Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Gao Rui yang Bisa
Suasana di ruangan itu masih dipenuhi tekanan yang mencekik.
Fang Yi terus bersujud, dahinya sudah berlumuran darah. Tubuhnya gemetar hebat, sementara orang-orang di sekitarnya bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.
Di tengah keheningan itu… Lan Suya akhirnya berbicara lagi.
“Rui’er,” ucapnya lembut, “sebenarnya apa yang terjadi di sini?”
Pertanyaan itu sederhana… namun jelas bukan sekadar menanyakan soal penghinaan barusan.
Gao Rui melirik sekilas ke arah Fang Yi, lalu kembali menatap Lan Suya. Nada suaranya tetap santai, seolah ia hanya sedang menceritakan hal kecil.
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dari meja sebelah,” katanya.
Ji Un sedikit mengernyit, mulai memperhatikan dengan serius.
Gao Rui melanjutkan,
“Mereka membicarakan rencana Harta Langit untuk membeli sebidang tanah di tengah kota… milik Fang Yi.”
Seketika… Ji Un menegang. Itu adalah urusan yang ia tangani sendiri.
“Aku dengar,” lanjut Gao Rui tenang, “tanah itu katanya sangat strategis. Tapi… ada sesuatu yang mereka sembunyikan.”
Tatapan Gao Rui perlahan jatuh ke arah Fang Yi yang masih berlutut.
“Tanah itu bermasalah,” ucapnya datar.
Suasana langsung berubah.
“Apa maksudmu?” tanya Lan Suya, kali ini nadanya sedikit lebih dingin.
Gao Rui menjawab tanpa ragu.
“Itu tanah warisan,” katanya. “Namun Fang Yi memalsukan tanda tangan saudaranya… dan mengalihkan kepemilikan tanah itu menjadi atas namanya sendiri.”
Kalimat itu jatuh seperti batu besar ke dalam air tenang. Ji Un membelalak.
“Apa…?!” gumamnya tanpa sadar.
Sebagai orang yang menghubungi Fang Yi dan mengurus rencana pembelian itu hari ini… ia tahu betul betapa strategisnya tanah tersebut. Lokasinya di pusat kota, nilai jangka panjangnya sangat besar. Namun… ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa tanah itu… memiliki masalah seperti ini.
Wajah Ji Un langsung berubah serius. Tidak ada lagi senyum ramah seperti sebelumnya.
Lan Suya perlahan menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke arah Fang Yi.
“Apakah itu benar?” tanyanya dingin.
Tidak ada emosi berlebih. Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menekan. Fang Yi membeku.
Tubuhnya yang tadi gemetar… kini terasa semakin lemah. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia membuka mulut… namun tidak ada suara yang keluar.
Keluarga Fang… bukanlah keluarga besar di kota ini. Mereka hanya keluarga kelas menengah yang berusaha bertahan di antara arus kekuatan para pedagang besar.
Sedangkan Harta Langit… Walaupun belum menjadi kelompok dagang terbesar di Kekaisaran Zhou… semua orang tahu satu hal, mereka adalah yang berkembang paling cepat.
Dalam beberapa bulan terakhir bahkan beredar desas-desus… Bahwa ada seorang dermawan misterius yang menyuntikkan kekayaan luar biasa ke dalam Harta Langit. Membuatnya melesat jauh melampaui para pesaingnya.
Dan sekarang… Fang Yi perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya bergetar ke arah Gao Rui.
“Jangan-jangan…” pikirnya dengan ngeri. “Dermawan itu…”
Namun pikirannya belum selesai...
“Jawab.”
Suara Lan Suya memotongnya. Satu kata. Datar. Namun penuh tekanan.
Fang Yi tersentak.
“A-aku…” suaranya serak.
Ia masih ragu. Masih mencoba mencari celah. Namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh, langkah Lan Suya maju satu lagi.
Tatapannya menusuk.
“Apa kau ingin mengatakan… bahwa Rui’er berbohong?”
Nada suaranya turun satu tingkat. Dan itu… jauh lebih menakutkan.
Tubuh Fang Yi langsung bergetar hebat.
“Ti-tidak!!” serunya panik.
Ia langsung membenturkan kepalanya ke lantai lagi.
Buk!
“Saya tidak berani!” teriaknya.
Napasnya memburu. Suaranya hampir pecah.
“Itu benar! Semua yang dikatakan Tuan Muda benar!”
Suasana langsung sunyi total.
Fang Yi melanjutkan dengan terbata-bata, penuh ketakutan.
“Saya… saya memang memalsukan tanda tangan saudara saya… dan mengambil alih tanah itu…” katanya dengan suara gemetar. “Saya… saya berniat menjualnya kepada Harta Langit…”
Kepalanya kembali menghantam lantai.
“Saya bersalah! Saya benar-benar bersalah!”
Ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya lagi.
“Saya mohon ampun! Saya tidak seharusnya mencoba menipu Harta Langit!”
Kata-kata itu menggema di ruangan yang hening.
Ji Un berdiri kaku di tempatnya. Wajahnya kini benar-benar serius. Tidak ada lagi keraguan. Ia tahu… jika transaksi itu terjadi, dampaknya tidak hanya soal kerugian uang tapi juga reputasi Harta Langit. Dan itu… sesuatu yang tidak bisa ditoleransi.
Sementara itu… Gao Rui hanya berdiri diam. Tatapannya tenang menatap Fang Yi yang bersujud tanpa henti. Seolah semua ini… memang sudah ia perkirakan sejak awal.
Lan Suya menghela napas panjang. Suara helaan napas itu tidak keras… namun cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu kembali menegang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengangkat tangannya sedikit.
“Keluar dari sini.”
Perintahnya singkat dan dingin.
Teman-teman Fang Yi yang sejak tadi gemetar langsung tersentak. Mereka bergegas maju, menarik Fang Yi yang hampir tidak punya tenaga lagi.
“I-iya! Cepat!” bisik salah satu dari mereka panik.
Mereka menyeret Fang Yi keluar dengan terburu-buru, bahkan hampir tersandung di ambang pintu. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang.
Dalam sekejap… ruangan itu kembali kosong. Hening. Sangat hening.
Raut wajah Lan Suya perlahan berubah. Tidak lagi dingin… melainkan jelas menyimpan amarah yang ditekan kuat-kuat.
Tatapannya beralih. Langsung menuju Ji Un.
Pria itu yang merupakan kepala toko Harta Langit kota Heisha seketika pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia tahu. Ia benar-benar tahu. Ini adalah kesalahannya. Sebagai orang yang mengurus transaksi itu… ia hampir saja membuat Harta Langit terjerumus dalam skandal besar.
Namun Lan Suya… masih diam. Tidak ada teriakan. Tidak ada bentakan. Justru itu yang membuat suasana terasa semakin mencekik.
Wilayah ini adalah Penginapan Teratai Emas. Banyak mata dari berbagai kelompok berada di sekitar tempat ini. Jika ia meluapkan amarahnya secara terang-terangan… Itu akan menjadi bahan pembicaraan. Dan Harta Langit tidak membutuhkan itu.
Namun… menahan amarah jelas bukan hal mudah. Aura di sekeliling Lan Suya perlahan berubah… semakin berat.
Di belakangnya, Rou Xi sedikit menunduk, lalu berbisik pelan ke arah Bai Kai.
“Menurutmu… berapa lama lagi nyonya bisa menahan diri?”
Bai Kai melirik sekilas ke arah Lan Suya, lalu menjawab dengan suara yang sama pelannya.
“Mungkin… kurang dari tiga puluh detik.”
Rou Xi menarik napas kecil. Ia tahu itu bukan lelucon. Ia jelas sudah tahu sifat dari pemimpin harta langit itu sejak lama.
Namun, belum sampai hitungan itu berakhir…
“Bibi… apa kau baik-baik saja?”
Suara itu terdengar ringan. Tenang. Seolah tidak terpengaruh oleh tekanan di ruangan itu. Itu adalah suara Gao Rui.
Lan Suya sedikit terdiam. Tatapannya yang penuh amarah perlahan beralih ke arah wajah bocah itu. Dan entah mengapa… amarah yang tadi seperti api yang siap meledak… perlahan mereda. Hanya dengan satu kalimat sederhana.
Gao Rui tidak menunggu jawaban. Ia justru menoleh ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan.
“Tolong bawakan minuman ke sini,” katanya santai.
Pelayan itu seperti baru tersadar dari mimpi buruk.
“I-iya, Tuan Muda!” jawabnya cepat sebelum bergegas pergi.
Gao Rui kemudian kembali menatap Lan Suya.
“Ayo duduk dulu,” katanya ringan.
Tanpa ragu… ia menggandeng tangan Lan Suya. Gerakan itu sederhana. Namun cukup membuat semua orang di ruangan itu membeku sesaat. Ia menariknya menuju salah satu meja di dekat jendela.
Dan yang lebih mengejutkan… Lan Suya tidak menolak. Ia benar-benar mengikutinya. Langkahnya masih anggun… namun jelas jauh lebih tenang dibanding beberapa detik sebelumnya.
Di belakang mereka, Rou Xi dan Bai Kai saling melirik. Ekspresi keduanya… benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Rou Xi berbisik pelan.
“…aku tidak salah lihat, kan?”
Bai Kai menggeleng perlahan, masih menatap punggung Gao Rui.
“Tidak.”
Ia lalu menambahkan, suaranya penuh keyakinan.
“Sepertinya… satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahan Nyonya…”
Tatapannya menajam sedikit.
“…hanya Tuan Muda.”
Rou Xi mengangguk pelan.
“Sepertinya begitu…”