Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 1. Meminta kepastian
“Harusnya kamu paham dengan interaksi kita selama ini. Nggak mungkin dong, kalau Mas cuma nganggap kamu sebatas rekan kerja aja?” tanyanya dengan senyuman tipis dan tatapan yang dalam.
Aku mengerti gelagatnya dan interaksi kita selama ini. Tapi, ia masih tidak mengerti bahwa aku…
“Aku masih bersuami, Mas,” ungkapku berani dengan memperhatikan perubahan di wajahnya.
Namun, apa? Dia malah terkekeh kecil dan menarik tanganku, lalu ia menggenggamnya.
“Mas udah nggak mempan sama omong kosong kamu itu, De,” sahutnya dengan menoleh ke arahku kembali.
Omong kosong yang mana?
Jangan-jangan, selama ini ia tidak percaya dengan pengakuanku bahwa aku ini istri orang? Apa karena aku suka bergurau, jadi ia menganggap bahwa pengakuanku adalah omong kosong belaka?
“Lah, memang kenyataannya aku istri orang kok,” jelasku kemudian.
Ia tertunduk sejenak, kemudian ia menoleh perlahan ke arahku. Kali ini ekspresi wajahnya cukup serius, tidak ada senyum atau kekehan kecil.
“Mana buktinya kalau kamu ini istri orang?” Dada bidangnya sedikit condong ke arahku.
Apa aku keterlaluan ya sebagai rekan kerjanya? Sampai-sampai ia terbawa perasaan dan meminta kepastian begini.
“Bentar,” jawabku dengan merogoh ponselku yang berada di dalam tas jinjingku.
Dadanya menempel pada lenganku, posisinya amat dekat dan ia merangkulku mesra. Wajahnya terarah ke ponsel di tanganku, ia seperti tidak sabar melihat fakta tentangku.
“Udahlah, yang kamu cari-cari nggak kamu miliki. Kamu nggak punya bukti apa-apa tentang suami yang kamu akuin itu. Ini kota besar, Mas terima keadaan kamu kalau memang kamu udah buka segel. Itu bukan masalah untuk Mas, Mas nggak nuntut apa-apa dari kamu. Mas terima kamu dengan aib-aibmu juga,” ujarnya dekat telingaku.
Nah, ini. Aku menemukan apa yang aku cari.
“Ini, Mas.” Aku menunjukkan apa yang aku cari-cari tadi.
Ia bergegas melepaskan rangkulannya, kemudian merebut ponselku dari tanganku. Ia tergesa-gesa melihat detail pada gambar foto yang aku tunjukkan.
“Hmmmm…” Ia menganggukkan kepalanya berulang setelah melihat detail waktu pada foto tersebut.
“Ini foto tiga tahun silam, banyak hal yang terjadi selama kalian berjauhan. Mas yakin, sekarang kamu udah nggak bersuami kan? Kalian udah pisah kan?” tanyanya seperti menuduh, karena ia menyudutkanku dari nada dan sorot matanya.
“Oke gini,” sambungnya sebelum aku menjelaskan tentang keadaan ini. “Mas nggak mempermasalahkan status kamu, Dea. Kamu pernah cerita, bahwa kamu mengubah data diri kamu saat melamar pekerjaan ke Mas. Status kamu aslinya cerai pisah kan? Terus kamu ubah ke belum menikah, untuk kepentingan kamu nyari kerja,” lanjutnya seolah menolak kenyataan ini.
Alisku menyatu, aku bingung dengan bosku ini. Bisa-bisanya ia memiliki persepsi sendiri, padahal aku jelas memiliki suami. Meski memang, hubunganku dengan suamiku sedang tidak baik-baik saja.
“Mas.” Aku mengambil alih kembali ponselku.
Harus dari mana aku menjelaskannya? Kenapa ia memilih untuk tidak mempercayai bukti dan pengakuanku?
“Bagaimanapun status kamu, kondisi kamu, masa lalu kamu, latar belakang kamu dan keluargamu, Mas terima. Mas nggak mempermasalahkan itu semua. Malahan, Mas khawatir kamu menjauhi Mas kalau kamu tau tentang asal-usul Mas,” tuturnya dengan mengusap-usap pahaku yang terlapisi dress bodycon kesukaanku.
Asal-usulnya adalah, ia keturunan orang kaya.
Namun, ia ada masalah dengan keluarga ayahnya karena ia sudah dua kali tersandung kasus yang sama yaitu pasal 127 ayat 1.
Meski ia masih mendapat songkongan biaya dari ayahnya, tapi ia diurus ibunya. Karena ibu dan ayahnya sudah berpisah. Itu yang aku ketahui.
“Asal-usul apa? Asal-usul bahwa kenyataannya Mas ini anak CEO dari tanah Sumatera yang tersesat di Pulau Jawa ini?” Aku terkekeh geli dan meliriknya sekilas.
“Aku udah tau tentang itu, Mas. Waktu Mas masa tahan dan rehabilitasi, aku ngurus usaha Mas sambil dapat arahan dari keluarga ayahnya Mas,” lanjutku dengan menyalakan lagi ponselku.
Aku masih menyimpan tidak ya video akad nikahku? Aku akan mencarinya.
“Mas anak hasil tanpa pernikahan,” akunya tiba-tiba.
Aku menjatuhkan ponselku ke pahaku. Aku benar-benar tidak percaya mendengar pengakuannya, aku menoleh perlahan memperhatikan wajah seriusnya.
Aku yakin ia tidak sedang berbohong.
Ia bersiap melanjutkan kalimatnya, mungkin ia mengerti dengan ekspresi wajahku yang menuntut penjelasan ini.
Pertanyaanku satu, bagaimana bisa?
Aku sangat tidak percaya dengan pengakuannya itu, aku tahu profil lengkap keluarga besarnya. Keluarganya keluarga terpandang, perusahaan besar dan lebih dari seratus anak perusahaan berbeda yang dimiliki keluarga besarnya.
Meski perusahaan besarnya berada di Kalimantan, tapi alamat keluarga besar ayahnya di ujung Sumatera. Di bayanganku mereka di sana bersorban dan bercadar, jadi amat tidak mungkin jika sampai memiliki anak tanpa pernikahan.
“Ayah kandung Mas living together sama pacarnya waktu kuliah di Jawa. Orang yang Mas panggil ayah itu adalah kakek Mas dari pihak ayah, orang yang Mas panggil ibu itu adalah nenek Mas dari pihak ayah,” jelasnya membuatku melongo tak percaya.
Aku hanya bisa bernapas dengan baik dan mengedipkan mata tak percaya saja. Hmm, bagaimana? Bagaimana?
Aku masih bingung mencerna semua ini.
“Bang Nadim, kau tau kan?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku cepat.
“Dia ayah kandung Mas,” ungkapku yang tak kalah membuatku melongo.
“Kenapa Mas panggil beliau dengan sebutan abang?” tuturku dengan otak berkelana sendiri.
Aku masih penjelasan tentang pernikahanku padanya, tapi aku malah dibuat tidak percaya dengan pengakuannya yang tanpa aba-aba ini. Dua tahun aku bekerja padanya, baru kali ini aku tahu fakta yang sebenarnya. Bahkan teman-temannya pun tidak ada yang membuka fakta tersebut.
“Sebenarnya bang Nadim sering ngajarin Mas untuk panggil beliau dengan panggilan ayah, bahkan Mas waktu kecil diurus dan ikut tinggal dengan beliau di luar negeri. Tapi ada masalah dengan kondisi ini, yang buat bang Nadim kesulitan di masa yang beliau hadapi masa itu. Mas juga memang udah sering dikasih tau dari kecil sama bang Nadim, bahwa bang Nadim tuh ayah kandung Mas. Tapi karena kakek dari keluarga terpandang, kakek yang Mas panggil ayah ini. Jadi Mas harus terbiasa manggil kakek dengan sebutan ayah, karena hanya keluarga besar yang tau bahwa sebenarnya Mas anak bang Nadim dan anak hasil tanpa pernikahan. Bahkan, data diri Mas itu ya Mas itu anak kandung kakek dan nenek dari pihak ayah,” ungkapnya cukup lirih dengan pandangan yang seperti mengingat kembali di masa-masa itu.
“Jadi???” tanyaku menggantung, aku menelan ludahku sendiri. Aku masih tak percaya dengan cerita bosku ini.
“Yaaa, jadi Mas Dhatu Barraq ini lahir dari rahim perempuan yang tidak beruntung. Perempuan yang dua puluh lima tahun lalu ditinggal pergi setelah melahirkan, perempuan yang dihamili tanpa dinikahi dan perempuan malang yang bayinya diambil tanpa permisi. Mirisnya, begitu bayi ini berumur dua puluh lima tahun, bayi yang diambil tanpa permisi sesaat setelah mamah melahirkan ini tersandung kasus, malah dilepaskan dan Mas harus mencari sendiri perempuan yang sekarang hidupnya pun kurang secara ekonomi dan sosial.” Ia tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠