Perjalan hidup seorang Damar menggapai kesuksesan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Pemuda yang Selalu Diremehkan
Matahari baru saja naik beberapa jengkal di ufuk timur, tetapi hawa panas sudah mulai terasa di kulit. Damar berjalan menyusuri jalanan tanah desa dengan langkah yang agak diseret. Kaos oblongnya yang berwarna putih sudah berubah mangkrak menjadi abu-abu kecokelatan, penuh dengan noda tanah kering di bagian pinggirnya. Celana jin longgar yang dipakainya pun sudah berlubang di bagian lutut, ditambal seadanya dengan benang yang warnanya bahkan tidak senada. Dengan kacamata berbingkai hitam tebal yang terus melorot di hidungnya, penampilan Damar memang selalu berhasil mengundang perhatian, tapi perhatian yang sayangnya tidak pernah bernada positif.
"Woi, Damar! Sini lu!" teriak sebuah suara cempreng dari arah gardu ronda.
Damar menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Di sana ada Jaka dan dua temannya yang sedang asyik merokok sambil minum kopi sasetan. Damar membetulkan letak kacamatanya dengan ujung telunjuk.
"Iya, Bang Jaka? Ada apa?" tanya Damar pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin motor yang lewat.
"Sini dulu, jangan buru-buru. Elu mau ke mana pagi-pagi begini dengan bentukan kayak gembel begitu?" Jaka terkekeh, menyikut temannya yang langsung ikut tertawa terbahak-bahak.
"Mau ke rumah Pak RT, Bang. Katanya ada rumput liar yang perlu dibersihkan di kebun belakangnya," jawab Damar jujur, sambil menunduk menatap sandal jepitnya yang tipis sebelah.
Jaka mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Damar dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan. "Halah, kerjaan lu dari dulu kagak berubah ya? Kalau kagak bersihin rumput, ya angkat-angkat karung. Kagak cape apa hidup miskin melulu? Penampilan juga dibenerin napa, culun amat jadi cowok."
"Ya mau bagaimana lagi, Bang. Yang penting halal dan bisa buat makan hari ini," kata Damar, mencoba tersenyum meski hatinya agak sepet mendengar ucapan itu.
"Halal sih halal, Mar. Tapi ya minimal modal dikit napa biar kagak kelihatan kayak keset rusak. Lu tuh laki-laki, tapi lemes banget, pantesan kagak ada cewek desa yang mau melirik lu," sahut teman Jaka yang berambut gondrong, menimpali dengan nada mengejek yang kental.
"Sudah lah, Bang. Saya permisi dulu, takut Pak RT nungguin," ucap Damar berusaha menyudahi obrolan yang tidak mengenakkan itu.
"Ya sana gih, hus! Bersihin yang bersih ya, jangan sampai ada ular yang gigit lu. Tar kalau lu mati, kasihan tanah desa malah ketularan apes," usir Jaka sambil melambaikan tangan seperti mengusir ayam.
Damar kembali melangkah, mengabaikan tawa yang kembali pecah di belakang punggungnya. Perlakuan seperti itu sudah makanan sehari-harinya di desa kecil ini. Statusnya sebagai pemuda miskin tanpa pekerjaan tetap membuatnya menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan bercandaan. Ia berjalan melewati deretan rumah warga hingga akhirnya sampai di pagar bambu milik Pak RT.
"Kulanuwun, Pak RT," panggil Damar dari luar pagar.
Seorang pria paruh baya dengan sarung yang dikalungkan di leher keluar dari pintu samping rumah. "Oh, Damar. Sudah datang kamu? Masuk, Mar, langsung ke belakang saja ya."
"Baik, Pak. Alat-alatnya di tempat biasa?" tanya Damar sembari membuka gerbang bambu.
"Iya, sabit sama cangkul kecil ada di dekat kandang ayam. Kamu babat saja semuanya sampai bersih ya. Itu rumput gajah sudah tinggi-tinggi banget," ujar Pak RT sambil menunjuk ke arah kebun belakangnya yang cukup luas.
"Siap, Pak RT. Nanti kalau sudah selesai, saya kabari," kata Damar.
"Yo wis, kerjakan yang bener. Jangan malas-malasan, Mar," sahut Pak RT sebelum masuk kembali ke dalam rumahnya.
Damar berjalan ke belakang, mengambil sabit yang sudah agak berkarat, lalu mulai berjongkok di hadapan semak-semak. Satu per satu rumput liar ia potong dengan gerakan konstan. Keringat mulai bercucuran dari dahi, membasahi kacamatanya yang berulang kali harus ia lap menggunakan kaosnya yang sudah kotor. Pekerjaan ini melelahkan dan upahnya tentu tidak seberapa, tetapi Damar tidak punya pilihan lain untuk menyambung hidup.
Hampir tiga jam Damar berkutat dengan rumput-rumput itu sampai matahari tepat berada di atas kepala. Setelah memastikan semuanya bersih dan rapi, ia mencuci tangan dan kakinya di sumur luar, lalu berjalan menuju teras depan rumah Pak RT untuk melaporkan pekerjaannya. Di sana, ternyata Pak RT sedang mengobrol dengan Bu RT yang baru saja pulang dari pasar.
"Pak RT, rumputnya sudah bersih semua. Sudah saya kumpulkan juga di pojokan dekat tempat sampah," kata Damar sambil berdiri di dekat tangga teras.
Pak RT menoleh, lalu merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sudah agak lecek dan menyodorkannya kepada Damar. "Ini upahmu, Mar. Cukup kan?"
Bu RT yang melihat itu langsung menyenggol lengan suaminya. "Bapak ini gimana sih, bersihin kebun segede gitu cuma dikasih segitu? Ditambahin lah, Pak, kasihan si Damar."
Pak RT merengut, tampak agak keberatan. "Halah Bu, cuma bersihin rumput liar saja kok diminta mahal-mahal. Di kota saja tenaga kasar murah. Lagian Damar kan kerjanya juga santai tadi."
Damar segera menerima uang itu dengan kedua tangannya sambil membungkuk. "Sudah, Bu RT, tidak apa-apa. Segini juga sudah alhamdulillah, sangat cukup buat saya beli beras hari ini. Terima kasih banyak ya, Pak RT, Bu RT."
Bu RT menghela napas panjang, menatap Damar dengan pandangan iba sekaligus gemas dengan kepasrahan pemuda itu. "Ya ampun, Damar... kamu itu ya, terlalu nerimo. Makanya orang-orang di desa ini sering nginjak-nginjak kamu. Penampilan kamu juga diurus, lecek banget begitu, kayak orang kagak pernah mandi."
"Hehe, iya Bu. Nanti kalau ada rezeki lebih, saya beli baju baru," jawab Damar santai, mencoba mencairkan suasana meskipun ia tahu ucapan Bu RT ada benarnya.
"Ya sudah, Mar. Pulang sana, mandi yang bersih," kata Pak RT memotong pembicaraan istrinya.
"Baik, Pak, Bu. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Damar.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka berdua berbarengan.
Dengan uang lima puluh ribu di kantong celananya, Damar berjalan menuju warung kelontong milik Mbak Sri di dekat pertigaan jalan desa. Perutnya sudah berbunyi sedari tadi, mengingatkan bahwa ia belum sarapan sama sekali sejak pagi.
"Mbak Sri, beli beras sekilo sama telur dua butir ya," kata Damar begitu sampai di depan etalase warung.
Mbak Sri yang sedang asyik menghitung uang kembalian mendongak, lalu mengernyitkan dahi begitu melihat Damar. "Aduh, Damar. Lu kalau datang ke warung bau matahari banget sih, Mar. Minggir dikit napa, jangan deket-deket toples kerupuk gue, tar kerupuk gue layu kena bau lu."
Damar langsung mundur dua langkah, merasa agak kikuk. "Maaf, Mbak. Tadi habis kerja di tempat Pak RT, belum sempat pulang ke rumah."
Mbak Sri mendengus sambil mengambil kantong plastik hitam. "Nih, beras sekilo sama telur dua. Totalnya dua puluh lima ribu. Uangnya mana?"
Damar menyerahkan uang lima puluh ribuan tadi. Mbak Sri menerimanya, lalu memberikan uang kembalian dengan gerakan cepat seolah enggan berlama-lama berinteraksi dengan Damar.
"Nih kembaliannya. Lu tuh ya Mar, udah umur segini masa kerjanya serabutan melulu sih? Kagak berniat cari kerjaan yang bagusan apa di kota? Biar kagak culun dan kucel begini terus. Malu-maluin warga desa tahu kagak, ada pemuda yang penampilannya kayak begini," omel Mbak Sri panjang lebar tanpa diminta.
"Belum ada modal buat ke kota, Mbak. Cari kerja di sana juga susah kalau kagak punya ijazah tinggi," jawab Damar pelan sambil memasukkan belanjaannya ke dalam kantong.
"Ya makanya usaha, jangan cuma nerimo nasib jadi kuli rumput terus. Dah sana, gantian sama pembeli lain," usir Mbak Sri saat melihat ada ibu-ibu lain yang datang.
Damar hanya mengangguk kecil. "Terima kasih, Mbak Sri."
Damar melanjutkan perjalanannya menuju gubuk kecilnya yang terletak di ujung desa, dekat dengan area pekuburan. Sepanjang jalan, beberapa warga yang berpapasan dengannya ada yang membuang muka, dan ada juga yang berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk penampilannya. Damar sudah kebal. Baginya, kata-kata cacian dan pandangan merendahkan dari orang-orang desa sudah berubah menjadi latar belakang suara yang biasa ia dengar setiap hari.
Sesampainya di rumah, Damar membuka pintu kayu yang sudah lapuk dan mulai berderit keras. Rumah berukuran empat kali enam meter itu tampak sepi dan kosong, hanya ada sebuah tikar pandan yang sudah robek di sudut ruangan dan sebuah meja kayu kecil berkaki tiga yang diganjal dengan batu bata.
Damar meletakkan kantong belanjaannya di atas meja tersebut, lalu berjalan ke arah cermin kecil yang tergantung miring di dinding dekat dapur. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang permukaannya sudah buram dan berdebu itu. Wajahnya tampak kusam, rambutnya acak-acakan tidak beraturan, dan kacamata bulatnya dipenuhi bercak keringat yang mengering.
Ia menghela napas panjang, lalu melepas kacamatanya dan menyeka wajahnya dengan ujung kaos oblongnya yang kotor.
"Nasib begini amat ya, tiap hari cuma bisa jadi bahan omongan orang," gumam Damar pada dirinya sendiri.
Ia terdiam sesaat, memandangi ruangan rumahnya yang sunyi. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, bukan hanya lelah fisik karena mencangkul rumput di bawah terik matahari, melainkan lelah hati karena terus-menerus dianggap tidak ada harganya oleh lingkungan sekitar. Damar membalikkan badan, lalu melangkah lesu menuju dapur untuk menyalakan kompor minyaknya yang sudah tua demi memasak beras yang baru saja ia beli.
SKIP and OUT
PENTOL KOREK...!!!
sayangnya terlalu byk main spasi.
percakapan yg hny satu dua kata terasa kaku, terkesan seperti robot.
disinilah letak sesuatu yg harus outhor perbaiki, agar kedepan karya2 outhor lebih terasa hidup, & nyaman dinikmati reader, sehingga menjadikan outhor sbg writer yg paling dicari karyanya.
tetap semangat, pantang menyerah karna komentar yg mengkritik bahkan menyinggung. anggap itu semua sbg pemicu semangat & tangga pencapai suksesmu..💪👍🙏
contoh pembicaraan antara mc & perempuan yg bertemu dgnnya, dan mc dgn nita. tau2 nita nongol tanpa ada info drmn dia tau/ mengenal mc.
dr situ ceritamu akan terasa lbh padat dan berisi, tdk terkesan "hny menjual spasi"💪
kyk makan arum manis..
jd terasa kosong ceritanya