"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
Suara teriakan histeris Rena di lantai bawah perlahan memudar, teredam oleh tebalnya pintu jati kamar utama yang kini telah dikunci rapat oleh Sasmita. Di dalam keheningan kamar yang luas itu, aroma parfum melati yang menyengat—aroma kesukaan Rena—masih tertinggal di udara, seolah mencoba mengklaim bahwa ruangan ini masih miliknya.
Sasmita berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang. Hujan masih turun, namun kini lebih tenang, menyisakan suara rintik yang beraturan di atas atap sirap. Ia menyentuh gorden sutra berwarna krem yang menutupi jendela itu, lalu dengan satu sentakan kasar, ia menariknya hingga terlepas dari pengaitnya.
"Aku benci warna ini," gumam Sasmita. Ibunya dulu selalu memasang gorden berwarna biru langit, warna yang memberikan ketenangan, bukan warna krem pucat yang memuakkan seperti selera Rena.
Ia berbalik dan menatap tempat tidur king size di tengah ruangan. Di sana, ayahnya mengembuskan napas terakhir tujuh hari yang lalu. Tidak ada rasa sedih yang mendalam di hati Sasmita, hanya ada rasa hampa yang dingin. Ayahnya adalah sosok yang membiarkan fitnah menghancurkan hidup putri kandungnya sendiri. Baginya, Wirya Janardana sudah mati sepuluh tahun yang lalu, tepat saat pria itu menunjuk pintu keluar dan berteriak agar Sasmita jangan pernah kembali.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang keras dan tidak sabaran mengejutkan Sasmita.
"Sasmita! Buka pintunya! Kamu tidak bisa mengunci kamar ini! Barang-barangku masih ada di dalam!" Itu suara Rena. Suaranya melengking tinggi, penuh dengan kemarahan yang tertahan.
Sasmita tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju pintu, namun tidak membukanya. Ia hanya berdiri di baliknya, menikmati napas memburu Rena yang terdengar dari sela bawah pintu.
"Barang-barangmu sudah dipindahkan oleh pelayan ke kamar tamu di sisi kiri, Tante," ujar Sasmita dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti bisikan yang mematikan. "Aku sudah memberikan instruksi pada Bramasta untuk mengawasi pemindahan itu. Jangan khawatir, kosmetik mahalnya tidak ada yang tumpah. Tapi jika Tante berani menyentuh gagang pintu ini lagi... aku akan menganggapnya sebagai gangguan kenyamanan wilayah pribadi."
"Kamu keterlaluan! Aku ini istrimu... maksudku, aku ini istri sah ayahmu! Aku punya hak atas kenangan di kamar ini!"
Sasmita tertawa kecil, tawa yang kering tanpa humor. "Kenangan? Maksudmu perhiasan yang kamu curi dari kotak perhiasan ibuku? Atau surat-surat palsu yang kamu buat untuk menjebakku? Kenangan itu sudah aku buang ke tempat sampah, Rena. Pergilah ke sisi kirimu. Malam ini dingin, mungkin kamu butuh teh hangat untuk menenangkan sarafmu yang mulai rusak."
Langkah kaki Rena terdengar menjauh, diikuti oleh suara bantingan pintu di ujung koridor. Sasmita tahu ini baru permulaan. Rena tidak akan menyerah begitu saja, dan Vano pasti sedang merencanakan sesuatu yang bodoh di bawah sana.
Sasmita menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia tidak boleh lengah. Fokus utamanya malam ini bukan Rena, melainkan ruang kerja ayahnya yang terletak tepat di sebelah kamar ini.
Ia melangkah keluar menuju balkon dalam yang menghubungkan kamar utama dengan perpustakaan pribadi dan ruang kerja. Di sana, di tengah kegelapan koridor, ia melihat garis merah yang tadi ia pasang. Garis itu tampak seperti luka yang menganga di atas lantai marmer, memisahkan tangga menuju lantai bawah dengan area pribadinya.
Ia memasuki ruang kerja Wirya Janardana. Ruangan itu berbau cerutu tua dan kertas-kertas kuno. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar dari kayu ek berdiri kokoh. Sasmita menyalakan lampu meja yang cahayanya temaram.
Matanya langsung tertuju pada sebuah brankas baja yang tertanam di dinding, di balik lukisan potret keluarga yang diambil saat ia masih berusia lima tahun. Di foto itu, ibunya tersenyum cantik, sementara ayahnya tampak gagah. Sasmita kecil berdiri di tengah mereka, memegang boneka beruang. Itu adalah foto terakhir sebelum "badai" bernama Rena masuk ke dalam hidup mereka.
Sasmita mendekati brankas itu. Ia mencoba mengingat angka-angka yang pernah dibisikkan ayahnya dulu, saat pria itu masih menyayanginya. Tanggal lahir Ibu.
0-7-1-2.
Klik.
Pintu brankas terbuka perlahan. Sasmita menahan napas. Ia berharap menemukan tumpukan uang atau perhiasan, namun di dalamnya hanya ada sebuah kotak kayu kecil bermotif bunga melati—persis seperti motif pada selendang terakhir yang dipakai ibunya sebelum meninggal.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam dan sebuah kunci perak tua. Ia membuka halaman pertama buku harian itu. Tulisan tangan ibunya yang rapi menyambutnya.
14 September—Wirya mulai berubah. Dia sering pulang terlambat dan membawa aroma parfum yang bukan milikku. Rena, sekretaris barunya itu, selalu menatapku dengan cara yang aneh. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di rumah ini. Aku merasa... diawasi.
Sasmita merasakan matanya panas. Jadi benar, ibunya sudah curiga sejak lama. Ia membalik halaman demi halaman, hingga sampai pada entri terakhir sebelum ibunya jatuh "sakit" dan meninggal dalam waktu singkat.
20 Oktober—Aku menemukan sesuatu di ruang bawah tanah. Sesuatu yang Wirya sembunyikan dariku. Jika terjadi sesuatu padaku, Sasmita harus tahu bahwa rumah ini bukan hanya tempat tinggal. Rumah ini adalah saksi kunci kejahatan mereka. Kuncinya ada di bawah kaki patung malaikat di taman.
"Patung malaikat?" bisik Sasmita.
Ia teringat sebuah patung marmer kecil di sudut taman belakang yang kini masuk ke wilayah sisi kiri—wilayah Rena.
Sasmita mengepalkan tinjunya. "Jadi, kunci yang sebenarnya ada di wilayah musuh."
Tiba-tiba, lampu di ruang kerja berkedip-kedip lalu mati total. Ruangan itu seketika menjadi gelap gulita. Sasmita mematung. Ia mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan, namun berirama, berasal dari koridor di luar ruang kerja.
Langkah kaki itu bukan milik Rena yang kasar, bukan pula milik Vano yang ceroboh. Langkah ini ringan, hampir tidak terdengar, seperti seseorang yang sudah biasa bergerak dalam kegelapan.
Sasmita mengambil sebuah pembuka surat tajam dari atas meja kerja. Ia berdiri di balik pintu, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
Pintu ruang kerja berderit terbuka perlahan.
Sesosok bayangan pria jangkung muncul di ambang pintu. Pria itu memegang sebuah senter kecil yang cahayanya hanya menyorot ke arah lantai. Ia melangkah masuk, melewati garis merah yang baru saja dipasang Sasmita tanpa ragu sedikit pun.
"Siapa kamu?!" teriak Sasmita sambil melompat keluar dari balik pintu dan menodongkan pembuka surat itu ke arah leher pria tersebut.
Pria itu bereaksi dengan kecepatan luar biasa. Ia menangkap pergelangan tangan Sasmita, memutarnya dengan lembut namun kuat hingga pembuka surat itu jatuh ke karpet, dan dalam satu gerakan, ia memojokkan Sasmita ke dinding.
Cahaya senter itu kini menyorot wajah Sasmita, menyilaukan matanya.
"Lepaskan aku! Penjaga! Bramasta!" Sasmita meronta, namun pria itu justru semakin menekankan tubuhnya untuk mengunci pergerakan Sasmita.
"Sstt... tenanglah, Nona Janardana," sebuah suara bariton yang dalam dan tenang terdengar tepat di telinganya. Aroma kayu cendana dan hujan menyergap indra penciuman Sasmita. "Aku tidak di sini untuk menyakitimu."
Pria itu menurunkan senternya, membiarkan cahaya pantulan menyinari wajahnya. Sasmita tertegun. Pria itu memiliki rahang yang tegas, mata yang tajam namun menyimpan kesedihan, dan bekas luka kecil di alis kirinya.
"Bramasta?" tanya Sasmita bingung. Bukan, ini bukan Bramasta.
"Namaku Bramasta Aditya. Aku pengacara pribadi yang disewa ayahmu secara rahasia, tiga hari sebelum kecelakaan itu terjadi," pria itu melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Sasmita untuk bernapas.
"Bramasta yang bersamaku tadi... siapa dia?" Sasmita bertanya dengan suara gemetar.
"Itu adalah adik sepupuku. Dia hanya umpan agar perhatian Rena teralih padanya. Ayahmu tahu bahwa Rena akan mencoba menyuap atau mengancam siapa pun yang membantumu. Jadi, dia memintaku untuk bergerak di balik bayang-bayang," jelas pria itu. Ia mengeluarkan sebuah kartu identitas resmi dan sebuah surat yang ditandatangani oleh Wirya Janardana.
Sasmita membaca surat itu dengan cepat. Isinya singkat: Bramasta Aditya adalah satu-satunya orang yang memegang separuh dari rahasia Janardana. Sasmita memegang separuh lainnya. Hanya jika mereka bersatu, rumah ini akan mengungkapkan kebenaran.
"Kenapa Ayah melakukan ini? Kenapa dia harus membuat segala sesuatunya begitu rumit?" Sasmita bertanya, hampir putus asa.
"Karena Ayahmu sadar bahwa dia sudah terlambat menyelamatkan ibumu, Sasmita. Dia tahu hidupnya terancam, dan dia tahu Rena tidak bekerja sendirian. Ada orang lain di belakang wanita itu yang jauh lebih berkuasa," Bramasta Aditya menatap Sasmita dengan serius. "Garis merah yang kamu buat tadi... itu jenius. Itu akan membuat mereka panik dan melakukan kesalahan. Tapi kamu harus tahu, dengan membagi rumah ini, kamu baru saja membuka kotak pandora."
"Aku tidak takut," balas Sasmita mantap, meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Harus," potong Bramasta. "Kamu harus takut. Karena malam ini, Rena tidak hanya akan mencoba mengusirmu. Dia akan mencoba melenyapkanmu karena dia tahu kamu sudah menemukan buku harian ibumu."
Tiba-tiba, dari luar jendela, terdengar suara kaca pecah yang sangat keras dari arah bawah—wilayah sisi kiri. Diikuti oleh teriakan Vano yang memanggil ibunya.
Sasmita dan Bramasta saling berpandangan.
"Mereka mulai beraksi," bisik Bramasta. "Tetap di sini. Jangan keluar dari garis merah, apa pun yang terjadi. Biarkan aku yang memeriksa."
Bramasta menghilang ke dalam kegelapan koridor secepat saat dia datang. Sasmita berdiri sendirian di tengah ruang kerja yang gelap, memegang erat buku harian ibunya. Ia menyadari satu hal: Rumah ini bukan lagi sekadar bangunan megah yang terbagi dua. Rumah ini adalah medan perang, dan ia baru saja melepaskan tembakan pertamanya.
Di luar, hujan kembali menderu kencang, menenggelamkan suara-suara aneh yang mulai terdengar dari balik dinding-dinding rumah Janardana yang dingin. Sasmita menatap garis merah di lantai. Ia tahu, mulai malam ini, tidak akan ada lagi jalan kembali.