Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Mengenang.
...~•Happy Reading•~...
Wajah Kandara makin memerah saat mendengar apa yang dikatakan Darel. Dia hendak mendorong bahu Darel lagi, tapi ditahan. Karena sedang diperhatikan mertuanya.
Kandara terselamatkan oleh pelayan yang mendatangi meja mereka untuk menyajikan menu yang dipesan Mikha untuk santap siang mereka.
Tanpa disadari Darel, semua yang dilakukannya kepada Kandara diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Terutama Bu Richel yang mulai mengerti arti ucapan putranya. Sehingga selesai makan dan sambil menikmati dessert, Bu Richel melihat ke arah Mikha dan memberikan isyarat agar Mikha melihatnya.
"Mikha, melihat situasi di luar, alangkah baiknya sementara ini kita tidak pulang ke rumah. Tolong siapin kamar, agar kita bisa istirahat di sini sampai situasi di luar lebih baik untuk pulang." Bu Richel berkata setelah berbicara dengan Pak Darpha, suaminya. Pak Darpha setuju dengan ide istrinya, karena mengerti maksudnya setelah melihat Darel dan Kandara.
Ketika mendengar apa yang dikatakan Bu Richel kepada Mikha, Darel memandang Mommy nya dengan wajah tersenyum dan berucap tanpa suara, hanya gerakan bibir. "Love you, Mom." Bu Richel tersenyum senang, lalu menyenggol suaminya.
Bu Richel cepat membaca situasi dan mengerti yang diminta Darel, karena ingat kejadian sepuluh tahun lalu di hotel itu.
Karena saat hendak melamar Kandara, Darel telah menceritakan semua kepada orang tuanya, agar mereka bisa merestui Kandara menjadi istrinya. Oleh sebab itu, Bu Richel sangat mengerti permintaan Darel. Beliau percaya, ada rencana Darel dibalik permintaannya.
Sehingga beliau mendukung permintaan putranya dengan cara yang diminta kepada Mikha. Mereka semua akan tinggal di hotel, seakan para pencari berita atau media yang ada di lobby hotel bisa mengganggu dan menghalangi mereka. Padahal kalau Darel mau, semua security hotel dan Mall bisa mengamankan mereka untuk keluar dari hotel.
"Baik, Mom. Mikha akan hubungi manager hotel dan asisten." Mikha mengerti maksud permintaan Bu Richel. Dia segera menghubungi asistennya untuk datang ke restoran untuk mengatur sesuai keinginan Darel.
Kandara sontak melihat ke arah Darel, saat mendengar permintaan Bu Richel. Darel memiringkan kepalanya ke arah Kandara lalu berbisik. "Ikuti saja kata Mommy." Darel berkata sambil mengusap tangan Kandara yang ada dipangkuannya.
"Bagaimana dengan anak-anak? Mereka belum pernah jauh dariku, terutama Efri." Kandara berkata pelan sambil menunduk, agar tidak menjadi perhatian mertuanya.
"Ada Mikha dan Oma. Percayakan saja pada Mikha. Dia akan atur, agar mereka tidak jauh dari kita." Darel berkata pelan sambil terus memegang tangan Kandara untuk menenangkan.
Kandara mengangguk pelan, agar tidak panjang berargumen dengan Darel. Dia yakin, semua argumennya tidak berguna. Apa lagi Darel sudah didukung oleh kedua orang tuanya.
Melihat anggukan Kandara, Darel memberikan isyarat kepada Mikha untuk lakukan secepatnya, karena kedua anaknya sudah diam. Pertanda mereka sudah mengantuk dan sebentar lagi akan tertidur.
Tidak lama kemudian, asisten Mikha masuk mendekati mereka untuk berbicara dengan Mikha. "Sebentar, aku mau bicara dengan asisten Mikha juga." Darel berkata kepada Kandara sambil menepuk tangannya, saat melihat asisten Mikha masuk ruangan dan Mikha berdiri untuk berbicara dengannya.
"Mikha, tolong katakan pada manager, jangan tempatkan tamu lagi di lantai yang sama dengan kamar kita. Tamu yang sudah menginap, biarkan saja, tidak usah dipindah. Kita tidak akan lama di sini. Ada yang perlu aku pastikan dengan Dara, sebelum kami berpisah." Darel berkata pelan sebelum Mikha berbicara dengan asistennya.
"Iya, kita hanya pakai dua kamar. Aku akan atur, agar yang dekat kamarmu dipindahkan ke kamar yang lain, jika sudah terisi. Mommy dan Daddy bisa agak jauh darimu, lebih dekat ke kamarku." Mikha sudah pikirkan apa yang diinginkan Darel, sehingga sudah meminta asistennya untuk mengecek penghuni selantai dengan kamar mereka.
"Baik. Aku percayakan padamu dan usahakan cepat, atau kau akan menggedong Efri ke kamarnya." Darel berkata sambil menunjuk Efrima dengan wajahnya. Putrinya sudah sangat mengantuk, dan bisa tertidur di kursi. Kandara sudah berpindah tempat duduk di tengah putra dan putrinya untuk menjelaskan rencana Darel. Efrima hanya mengangguk tanpa berkomentar, karena sudah sangat mengantuk.
Tidak lama kemudian, manager hotel masuk ke restoran bersama security untuk mengantar mereka ke kamar. "Mikha, bawa Oma, Efri dan Efra dulu. Nanti kami menyusul bersama Mommy dan Deddy." Darel berkata cepat, lalu mengambil kartu akses kamar kedua orang tuanya dari tangan manager. Sedangkan Mikha mengambil kartu akses untuk Mama Kandara dan kedua anaknya.
Semua bisa berjalan tanpa gangguan, karena security sudah mengamankan jalan menuju lift khusus yang akan digunakan. Setelah tiba di kamar, Mikha mempersilahkan Mama Kandara istirahat. "Bu Selvine, istirahat dulu, nanti dihubungi Dara setelah mereka tiba di kamar." Mikha berkata pelan, karena melihat Bu Selvine hanya diam dan mengikuti tanpa bertanya.
~•••~ ~•••~ ~•••~
Di sisi lain ; Darel dan Kandara sudah tiba di kamar Darel dengan mulus, tanpa gangguan yang berarti, karena Mikha meminta security membatasi jarak terdekat untuk para media yang mau mendekati Darel. Ketika hendak masuk ke dalam kamar, Kandara tertegun sejenak dan ragu untuk melangkah. Hal itu membuat Darel harus menggenggam tangannya dengan erat agar bisa masuk ke kamar bersamanya.
Setelah berada di dalam kamar, Darel langsung memeluknya untuk menenangkan. "Inilah yang membuatku mau mengajakmu ke tempat ini, agar kau bisa melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi diantara kita. Sekarang kita telah bersama dengan kedua anak kita." Darel berkata tanpa melepaskan pelukannya. Dia sedang merasakan detak jantung Kandara yang tidak teratur. Darel berusaha agar Kandara bisa melepaskan diri dari trauma yang diakibatkan olehnya.
Kemudian Darel membawa Kandara untuk duduk di sofa yang ada di kamar, tanpa melepaskan tangan Kandara. "Kau sudah ceritakan sedikit tentangmu, saat aku di Indonesia. Aku juga ingin kau tahu sedikit tentang tempat ini setelah kau meninggalkanku pagi itu." Darel berkata pelan sambil mengusap tangan Kandara yang ada dalam genggamannya.
"Aku baru pernah melakukan hal yang tidak bermoral seperti itu. Membuat semua kebanggaan diriku runtuh seketika. Aku tidak perlu mengatakan, mengapa bisa aku lakukan hal seperti itu."
"Ketika membaca pesanmu, aku yakin kau mengerti, kenapa semua itu bisa terjadi. Tetapi hatiku tidak bisa menerimanya, rasa bersalah terus mengikutiku saat mengingatmu." Darel ingin agar Kandara mengetahui keadaannya setelah mereka berpisah, dia tidak baik-baik saja.
"Setelah mengetahui kau tidak menuntutku untuk apa yang aku lakukan, Mikha pernah memintaku pindah dari kamar ini ke kamar yang lain, agar bisa melupakan semua hal buruk yang aku lakukan. Tetapi aku tidak mengikuti sarannya. Ada banyak kisahku di tempat ini." Darel mengingat masa-masa dia mencari Kandara dengan rasa bersalah di hati.
Kandara hanya diam mendengar sambil menenangkan hatinya agar tidak menangis. "Kamar ini sangat berarti bagiku. Ini milikiku, setelah membangun hotel ini bersama Mikha. Tempat pengungsianku dari hingar bingar dan tempat istirahat setelah sibuk bersama Melo."
"Terakhir, hal buruk pun terjadi di kamar ini bersamamu. Ketika berada di kamar ini, aku menyadari keterbatasanku sebagai manusia. Jika kamar ini bisa berbicara, dia akan menceritakan berapa banyak doa dan harapan yang kupanjatkan pada-Nya." Darel berkata sambil mengingat setiap saat dia berlutut di tepi tempat tidur untuk berdoa.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..