NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: GEMA DARI KEGELAPAN

Sudah hampir tiga jam aku mengitari komplek rumahku, dan hasilnya tetap sama: nihil. Tak ada kucing liar yang melintas, tak ada kepakan sayap burung gereja di atap, bahkan tak ada hembusan angin yang biasanya menggoyang pucuk daun mangga di halaman rumah Pak RT. Dunia ini seperti sebuah foto yang dipaksa hidup; visualnya sempurna hingga ke detail retakan aspalnya, tapi jiwanya mati. Rasa lapar mulai menyerang perutku, namun rasa heran dan kecemasan yang luar biasa jauh lebih mendominasi pikiranku. Aku merasa seperti satu-satunya makhluk hidup yang tertinggal setelah kiamat yang sangat sunyi.

Aku menyerah mencari orang di luar dan memutuskan kembali masuk ke dalam rumah. Langkah kakiku terdengar sangat nyaring di atas lantai keramik, bergema seolah rumah ini adalah sebuah gua kosong. Mataku tertuju pada dinding ruang tamu, tempat tulisan yang tadi kubuat dengan spidol hitam milik Kinaya. AYAH DI SINI. KALIAN DI MANA? Tulisan itu masih di sana, hitam, tegas, dan menuntut jawaban. Namun, ada sesuatu yang membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.

Di bawah tulisanku, muncul coretan kecil berwarna merah—warna krayon favorit Kinaya yang selalu dia simpan di kotak pensil bergambar kartunnya. Bentuknya kasar dan tidak beraturan, tapi aku bisa mengenali pola itu dengan sangat jelas: sebuah gambar anak kecil yang memegang boneka tanpa kepala. Darahku seolah membeku. Itu bukan sekadar coretan anak-anak biasa. Itu adalah jawaban.

"Kinaya? Kinaya, kamu di sini, kan? Jawab Ayah, Sayang!" teriakku hingga tenggorokanku terasa perih. Suaraku hanya memantul di dinding-dinding rumah yang membisu. Aku berlari ke kamarnya, mengobrak-abrik tumpukan mainannya yang berantakan, hingga mengintip ke bawah kolong tempat tidur yang gelap. Kosong. Hanya ada aroma bedak bayi yang samar-samar masih tertinggal di bantalnya, membuat dadaku sesak seketika oleh kerinduan yang menyakitkan. Aku merasa seperti sedang bermain petak umpet dengan hantu, atau yang lebih mengerikan... jangan-jangan akulah hantunya di dunia ini?

Rasa haus yang mencekik membuatku berjalan ke dapur. Aku mencoba meraih sebuah gelas kaca di atas meja makan, tapi tanganku menembus benda itu begitu saja seolah-olah aku terbuat dari asap. Aku terperanjat dan mundur beberapa langkah. Aku tidak mau menyerah. Aku mencoba lagi, kali ini aku menutup mata dan memeras seluruh emosiku—amarah karena kecelakaan itu dan kerinduan yang membakar pada Kinaya. Aku mengerahkan seluruh energiku pada ujung jariku. Fokus.

Gelas itu perlahan mulai terasa nyata. Dinginnya kaca mulai menusuk kulitku. Begitu aku berhasil mengangkatnya sedikit, sebuah suara ledakan statis tiba-tiba menghantam indra pendengaranku. PYAARR! Suara itu begitu keras hingga telingaku berdenging hebat.

Anehnya, gelas di tanganku tetap utuh. Tidak ada retak sedikit pun. Namun, di duniaku yang sunyi ini, aku bisa mendengar suara tangisan yang sangat menyayat hati muncul dari sudut ruangan yang tak terlihat. Itu suara Kinaya.

"Ayah? Itu Ayah, ya? Maafin Kinaya, Yah... Kinaya janji nggak minta boneka lagi... Ayah pulang, Yah..." Suaranya begitu tipis dan rapuh, seolah-olah dia sedang berbicara dari balik tembok beton yang sangat tebal atau dari dasar samudera yang sangat dalam.

Hatiku hancur berkeping-keping. Dia ada di sana, di rumah yang sama, tapi kami terpisah oleh tabir yang tidak terlihat. Aku segera menyambar spidol tadi, tanganku gemetar hebat saat menekankan ujungnya ke dinding putih itu. Aku harus memberi tahu dia kalau aku baik-baik saja. Dengan napas tersengal, aku menulis dengan huruf kapital yang besar: AYAH SAYANG KINAYA. JANGAN MENANGIS. AYAH AKAN PULANG.

Tepat setelah titik terakhir kubuat, atmosfer di dalam rumah mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga napas mengeluarkan uap. Sebuah bayangan hitam melintas cepat di jendela rumah yang menghadap ke jalan. Itu bukan bayangan manusia. Bentuknya tinggi menjulang, kurus hingga tulang-tulangnya terlihat menonjol di balik kulit hitamnya yang legam, dan bergerak dengan cara yang sangat tidak alami—patah-patah seolah-olah dia adalah boneka yang talinya diputus secara paksa.

Tiba-tiba, suara decitan ban yang sangat keras dan dentuman truk kontainer yang meremukkan motorku kembali meledak di dalam kepalaku. Aku tersungkur ke lantai, memegangi telinga sambil mengerang kesakitan. Dunia sepi ini ternyata tidak lagi aman. Ada sesuatu yang baru saja terbangun karena "frekuensi" yang kubuat saat berkomunikasi dengan Kinaya. Dan makhluk itu... sepertinya ia tidak suka ada gema kehidupan di wilayah kekuasaannya. Dia mulai mendekat ke pintu depan, dan aku masih terjebak di lantai, tidak mampu bergerak sedikit pun.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!