Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dunia yang berbeda
"tumben amat, udah bangun van"ucap ardan.
ia turun melangkah mendekati revan dengan wajah bingung
revan menoleh.
namun ia tak berkata apapun.
revan malah mengeluarkan map coklat dari tasnya.
"kenapa van? ada masalah?"ardan duduk.
ia mengambil map itu dan mulai membacanya, sesekali ardan meremas map.
tapi tidak keras.
"apa pak tua ini tidak ada kapoknya" gunan ardan.
"jadi, gimana dan. apa kita tutup aja pabrik di Belanda, kejadian kayak gini udah berkali kali keulang kan"
ardan menggeleng.
"jangan buru buru mutusin van, cobak rileks dulu."
ardan mengalihkan pandangannya ke arah jam tangan-Nya.
"udah hampir jam 9, enak kita makan aja dulu habis itu baru kita omongin ini lagi" lanjut ardan.
"tapi dan."
"udah, ayok. gak enak mikir tapi perut masih kosong" ardan menarik revan ke meja makan.
revan hanya menurut, mereka benar benar makan.
saat makan, revan sesekali menatap ardan yang seperti tidak ada beban sama sekali.
padahal kerugian mereka hampir menyentuh 30 miliyar.
"bik, nanti tolong buatkan coklat hangat. bawa ke ruangan kerjaku"
"baik tuan" saut salah satu pelayan.
setelah makan, barulah mereka pergi ke ruang kerja.
"gimana dan" tanya revan setelah duduk.
ardan menggeser segelas coklat hangat ke arah ardan.
"minum dulu, kata orang coklat bisa nenangin pikiran" ucap ardan.
revan benar benar mengambil coklat hangat itu.
"jika kita menutup pabrik di Belanda, itu bukanlah solusi" ungkap ardan tiba tiba.
revan menatap ardan, seolah bingung.
"maksudnya?"
"van, kamu tau sendiri yang orang tua itu incar bukan pabrik itu, tapi aku"ungkap ardan.
" tapi dan, kenapa yang ayahmu terget bukan perusahan utama kita, kenapa malah cabangnya"tanya revan.
ardan mengambil gelas coklat hangat milik-Nya.
"coba lihat gelas ini van, jika ada orang yang ingin menghancurkannya apa yang akan kamu lakukan"
"tentu, menghalangi orang itu agar tidak menghancurkan gelasku" jawab revan.
"nah, kayak gitu juga dengan perusahaan. kalo pak tua itu langsung menyerang perusahan utama pasti dia akan langsung menghadapi kita kan, dan itu lebih beresiko"jawab ardan.
" tapi bukankah sama saja dengan perusahaan cabang"
ardan tersenyum, ia menaruh gelasnya lagi.
"coba bayangin, kau punya gelas besar ini, dan beberapa gelas kecil. tentu karena gelas di dalamnya lebih banyak dan memuaskan kita akan fokus ke sini. saat seperti ini, orang yang mau merebut gelas besar akan menghancurkan gelas kecil ini. kau bilang kita tutup saja, itu sama saja kita membuang pecahan gelas tanpa membersihkannya. hal ini pasti membuat orang orang beranggapan, membersihkan dan memperbaiki gelas kecil saja kita tidak bisa, lalu bagaimana dengan gelas besar."
revan, memutar gelas miliknya.
"jadi, kamu mengibaratkan gelas ini seperti perusahaan utama, yang setiap kacanya adalah investor. jika kepercayaan mereka terhadap kita menurun maka perlahan kaca kaca di gelas akan mulai menghilang, dan gelas bisa hancur"
ardan mengayunkan jari telunjuknya ke arah revan.
"tepat sekali, jika itu terjadi orang tua itu akan semakin senang. dia bisa menghancurkan kita tanpa perlu menyentuh kan"
"jadi begitu, maaf tadi aku ngambil keputusan makek emosi"ucap revan menyesal.
ardan berdiri, ia menepuk pundak revan.
" udah gak usah di bawak pusing, sekarang siap siap kita pergi ke belanda setengah jam lagi"
"secepat itu" tanya revan.
ardan tidak menjawab, dia berlaku pergi begitu saja sembari melambaikan tangan.
setelah siap, mereka benar benar pergi.
mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi adan.
pesawat berangkat tak lama setelah mereka sampai.
saat duduk di pesawat, ardan mengambil papan catur yang memang sudah di sediakan di sana.
ardan menoleh, ia melihat revan yang masih belum bisa santai.
"van, main bentar. lagian masih 16 jam lagi sampek ke Belanda".
revan hanya menurut, ia memutar tempat duduk yang memang sudah di rancang bisa berputar.
dengan mengeklik satu tombol, meja kecil muncul di depan mereka.
" jalan dulu"ucap ardan.
revan menjalankan budak caturnya.
mereka bermain dengan revan yang hanya diam sedari tadi.
terlihat budak catur ardan mulai di makan satu per satu.
revan yang bingung, ia menatap ardan.
"dan, apa kamu mengalah?" tanyanya.
ardan menggeleng.
"van, kamu terlalu sibuk menyingkirkan budak yang tampak berbahaya, tapi tidak memikirkan hal kecil yang sudah di rancang lawanmu"
ardan tersenyum kecil sembari menggeser pionnya.
"sekak. terkadang hal kecil yang tampak tidak berbahaya adalah ancaman yang sesungguhnya"
revan menjatuhkan tubuh ke kursinya.
"seperti biasa, kau menang dengan hal yang tidak bisa ku prediksi"
"bukan tidak, tapi kau kurang teliti. permainan catur adalah permainan strategi, ini bukan tentang siapa yang tampak mendominasi, tapi siapa yang bisa menumbangkan raja terlebih dahulu"ungkap ardan mengembalikan budak bisanya ke tempat semula.
baru akan memulai permainan lagi, alaram bahaya berbunyi.
pesawat tina tiba bergetar hebat.
ardan dan revan kembali ke posisi awal mereka.
karena penasaran, mereka menengok ke luar jendela.
"badai" ungkap mereka bersamaan.
baru saja mengungkapkan itu, suara ledakan terdengar dari depan pesawat.
ardan dan revan buru buru mengambil peralatan untuk terjun, namun kecepatan ledakan melebihi reflek mereka.
pandangan mereka mulai kabur dan perlahan benar benar menghilang.
setelah kesadarannya menghilang, revan baru membuka matanya setelah entah berapa lama ia menutupnya.
revan berdiri, melihat pepohonan rimbun di sekitar.
"apa aku selamat" gumamnya.
revan melihat ke sekujur tubuhnya, tidak ada luka, tapi ia memakai baju yang sama seperti sebelum ledakan.
revan kembali melihat ke sekitar, berharap ardan juga ada di sana.
"kemana ardan, apa dia sudah sadar lebih dulu" bingungnya.
karena tidak melihat keberadaan ardan, revan memutuskan untuk mencarinya.
ia masuk lebih jauh ke hutan, dari jauh dia melihat ada yang bergerak di rerumputan rimbun.
"ar" belum selesai berteriak.
mulutnya sudah di bekap.
ia di tarik ke balik pohon besar.
seeett.
ardan menaruh jari ke bibirnya.
"ada apa" tanya revan.
ardan menunjuk ke arah semak semak tadi.
revan memperhatikan arah yang di tunjuk ardan.
awalnya revan bingung, dia sama sekali tidak melihat apapun selain rumput rimbun yang bergoyang.
"coba perhatikan lagi" ucap ardan.
saat mencoba memperhatikan lebih detail, revan melihat ada kaki binatang di sela sela rumput.
tidak hanya itu, dia juga melihat ada tangan yang bergoyang goyang di sana dengan lemas.
reflek revan memegang tangan ardan.
"akan ku jelaskan nanti, sekarang lebih baik kita pergi dari sini" ucap ardan.
mereka pergi dengan perlahan dari tempat itu.
setelah kita kira cukup jauh, baru mereka beristirahat.
"sebenarnya apa yang terjadi dan?"
ardan menatap ke langit.
revan mengikuti arah tatapan ardan.
"tempat ini memiliki dua bulan? sebenarnya di mana kita?"
"aku juga tidak tau, saat tersadar kita sudah ada di sini."
"sebenarnya di mana kita, dan apakah orang yang di makan binatang buas tadi adalah rekan kita yang ikut ke tempat ini.".
ardan menggeleng.
" bukan, saat terbangun hanya ada kita berdua. awalnya aku mencoba mencari tau tempat apa ini, tapi di perjalanan aku melihat ada sekelompok orang yang tengah di kejar oleh monster"
"monster?"tanya revan sepontan.
" ya, kau tadi hanya melihat kakinya saja. sebenarnya itu bukan hewan biasa, bentukknya seperti rusa, tapi bertaring"
"rusa tepi bertaring?"
"ini memang sulit di percaya, tapi itulah yang ku lihat. makanya tadi saat aku melihatmu aku langsung menarikmu agar tidak mendekat"
saat mereka tengah berbicara, mereka melihat ada beberapa orang melayang di udara.