Ibu Alya meninggal karena menyelamatkan anak majikannya yang bernama Bagas, dia adalah tuan muda dari keluarga Danantya.
~
Bagas patah hati karena kepercayaannya dihancurkan oleh calon istrinya Laras, sejak saat itu hatinya beku dan sikapnya berubah dingin.
~
Alya kini jadi yatim piatu, kedua orang tua Bagas yang tidak tega pun memutuskan untuk menjodohkan Bagas dan Alya.
~
Bagas menolak, begitupun Alya namun mereka terpaksa menikah karena terjadi sesuatu yang tidak terduga!
~
Apakah Bagas akan menerima Alya sebagai istrinya? Lalu bagaimana jika Alya ternyata diam-diam mencintai Bagas selama ini?
Mampukah Alya meluluhkan hati Bagas, atau rumah tangga mereka akan hancur?
Ikuti kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon znfadhila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Alya berteriak histeris melihat tubuh Ambar yang langsung terpental karena ditabrak oleh mobil, Bagas sendiri mematung karena kejadiannya begitu cepat terjadi.
"IBU!" Alya langsung berlari menghampiri tubuh Ambar yang dipenuhi darah, sementara Pak Supir langsung menghampiri Bagas yang terjatuh setelah didorong oleh Ambar.
Semua orang yang ada di sekitar mulai berkumpul melihat kecelakaan itu terjadi, mobil yang menabrak Ambar sudah kabur, beberapa orang mencoba mengejar pelaku. Selain itu ada juga orang yang langsung menelpon ambulance, kondisi Ambar cukup parah jadi harus secepatnya dibawa ke rumah sakit.
Alya terduduk lemas, tangannya menggenggam erat tangan Ambar yang sudah tidak sadarkan diri.
"I-ibu, b-bangun...." Alya langsung menangis histeris.
Setelah mendengar tangis Alya barulah Bagas tersadar dari rasa terkejutnya, pria itu langsung berdiri kemudian berlari kearah Alya.
"Ibu ayo bangun, jangan gini Bu.." Alya terus menangis, semua orang yang melihat itu ikut menangis sesak rasanya menjadi Alya, Ibunya tertabrak tepat di depan matanya.
"A-al.." suara Bagas terbata memanggil Alya, gadis itu menatap Bagas sekilas kemudian kembali menatap kearah Ibunya.
"Tuan Muda gapapa?" tanya Pak supir yang kembali berlari menyusul Bagas.
"Saya tidak apa-apa Pak, tapi-" Bagas tidak sanggup melanjutkan perkataannya, airmatanya menetes karena melihat Ambar tidak sadarkan diri penuh luka.
"Ambulance sudah datang." teriak seseorang, tanpa menunggu lama Bagas merangkul Alya karena petugas sudah datang untuk membawa Ambar ke rumah sakit.
"Lepas!" Alya langsung memberontak, emosinya tidak stabil.
"Al, tenang dulu kita kerumah sakit sekarang." Bagas mencoba menenangkan Alya namun Alya menepis kasar tangan Bagas.
"Gimana aku bisa tenang hah?! Ibu aku kecelakaan! KECELAKAAN!" Alya berteriak marah, dia tidak bisa tenang sama sekali.
Bagas memejamkan matanya sesaat, dia juga merasa khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Ambar.
"Iya aku tau Al, sekarang kita ke rumah sakit supaya Ibu kamu bisa diobatin." Bagas dengan lembut berusaha memberi pengertian.
Alya yang belum bisa berpikir jernih langsung terdiam, tanpa menjawab Bagas dia langsung berlari ke mobil ambulance untuk ikut menuju ke rumah sakit.
"Alya tunggu!" Bagas segera mengikuti Alya, dia juga ikut masuk kedalam ambulance sementara Pak Supir membawa mobil ke rumah sakit sekaligus memberi kabar pada keluarga majikannya.
****
Sepanjang perjalanan sampai kerumah sakit Alya tidak berhenti menangis, tangannya bahkan tidak mau lepas dari Ambar, Alya tidak mengatakan apapun tapi Bagas bisa melihat jika Alya takut kehilangan Ambar.
Saat ini Alya hanya memiliki Ibunya, Ayahnya sudah tiada begitupun Neneknya yang baru berpulang beberapa bulan lalu, keluarga besar Ayahnya tidak menyukai Ambar dan Alya, setiap mereka berkumpul pasti saja Ambar selalu di sindir, di hina bahkan pernah dimaki juga.
Alya tidak terima saat itu, jadi Alya meminta Ambar untuk menjauh saja dari keluarga Ayahnya itu, lagipula tidak baik untuk kesehatan hati dan mental.
Bagas hanya bisa terdiam menyaksikan momen menyesakkan itu, dia tau bagaimana keadaan keluarga Alya, dia juga tau jika Ambar adalah satu-satunya keluarga yang Alya miliki.
'Aku harus gimana?' batin Bagas hanya bisa menundukkan kepalanya, dia sadar Ambar menyelamatkan dirinya.
Jika Ambar tidak mendorong Bagas, maka Bagas lah yang tertabrak tapi Ambar yang lebih dulu menyadari adanya bahaya tanpa ragu menyelamatkan Bagas.
"Ibu aku mohon jangan tinggalin aku, kalo Ibu pergi nyusul Ayah aku sama siapa..."
DEG
Suara menyayat hati itu terus terngiang di kepala Bagas, saat ini Ambar sudah ditangani oleh pihak rumah sakit.
Alya tanpa lelah berdiri menunggu di depan ruang operasi, gadis itu tidak bisa berhenti menangis, Alya juga berdoa memohon supaya Ibunya bisa selamat namun Alya juga sadar jika takdir tidak bisa dia rubah sedikitpun.
"ALYA!" teriakkan Berlian terdengar, Alya menoleh kemudian langsung memeluk sahabat baiknya itu.
"B-berlian..." tangis Alya pecah kembali, Berlian ikut menangis.
Tadi begitu mendapat kabar, Husna dan Zaki langsung bergegas kerumah sakit, kebetulan Berlian bersama suaminya Joshua juga ada disana, jadi mereka ikut kerumah sakit.
"I-ibu-" Alya bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya, Berlian mengusap airmata Alya.
"Kita berdoa yang terbaik Al, jangan takut kamu gak sendirian." Berlian mengajak Alya untuk duduk.
Sementara itu Joshua menghampiri Bagas yang hanya duduk diam merenung, Husna dan Zaki sendiri sedang mengurus hal lain seperti administrasi dan bertanya mengenai kecelakaan yang terjadi tadi.
"Jangan melamun." tepukan Joshua membuat Bagas menatap kearahnya, tatapan bersalah terlihat dari mata Bagas.
"J-jo a-aku harus gimana? Bibi tadi mau selamatin aku, t-tapi-" Bagas tidak bisa melanjutkan perkataannya, suaranya bergetar.
Joshua menepuk pundak Bagas, dia paham maksud Bagas.
"Biar aku yang selidiki masalah ini, kita bisa tau kecelakaan ini memang murni atau ada unsur kesengajaan, Ayah lagi urus ke polisi tapi kita gak bisa percaya gitu aja, kita harus selidiki sendiri supaya jelas." Joshua dengan mata tajamnya penuh keseriusan.
Joshua tidak mudah percaya semuanya, apalagi banyak manipulasi sekarang jadi Joshua lebih memilih mencari tau semuanya sendiri sampai jelas, barulah dia akan percaya.
"Tapi Jo, Bibi gimana?" Bagas menatap Alya yang sangat hancur, belum ada kepastian sama sekali jika hal buruk benar-benar terjadi maka Bagas akan sangat merasa bersalah.
"Kita berdoa yang terbaik Bagas, tapi ingat takdir atau kematian seseorang gak bisa kita rubah." jawab Joshua bijak, Bagas tersentak.
Pikirannya langsung melayang, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi, Bagas langsung menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak mungkin...."
Baru saja Joshua ingin berbicara kembali, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka.
Alya langsung berdiri begitupun Berlian, Joshua dan Bagas pun ikut mendekat.
"Dok gimana keadaan Ibu saya?" tanya Alya bergetar, dokter tersebut membuka maskernya.
Sebelum menjawab, dokter menatap semua orang yang ada disana, tatapannya jelas mengisyaratkan kabar buruk yang harus keluarga terima.
Airmata Alya semakin deras, Berlian terus menguatkan Alya.
"Dok tolong jawab." Bagas mendesak, perasaannya kacau saat ini dia butuh kepastian dan kabar baik tentunya, jika kabar buruk Bagas belum siap menerimanya.
"Mohon maaf Pak, kami sudah berusaha tapi-"
"ENGGA! JANGAN BILANG ITU DOKTER!" Alya langsung berteriak seolah tau apa yang akan di ucapkan dokter itu.
"Al, tenang dulu..." Berlian memeluk erat Alya, dia sesak melihat Alya rapuh.
"Engga Berlian engga, aku gamau denger itu pasti Ibu masih bisa sembuh kan? iya kan?" Alya terus menggelengkan kepalanya, hatinya belum siap menerima kehilangan lagi.
Bagas langsung menangis melihat Alya seperti itu, dia tau bagaimana hancurnya Alya kehilangan Ayah serta Neneknya, jika itu terulang bagaimana Alya nanti? bangkit? tidak semudah itu.
"Al jangan gini aku mohon." Alya tidak mendengar dia terus menolak dan menggelengkan kepalanya.
Dokter itu pun merasa iba, tapi bagaimana lagi dia juga harus menyampaikan berita duka mengenai Ambar.
"Mohon maaf Ibu, saya tetap harus menyampaikan kondisi pasien saat ini, kami tim dokter sudah berusaha tapi pasien sudah meninggal dunia..."
DEG!
"G-gak m-mungkin..."
"Al..."
"GAK MUNGKIN!"
BRUGH!
"ALYA!"
Bersambung.........
terlalu jauh bab babny jadi sampai agak lupa alurnya.
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️