cameron! Ini semua salahmu!” maki Cassandra di tengah-tengah persalinan.

Cameron tidak bergeming, meski makian itu menghantamnya bertubi-tubi. Kemeja putih yang ia kenakan kusut dan sedikit basah oleh keringat. Ia baru saja berlari membawa tas perlengkapan persalinan ketika kontraksi kakaknya datang lebih cepat dari perkiraan.

“Fokus dulu, Kak,” ujarnya tegas, suaranya rendah namun stabil. “Setelah anakmu lahir, kau bisa melampiaskan semua kemarahanmu itu kepadaku.”

Cassandra kembali mengejan, sesuai dengan aba-aba dari sang dokter. Keringat sudah membasahi pelipisnya. Wajah yang biasanya dihiasi riasan, kini polos tanpa apapun. Sang model papan atas itu tengah berjuang untuk melahirkan anak yang tak pernah diinginkannya.

“Semua ini salahmu! Salahmu! Sudah kukatakan, aku tidak pernah menginginkan anak ini!”

Cassandra terengah, tubuhnya melengkung saat kontraksi berikutnya datang seperti gelombang yang mematahkan tulang. “Aku sudah mengatakannya sejak awal untuk mengakhiri semuanya, tapi kau tetap memaksaku mempertahankannya!”

Dokter dan perawat tetap bekerja dengan profesional, meski ketegangan keluarga ternama itu terasa jelas di udara.

Cameron menggenggam tangan Cassandra yang gemetar.

“Kau akan menyesal jika membunuh darah dagingmu sendiri,” katanya tanpa menaikkan suara. “Sekarang berjuanglah, Kak. Setelah ini aku berjanji, aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”

“Aku membencinya, Cameo. Aku membenci anak ini,” bisiknya putus asa dengan napas yang terasa terputus-putus. “Setiap kali aku melihatnya, aku akan ingat wajah pria bajingan itu!”

“Aku tahu, Kak. Tapi kumohon, berjuanglah. Bukan demi anak ini, tapi demi aku. Demi keluarga kita.”Cameron tetap menyemangati sang kakak.

Cassandra berusaha mengatur napasnya lagi saat mendengar kata-kata adiknya itu.

“Dorong sekarang!” seru dokter.

Jeritan panjang membelah ruangan bersalin itu, jerit kesakitan Cassandra seketika digantikan oleh suara tangis bayi yang kuat dan nyaring.

Cameron terdiam. Untuk sesaat, semua suara lain menghilang dari pendengarannya. Ia hanya mendengar tangis itu, keras dan terasa begitu nyata. Tangisannya itu seolah menuntut dunia untuk mengakuinya.

Perawat mengangkat tubuh kecil yang masih kemerahan itu dan mengumumkan bahwa bayinya sehat. Namun ketika Cameron menoleh pada Cassandra, tidak ada senyum di wajah kakaknya. Hanya ada kekosongan.

“Jauhkan dia dari pandanganku,” ucap Cassandra lirih namun tegas.“Aku tidak ingin melihatnya ada di hadapanku.”

Perawat itu ragu, tetapi Cameron sudah melangkah maju dan menerima bayi itu ke dalam pelukannya. Tubuh kecil itu terasa hangat dan ringan di lengannya. Tangisnya perlahan mereda ketika Cameron menopang kepalanya dengan hati-hati, meski jelas ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.

Ia menatap wajah mungil itu. Hidungnya yang kecil. Jari-jari yang mengepal lemah dan wajahnya yang masih kemerahan. Selama beberapa saat, Cameron menatap seutas kehidupan yang begitu rapuh namun nyata.

Cassandra memalingkan wajah ke arah lain. “Karena kau yang memaksaku untuk melahirkannya, maka kau juga yang harus bertanggungjawab untuk mengurusnya. Aku tidak akan pernah sudi menjadi ibu bagi anak dari pria itu sampai kapanpun.”

Cameron terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, suaranya pelan namun pasti. “Kalau begitu, biar aku saja yang akan membesarkannya.”

Cassandra tertawa pendek, pahit. “Silakan. Jadilah ayah untuknya. Tetapi ingat, Cameo. Jangan pernah memberitahukan siapapun bahwa dia adalah anakku.”

Beberapa jam setelah persalinan selesai, keputusan itu tidak berubah. Cassandra bersikeras pergi ke luar negeri untuk melanjutkan karirnya sebagai model internasional setelah masa pemulihannya. Kontraknya di New York City masih berjalan, dan ia menolak menghentikan hidupnya demi peran yang tidak pernah ia inginkan.

Cameron mencoba menahannya, meski hanya sebentar. “Kau benar-benar yakin dengan keputusan ini, Kak?”

Cassandra menatapnya tanpa keraguan. “Menjadi ibu bukanlah pilihanku, aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Menjadi ibu, bukan bagian dari hidup yang kuinginkan.”

Akhirnya, Cameron menyerah. Ia membiarkan kakaknya memutuskan pilihan hidupnya sendiri. Seperti yang sudah ia janjikan sebelumnya, bahwa ia akan menuruti semua permintaan sang kakak.

Kini Cameron berdiri sendirian di lorong rumah sakit, menggendong keponakan yang baru beberapa jam melihat dunia. Bayi itu tertidur sejenak sebelum kembali menangis, mungkin karena lapar, mungkin karena tidak mengenal dekapan yang memegangnya.

Cameron mengayun tubuh kecil itu dengan canggung. Ia terbiasa menghadapi rapat direksi, negosiasi bernilai miliaran, dan tekanan media. Namun menghadapi tangisan bayi kecil membuatnya merasa jauh lebih tidak siap.

“Aku berjanji akan menjagamu seperti anakku sendiri,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada bayi itu. "Tenanglah, ya? Jangan menangis lagi, oke?"

Tetapi, tangisan itu justru semakin keras. Cameron merasa panik, ia berjalan menuju ruang perawatan bayi, berharap menemukan perawat yang bisa membantunya. Di depan dinding kaca bening itu, ia melihat sosok yang dikenalnya. Wanita yang tadi tak sengaja ia tabrak.

Giana berdiri diam dengan bahu sedikit bergetar. Tatapannya kosong dan nanar, menatap deretan bayi yang tertidur pulas di dalam boks mereka. Ada kerinduan yang begitu jelas di wajahnya, kerinduan yang terasa seperti luka terbuka.

Cameron berniat melewatinya. Ia tidak ingin mengganggu. Namun bayi di lengannya kembali menangis keras, membuat beberapa orang di lorong menoleh.

Giana perlahan memalingkan wajah, dan tatapan mereka bertemu lagi untuk beberapa detik yang terasa lama.

Kini ia tidak hanya melihat pria yang terburu-buru. Ia melihat seorang pria yang kebingungan memeluk kehidupan kecil yang tidak sepenuhnya ia pahami.

“Kenapa dia menangis?” tanya Giana melihat bayi dalam buaian Cameron yang terus menangis.

Cameron mencoba menenangkan keponakannya itu, tetapi bukannya tenang, sang bayi justru menangis semakin keras.

“Bolehkah aku mencoba menggendongnya?” tanya Giana lembut, meski suaranya masih serak oleh tangis yang belum lama reda.

Untuk sejenak Cameron merasa ragu. Namun tangisan bayi itu semakin menjadi, wajah mungilnya memerah. Tanpa banyak kata, ia kemudian menyerahkan bayi itu pada Giana.

Sentuhan tangan mereka singkat, hangat, kontras dengan dinginnya udara rumah sakit.

Giana menggendong bayi itu dengan gerakan alami, menopang kepala kecil itu dengan hati-hati dan mendekatkannya ke dadanya. Ia mengayun perlahan, berbisik lirih seolah menenangkan anaknya sendiri.

Dan tangisan itu akhirnya mereda. Bayi kecil itu terdiam, napasnya kembali teratur.

Cameron terpaku. Ia tidak tahu apakah yang membuatnya terdiam adalah keajaiban kecil itu atau cara wanita di hadapannya menatap bayi tersebut dengan cinta yang seolah telah lama ia simpan.

“Dia tampan sekali,” bisik Giana. “Di mana ibunya?”

Cameron terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan singkat itu. Alih-alih menjawab, ia menatap nanar wajah keponakannya.

1
awesome moment
thx, kak. sdh mengembalikan giana dan cay ke panti. buat agak lamaan di panti jg g p2. biar regina dan bianca tau smuanya dlu. biar cameron terbuka dlu. biar bianca nyesel dlu..biar...cay gemoy dlu😄😄😄
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!