NovelToon NovelToon
The Masquerades

The Masquerades

Status: sedang berlangsung
Genre:Robot AI / Dunia Masa Depan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Fredyanto Wijaya

Capella Starheart!

Seorang Gadis Remaja Cantik 16 Tahun baru saja pindah dari kota bawah ke kota layang Star Colossus bersama satu keluarga kecilnya.

Gadis itu tahu tidak akan ada banyak yang berubah di sana.

Memulai kehidupan baru di sebuah perumahan bernama Harmonia, menjalin ikatan baru dengan tetangga dan juga di lingkungan sekolah barunya.

Hidup berdampingan dengan Para Monster dan Kelompok Pahlawan dijuluki The Masquerades sudah biasa di zaman penuh teknologi maju sekarang ini.

Tapi yang jadi pertanyaan adalah... Ada tujuan apa Ibunya membawanya ke atas sana?



(Science Fantasy Ini Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Part 2)

[BAB 2: Distric 010]

"Kota yang luar biasa! Ibu benar kan?!"

Lebih mencondongkan posisi duduknya dari kursi belakang, "Apanya yang luar biasa?! Kota ini hampir tidak ada bedanya dari di bawah sana! Berantakan dan seperti kota mati," Sahut Capella yang masih sibuk dengan tablet miliknya.

Memiringkan kepalanya dari balik bangku kemudi_ menatap dari balik pundak Ibunya yang sedang fokus menyetir mobil.

Jaket ungu gelap -Asimetris- One Sleeve, dengan gambar motif futuristic hexagonal atau segi enam geometris saling bertautan hampir di seluruh bagiannya- sedikit bergeser lebih terbuka lagi saat dia memiringkan tubuhnya. Sedangkan kedua kakinya merapat di satu sisi.

Beberapa motif bintang perak pada celana jeans panjangnya memantulkan kilatan cahaya dari luar jendela mobil.

Tubuhnya sedikit bergetar di tengah laju mobil tanpa roda milik mereka.

Tapi sebenarnya... itu tersembunyi, dan cara kerjanya lebih mirip bagian bawah dari mouse komputer.

Anggap saja keempat rodanya tersembunyi di bagian bawah. Dan membuat bodi kendaraan menjadi terlihat rendah tanpa roda_ hampir sepenuhnya menempel pada jalanan yang sudah dirancang mulus tanpa polisi tidur atau berbagai permukaan yang bergelombang. Jarak cela antara jalan mungkin sekitar lima jari.

Sedangkan mobil terbang yang dapat melintasi langit-langit sekitar gedung tidak semudah itu dikembangkan, walaupun sudah di masa era modern seperti saat itu.

Sebagian jalanan pun tentu bukan lagi berbahan aspal biasa_ yang jika rusak terlalu malas untuk memperbaikinya, atau karena sesuatu yang bersikap pencurian dana perbaikan.

"Sabar sedikit lagi sayang! kita belum sampai," Ibu mereka melirik melalui kaca depan mobil yang samar-samar menampilkan screen proyeksi keadaan di kursi belakang sana.

Capella yang mengenakan sabuk pengaman hologram biru statis kembali sibuk menekan-nekan layar tablet dengan ujung jarinya, setelah membuang waktu lima menitnya melihat ke arah pemandangan jalan diluar jendela mobil.

Pemandangan kota mati.

Sedangkan adiknya yang sengaja telah menonaktifkan sabuk pengaman beberapa menit sebelumnya itu mulai semakin gelisah di sebrang Capella.

Tadi sempat duduk tenang setelah udik memperhatikan luar jendela mobil tapi kemudian kedua kakinya yang menjuntai terus menendang-nendang belakang kursi kedua mobil kosong di samping sisi kemudi.

Ritme benturan ujung sepatu Tim dengan lapisan bahan plastik padat kursi membuat konsentrasi Capella agak terganggu. Matanya sesaat melirik ke arah kaki Tim, sebelum kemudian kembali pada layar tabletnya.

Ritme benturan Duk Dak Duk Dak... dan campuran suara deru samar teredam dari kinerja laju mesin yang terdengar seperti siulan, bercampur suara pendingin ruangan membuat kepala Ibunya mulai pusing.

Mobil terus melewati sepanjang jalan utama besar tanpa belokan.

...----------------...

Setelah beberapa menit tambahan Tim terus membuat ritme tendangan yang mengganggu....

Dia tiba-tiba melompat dari kursinya karena pandangan matanya sekilas melihat sesuatu yang keren di arah luar sisi kaca jendela mobil sebrang. Tubuhnya merangkak menyelip punggung Capella dan menempelkan wajahnya di kaca samping mobil. "HOAH! Liat liat tuh! Ada Transfomer!!" Seru keras Tim.

Laju kencang mobil mendadak melambat. Ibu mereka spontan menekankan ujung kakinya di pijakan rem karena terkejut dengan suara kencang Tim dari arah bangku belakang sana.

Driiit... kaca mobil berderit saat sebelah pipi atau wajah Tim yang menempel di kaca tadi bergeser beberapa senti. Ujung bibirnya sampai agak tertarik bersama permukaan pipinya yang memerah.

Tim bersemangat saat mobil mereka baru saja melewati sosok mecha buatan_ hasil gabungan beberapa kendaraan lama ketinggalan zaman dan benda-benda rongsokan lainnya.

Sedangkan Capella berusaha menahan beban tekanan tubuh si Tim di punggungnya. "Ahh... "

"Tim! Jangan lakukan itu lagi! Ibu sedang fokus!" Reflek menoleh sebentar ke belakang. Capella dan Adiknya sedang gaduh.

Capella berusaha menarik Adiknya kembali ke sisi tempat duduknya. "Aw Aw! Tim! Dasar kau ini!!" Gumamnya kesal sambil menahan rasa sakit. Juntaian rambutnya tertarik kencang ke belakang, dan bando dengan detail barisan logam duri kecil ala rocker-nya nyaris merosot.

Pelipis kakak perempuannya sempat terbentur dengan siku tangan Tim. Tapi Tim tidak menyadari.

Capella terus berusaha meraih wajah adiknya menjauh dari jendela mobil. Di sana, wajahnya sudah seperti medan magnet kuat.

Terus kembali menempel di Kutub yang berbeda.

Beberapa saat penolakan, Tim pun akhirnya patuh dan bergeser kembali ke tempatnya. Menyamankan posisi duduknya, dengan gerakan mengangkat gantian kanan dan kiri bokongnya seperti orang cacingan.

"Kau punya pemandanganmu sendiri di sana!" Capella meraba-raba rambut belakang kepalanya. Bandonya yang tadi nyaris terlepas juga kembali diposisikan seharusnya.

Baginya... Adiknya memang kadang si pembawa bencana tidak terduga.

Tingkahnya suka tidak ketebak. Kadang tenang kadang liar. Tapi gangguan kali itu membuatnya muak.

Capella mengotak-ngatik sesuatu pada layar tabletnya. Jari telunjuknya menekan-nekan layar cepat dengan efek suara sentuhan seperti bunyi Klik! Kecil setiap sentuhannya.

Dan...

Lapisan dinding biru agak transparan seperti hologram tapi tidak bisa ditembus muncul membatasi sisi kanan dan kiri wilayah kursi yang ditempati dia dan adiknya.

Belum selesai sampai disitu, Capella mengetik sesuatu dengan cepat di tabletnya lagi. Dan ketika Dia selesai, dia menggesekan jarinya mantap_ satu kali gerakan usapan keluar layar.

Melempar...

Atau lebih tepatnya mentransfer kalimat yang baru saja diketiknya dari tablet, pada hologram pembatas yang dimunculkannya tadi.

"Alaram Merah "

"Virus terdeteksi❗ Yang berisik dan menyebalkan harus di karantina! "

Tulisan yang muncul. Tim membaca cepat.

Tapi Tim tidak mau menyerah. Aksi random menyebalkannya yang sudah tidak terhitung lagi itu kembali.

Sambil memeluk tablet di depan dadanya... mata Capella melirik ke samping. Adiknya sedang menggores-gores dinding energi pembatas dengan jari telunjuk kecilnya.

Statis hologram sedikit berbunyi saat ujung jarinya menggambar sesuatu di sana.

Kepala Capella lalu perlahan memutar padanya.

Hasil akhirnya, dia menggambar wajah sederhana seperti emoji dengan ekspresi memelet. "Wek...!"

Sebelum pola goresan itu berangsur menghilang, Tim juga kemudian menirukan apa yang sudah digambarnya dengan menggunakan wajahnya sendiri, menarik sebelah kelopak bawah matanya ke bawah dengan jari telunjuk. 🤪

Capella mendengus.

Adiknya tidak tahu sedang berurusan dengan siapa! Kakak perempuannya sudah mempersiapkan sesuatu untuk dihadiahkan kepadanya.

Sesuatu yang adalah kelemanan Tim.

Capella samar tersenyum miring ketika kembali menggunakan tabletnya. Tim hanya memandangnya penasaran dari balik pembatas sana.

"Oh Tiiiiiim!" Suara lembutnya. Capella sedikit melirik licik dengan mata menyipit, sebelum kemudian dia kembali menggesek layar tabletnya lagi_ gerakan jari keluar layar seperti tadi.

Dari tabletnya, Capella kembali melempar atau mentransfer sesuatu di hologram pembatas. Tapi kali ini bukan tulisan, melainkan sebuah klip video singkat yang terlalu menyeramkan untuk ditunjukan kepada anak kecil. Termasuk kepada yang golongan seumuran Tim.

Apalagi itu tertampil full layar.

Tanpa Tim duga, Adegan wajah boneka menyeringai dengan pisau muncul tepat di depan wajah penasarannya mendekat di pembatas.

Tim sontak langsung menjerit.

Terkejut sekaligus ekstra ketakutan karena apa yang telah ditunjukan oleh kakak perempuannya itu.

"HUAAAAH!!" Dia spontan melompat mundur ke pojokan, hampir terjengkang jatuh dari kursinya.

"Hahaha...!" Capella tertawa puas di sebrang sana.

Sudah ia duga kalau itu akan berhasil. Tim, adiknya mungkin agak jahil dan hampir menyebalkan di setiap waktu tenang. Dia juga terlalu berani dalam hal apapun. Bahkan jika dia mungkin akan berhadapan dengan monster raksasa.

Tapi dia memiliki satu kelemahan kecil...

Yaitu boneka!

"Tidak!! Itu tidak adil!" Protes Tim. Capella masih tertawa puas padanya. Juntaian lurus rambutnya yang menggantung lembut seperti gantungan tirai bergoyang mengikuti gerakan badannya.

"Curang!"

Tim takut dengan boneka. Apalagi jika itu sampai Spirit Doll atau boneka berhantu seperti yang ditunjukkan Capella untuk membalas sikap menyebalkannya barusan.

Semoga adegan dari film jadul tadi benar-benar membuatnya jerah.

"MAH...," Dia malah mengadu. Kepalanya mantap menoleh ke arah Ibu mereka di balik kursi depan sana.

Ibunya yang hampir mengerem mendadak untuk kedua kalinya, dan bahkan sedikit oleng melajukan mobil ke kanan dan kiri malah tidak berpihak padanya... maupun juga Capella.

Berusaha menegaskan mereka berdua untuk tenang di saat perjalan.

Fokusnya terus pada arah jalan di depannya.

"Anak-Anak.. tenanglah sedikit di belakang sana! Ibu sedang fokus!" Menegaskan mereka dengan alis mata lebih menurun. "Ibu tidak mau kejadian yang waktu itu sampai terjadi lagi!"

Memperkuat genggaman kedua tangannya pada kemudi yang menyala tanda seru_ tanda kilas peringatan otomatis karena cara berkendara Margaret yang hampir tak terkendali tadi.

Ibunya terus membawa mereka melalui jalan utama di bagian potongan dari California. Di kursi belakang, mereka berdua mulai tenang. Tapi ucapan dari Ibunya tadi seakan tidak menampar mereka sama sekali.

Tim bahkan masih sempatnya meringis mengancam_ menunjukan jejeran giginya pada Capella. Sedangkan Capella hanya membuang muka ke arah luar jendela di sampingnya, dengan ekspresi sisa kepuasan di lekuk senyumnya.

Tapi senyumnya mulai sedikit memudar...

Saat kendaraan mereka harus bergeser arah_ mengitari sesuatu dengan jarak begitu dekat.

Laju mobil benar-benar melambat seperti slow motion saat melintasinya.

Capella melihat sebuah mobil pribadi seperti yang digunakan mereka, yang sudah dalam kondisi tidak baik hampir memblokir arah jalan di tengah.

Bagian belakang mobil sudah hancur cukup parah, dan tak jauh dari situ banyak berserakan puing-puing bagian yang hancur.

Sepertinya sempat terjadi sesuatu di sana. Mobil itu terlihat seperti habis diledakan.

Sedangkan Tim, dengan gesit naik setengah berdiri menghadap kaca belakang setelah tidak yakin apa yang sedang dilihatnya melalui jarak jauh luar kaca yang dilihat kakaknya. Kedua lutut nya membuat kerutan pada permukaan kursi.

Dan sebelum jarak semakin jauh tertinggal di belakang sana... terlihat dari balik kaca mobil tadi yang kabur, samar-samar, ada kepala yang menunduk tidak bergerak di kursi kemudi.

Kepalanya tepat menempel di atas kemudi mobil.

Bekas asap mesin panas masih tersisa terbawa angin berpasir.

...----------------...

Daerah yang sedang dilalui keluarga Capella tidak seramai seperti wilayah lainnya. Itu Karena, wilayah sekitar perbatasan hanya diperuntukan oleh para penyintas. Lagi pula tidak banyak yang bisa orang-orang lakukan selain memungut bekas peluru amunisi di sekitar sana.

Terlalu sepi seperti terbengkalai.

Hanya pusat kota yang biasa lebih ramai. Sedangkan yang sedang mereka lalui barulah Distric 010! Wilayah penghubung dan tidak terjaga di Star Colossus_ jalur jalan yang menghubungkan antar dua wilayah lain atau lebih.

Jalanan besar yang terlihat terbengkalai.

Juga kenapa daerah itu hampir tidak tersentuh, sebenarnya itu karena udara yang jelas tidak aman jika dihirup langsung.

Peringatan dari The Heaven.

Itulah kenapa tak satupun dari mereka membuka sisi jendela mobil di tengah itu semua. Margaret mendesak mereka untuk jangan membukanya sampai mereka berada di tujuan sebenarnya.

"Anak-Anak...," Suara lemah Ibunya dari kursi depan sana. Berusaha mengalihkan pandangan mata mereka berdua dari objek yang terbakar barusan.

Tim kembali duduk di kursinya dengan ekspresi wajah kaku, juga kulit wajahnya yang sedikit memucat. Mereka berdua yang di kursi belakang saling menatap satu sama lain setelah sama-sama melihat objek yang baru saja mereka lintasi.

Juga termasuk dengan objek yang ada di dalamnya.

Begitu pula dengan Ibu mereka. Dia juga sempat melihat pemandangan mengerikan tadi, ketika sengaja memperlambat laju mobil guna menghindarinya dengan begitu hati-hati.

"Ingatlah! Jangan buka jendela kalian... sampai Ibu yang bilang," selip ucap Ibunya. Sedikit kembali mengingatkan kepada Capella dan Tim.

Mereka berdua hening dari pertengkaran dan juga nafas yang kini agak tertahan.

Jarak antara mobil tadi semakin jauh. Ibu mereka kembali mengencangkan laju kendaraannya, melintasi wilayah yang baru mereka kenal.

Daerah yang asing, dan sama sekali tidak ada pengalaman dengan itu semua. Ancaman mungkin sedang mengincar.

Dan nyatanya memang benar!

Tanpa mereka sadari... Ada seseorang yang mengintip mengawasi dari balik tumpukan kontainer berkarat saat ada yang melintas di tengah jalan. Dan dia memegang senjata berupa senapan besar dengan sistem keker atau sistem pengunci otomatis sasaran. Orang dengan jaket berkerudung serba tertutup dan masker itu pun mengangkat senapannya perlahan.

Mengunci arah ke satu-satunya mobil yang lewat saat itu_ yang tidak lain mobil yang digunakan Capella, Adiknya, dan juga Ibunya.

Jlub! Tiba-tiba satu tusukan dari belakang.

Orang yang nyatanya baru saja ingin menembak itupun dihabisi begitu saja dengan sosok yang berjalan mengendap dibelakang.

Orang di belakang itu menahan jatuh tubuhnya, dan menaruh tubuhnya perlahan di sana.

Menyelipkan simpan pisau besar di balik jubah mantelnya, "Empat belas!" bisiknya pelan sehabis dia menghabisi orang bersenapan tadi.

Seseorang mengenakan Helm motor modifikasi dengan duri mohawk dan topeng gas tengkorak bervision yang menyembunyikan tampang wajahnya, mengambil senapan jenis M41A Pulse Rifle milik orang yang baru saja dihabisinya tadi.

Melangkahi mayatnya, lalu berjalan santai keluar dari balik kontainer mendekati jalan.

Berdiri di dekat pinggir jalan utama... Dia menoleh dan memandang arah satu Mobil keluarga tadi terus semakin menjauh. Kertas-kertas koran berterbangan terbawa hembusan angin berpolusi disekitar.

"Jalur bersih! Kalian bergeser lah ke wilayah lain!" Ucapnya dengan suara terbenam di balik topeng yang disamarkan. Suaranya berstatis ala robotik menyamarkan identitasnya. Dan suara samar lain lalu menyahutnya dari alat komunikasi yang dipasang di kerah mantel berhias lilitan rantai kecil.

Merapihkan posisi rompi setengah rusak dengan tulisan S.W.A.T yang dikenakannya, dia berpaling pergi dengan senapan yang diangkat dan ditopang santai di atas pundaknya.

1
7 ANGEL KNIGHT
Pengumuman:
Sebelum mulai membaca... Ini Novel tema Science Fantasy Lebih Menceritakan Sisi Kehidupan Karakter, Dan Tidak Sepenuhnya Dalam Konflik Serius Yang Berbahaya. Jadi bagi yang mau penuh konflik atau temanya benar-bener Dark berarti nggak cocok ya! 😄 Karena Ini lebih ke School, Campur Drama Di Sekolah, Rumah, Lebih Santai lah pokoknya. Tapi perlahan konflik permasalahan utamanya mungkin makin naik dan jelas menuju akhir! So.. Happy Reading! 😍
7 ANGEL KNIGHT
/Casual//Casual//Casual/
7 ANGEL KNIGHT
Terimakasih yang udah mau mampir dan baca, Mudah-mudahan suka dengan dunia yang aku buat di sini! Dan silahkan semisal ada yang mau ditanya, atau semisal ada "Anomali" di novel aku silahkan kasih tau aja nanti aku cek ya, Thankyou📝
T28J
lanjutannya kak
7 ANGEL KNIGHT: Iya👍 Ini lagi ada sedikit rapihin yang udah ada dulu ya. Otw bab barunya. Episode 1= 6 Bab semua udah dirapihin dan siap baca. Untuk Episode 2 sama 3 tunggu ya masih dirapihin soalnya👍
total 1 replies
T28J
Thor, ini masih narasi semua, ceritanya kapan dimulai? 🤔
T28J: oke gak papa Thor, saya juga maklum karena ini fantasi
total 2 replies
T28J
masih sedikit bingung dengan kata-kata dari penjelasannya...
semua masih berisi narasi, semoga di next chapter semua menjadi lebih aktif 👍👍👍
tetap semangat Thor, saya suka tema fantasi 🔥
7 ANGEL KNIGHT: Chapter selanjutnya juga jangan lupa di baca ya😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!