NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Keesokan harinya, Thalia duduk di kursi santai balkon lantai dua, menatap halaman luas yang disapu cahaya pagi. Angin berembus lembut, membuat helaian rambutnya menari. Ponselnya tergeletak di meja kecil, layar menyala. Dengan jari sedikit ragu, ia mengetuk nomor yang begitu familiar: Zea Amara.

"Hallo, Thal?" suara di seberang terdengar ceria, bercampur rasa ingin tahu.

"Zea, kamu sibuk hari ini?"

"Enggak juga. Paling ada tugas kuliah yang belum selesai. Kenapa?"

Thalia menarik napas. "Datanglah ke rumahku siang ini. Aku ingin bicara sesuatu. Penting."

Ada jeda hening. "Ke rumahmu? Kamu pindah, ya? Bukan di apartemen? Kalau begitu Share location, biar aku naik taksi."

Thalia mengetik cepat, mengirim pin lokasi. Saat tombol send ditekan, ada debar kecil di dadanya. Ini akan jadi awal perubahan untukku. Zea satu-satunya teman yang bisa dipercaya saat ini.

Satu jam kemudian, sebuah taksi melaju pelan memasuki kawasan eksklusif di pusat kota. Gerbang besi berukir emas terbuka setelah satpam memeriksa alamat, membiarkan kendaraan itu masuk ke lingkungan yang hanya dihuni sepuluh mansion mewah. Jalan beraspal licin, pohon palem berjajar, dan air mancur tengah cluster menyemburkan kilauan.

Zea menempelkan wajah ke jendela kaca taksi, matanya membesar. "Astaga... ini... ini istana semua?" bibirnya berkomat-kamit.

Sopir taksi melirik lewat spion. "Nona tinggal di sini?"

"Bukan saya... sahabat saya."

Sopir bersiul kagum. "Beruntung sekali. Saya jarang masuk ke kawasan elit seperti ini."

Begitu sampai di depan mansion nomor tujuh, Zea hampir menjatuhkan tas ranselnya. Bangunan tiga lantai menjulang dengan gaya klasik Eropa, dinding marmer putih, tiang-tiang kokoh, jendela besar berbingkai emas, dan taman luas yang dipenuhi bunga aneka warna. Beberapa mobil mewah terparkir rapi di samping halaman yang seluas lapangan sepak bola.

"Thalia... tinggal di sini?" Zea menelan ludah. Ia mengingat gosip kampus: Thalia yang terusir dari keluarga Anderson, katanya merana di apartemen murah kumuh. Omong kosong. Semua gosip itu salah. Benar-benar tidak bisa dipercaya!.

Pintu utama terbuka. Seorang pelayan berseragam hitam-putih menunduk sopan. "Selamat datang, Nona Zea. Nyonya sudah menunggu di dalam."

Zea hampir terpeleset. Nyonya? Siapa nyonya? Thalia? Jangan bercanda.

Begitu menjejakkan kaki ke ruang tamu, matanya makin terbelalak. Lantai marmer berkilat, lampu kristal menggantung, karpet Persia membentang di bawah meja kaca. Beberapa pelayan lalu lalang dengan gerakan terlatih. Zea menepuk pipinya sendiri.

"Ini nyata? Atau aku lagi masuk ke dunia mimpi?" gumamnya pelan.

Lalu matanya menangkap sosok di ujung ruangan: Thalia duduk di karpet tebal, tertawa kecil sambil bermain lego dengan seorang anak laki-laki mungil berwajah manis. Anak itu berlari kecil, menabrak lembut pelukan Thalia, lalu memeluk erat pinggangnya.

Zea berhenti sejenak, bingung. Siapa anak ini? Jangan-jangan... Thalia bekerja di sini sebagai pengasuh tuan kecil itu? Itu lebih masuk akal...

"Zea!" Thalia melambaikan tangan. "Kemari."

Zea mendekat, matanya tak lepas dari bocah kecil itu. "Eh... halo. Ini siapa?"

Thalia tersenyum hangat. Ia mengusap rambut anak itu, lalu memperkenalkan dengan lembut. "Kenalkan, ini Liam."

Liam mendongak dengan mata bulat bening. "Hai, Aunti Zea!" suaranya cadel, bikin hati meleleh.

Zea ikut berjongkok, tersenyum. "Hai, Liam. Kamu lucu sekali. Tapi..." Ia melirik Thalia bingung. "Dia... anak siapa?"

Thalia menahan tawa. "Anakku."

Zea terpaku. "Hah?!" Suaranya hampir meloncat ke langit-langit. "A-anakmu? Thal, aku tidak pernah dengar kamu menikah! Sejak kapan kamu punya anak sebesar ini?!"

Thalia tertawa kecil melihat wajah sahabatnya yang kaget luar biasa. "Tenang dulu. Duduklah. Aku akan jelaskan semuanya."

Mereka berpindah ke sofa empuk. Liam ikut duduk di pangkuan Thalia, memeluk boneka beruangnya. Bocah itu tampak cepat akrab dengan Zea, bahkan sempat menyodorkan kue kering dari piring kecil di meja.

"Liam ini penurut dan manis sekali," komentar Zea sambil mencubit pipi gemas. "Tapi... aku masih butuh penjelasan, Thal. Aku pusing."

Thalia menatap sahabatnya dengan tatapan serius. "Aku sudah menikah. Tapi pernikahan ini...Rahasia."

"Pernikahan rahasia?" Zea mengulang, suara tercekat.

Thalia mengangguk pelan. "Suamiku adalah Aiden."

Waktu berhenti sejenak. Mulut Zea terbuka, matanya membelalak seolah barusan mendengar nama dewa.

"Siapa?!"

"Aiden" ulang Thalia tenang. "CEO Maverick Corporation."

Zea menjerit tertahan, buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan. "Kamu... kamu pasti bercanda? Thalia, ini gila! Kamu menikah dengan pria paling berpengaruh di negeri ini? Aiden Hugo Maverick yang... yang... terkenal dingin itu?"

Thalia mengangguk sambil tersenyum simpul. "Ya. Dialah suamiku. Dan Liam... anaknya sekaligus anakku sekarang."

Zea bersandar lemas di sofa, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Astaga... aku butuh waktu mencerna. Sahabatku yang dulu culun di kampus... sekarang ternyata nyonya muda Maverick. Tidak masuk akal. Semua gosip di luar sana... sampah."

Thalia tertawa lirih. "Aku sendiri masih belajar menerima. Tapi inilah hidupku sekarang."

Mereka terdiam sejenak, hanya terdengar suara Liam yang berceloteh kecil. Zea menatap Thalia lagi, kali ini penuh antusias.

"Kalau begitu, apa yang kau ingin bicarakan tadi? Pasti penting sekali sampai mengundangku ke istana ini."

Thalia mencondongkan tubuh, memegang tangan sahabatnya. "Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya. Zea, aku ingin kamu jadi manajerku."

Zea mengedip, tercengang. "Manajer? Aku? Are you kidding me? Thal, aku tidak punya pengalaman mengelola artis, apalagi... nyonya besar sepertimu."

Thalia menggeleng mantap. "No!! Kamu sahabatku. Kamu yang selalu ada ketika semua orang menjauh. Aku tidak butuh manajer yang hebat di atas kertas. Aku butuh orang yang jujur, yang peduli, dan yang tidak akan mengkhianatiku. Itu kamu, Zea."

Zea terdiam. Kata-kata itu menusuk hati. Bagaimana bisa ia menolak permintaan tulus ini? Namun, keraguan tetap menggantung.

"Tapi... kalau aku gagal? Kalau aku mengecewakanmu?" suaranya bergetar.

Thalia menepuk lembut punggung tangan Zea. "Kamu tidak akan gagal. Kita akan belajar bersama. Aku butuh kamu, Ze. Tolong jangan tolak aku."

Mata Zea memanas. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah. Kalau itu maumu, aku akan coba. Aku akan jadi manajermu. Aku akan berusaha sebaik mungkin."

Liam bersorak kecil, seolah mengerti. "Holeee! Tante Zea jadi temen Mama!"

Thalia tertawa, pelukannya merangkul Liam erat. Zea menatap pemandangan itu-sahabatnya, bocah lucu, rumah mewah yang seperti mimpi. Hatinya campur aduk: kaget, bahagia, sekaligus bangga.

"Thalia..." bisiknya pelan. "Kau benar-benar berubah. Tapi aku janji, aku akan selalu di pihakmu. Apapun yang terjadi."

Thalia menatap balik dengan senyum tulus. "Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Dan hari itu, lembaran baru terbuka. Thalia tak lagi sendirian menghadapi badai; ia kini punya Zea, bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga tangan kanan yang akan berdiri di sampingnya dalam sorotan lampu maupun dalam bayangan gosip yang siap datang.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry: hehehe😁
total 1 replies
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!