Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Ambar - Rulof.
...~•Happy Reading•~...
Setelah keluar dari kamar Juha, Ambar menuju dapur untuk mengambil minuman sebelum ke kamar. Ambar melihat Rulof sudah pulang dari kantor dan telah mandi. Dia tidak tahu, karena Rulof pulang saat dia ada di kamar Juha.
"Sudah makan, Mas?" Tanya Ambar, ketika melihat Rulof sedang duduk di kursi meja makan sambil minum air mineral.
"Sudah'lah, masa jam segini belum makan?!" Jawab Rulof dengan santai.
Ambar tidak menghiraukan ucapan Rulof yang tidak menyenangkan. Dia ingin membicarakan kejadian yang terjadi di rumah tadi siang, karena sudah tidak tahan dengan tindakan Inge dan melihat kondisi putranya yang sering tidak bahagia.
"Ooh iyaa, Mas. Tolong bilang sama Kak Inge, kalau mau bawa makanan dari rumah ini, bilang dulu sama aku." Ambar berkata pelan, menahan nada bicaranya tetap tenang dan sabar.
"Kak Inge sudah bilang sama aku. Tetapi karna sibuk seharian, aku lupa ngasih tahu." Rulof tetap berkata santai, tetapi Ambar terkejut dan menatapnya dengan heran. 'Nii, orang perasaannya lagi nyangkut di mana?' Tanya Ambar dalam hati.
"Kalau ada bilang lagi sama Mas, bilang sama Kak Inge. Jangan bawa makanan yang sudah dimasak. Bawa saja yang masih mentah." Ambar mulai emosi, karena melihat Rulof menanggapi keluhannya dengan santai.
"Kau itu, makanan saja diributkan. Kau hanya tinggal di rumah dan juga ada pembantu. Apa tidak bisa memasak lagi?" Tanya Rulof, mulai emosi melihat Ambar terus membahas soal makanan.
"Ini bukan soal bisa memasak lagi, ini soal lapar. Kak Inge sudah makan di sini, kenapa tidak membawa pulang makanan yang masih mentah saja? Biarkan makanan yang sudah matang itu buat kami." Emosi Ambar mulai naik level.
"Kenapa dari tadi, kau ribut soal makanan terus? Kak Inge bukan orang lain. Dia itu Kakakku." Emosi Rulof juga mulai naik level.
"Siapa yang bilang Kak Inge bukan Kakakmu? Siapa yang ribut soal makanan? Yang aku persoalkan itu, laparrr. Karna tidak ada yang bisa dimakan." Ucap Ambar, sambil melihat Rulof dengan emosi.
"Kau tidak pikirkan anakmu? Apakah aku harus mengikat perutnya dengan tali, supaya dia tidak merasa lapar?" Ambar benar-benar emosi.
"Ada apa denganmu? Kau seorang Ibu, masa membiarkan anak sendiri lapar? Kau bikin apa saja di rumah ini?" Rulof ikut emosi dan langsung berdiri meninggalkan Ambar yang sedang marah.
Rulof emosi, tetapi terkejut melihat Ambar bisa marah. Karena selama ini, Ambar tenang-tenang saja. Tidak pernah ribut, jika saudaranya datang dan tinggal atau mengambil sesuatu dari rumah.
"Tinggalkan uang di situu...!!" Ucap Ambar singkat dan tegas, sambil menunjuk meja ruang tamu.
"Kau butuh uang untuk apa? Semua keperluan sudah aku beli dan sediakan di rumah ini." Rulof melihat Ambar dengan emosi yang meningkat.
"Kau pikir, aku dan Juha ngesoot dari sekolah sampai ke rumah ini?" Ambar tidak tahan dan sudah sangat marah mendengar ucapan Rulof.
"Makanya, belajar mengatur uang." Ucap Rulof tajam. Perkataan Rulof membuat marah Ambar lebih naik level.
"Uang mana yang harus aku atur? Kapan terakhir kau memberiku uang? Apa aku harus membukanya di sini? Kalau bicara, pegang kepalamu. Supaya jangan sampai kepalamu bergeser." Ambar langsung berdiri.
Rulof melihat Ambar dengan wajah memerah, karena menahan marah. Tetapi Ambar sudah terlanjur marah, membuatnya tidak bisa berhenti.
"Kalau belum bisa mengurus keluargamu, jangan mengharapkan orang lain untuk mengurus uang. Jadi sebelum tahu urus istri dan anak, silahkan tidur sendiri. Mungkin guling bisa mengajarimu." Ucap Ambar yang sudah tidak terkendali amarahnya.
Begitu juga dengan Rulof yang langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Ambar mengabaikan kemarahan Rulof. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. Dia ingin menurunkan amarahnya dengan minum minuman dingin.
Setelah agak tenang, Ambar berjalan ke kamar Seni dan mengetuk pintu kamarnya. Karena ada yang mau dia bicarakan dengannya. Ketika membuka pintu, Seni terkejut melihat nyonyanya berdiri di depan pintu dengan wajah memerah.
"Seni, Ibu mau bicara sebentar denganmu." Ambar berkata sambil masuk ke kamar Seni.
"Seni, besok pagi tidak usah bikin kopi untuk bapak. Kasih saja air mineral panas atau hangat. Kalau ditanya soal sarapan, bilang saja cari di lemari atau kulkas." Emosi Ambar mulai turun level.
"Bu, memang sudah tidak ada kopi lagi. Tadi Kakaknya bapak sudah bawa semua. Katanya buat suami yang suka ngopi." Ucap Seni, pelan.
"Yang bubuk juga?" Tanya Ambar, tidak percaya dengan yang didengar.
"Iyaa Bu, semuanya. Katanya, nanti bapak akan beli lagi." Seni jadi tidak enak, karena tadi siang tidak kasih tahu nyonyanya.
"Astagaaa. Syukur susunya Juha tidak dibawa juga." Ambar berkata sambil menepuk dahinya, karena membayangkan jika hal itu terjadi.
"Oooh, yang itu juga mau dibawa, Bu. Untuk anaknya, tapi saya terus peluk kaleng susu. Saya bilang, Juha pulang sekolah suka minum susu. Kalau tidak ada susu, nanti menangis." Seni menceritakan kejadian yang terjadi.
"Astagaaa. T'rima kasih, Seni. Kalau kau tidak lakukan itu, mungkin Juha tidak bisa tidur malam ini." Ambar langsung mengelus lengan Seni dengan perasaan tenang dan bersyukur.
"Ibu jangan marah lagi, jangan sampai Ibu sakit. Kasihan Juha." Seni berkata demikian, karena tahu nyonyanya sedang bertengkar.
"Iyaa Seni, t'rima kasih sudah mengingatkan. Kau juga, segera tidur." Ambar mengangguk lalu meninggalkan kamar Seni.
Seni sangat sayang kepada nyonyanya, karena sangat baik hati. Tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu. Selalu bekerja bersama dan kalau makan, selalu mengajak makan bersama.
Tadi ketika mendengar suara ribut-ribut, Seni sempat keluar dari kamar. Dia berpikir ada apa, karena selama ini tidak pernah terjadi demikian. Akhirnya dia kembali masuk ke kamar, karena tidak sampai hati mendengar pertengkaran majikannya.
Ambar tidak masuk ke kamarnya, tetapi kembali ke kamar Juha. Dia ingin tidur bersama putranya, karena hatinya begitu terluka dengan sikap dan ucapan Rulof.
Mereka telah menjadi suami istri hampir 6 tahun, tetapi Rulof tidak mau mengerti apa yang terjadi dengan keluarganya. Kalau dulu Juha masih kecil, Ambar tidak terlalu menanggapi ketika direcokin keluarga Rulof. Tetapi semenjak Juha mulai sekolah, itu sangat mengganggunya.
'Tidak bisa seperti begini terus, kasihan anakku.' Ambar membatin lalu membaringkan tubuhnya di samping Juha. Kemudian dia teringat kepada Sari, teman kuliahnya.
Ambar mengirim pesan untuknya, menanyakan kabar. Sari tidak membalas pesan, tetapi langsung menelponnya.
"Hallo, Ambar. Apa kabarmu?" Tanya Sari terkejut, menerima pesan Ambar.
Karena komunikasi terakhir mereka saat Ambar mengirimkan pesan ucapan Selamat Idul Fitri kepadanya. Setelah itu, mereka disibukan dengan kesibukan masing-masing sehingga tidak berkomunikasi lagi.
"Lumayan baik, Ri. Apa kabarmu juga?" Ambar balik bertanya.
"Lumayan baik juga, karena jam segini masih belum pulang rumah." Ucap Sari.
"Kau masih di restoran, Ri?" Tanya Ambar menebak, karena Sari belum pulang ke rumah.
"Iya. Ini sudah mulai dirapikan karyawan, sebentar lagi baru tutup." Sari berkata sambil melihat karyawannya sedang berbenah.
"Ri, apa kau masih terima karyawan untuk restoranmu?" Tanya Ambar pelan dan ragu.
"Untuk siapa, Ar?" Tanya Sari, mendengar pertanyaan Ambar yang ragu-ragu.
"Untukku, Ri. Aku pingin kerja di tempatmu, kalau bisa." Ambar berkata pelan. Mendengar suara Ambar, Sari mengerti. Ambar tidak sedang bercanda.
"Kalau begitu, besok pagi kau ke restoranku saja. Kita bertemu di sini, baru dibicarakan." Sari langsung mengerti.
"Iyaa, Ri. T'rima kasih sebelumnya. Hati-hati pulangnya." Ambar berkata dengan hati yang sedikit tenang.
"Ok, Ar. Sampai ketemu besok." Lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Ambar duduk di tepi tempat tidur dan berdoa untuk Sari dan rencana pertemuan mereka di esok hari. Kemudian mengatur alaram dan tidur sambil memeluk putranya.
...~●○♡○●~...