Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, lantai tempat Divisi Pemasaran bernaung mendadak beraroma seperti kedai kopi artisan di Paris. Saat aku melangkah keluar dari lift, pandanganku langsung disambut oleh tumpukan kotak *pastry* mewah dan berpuluh-puluh gelas kopi dengan logo sebuah kafe eksklusif langganan para ekspatriat.
Stafku, mulai dari anak magang hingga supervisor, tampak berkerumun dengan mata berbinar-binar. Di tengah meja utamaku, tergeletak sebuket bunga mawar putih raksasa yang besarnya nyaris menyaingi pot pohon beringin di lobi kantor.
"Pagi, Bu Naura!" sapa Rini, salah satu stafku, sambil memegang *croissant* almond. "Ada kiriman khusus buat Ibu dan seluruh tim dari Firma Kusuma & Partners. Katanya sebagai bentuk permohonan maaf atas... ketidaknyamanan kemarin."
Aku menghela napas panjang, memijat pangkal hidungku yang tiba-tiba berdenyut. Rayhan Kusuma benar-benar pria yang tidak tahu arti kata bahaya. Dia tidak hanya menguji kesabaranku, tapi dia sedang membangunkan naga tidur di lantai eksekutif.
Di atas buket mawar itu, terselip sebuah kartu ucapan beraroma maskulin:
*"Untuk wanita yang ketelitiannya menyelamatkan perusahaannya, dan menyelamatkan hari saya. Kopi ini tidak semanis senyum Anda, tapi semoga bisa menemani pagi Anda. - Rayhan K."*
Baru saja aku selesai membaca kartu itu, suhu ruangan mendadak turun drastis. Bulu kudukku berdiri, dan tawa cekikikan para stafku seketika terhenti. Tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja keluar dari lift eksekutif. Aroma *mint* dan kayu cendana yang khas, dipadukan dengan aura membunuh yang sangat pekat, langsung mendominasi ruangan.
Arkan Mahendra berdiri di sana, kedua tangannya terselip santai di saku celana bahan *navy*-nya, tapi rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga aku yakin dia bisa memecahkan kacang kenari hanya dengan mengatupkan giginya. Di belakangnya, Hadi berdiri mematung dengan buku catatan di tangan, wajahnya sepucat kertas HVS.
"Selamat pagi, Divisi Pemasaran," sapa Arkan. Suara baritonnya sangat tenang, lembut, namun mematikan. Matanya menyapu lautan kopi dan kue di atas meja, lalu mendarat tepat pada buket mawar di depanku. "Sepertinya pagi ini kalian mendapat asupan gula yang sangat berlebihan dari pihak luar."
"B-Bapak CEO," Rini gelagapan, buru-buru menyembunyikan *croissant*-nya di belakang punggung. "I-ini kiriman dari auditor—"
"Saya tahu dari siapa," potong Arkan dingin. Ia melangkah maju, membelah kerumunan stafku yang otomatis menyingkir bagai Laut Merah yang dibelah tongkat Musa. Arkan berhenti tepat di depanku. Ia mengambil kartu ucapan dari tanganku dengan dua jarinya, membacanya sekilas, lalu mendengus meremehkan.
"Hadi," panggil Arkan tanpa menoleh.
"S-siap, Pak Arkan!"
"Buang semua bunga ini ke tempat sampah daur ulang. Saya tidak mau ada polusi visual di kantor saya," titah Arkan mutlak. "Lalu, kumpulkan semua kopi dan makanan ini. Sumbangkan ke panti asuhan atau bagikan ke petugas kebersihan jalanan. Jangan ada satu pun karyawan Mahardika Group yang menelan makanan dari firma audit yang kompetensinya patut dipertanyakan."
"Tapi, Pak—" salah satu stafku mencoba protes pelan.
Arkan menoleh, menatap staf itu dengan tatapan predator. "Kamu mau makan *pastry*? Hadi, hubungi *Executive Chef* di Hotel Ritz-Carlton sekarang juga. Saya mau mereka mengirimkan seratus porsi *pastry* terbaik dan kopi *specialty* ke divisi ini dalam waktu kurang dari satu jam. Semua biaya masukkan ke tagihan pribadi saya."
Semua mulut menganga. Hadi buru-buru menekan nomor di ponselnya dengan jari bergetar. "S-segera dilaksanakan, Pak!"
Arkan kembali menatapku. Matanya berkilat penuh kemenangan, campur aduk dengan kecemburuan yang tidak akan pernah ia akui. "Dan kamu, Naura," ucapnya pelan, memastikan hanya aku yang bisa mendengarnya, "ikut ke ruanganku. Sekarang. Kita perlu mendiskusikan *'ketelitian yang menyelamatkan perusahaan'* ini."
Aku menahan senyum mati-matian, mengangguk patuh, lalu berjalan mengekor di belakang suamiku yang sedang dilanda mode posesif tingkat dewa.
***
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Arkan langsung melemparkan jasnya ke sofa, berjalan ke arah dispenser air, dan meneguk segelas air es dengan cepat. Napasnya masih sedikit memburu.
"Seratus porsi dari Ritz-Carlton, Mas Arkan? Benar-benar sangat ekonomis," sindirku sambil duduk di kursi seberang mejanya.
Arkan meletakkan gelasnya dengan sedikit kasar, menatapku tajam. "Jangan memancingku, Naura. Rayhan Kusuma itu sengaja mengibarkan bendera perang. Dia tahu persis kamu istriku, tapi dia tetap mengirimkan mawar putih? Itu penghinaan terang-terangan terhadap hak paten yang kumiliki atas dirimu."
Aku tertawa renyah. "Hak paten? Aku ini manusia, Arkan, bukan produk elektronik."
Arkan berjalan menghampiriku, meletakkan kedua tangannya di sandaran lenganku, dan menunduk hingga wajah kami sejajar. Matanya menatapku dalam-dalam, penuh intensitas. "Kamu adalah segalanya bagiku. Kalau perlu, aku akan pergi ke Kemenkumham pagi ini untuk mendaftarkan senyummu agar tidak ada pria lain yang boleh melihatnya selain aku."
Jantungku berdebar kencang. Pria ini gengsinya memang setinggi Gunung Everest, tapi kalau sudah bicara *bucin*, kata-katanya bisa membuat lututku lemas.
"Oke, oke, turunkan sedikit hormon cemburumu, Pak Bos," bisikku sambil mengusap pelan dadanya yang bidang, meredakan ketegangannya. "Kita punya masalah yang lebih besar daripada sekadar mawar putih dari auditor genit. Tadi pagi, sebelum insiden bunga itu, aku melihat sesuatu yang aneh."
Arkan menaikkan alisnya, seketika kembali ke mode profesional. Ia menarik kursi lain dan duduk tepat di sebelahku. "Apa itu?"
"Dimas. Waktu aku lewat di depan 'Akuarium Kaca' tempat dia disekap, aku melihatnya sedang berbicara serius dengan salah satu staf IT level menengah. Dan anehnya, Dimas menyerahkan sebuah *flashdisk* kecil," jelasku serius.
Arkan terdiam. Matanya memicing, otaknya yang brilian sedang merangkai fakta. "Hadi sudah memastikan akses Dimas hanya *read-only*. Dia tidak bisa mengunduh apa pun dari jaringan internal. Kecuali..."
"Kecuali dia meminta staf IT itu untuk menanamkan *malware* atau mencuri data spesifik dari *server* divisi pemasaranku secara manual," lanjutku, menyelesaikan kalimatnya. "Auditor ada di sini. Kalau Dimas berhasil mencuri data asli kampanye kita, memanipulasinya di luar jaringan, lalu menyerahkannya pada Rayhan sebagai 'bukti tak terbantahkan', kita tamat. Para Komisaris akan punya alasan kuat untuk melengserkanmu dan memecatku."
Arkan tersenyum miring. Senyum iblis yang sangat menawan. "Dimas selalu berpikir dia satu langkah di depan. Padahal, dia hanya sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang kita buat. Kalau dia menginginkan data, kita berikan data."
"Maksudmu?"
"Kita buat sebuah folder data palsu. Isinya laporan keuangan pemasaran yang terlihat sangat sah, dengan sedikit 'bumbu' penggelapan yang diatur sedemikian rupa. Kita biarkan staf IT itu mencurinya dan memberikannya pada Dimas."
Aku mengerutkan kening. "Tapi kalau Rayhan memeriksanya, kita yang akan hancur."
"Tidak akan," potong Arkan, jarinya mulai mengetik dengan cepat di *keyboard*. "Karena di dalam dokumen itu, aku akan menyematkan algoritma pelacak tersembunyi. Saat Dimas membuka *file* itu di luar jaringan perusahaan untuk memanipulasinya, sistem kita akan merekam IP *Address*, lokasi, dan seluruh aktivitas layarnya. Ketika dia menyerahkan bukti itu pada Komisaris, kita akan putar rekaman saat dia memalsukan datanya."
Aku menatap suamiku dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Otaknya benar-benar sebuah senjata pemusnah massal.
"Kemarilah," Arkan menarik pinggangku agar kursi roda kami merapat. Pahaku bersentuhan dengan pahanya. "Bantu aku menyusun struktur laporan pemasarannya agar terlihat meyakinkan bagi Dimas dan si auditor tampanmu itu."
"Dia bukan auditor tampanku," gerutuku, meski pipiku merona karena kedekatan fisik kami yang begitu intim. Bahuku bersandar di dadanya, sementara lengannya melingkari tubuhku untuk meraih *keyboard*.
Selama dua jam ke depan, kami bekerja dalam posisi yang sangat tidak profesional namun luar biasa mendebarkan. Setiap kali aku menunjuk ke arah layar, pipiku bersentuhan dengan rahang Arkan. Aroma maskulinnya mengaburkan konsentrasiku, namun kami berhasil menyelesaikan "dokumen mematikan" itu dengan sempurna.
"Selesai," gumam Arkan, suaranya sedikit serak. Ia tidak segera menarik diri. Sebaliknya, ia menyandarkan dagunya di bahuku, napas hangatnya menerpa ceruk leherku. "Kita tinggal minta Hadi memindahkan *file* ini ke *server* yang bisa diakses staf IT tersebut."
Aku mengangguk pelan, tubuhku menegang menahan desiran aneh di perutku. "B-bagus. Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku. Chef dari Ritz-Carlton pasti sudah datang."
Aku hendak berdiri, namun lengan Arkan di pinggangku mengerat, menahanku di tempat.
"Arkan?" panggilku pelan.
"Sebentar saja," bisiknya, mengecup pelan leherku hingga aku menahan napas. "Biarkan aku mengisi ulang energiku. Memikirkan caramu tersenyum pada pria lain benar-benar menguras akal sehatku."
"Gengsimu itu loh," balasku, pura-pura kesal, namun tanganku justru bertengger nyaman di atas lengannya yang memelukku. "Cemburu bilang saja cemburu, tidak usah pakai alasan hak paten atau akal sehat."
Arkan terkekeh, suara getaran di dadanya terasa sangat nyaman di punggungku. Ia memutar kursiku hingga aku menghadapnya. Tanpa peringatan, ia merengkuh wajahku dengan kedua tangan besarnya, menatap mataku dengan kelembutan yang hanya ia tunjukkan padaku.
"Baiklah, Nyonya Mahendra. Aku mengaku. Aku cemburu," ucap Arkan, matanya menatapku lurus, membuang semua topeng arogansinya. "Aku cemburu pada pria yang bisa mengirimimu bunga tanpa harus berpikir dua kali. Aku cemburu pada siapa pun yang bisa membuatmu tertawa di luar sana. Karena bagiku, melihatmu tersenyum adalah investasi termahal yang pernah kumiliki."
Hatiku meleleh sepenuhnya. Untuk seorang pria yang selalu berbicara dalam bahasa bisnis, ini adalah pernyataan cinta yang paling puitis yang bisa kudengar darinya.
"Mawar putih itu cantik, tapi aku lebih suka terjebak dalam ruang arsip dingin, atau menyusun dokumen palsu bersamamu. Kamu adalah partner in crime terbaikku."
Arkan tersenyum, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuat ketampanannya berlipat ganda. "Kalau begitu, sebagai partner in crime, izinkan saya menyegel kesepakatan kita hari ini."
Ia menunduk, menyatukan bibir kami dalam ciuman yang dalam, lambat, dan memabukkan.
Tepat saat ciuman itu mulai memanas, terdengar suara ketukan keras di pintu.
"Pak Arkan! Bu Naura!" Itu suara Hadi, terdengar sedikit panik dari luar. "Chef dari Ritz-Carlton sudah tiba! Tapi ada masalah, Pak! Pak Rayhan Kusuma mendadak muncul di lantai pemasaran, dan dia sekarang sedang... sedang ikut membagikan *croissant* bersama para staf!"
Arkan langsung menarik wajahnya. Sisi romantisnya menguap dalam hitungan milidetik, digantikan oleh mode Diktator Pembunuh.
"Pria itu benar-benar mencari masalah," geram Arkan, matanya menyalang tajam. Ia berdiri, merapikan jasnya dengan kasar.
pokonya terus semangat author