NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Woman He Didn't Choose

Restoran itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul lembut dari gelas-gelas kristal dan lantai marmer mengilap. Denting sendok garpu terdengar samar di antara alunan musik piano yang tenang, sementara para tamu berpakaian mahal bercakap dalam suara rendah seolah takut merusak kemewahan malam.

Di tengah semua itu, Serena Roe tampak sangat tidak tersentuh.

Gaun hitam tanpa lengan membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut panjangnya jatuh bergelombang di satu sisi bahu, memperlihatkan garis leher putih pucat yang selama ini menjadi incaran kamera majalah mode. Bibirnya berwarna merah gelap, senyumnya tipis, sorot matanya dingin. Cantik. Terlalu cantik untuk terlihat rapuh.

Beberapa pria melirik ke arahnya sejak ia memasuki restoran lima belas menit lalu, tetapi Serena sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Tatapan kagum. Tatapan menginginkan. Tatapan penasaran. Namun, tak satu pun berarti apa-apa.

Ia memainkan jemarinya dengan batang gelas anggur perlahan, sementara matanya sesekali melirik layar ponsel di atas meja. Tidak ada pesan baru.

Serena mengembuskan napas pelan.

Bodoh sekali.

Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya masih berharap Damien akan menghubunginya malam ini. Setelah semua yang terjadi. Setelah pria itu menatapnya dua minggu lalu dengan ekspresi tenang yang membuatnya hancur lebih rapi daripada ujaran kebencian yang ia terima di media sosial.

"Aku rasa aku tidak pernah benar-benar melupakan dia."

Suara Damien saat menuturkan kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Serena. Begitu sederhana. Begitu tenang. Seolah hubungan bertahun-tahun mereka tidak pernah berarti cukup untuk dipertahankan.

Serena menegakkan punggungnya, memaksa ekspresinya tetap datar. Ia menolak terlihat hancur di tempat umum. Dunia mengenalnya terlalu baik untuk itu. Model seperti dirinya selalu dituntut tampil sempurna, bahkan ketika hidupnya sedang runtuh.

“Serena?”

Suara laki-laki itu membuat jemarinya membeku. Pelan, Serena mengangkat wajah.

Dan untuk kali pertama malam itu, pertahanannya retak.

Julian Hayes berdiri beberapa langkah di hadapannya. Pria itu tampak jauh berbeda dibandingkan terakhir kali Serena melihatnya bertahun-tahun silam. Tidak ada lagi anak laki-laki pendiam dengan seragam sekolah kusut yang selalu menunggu Serena sepulang kelas.

Julian kini mengenakan setelan hitam mahal yang membentuk tubuh tingginya dengan sempurna. Wajahnya lebih dewasa. Lebih tegas. Namun matanya masih hangat, memancarkan kenangan yang membuat dada Serena terasa nyeri. Untuk sesaat, Serena lupa cara bernapas.

Julian tersenyum kecil. "Sudah lama sekali."

Serena menatap pria itu tanpa suara. Sudah terlalu lama hingga ia hampir lupa bagaimana rasanya dipandangi Julian Hayes seperti itu, seolah Serena masih seseorang yang berharga.

Perlahan, perempuan itu meletakkan gelas anggurnya. "Aku pikir kau berada di Toronto."

"Aku baru kembali beberapa hari lalu."

Julian menarik kursi di hadapannya, tetapi tidak langsung duduk. Tatapannya bergerak singkat ke wajah Serena, seakan memastikan perempuan itu benar-benar ada di depannya, bukan sekadar kenangan lama yang sesekali muncul di dalam mimpi.

"Kau masih terlihat sama," gumamnya pelan.

Sial, Serena hampir tertawa. Tidak. Ia tidak sama lagi.

Perempuan yang dulu meninggalkan Julian demi pria lain telah lama menghilang. Yang tersisa sekarang hanyalah seseorang yang terlalu lelah untuk mempercayai cinta.

"Aku melihatmu di majalah," lanjut Julian. “Kau terlihat bahagia."

Kali ini Serena benar-benar tersenyum, meski sangat tipis.

"Itu pekerjaan mereka. Membuat semuanya terlihat indah."

Julian akhirnya duduk di hadapan Serena, sementara lampu kristal di atas kepala mereka memantulkan cahaya lembut ke meja makan yang dipenuhi gelas mahal dan lilin kecil. Anehnya, setelah bertahun-tahun, Serena masih bisa merasakan ketenangan yang sama setiap berada dekat pria itu. Tidak memabukkan seperti Damien. Tidak membuatnya gelisah. Hanya tenang. Terlalu tenang sampai terasa menyakitkan.

"Aku dengar tentang Damien."

Kalimat itu membuat rahang Serena menegang.

Kalau dipikir-pikir, tentu saja Julian tahu. Semua orang juga tahu. Hubungan Serena Roe dan Damien Knox terlalu besar untuk tidak menjadi pembicaraan publik. Mereka pernah disebut sebagai pasangan paling sempurna di benua ini.

Damien Knox, pewaris kerajaan otomotif sekaligus putra dari pengacara paling berpengaruh di negara itu, berpacaran dengan Serena Roe, model papan atas dengan wajah yang hampir tak pernah absen dari sampul majalah mode internasional. Mereka tanpa cela. Kaya. Berkuasa. Terlalu sempurna sampai orang-orang mulai percaya bahwa cinta memang benar-benar ada untuk orang seperti mereka.

Media mengikuti setiap langkah mereka. Foto makan malam sederhana saja bisa menjadi headline keesokan paginya. Bahkan rumor pertunangan mereka pernah membuat saham perusahaan Damien naik dalam semalam.

Semua orang iri pada Serena. Tanpa tahu bahwa hubungan itu perlahan menghancurkannya.

"Aku baik-baik saja," tukas Serena cepat.

Julian menatap perempuan itu lamat-lamat, seolah tahu ia sedang berbohong.

Dan memang begitu. Serena tidak baik-baik saja. Ia tidak baik-baik saja sejak Damien pergi tanpa pernah benar-benar memilihnya. Tidak baik-baik saja sejak menyadari dirinya mungkin hanya pengganti sementara bagi pria yang selama ini ia cintai mati-matian.

Julian menghela napas pelan sebelum merogoh saku jas yang ia kenakan.

"Aku sebenarnya ingin memberikan sesuatu."

Entah mengapa, jantung Serena berdetak sedikit lebih cepat. Namun sebagian kecil dalam dirinya tetap berharap. Setelah semua tatapan itu. Setelah cara Julian menatapnya malam ini, mungkin masih ada tempat untuk Serena di hati pria itu.

Julian meletakkan sebuah amplop putih berpita di atas meja. Dan saat Serena melihat lambang emas di bagian sampul, sesuatu dalam dirinya perlahan runtuh.

Undangan pernikahan.

Untuk beberapa detik, Serena hanya menatap amplop itu tanpa bergerak. Dunia masih berjalan seperti biasa. Denting gelas. Tawa kecil dari meja lain. Piano yang mengalun sendu di sudut ruangan. Anehnya, Serena merasa tidak mendengar apa-apa. Seolah seluruh suara mendadak menjauh.

Pelan, ia mengangkat pandangan. "...kau akan menikah?"

Julian tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang tampak seperti penyesalan.

Tetapi Serena terlalu lelah untuk menebak-nebak perasaan orang lain malam ini.

"Aku minta maaf karena memberitahumu seperti ini."

Serena terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

"Kenapa meminta maaf?" ucapnya lirih. “Bukankah ini kabar baik?”

Julian terdiam.

Serena tahu bagaimana dirinya terlihat sekarang. Tenang. Dewasa. Tidak terguncang. Ia sudah terlalu mahir menyembunyikan rasa sakit. Bertahun-tahun bersama Damien mengajarkan ia tentang perasaan hanyalah kelemahan yang akan digunakan orang lain untuk menghancurkanmu.

Dengan gerakan lambat, Serena membuka amplop itu. Kertas putih tebal dengan tulisan emas elegan menyambut pandangannya.

Nama Julian Hayes tercetak jelas di sana.

Dan tepat di bawahnya, nama perempuan lain.

Serena membaca nama itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Aneh.

Nama itu terasa begitu asing, tetapi entah mengapa tetap membuat dadanya sesak.

"Aku harap kau datang," ucap Julian penuh hati-hati.

Serena tersenyum kecil tanpa mengangkat kepala.

Tentu saja. Tentu saja hidup senang sekali mempermainkannya lagi dan lagi. Dulu, Julian pernah mencintainta sedemikian besar sampai Serena yakin pria itu tidak akan pernah benar-benar pergi.

Namun Serena tidak pernah benar-benar percaya pada cinta.

Menyaksikan ibunya menggantung diri di rumah kecil mereka bertahun-tahun silam, sementara ayahnya masih sibuk mabuk dan berteriak seperti biasa. Serena tidak begitu mempercayai cinta setelah tumbuh dengan suara pecahan botol, tagihan yang menumpuk dan rasa takut setiap malam.

Dan terlebih lagi, ayahnya sendiri mencoba menjualnya pada seorang pria tua demi uang.

Serena masih mengingat malam saat ia kabur dari rumah dengan tubuh gemetar dan kantong kosong, bersumpah pada diri sendiri bahwa ia tidak akan pernah hidup miskin lagi.

Karena kemiskinan tidak hanya membuat orang menderita. Kemiskinan membuat orang kehilangan harga diri.

Lalu Damien Knox masuk ke dalam hidupnya. Dengan mobil mahal. Kesempurnaan. Tangan hangat yang menarik Serena keluar dari kehidupan buruk seperti seorang pangeran berkuda putih. Pria itu membantu mewujudkan mimpi Serena pelan-pelan.

Hingga Serena yang bodoh, jatuh cinta terlalu dalam, meninggalkan Julian demi Damien. Memilih pria yang bisa memberikan dunia yang selama ini hanya berani ia lihat dari balik kaca toko mewah.

Sekarang, ironis sekali rasanya.

Damien meninggalkannya demi perempuan lain. Sementara Julian datang hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya juga bukan lagi tempat Serena pulang. Lucu sekali. Mungkin inilah yang disebut karma.

“Mempelainya cantik?” tanya Serena pada akhirnya. Senyum miris menggantung di bibirnya.

Julian tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda. Lebih lembut daripada sebelumnya. “Ia orang baik.”

Jawaban sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan di telinga Serena. Karena ia tahu, Julian tidak pernah mendeskripsikannya seperti itu, dulu.

Serena menurunkan pandangan pada undangan di tangannya. Kertas itu terasa berat. Atau mungkin hatinya.

"Aku turut berbahagia untukmu," ucap Serena pada akhirnya, dengan suara yang sangat terdengar meyakinkan. Model memang sangat andal berakting.

Apakah ia harus mulai mengikuti casting drama dengan kamampuan barunya ini?

Julian menatap perempuan di hadapannya cukup lama hingga Serena merasa pria itu bisa melihat kebohongan di balik senyumnya. Namun seperti biasa, Julian Hayes terlalu baik untuk membongkarnya.

"Terima kasih."

Hening kembali melingkupi mereka. Dan Serena membenci itu. Ia lebih memilih Julian marah, menyalahkannya, mengungkit bagaimana Serena pergi begitu saja waktu itu. Setidaknya, itu akan membuat Serena merasa sedikit lebih baik. Tetapi Julian tidak pernah seperti itu. Ia selalu membuat Serena merasa dicintai dengan terlalu lembut.

“Apakah dia membuatmu bahagia?” tanya Serena tiba-tiba.

Julian tampak sedikit terkejut oleh pertanyaan itu.

Lalu, perlahan, mengangguk. “Iya.”

Jawaban singkat. Tenang. Tanpa ragu. Dan entah mengapa, justru itu yang menghancurkan Serena sepenuhnya.

Karena Damien tidak pernah menjawab seperti itu saat Serena menanyakan hal serupa. Damien selalu tersenyum samar, menarik Serena ke dalam pelukannya, lalu mengalihkan pembicaraan dengan ciuman atau janji-janji kecil yang terdengar indah.

Saat itu Serena mengira cinta memang serumit itu. Sekarang ia sadar, mungkin Damien memang tidak pernah benar-benar bahagia bersamanya.

“Serena.”

Suara Julian menariknya kembali.

“Aku tahu aku tidak punya hak untuk mengatakan ini lagi,” ucap pria itu pelan. “Tapi kau tidak harus terlihat kuat sepanjang waktu.”

Kalimat sederhana itu nyaris membuat pertahanan Serena runtuh. Karena sudah sangat lama tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Orang-orang hanya melihat Serena Roe si model terkenal. Perempuan cantik dengan gaun mahal dan kehidupan sempurna. Tak ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja.

Bahkan Damien pun tidak. Damien hanya tahu cara mencintainya saat Serena terlihat indah.

Namun Julian, dulu, pria itu selalu bisa melihat bagian paling buruk dari diri Serena. Mungkin itulah alasan mengapa dulu Serena meninggalkannya. Karena dicintai terlalu tulus terasa jauh lebih menakutkan dibanding dicintai setengah hati.

Serena segera menegakkan tubuh, memaksakan senyum tipis. “Kau akan membuat calon istrimu cemburu kalau terus menatap mantanmu seperti itu.”

Julian ikut tersenyum kecil, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Dia tidak seperti itu.”

Tentu saja tidak.

Perempuan yang dipilih Julian pasti jauh lebih baik dibanding Serena. Lebih lembut. Lebih hangat. Lebih pantas dicintai.

“Kalau begitu...” Serena mengangkat gelas anggurnya sedikit. “Selamat atas pernikahanmu, Julian.”

Pria itu menatap Serena beberapa detik sebelum mengangkat gelasnya juga. Dan untuk alasan yang tidak bisa Serena jelaskan, momen itu terasa seperti perpisahan.

Setelah itu, percakapan mereka berubah menjadi ringan. Terlalu ringan untuk dua orang yang pernah saling mencintai begitu besar.

Julian bertanya tentang pekerjaannya. Serena menjawab seperlunya. Serena bertanya kapan pria itu kembali ke Toronto, lalu berpura-pura tertarik pada cerita bisnis dan proyek baru yang sedang ia jalankan. Mereka tertawa sesekali.

Dan semakin malam berjalan, Serena semakin membenci dirinya sendiri. Karena sebagian kecil dalam dirinya mulai berharap lagi.

Berharap bahwa tatapan Julian masih berarti sesuatu. Bahwa cara pria itu mengingat minuman favoritnya masih berarti sesuatu. Bahwa mungkin, undangan itu bukan akhir. Namun tentu saja Serena terlalu dewasa untuk mempercayai harapan seperti itu.

Ketika jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam, Julian akhirnya berdiri dari kursinya.

“Aku harus pergi.”

Serena mengangguk pelan.

“Tentu.”

Julian mengambil jasnya, tetapi sebelum benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Serena cukup lama hingga membuat dadanya terasa tidak nyaman.

“Aku senang melihatmu lagi.”

Kalimat itu terdengar tulus dan Serena membencinya. Karena setelah malam ini, ia tahu dirinya akan kembali memikirkan Julian Hayes seperti gadis bodoh berusia tujuh belas tahun.

“Aku juga,” jawab Serena pelan.

Julian tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan meninggalkan restoran. Serena memperhatikannya sampai sosok pria itu menghilang di balik pintu kaca. Baru setelah itu, ia menurunkan pandangan pada undangan pernikahan yang masih tergeletak di atas meja. Tangannya bergerak perlahan membuka halaman terakhir. Matanya membaca nama calon pengantin perempuan itu sekali lagi.

Lalu lagi. Dadanya sesak.

Bukan karena ia mengenal perempuan itu. Tapi karena ia sadar satu hal yang jauh lebih menyakitkan. Julian benar-benar akan menikah. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Serena merasa benar-benar sendirian.

Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat napas Serena tertahan.

Damien Knox.

Jemarinya membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

“Ya?”

Suara Damien terdengar tenang seperti biasa. Dalam. Dewasa. Familiar.

Suara yang pernah menjadi rumah bagi Serena.

“Aku di luar.”

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!