Siti terpaksa menggantikan saudari kembarnya, Lila, untuk menikahi putra sulung keluarga mafia Hartono di Indonesia, Aris yang buta. Beredar rumor bahwa tuan muda ini buta, penyendiri, berhati dingin, dan sulit didekati, tidak lain adalah “orang asing” dalam keluarga. Namun dibandingkan dengan mantan pacarnya yang brengsek, Andy—yang membawa kabur uang pengobatan ayahnya dan ingin memanfaatkan dirinya demi koneksi—Siti merasa pernikahan ini tidak seburuk itu.
Awalnya ia mengira menikah hanya sekadar formalitas dan sandiwara belaka. Siapa sangka setelah tinggal di vila, ia bukan hanya harus menghadapi sikap dingin Aris dan tekanan sang Kakek yang terus-menerus mendesak ingin punya cucu, tetapi juga harus membereskan kekacauan adiknya yang menghamili anak orang di luar nikah serta bersembunyi dari mantan pacar yang terus mencarinya.
Siti pun memutuskan bekerja di Grup Hartono demi mandiri. Dengan kemampuan memasaknya, ia meluluhkan hati sang tuan muda yang dingin, dan lewat suaranya, ia menyentuh sisi lembut Aris. Barulah ia menyadari—bos buta ini sama sekali bukan orang lemah! Pendengarannya tajam, pikirannya cerdas, jaringan relasinya luas, dan kekuatannya luar biasa. Bahkan perebutan hak waris keluarga pun dapat ia kendalikan dengan mudah!
Namun kebohongan tentang pengantin pengganti tak mungkin selamanya tersembunyi. Rahasia keluarga mafia pun mulai terkuak. Setelah hatinya diluluhkan oleh Siti, akankah Aris membiarkan orang lain menyakiti gadis yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Di sebuah vila besar di kawasan Pondok Indah, malam itu suasana ruang keluarga terasa panas meskipun pendingin ruangan menyala dingin.
Lila berdiri di tengah ruangan dengan wajah merah padam. Sebuah undangan pertunangan mewah tergeletak di atas meja kaca. Nama besar keluarga Hartono tercetak emas di bagian atasnya.
Rina duduk di sofa dengan wajah tegang.
“Lila, undangan sudah dikirim. Kamu tidak bisa tiba-tiba menolak sekarang.”
Lila menendang meja kecil di depannya hingga bergeser.
“Aku tidak peduli!”
Dia menunjuk undangan itu dengan jijik.
“Aku tidak akan menikah dengan pria buta yang bahkan belum pernah kulihat!”
Rina menahan napas.
“Dia bukan pria biasa. Dia Aris Hartono.”
Nama itu diucapkan dengan berat.
Semua orang di dunia bisnis Indonesia tahu siapa keluarga Hartono. Kerja sama antara perusahaan suami Rina dan keluarga Hartono sedang berada pada tahap penting. Pernikahan ini adalah bagian dari kesepakatan besar yang sudah dibicarakan selama berbulan-bulan.
Namun Lila hanya tertawa sinis.
“Justru karena itu aku tidak mau.”
Dia berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
“Aku dengar dari teman-temanku dia aneh. Temperamental. Bahkan jarang muncul di publik.”
Rina menatapnya tajam.
“Dia tunanetra sejak kecil, itu saja.”
“Justru itu!”
Lila mengangkat kedua tangan dengan frustrasi.
“Aku masih muda! Kenapa aku harus menikah dengan pria cacat yang bahkan tidak bisa melihat wajahku?”
Kata-kata itu membuat wajah Rina mengeras.
“Jaga mulutmu.”
Namun Lila tidak berhenti.
“Aku tidak akan melakukannya. Kalau Ibu ingin mempertahankan kerja sama bisnis itu, cari saja orang lain!”
Dia berbalik dan berjalan menuju tangga.
Sebelum naik, dia menoleh dengan senyum mengejek.
“Atau mungkin Ibu bisa menikah dengannya sendiri.”
Langkah kakinya bergema keras di tangga marmer sebelum akhirnya menghilang di lantai atas.
Ruang keluarga kembali sunyi.
Rina menutup matanya sebentar.
Selama ini Lila memang manja. Sejak menikah dengan ayah tirinya yang kaya, hidupnya selalu dipenuhi kemewahan. Tidak pernah ada yang berani menolak keinginannya.
Namun kali ini situasinya berbeda.
Jika pernikahan ini batal, hubungan bisnis dengan keluarga Hartono bisa runtuh.
Rina membuka matanya perlahan.
Di atas meja, undangan pertunangan masih tergeletak.
Dia menatapnya lama.
Lalu sebuah pikiran muncul di benaknya.
Sebuah wajah lama yang hampir dia lupakan.
Siti.
Anak kandungnya.
Anak yang dia tinggalkan dua puluh tahun lalu.
Rina perlahan tersenyum.
Kemiripan wajah mereka tiba-tiba muncul jelas dalam ingatannya.
Jika orang lain melihat mereka sekilas, hampir tidak ada perbedaan.
Saat itulah ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat alisnya terangkat.
Budi.
Rina sempat mengira dia salah lihat.
Namun beberapa detik kemudian dia menyadari sesuatu.
Budi tidak mungkin meneleponnya.
Panggilan itu pasti dari seseorang yang menggunakan ponsel Budi.
Dia mengangkat telepon.
“Halo?”
Beberapa detik sunyi.
Lalu suara yang sangat pelan terdengar.
“Ibu…”
Rina langsung mengenalinya.
“Siti?”
Suara di ujung sana terdengar gugup.
“Ayah… ayah kena serangan jantung.”
Rina langsung berdiri dari sofa.
“Dia di rumah sakit sekarang. Dokter bilang harus operasi bypass. Biayanya dua puluh juta.”
Kalimat itu keluar terburu-buru, seolah waktu sedang mengejar.
“Aku sudah mencoba meminjam ke mana-mana… tapi tidak cukup.”
Rina berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap taman vila.
Di luar, lampu taman menyala lembut.
“Ayahmu masih hidup?” tanyanya.
“Masih. Tapi dokter bilang harus segera operasi.”
Rina terdiam beberapa detik.
Dua puluh juta.
Bagi keluarga seperti mereka, angka itu hampir tidak berarti.
Namun bagi Siti, itu jelas masalah besar.
Rina tiba-tiba tersenyum kecil.
Kesempatan yang sangat tepat.
“Aku bisa membantumu,” katanya tenang.
Di seberang telepon, napas Siti terdengar lega.
“Benarkah?”
“Tentu.”
Rina menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.
“Tapi aku ingin kita bertemu dulu.”
“Di mana?”
“Kafe di depan Rumah Sakit Umum Jakarta. Aku akan datang sekarang.”
Setelah telepon ditutup, Rina mengambil tasnya.
Saat dia berjalan menuju pintu, Lila turun dari tangga dengan wajah kesal.
“Ibu mau ke mana?”
Rina berhenti sebentar.
“Kamu ikut denganku.”
“Aku tidak mau—”
“Kamu harus ikut.”
Nada suara Rina kali ini tidak bisa dibantah.
Beberapa menit kemudian mobil hitam mereka meluncur keluar dari vila.
Di dalam mobil, Lila menyilangkan tangan.
“Aku masih tidak akan menikah dengan Aris.”
Rina menatap jalan di depan.
“Kamu tidak perlu.”
Lila mengerutkan kening.
“Maksud Ibu?”
Rina tidak menjawab.
Mobil terus melaju menuju rumah sakit.
Siti duduk di kafe kecil di depan rumah sakit dengan tangan saling menggenggam.
Jam sudah lewat tengah malam, namun pikirannya masih kacau.
Beberapa menit sebelumnya dia baru saja melihat ayahnya dipindahkan ke ruang persiapan operasi.
Wajah Budi pucat, namun masih bernapas.
Setiap detik terasa seperti taruhan hidup.
Pintu kafe terbuka.
Siti mengangkat kepala.
Seorang wanita elegan masuk bersama seorang gadis muda.
Ketika mereka berjalan mendekat, Siti merasa jantungnya berhenti sesaat.
Gadis itu…
wajahnya hampir sama persis dengannya.
Hanya gaya rambut dan pakaian mereka yang berbeda.
Lila juga berhenti berjalan.
Dia menatap Siti dengan kaget.
“Ini…?”
Rina tersenyum tipis.
“Kalian memang sangat mirip.”
Ketiganya duduk di meja yang sama.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Siti membuka suara.
“Ibu bilang bisa membantu biaya operasi ayah.”
Rina langsung mengangguk.
“Bisa.”
Harapan muncul di wajah Siti.
Namun Rina mengangkat satu jari.
“Ada satu syarat.”
Lila mendengus kecil seolah sudah tahu arah pembicaraan.
Rina menatap Siti dengan serius.
“Kamu harus menikah menggantikan Lila.”
Siti mengira dia salah dengar.
“Menggantikan…?”
Rina menjelaskan dengan tenang.
“Lila seharusnya menikah dengan Aris Hartono. Tapi dia menolak.”
Lila menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Karena aku tidak mau menikah dengan pria tunanetra yang aneh.”
Siti menatap mereka berdua.
Rina melanjutkan.
“Aris tidak pernah melihat wajah Lila secara langsung.”
“Jika kamu menggantikannya, tidak akan ada yang tahu.”
Siti langsung berdiri dari kursinya.
“Ini tidak masuk akal.”
Dia hampir saja pergi.
Namun Rina berkata pelan.
“Dua puluh juta rupiah.”
Langkah Siti berhenti.
“Jika kamu setuju sekarang, aku akan langsung membayar biaya operasi ayahmu.”
Kafe kembali sunyi.
Di luar jendela, lampu ambulans berkilat merah biru.
Siti memejamkan mata sebentar.
Bayangan ayahnya di ruang operasi muncul di kepalanya.
Dia tahu waktunya tidak banyak.
Ketika membuka mata kembali, suaranya terdengar pelan namun tegas.
“Baik.”
Lila tertawa kecil.
“Cepat juga kamu menyerah.”
Namun Siti tidak menatapnya.
Dia hanya memandang Rina.
“Aku setuju.”
Rina langsung mengambil ponselnya.
Beberapa detik kemudian ponsel Siti berbunyi.
Notifikasi transfer muncul di layar.
Rp20.000.000
Siti berdiri tanpa berkata apa pun dan langsung berlari keluar kafe menuju rumah sakit.
Di bagian administrasi rumah sakit, dia menyerahkan bukti pembayaran dengan tangan gemetar.
Petugas memeriksa layar komputer lalu mengangguk.
“Pembayaran sudah masuk. Operasi akan segera dilakukan.”
Siti hampir jatuh karena lega.
Dia kembali ke koridor operasi.
Riko langsung berdiri.
“Kak! Kamu dapat uangnya?”
Siti mengangguk.
“Sudah dibayar.”
Lampu merah di atas ruang operasi kembali menyala.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Dua jam kemudian pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Dokter keluar sambil melepas masker.
“Operasi berhasil.”
Riko langsung memeluk Siti dengan gembira.
Namun Siti hanya berdiri diam.
Di saku jaketnya, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Rina.
Besok pagi kita mulai persiapan.
Mulai sekarang, kamu adalah Lila.
Siti menatap pintu ruang operasi tempat ayahnya sedang berjuang untuk pulih.
Dia tahu satu hal dengan pasti.
Untuk menyelamatkan ayahnya…
Dia baru saja memasuki hidup yang sama sekali bukan miliknya.