Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.
Zira, begitu sapaan akrabnya, tengah berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya telah rapi paripurna. Malam ini calon suaminya akan datang menjemputnya untuk menghadiri acara makan malam di kediaman sang calon suami, Leonardo Fernandez. Ya, sore tadi kakak dari calon suami Zira yang selama ini berdomisili di Amerika kembali ke tanah air. Sebagai acara sambutan, keluarga besar Fernandes mengadakan makan malam spesial untuk salah satu anggota keluarga mereka yang baru kembali setelah hampir dua belas tahun tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
Suara deru mesin mobil sang kekasih mengalihkan perhatian Zira dari kaca besar dihadapannya. Gadis itu beranjak dari kamarnya dengan senyum yang seolah enggan surut dari bibirnya, hendak menghampiri sang kekasih.
"Kamu cantik sekali, sayang." Leon seakan enggan berpaling dari wajah cantik calon istrinya itu. "Daddy dan Mommy saja bangga banget punya calon menantu secantik dan sepintar kamu, apalagi aku yang calon suami kamu, sayang." Zira semakin tersipu malu mendengar pujian dari calon suaminya itu.
"Kamu bisa aja. Kalau kamu terus-terusan memandangiku seperti itu, lalu kapan kita akan berangkat ke rumah kamu, hm?."
"Astaga...." Leon baru tersadar bahwa makan malam kali ini berbeda, ada kakaknya yang paling tidak suka menunggu. Leon lantas turun dari mobilnya guna membukakan pintu mobil untuk Zira. "Silahkan masuk calon istriku, sayang!." Bukan hanya tampan, bertanggung jawab dan juga pengertian, tapi Leon juga tipikal pria yang humoris. Bagaimana Zira tidak nyaman bersama pria itu.
"Mulai lebay..." Balas Zira sambil mengulum senyum.
Leon, si pria blasteran pun ikut melebarkan senyumnya. Setelahnya, Leon pun kembali ke mobil dan duduk di bangku kemudi.
Di sepanjang perjalanan pasangan tersebut menikmati alunan musik romantis. Sesekali Zira terdengar ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu yang diputar melalui mp3 di mobil Leon.
Mungkin karena sudah sering di ajak Leon berkunjung ke rumahnya sehingga Zira tidak terlihat kaku ataupun sungkan berlebihan ketika menginjakkan kaki di kediaman megah keluarga Fernandez.
"Kamu cantik sekali, sayang." Baru saja memasuki pintu utama, pujian calon ibu mertua terdengar menyambut kedatangan Zira.
"Mommy bisa aja." Zira menyalami calon ibu mertua. Sesuai dengan permintaan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan penampilan modisnya tersebut, Zira memanggilnya dengan panggilan Mommy, sama seperti Leon memanggilnya.
"Calon mantu Daddy sudah datang rupanya." Daddy-nya Leon yang baru saja tiba di lantai bawah turut menghampiri Zira.
"Daddy, apa kabar?." Zira juga menyalami calon ayah mertuanya.
"Alhamdulillah, kabar baik, nak." Balas Daddy. Memiliki calon suami Spek sempurna, calon mertua yang begitu baik dan menyayangi dirinya. Bisa dibilang hingga detik ini kehidupan yang dijalani oleh Zira adalah kehidupan yang nyaris sempurna.
Leon, kedua orang tuanya serta Zira tentunya, mereka beranjak ke ruang tengah untuk mengobrol sejenak, sembari menunggu kakaknya Sandi yang saat ini masih berada di kamarnya untuk mengenakan pakaian usai mandi. Ya, begitu menurut penyampaian dari salah seorang Art yang diminta memanggil pemuda yang usianya tiga tahun diatas usia Leon tersebut.
Sekitar lima belas menit mengobrol di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara derap langkah seseorang menuruni anak tangga.
Semua mata kompak menuju ke arah tangga, termasuk Zira.
Deg
Jantung Zira nyaris berhenti berdetak saat menyaksikan wajah pria yang kini baru saja tiba dilantai bawah tersebut.
"Kenapa dia ada di rumah ini? Apa mungkin dia_." Batin Zira, tak sanggup menuntaskan kalimatnya. Terlebih kini pria itu sudah bergabung bersama, duduk di sofa tepat dihadapannya.
"Ohiya sayang, kenalkan ini mas Lexiano Fernandez, kakak aku."
"Mas, kenalkan, ini Zira calon istriku."
Entah apa yang ada didalam pikiran pria itu saat ini, yang jelas ia hanya merespon dengan anggukan sekilas. Sifat dingin nampaknya begitu kental pada pria itu.
Suhu diruangan tersebut tiba-tiba terasa tidak nyaman bagi Zira. Gadis itu terlihat gelisah. Untungnya hal itu tak sampai di sadari oleh Leon maupun Daddy dan Mommy.
Berhubung yang dinanti sudah bergabung bersama, maka mommy pun mengajak mereka semua untuk segera beranjak ke ruang makan.
Setelah menempati posisi masing-masing di meja makan, seperti biasa, Leon menunjukkan rasa sayangnya terhadap calon istrinya dengan mengisi piring Zira dengan berbagai macam lauk yang merupakan makanan kesukaan gadis itu.
"Makanlah, sayang!." Tutur Leon dengan nada yang terdengar begitu lembut.
"Terima kasih." Zira seakan enggan meluruskan pandangan ke depan, sebab saat ini kursi yang ditempati oleh pria yang akrab disapa Lexi tersebut tepat bersebrangan dengannya.
"Sama-sama, sayangku." Leon tak pernah malu untuk menunjukkan rasa sayangnya pada Zira sekalipun itu didepan kedua orang tuanya.
Menyaksikan kemesraan didepan matanya mampu membuat Lexi menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Entah apa arti dari senyumannya itu, hanya ia yang tahu.
"Aku mau ke toilet sebentar." Zira berpamitan sebentar.
"Mau aku temani nggak?." Leon menawarkan diri.
"Nggak perlu, Leon." Zira menolak.
Sesaat kemudian.
"Mas Lexi mau ke mana?." Tanya Leon menyaksikan kakaknya itu berdiri dari duduknya.
"Kenapa, kamu juga mau menawarkan diri untuk menemaniku mengambil ponsel yang ketinggalan di kamar?."
Leon menggelengkan kepala pelan.
Lexi nampak berlalu.
"Emmmhhhh....." Teriakan Zira tertahan oleh bekapan tangan besar Lexi.
"Berhenti berteriak jika tidak ingin sampai suara teriakanmu itu menghebohkan seisi rumah ini!." Setelah mengatakan kalimat tersebut Lexi melepas bekapan tangannya pada mulut Zira.
Lexi menggiring tubuh Zira ke depan cermin, sementara kedua tangan Zira masih berada dalam kekuasaannya. Ya, satu tangan besar Lexi mampu mengunci kedua tangan Zira.
Lexi tersenyum penuh arti.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi adik ku kalau sampai tahu ternyata calon istrinya pernah tidur dengan kakaknya sendiri." Lexi berujar tepat disamping telinga Zira, sementara pandangannya menatap wajah Zira melalui pantulan cermin dihadapannya.
Deg.
Kedua tungkai Zira langsung terasa lemas, seperti tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya saat mendengar perkataan pria itu. Ya, perkataan yang menyatakan dengan lugas bahwa pria itu mengingat dirinya. Namun begitu, Zira masih berusaha bersikap tenang.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang." Kata Zira sambil berusaha melepaskan diri dari pria itu.
Lexi mengulas senyum yang justru terlihat menakutkan di mata Zira.
"Jangankan wajahmu, aku bahkan masih mengingat setiap inci bagian tu-buhmu, Nona Azira putri.
"Sayang.....apa kamu masih di dalam sana?." Seruan Leon mengejutkan Zira.
Lexi hendak membuka pintu namun dicegat oleh Zira. "Jangan, aku mohon!." Pinta Zira dengan suara lirih.
"Iy_Iya...aku masih di dalam, Leon." Usai mengatur napas, Zira menyahuti seruan Leon.
"Oh... Tadinya aku pikir kamu kenapa-napa, makanya aku susul ke sini. Kalau begitu aku kembali lagi ke ruang makan ya sayang."
"Iy_iya...."
Lexi melirik sejenak ke arah pintu memastikan langkah Leon telah menjauh, barulah kemudian berlalu keluar dari toilet yang berada di lantai bawah tersebut. Jangan berpikir Lexi melakukannya karena takut, pria itu tidak merasa takut sama sekali. karena kenyataannya didalam prinsip hidup pria itu tidak ada kata takut. Semua semata-mata karena permohonan Zira.
Selamat datang di karya baruku tentang kisah Zira..... sayang-sayangku.... semoga kalian semua suka ya....
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣