IG: ras_by.ar_
Fuxin (70 tahun), seorang Queen Mafia asal Tiongkok yang tidak begitu terkenal geng Mafia nya. Meninggal karena habis usia, tidak terima harus masuk neraka karena merasa dia tidak pernah berbuat kejam.
Maka Kakek langit memberinya sebuah misi untuk pergi ke dunia Beastman. Dengan misi harus menjaga dunia dari kepunahan, dia di bekal dengan sebuah sistem melahirkan banyak keturunan.
Siapa takut? Tidak tahu saja pekerjaan lainnya selain sebagai Queen Mafia Gadungan adalah sebagai Sugar Mommy.
"Banyak sekali laki-laki tampan yang Sixpack di sini?!"
"Kamu imut sekali! Bulu dan kuping nya sangat lembut!" -Fuxin.
"Kakak, aku belum dewasa!" Jantan yang belum dewasa dengan merona.
[ Tuan rumah tolong serius! Jangan mengoleksi suami terus, tidak tahu ya sedang misi? ]
"Kamu pikir aku sedang apa? Tentu saja membuat keturunan untuk misi!"
Sistem menghela napas, entah Kakek langit terlalu tepat memilih host atau emang perempuan ini agak eror...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Reinkarnasi yang Tidak Elegan ╥﹏╥
Setelah Kakek Langit menjentikkan jarinya—tanpa salam, tanpa hitung mundur, tanpa sopan santun elemen perpisahan—jiwa Fuxin langsung mental seperti kentang yang dilempar ke udara. Berputar-putar, jatuh bebas, dan plak!
Ia menabrak sesuatu yang… lembut?
Fuxin mendapati dirinya melayang di dalam sebuah ruang putih luas. Tidak ada lantai, tidak ada langit, tidak ada pintu. Ruang itu tampak seperti aplikasi yang gagal memuat tekstur.
“Eh? Ini surga? Mana para beastman tampan nya?” Fuxin celingukan.
Sebuah panel biru transparan muncul tepat di depan mukanya.
[ Selamat datang, Tuan Host. Anda memasuki Ruang Sistem Reproduksi. ]
Fuxin menepuk dadanya. “Syukurlah. Kupikir aku jatuh ke tempat laundry arwah.”
Panel berikutnya muncul.
[ Tuan, harap memilih wujud binatang terlebih dahulu. ]
“Oho… jadi aku bisa pilih wujudku sendiri?” Mata Fuxin langsung berkilat seperti sponsor diskon akhir tahun.
Di depannya muncul deretan hologram hewan: Serigala, Harimau, Kuda, Kelinci, Ular, Kucing, Rubah, bahkan Komodo.
Namun Fuxin hanya melirik sekilas. Begitu matanya menangkap dua pilihan tertentu, ia langsung berhenti.
“Kucing! Rubah! Ya ampun lucu sekaliiii…”
Ia memandang hologram kucing berbulu panjang. “Aduh yang ini imut, elegan, kayak aku pas muda.”
Lalu ia melirik hologram rubah ekor panjang. “Yang ini seksi. Aura nakal. Cocok untuk pekerjaanku—ehm—masa mudaku.”
“Sistem, aku pilih dua-duanya!”
Hologram berguncang keras, seperti menolak keinginan yang terlalu absurd.
[ Jangan terlalu serakah, Tuan. Hanya satu wujud diperbolehkan. ]
“Tidak bisa digabung jadi Kucubah? Atau Rubucing? Kalau aku bayar pakai jasa masa muda, mau?” Fuxin mengedip menggoda.
Panel sistem berkedip-kedip, seperti mengalami serangan migraine.
[ Tidak. ]
Fuxin mendesah panjang, lalu menatap kembali dua hewan favoritnya.
Setelah berpikir selama kurang lebih tiga detik—batas konsentrasi maksimalnya—dia akhirnya menepuk hologram rubah.
“Baiklah. Rubah. Karena ekornya banyak, bulunya lembut, dan tampangnya menjanjikan popularitas.”
[ Wujud dipilih: RUBAH. ]
[ Memulai pencarian inang yang sesuai… ]
Hologram berganti menjadi layar pencarian. Bar loading berjalan lambat—menyiksa, hampir seperti antrian BPJS.
[ Menganalisis kondisi dunia… ]
[ Mencari inang kompatibel… ]
[ Sifat inang sesuai… ]
[ Dosa inang sesuai… ]
“Bentar.” Fuxin mengangkat alis. “Dosa inang sesuai itu maksudnya apa? Kau menyamakan aku dengan calon tubuh bar—"
Sebelum ia sempat menyelesaikan protesnya, cahaya putih menyilaukan memenuhi seluruh ruang. Tubuh Fuxin terseret seperti sedang ditarik vacuum cleaner kosmik.
“A—Tunggu duluuuuuuu—!”
[ TRANSFER BERHASIL ]
Saat Fuxin membuka mata, angin dingin menerpa wajahnya.
Tidak. Bukan angin.
Itu bau.
Bau… busuk… agak apek… bercampur tanah… dan rumput kering.
Fuxin berkedip. Ia melihat sebuah telapak tangan—kotor, berlumur tanah, kuku panjang tak terawat.
"..."
"Sistem. Tolong katakan ini bukan tanganku."
[ Mengonfirmasi. Itu tangan Anda—atau lebih tepatnya, milik inang Anda. ]
Fuxin langsung bangkit dan melihat bayangannya pada genangan air di dekat kakinya.
Dan ia beku.
Di sana, ia melihat seorang gadis rubah muda—dengan kulit kotor tanah, wajah belepotan tanah, rambut acak, dan mata panda karena kurang tidur. Bahkan telinganya pun merunduk lesu, seolah malas menjadi bagian tubuhnya.
Fuxin menjerit.
“INANG MACAM APA INI?!”
Sistem menjawab dengan nada netral yang tidak menolong sama sekali:
[ Identitas Inang: Putri Kepala Suku Rubah. ]
[ Status: Baru Dewasa / Baru Menjalani Upacara Kedewasaan ]
[ Reputasi: Buruk, Cukup Buruk, Nakal ]
[ Deskripsi tambahan: Inang dikenal pemalas, suka berguling di lumpur, malas mandi, introvert tapi badung, dan memiliki catatan memalukan seperti mencuri makanan tetangga. ]
Fuxin terdiam lama.
“Kau memilih tubuh seorang—gadis rubah barbar?”
Sistem batuk virtual.
[ Data menunjukkan kesesuaian paling tinggi antara Anda dan inang ini. Nilai dosa, perilaku, dan kecenderungan kekacauan sangat serasi. ]
“SERASI PALANYA!”
[ Tuan Host, mohon tenang. Ini hanya tubuh. Masih bisa dirapikan... Mungkin. ]
Dengan lemas, Fuxin jatuh terduduk. Ia menatap ekor rubah yang seharusnya indah… kini kusut seperti kain pel. Juga, bagaimana menghilangkan ekornya, di rasa-rasa, rasanya kurang nyaman saat duduk.
“Tugasku menyelamatkan dunia beastman… tapi tubuhku justru kandidat penghuni episode Suku Paling Jorok…”
Sistem menimpali datar:
[ Harap beradaptasi. Dalam tiga… dua… satu… ]
Di kejauhan, terdengar suara-suara banyak orang mendekat.
“TEMUKAN PUTRI KEPALA SUKU!"
“Dia kabur lagi!”
“Kepala suku sangat marah!”
Fuxin membeku.
Sistem bersuara lembut.
[ Selamat datang di kehidupan baru Anda, Tuan Host. Setidaknya identitas mu putri kepala suku~ ]
Fuxin hanya bisa tersenyum kaku.
“…Kakek Langit, tunggu aku. Aku akan pastikan kau menyesal mengirimku ke sini.”
Fuxin belum sempat membersihkan wajah—ketika beberapa Beastman rubah menyeretnya pulang sambil menggerutu.
“Putri benar-benar kabur lagi…”
“Sudah dewasa tapi kelakuan masih seperti anak rubah umur tiga bulan.”
“Lihat itu rambutnya! Kusut seperti sarang burung gagak!”
Fuxin berusaha tetap tenang, meskipun sebenarnya ingin memelintir kuping mereka satu-satu.
“Aku bisa jalan sendiri, tahu!”
“Tolong jangan kabur lagi, Putri…”
Fuxin mendecih. “Tenang saja. Sekarang aku bukan orang yang sama.”
••
Setibanya mereka di gua besar kepala suku, Fuxin terpaku.
Gua itu indah, dikelilingi formasi kristal alam, dengan puluhan kulit hewan menggantung sebagai dekorasi. Jejak kekuatan kepala suku tampak di mana-mana: aura dominan, simbol pemimpin, dan aroma maskulinitas kuat yang bahkan Fuxin bisa rasakan.
Begitu ia masuk, suara berat bergemuruh.
“FUXIN!”
Fuxin mengangkat wajah… Lalu melihat seorang Beastman rubah dewasa, berotot, tampan, bermata tajam, dan berwajah dingin. Aura pemimpin terpancar dari setiap pori-pori kulit nya.
Ayahnya.
Kepala Suku Rubah.
Dan tampang itu…
Ya ampun, kalau bukan ayahnya, Fuxin pasti sudah menggoda.
Sayang sekali.
Kepala suku berjalan mendekat dengan langkah berat.
“Upacara kedewasaanmu baru selesai pagi ini.” Suaranya menggelegar. “Semua betina seusiamu sudah sibuk mencari jantan yang tepat untuk kawin pertama.”
Wajah Fuxin datar.
Ayahnya mengerutkan kening lebih dalam. “Tapi kamu?! Kamu malah berguling di lumpur sampai tidak bisa dikenali! Di mana harga diri seorang betina dari keluarga kepala suku?!”
Fuxin berkedip malas.
“Lumpurnya enak, mungkin?”
Terdengar suara Beastman yang mengantar Fuxin menahan tawa.
Ayahnya menepuk dahinya sekuat tenaga.
“Fuxin… Fuxin… Berpenampilan buruk, kelakuan buruk, reputasi buruk… Apa kamu tidak malu? Bahkan Fulong pun tidak mau mengakuimu sebagai adiknya!”
Seketika, informasi dari ingatan tubuh asli menyeruak masuk ke kepala Fuxin.
Fulong — Kakak laki-laki, kuat, tampan, sangat menjanjikan, tapi…
Tidak pernah dekat dengan adik betina-nya.
Setelah ibu mereka meninggal, tidak ada yang mengurus si adik, dan sang ayah terlalu sibuk memimpin suku.
Fuxin mendengus kecil.
“Wajar saja tubuh ini berkembang jadi… begini.” Ia menunjuk rambut kusutnya.
Ayahnya mendesis. “Dan satu lagi! Kau belum membangkitkan bakatmu! Bagaimana bisa seorang betina dewasa tidak menunjukkan tanda-tanda bakat?! Tidak akan ada jantan yang mau dengan mu jika begitu!”
Fuxin mengangkat tangan. “Bakat apa lagi ini?”
Sistem muncul dalam pikirannya tepat sebelum ayahnya meledak kembali.
[ Jenis Bakat ]
[ Bakat Jantan diklasifikasikan:
Ungu → Nila→ Biru → Hijau → Kuning → Jingga → Merah ]
[ Saat ini, jantan dengan bakat tertinggi hanya mencapai level Jingga. Merah belum pernah ditemukan. ]
Fuxin mengangguk-angguk. “Berarti Merah itu kayak Ultra Rare ya.”
[ Betina dinilai dari: Kesuburan Rendah → Menengah → Tinggi ]
[ Setiap kesuburan betina memiliki tiga klasifikasi, yaitu Tembaga, Perak dan Emas ]
“Kenapa penilaian kami seperti telur ayam ras?”
[ Karena betina adalah pilar reproduksi. ]
“…Baiklah.”
Tiba-tiba panel lain muncul.
[ Data Inang ]
[ Nama: Fuxin ]
[ Jenis Kelamin: Betina ]
[ Umur: 15 Tahun / Baru Dewasa ]
[ Ras: Rubah Ekor Sembilan ]
[ Penampilan: 20 (Buruk/Jelek) ]
[ Kesehatan: 35 (Lemah) ]
[ Bakat: Belum Terbangun ]
[ Jantan : - ]
Fuxin menegang.
“20?! Kenapa bukan 200? Kamu benar-benar tega!”
[ Tuan, skala maksimal hanya 100. ]
“…Oh. Tetap saja sakit.”
Ayahnya masih marah.
“Dan apa gunanya ritual kedewasaan kalau kau bahkan tidak bisa menampilkan bentuk rubahmu?! Kau ini putri kepala suku! Anak rubah lain sudah bisa berubah bentuk ke wujud beast mereka, kau bahkan cuma memanggil—apa itu tadi? Kuping yang tidak simetris?! Dan ekor jelek ini?!”
Fuxin mengangkat tangan protes. “Jangan menghina fisik dooong, aku ka---“
BRAK!
Ayahnya memukul meja batu.
“Mulai hari ini, kau harus berubah! Kau betina dewasa, kau harus bersiap mencari pasangan, membangkitkan bakat, dan berhenti menjadi… menjadi…”
Ia menatap Fuxin dari atas sampai bawah.
“—seonggok lumpur berbulu.”
Semua orang di dalam gua menunduk, menahan tawa.
Fuxin menghela napas panjang.
“Sistem,” bisiknya dalam hati. “Tolong bilang padaku, apakah aku bisa meng-upgrade tubuh ini?”
[ Bisa. Dengan usaha keras, mandi teratur, perawatan, nutrisi, dan… kedisiplinan. ]
“…Oke, lalu yang realistis?”
[ Pilih jantan kuat dan transfer energi melalui reproduksi. ]
Fuxin langsung berdiri.
“AYAH!” Serunya tiba-tiba.
Ayahnya mengangkat alis.
“Aku akan berubah. Aku akan mengaktifkan bakatku. Dan aku akan—“
Sistem memotong cepat dalam pikirannya.
[ Tuan! Jangan bilang mau cari jantan langsung! ] Sistem berkata dengan memperingatkan, meskipun itu tugas hostnya. Tapi hostnya ini tidak lihat situasi dan atmosfer.
“—mencari jantan terbaik!”
Sistem: […]
Ayahnya: beku.
Para pengawal: terbatuk-batuk.
Udara dalam gua membeku selama tiga detik.
Kemudian…
Kepala suku menutup mata dalam-dalam, seakan menyesal tidak punya anak betina lain.
“…Keluar dari gua ini. Sekarang.”
Fuxin mengangguk riang sambil mengibaskan ekornya yang kusut seperti sapu bekas.
Baiklah.
Dia, Fuxin dari dunia lama…
Akan mengubah hidup si Fuxin dari dunia ini.
Dengan cara paling profesional yang ia kuasai.
ditunggu s2 kak