"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Bau antiseptik rumah sakit yang menyengat seolah mencekik kerongkongan Aruna. Lorong panjang menuju ruang ICU terasa seperti lorong waktu yang menyiksanya pelan-pelan. Setiap detik terasa berharga, sekaligus menakutkan. Matanya sembab, merah, dan pandangannya mengabur akibat air mata yang tak henti mengalir. Ia mencengkeram tas tangannya kuat-kuat, mencoba mencari pegangan di tengah dunia yang baru saja runtuh.
Di dalam ruang ICU, suasana begitu hening, hanya bersahutan dengan bunyi bip dari monitor jantung dan desis mesin ventilator. Kakaknya, Adisti, terbaring lemah dengan berbagai selang menempel di tubuhnya yang tampak rapuh. Wajah yang biasanya ceria dan penuh tawa itu kini pucat pasi, dihiasi memar dan luka - luka akibat benturan keras. Di ranjang sebelah, kakak iparnya, Rendy, juga dalam kondisi yang sama kritisnya. Kecelakaan beruntun di tol itu telah menghancurkan mobil mereka, dan kini, menghancurkan masa depan keluarga kecil itu.
Di sudut ruangan, berdiri seorang laki-laki yang sangat Aruna hindari: Gavin. Adik kandung Rendy.
Gavin yang biasanya tampil perlente dengan kemeja bermerek yang kancing atasnya selalu dibuka dan senyum tebar pesona yang memuakkan, kini tampak berantakan. Rambutnya kacau, jas mahal yang biasa ia banggakan entah ke mana, menyisakan kemeja putih yang kusut dan bernoda darah kering—mungkin darah kakaknya sendiri saat ia mencoba membantu mengevakuasi. Wajahnya yang biasa terlihat riang kini muram, ada kesedihan mendalam di matanya, namun Aruna terlalu hancur untuk memperhatikannya.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa ini terjadi, Vin?" bisik Aruna, suaranya parau, hampir tak terdengar. Ia menatap ruang ICU dengan pandangan putus asa.
Gavin menoleh pelan, menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Truk itu... remnya blong, Na. Kak Rendy sudah coba menghindar, tapi..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Kebetulan Gavin berada di satu tempat yang sama dengan Rendi dan Adisti disaat kejadian itu terjadi. Hanya berdanya Gavin berada mobil terpisah. Ia mengendarai mobil miliknya sendiri seorang diri. Sedangkan Rendi bersama anak serta istrinya di mobil yang sama.
Ketika kedua orang itu sedang berbicara pintu ruang rawat sang kakak terbuka. Keluar seorang dokter dan suster dengan wajah lelah dan sendu tercetak jelas di wajah keduanya.
Dokter itu mempersilakan Aruna dn Gavin untuk masuk kedalam ruangan. Karena kedua pasangan suami istri itu yang meminta pada Dokter serta suster untuk meminta kedua adiknya masuk kedalam.
Aruna mendekat ke ranjang Adisti, mengabaikan keberadaan Gavin yang berdiri di belakangnya. Ia mengusap pelan tangan kakaknya yang terasa dingin. "Kak Dis... bangun, Kak. Kenzie nungguin Kakak di luar. Dia tadi nanyain Bundanya terus," rintihnya, air matanya kembali tumpah.
Di luar ruangan, Kenzie, keponakan mereka yang baru berusia 1,7 tahun, sedang tertidur di gendongan oleh seorang perawat. Kebetulan bocah kecil itu baru saja di obati oleh tim medis. Karena terus rewel membuat salah satu perawat merasa iba lalu membawa Kenzie menuju ruangan kedua orang tuanya berada. Bocah itu tak tahu bahwa dunianya baru saja runtuh, bahwa ia mungkin tak akan pernah lagi merasakan pelukan hangat ibunya atau gendongan kuat ayahnya.
"Aruna... Gavin..." Suara lemah Adisti memecah kesunyian yang mencekam. Suaranya sangat pelan, hampir tenggelam oleh bunyi mesin di ruangan itu.
Mereka berdua tersentak dan langsung mendekat ke sisi ranjang. Adisti dan Rendy sempat saling bertukar pandang dengan sisa tenaga yang ada, sebuah tatapan penuh cinta dan perpisahan yang menyayat hati.
"Tolong... jaga Kenzie," bisik Rendy dengan suara parau. Ia mencoba meraih tangan Adisti, namun tenaganya tak cukup.
"Kami akan jaga Kenzie, Kak. Pasti. Aku berjanji," jawab Gavin cepat, suaranya bergetar hebat. Ia mencengkeram pagar tempat tidur kakaknya.
"Bukan hanya menjaga..." Adisti meraih tangan Aruna dengan susah payah, lalu menarik tangan Gavin untuk bertumpu di atasnya. Genggaman tangan mereka bertiga terasa begitu rapuh namun sarat beban. "Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Aruna tersentak, seolah tersengat listrik. Ia menatap Adisti dengan tatapan tak percaya. Jantungnya seakan berhenti detak untuk sesaat. "Kak Dis, apa yang Kakak omongin? Menikah? Dengan dia?" Aruna menunjuk Gavin dengan tatapan ilfil yang tak bisa disembunyikan.
"Kak, tapi... kami bisa urus Kenzie bersama-sama tanpa harus—" Aruna mencoba mengajukan keberatan, suaranya bergetar antara sedih dan syok.
"Gavin... Aruna... tolong," desak Rendy dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Monitor jantung di sampingnya mulai mengeluarkan bunyi peringatan yang tidak stabil. "Ini permintaan terakhir kami. Demi Kenzie."
Aruna menatap Gavin. Laki-laki itu tampak sama syoknya. Gavin adalah definisi "kebebasan"—dia playboy kelas kakap yang alergi komitmen, yang dunianya hanya seputar pesta dan wanita. Menikah dengan Aruna yang judes, kaku, dan perfeksionis pasti adalah neraka baginya. Aruna sendiri masih mengingat jelas bagaimana Gavin sibuk membalas pesan dari tiga wanita berbeda sambil mengedipkan mata pada pelayan restoran saat makan malam keluarga sebulan lalu. Pikiran untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki semacam itu membuat Aruna mual.
"Aruna... Gavin... berjanjilah," desak Adisti lagi, air mata mengalir di sudut matanya yang sayu. Ia menatap mereka dengan pandangan memohon yang tak mungkin ditolak.
Gavin menarik napas panjang, menatap Aruna dengan tatapan yang sangat serius—kehilangan sisi humoris dan flirty-nya untuk pertama kali dalam hidupnya. Ia melihat keputusasaan di mata kakaknya dan kakak iparnya. "Baik. Kami lakukan. Aku akan menikah dengan Aruna. Sekarang juga."
Aruna membeku. Pikirannya kosong. Tanpa perasaan cinta, tanpa persiapan, dan dengan orang yang paling ia benci di dunia ini. Tapi melihat kondisi Adisti yang semakin menurun, menolak permintaan itu terasa seperti belati yang kejam. Ia tidak punya pilihan.
"Aruna, bagaimana denganmu?" tanya Rendy dengan suara yang hampir habis.
Aruna menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia menatap Adisti, mengingat semua kenangan manis mereka, mengingat tawa Kenzie. "I-iya, Kak. Aku bersedia."
Di bawah lampu neon rumah sakit yang pucat, dengan seorang penghulu yang dipanggil darurat oleh Mahes, seketaris Gavin dan disaksikan oleh Dokter serta perawat yang berada di ruangan tersebut, sebuah pernikahan siri digelar. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada gaun pengantin indah, tidak ada resepsi meriah. Hanya ada air mata duka, janji setia yang dipaksakan, dan beban tanggung jawab yang begitu berat.
"Saya terima nikahnya Aruna Paramitha binti Afendi Irawan dengan maskawin tersebut tunai..."
Suara Gavin yang berat dan bergetar menggema di ruangan itu. Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti paku yang menancap di hati Aruna. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan setetes air mata jatuh ke pipi mulusnya. Ini bukan pernikahan impian Aruna dan bukan pria yang ia cintai, menjadi pendamping hidupnya.
Setelah penghulu menyatakan pernikahan mereka sah, Adisti dan Rendy tersenyum tipis, sebuah senyuman lega di tengah rasa sakit yang mendera. "Terima kasih... Kenzie akan aman..." bisik Adisti pelan.
Hanya berselang beberapa menit setelah janji suci itu terucap, monitor jantung di samping Adisti dan Rendy mengeluarkan bunyi tiit panjang yang mengerikan. Garis di layar menjadi datar.
"Kak Dis! Kak Rendy!" Aruna berteriak histeris, mencoba mengguncang tubuh kakaknya, namun perawat langsung menahannya.
"Jangan tinggalin Aru, kak... Ibu ninggal Aru sejak kecil. Ayah tinggal jauh di negeri orang.. Aru sendirian sekarang, kak." Jerit Aruna dalam pelukan salah satu perawat yang menangani kakaknya tadi.
"Kenzie masih butuh kakak !!" Seru Aruna dengan suara bergetar.
Gavin berdiri terpaku, menatap kedua kakaknya yang kini telah pergi untuk selamanya. Di tengah kekacauan itu, di tengah tangis histeris Aruna, Gavin merasakan beban dunia tiba-tiba runtuh di pundaknya. Ia kini adalah seorang suami, dan seorang ayah. Dua hal yang paling ia takuti, kini menjadi kenyataan di tengah duka yang paling kelam. Ia menatap Aruna, yang kini terduduk lemas di lantai sambil menangis, dan ia tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Bersambung.....
*
*
*
Hallo... Selamat datang di novel terbaru author. Semoga kalian suka dengan jalan ceritanya.
Jangan lupa terus berikan dukungan berupa like dan Ulasan bintang lima 🙏🏻😊
Sama jangan lupa follow akun Noveltoon Author ya 😄😘
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor