NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Tidak memperdulikan

"Dari pada main itu mendingan kamu sini bantuin Mama masukin baju ke lemari supaya Mama bisa cepat istirahat." Kata Nayra dengan tangan yang sibuk melipat pakaian lalu menyusunnya dengan rapi ke dalam lemari yang perlahan mulai terisi penuh oleh pakaian.

Kardus-kardus pindahan belum sepenuhnya kosong, sebagian masih menumpuk di sudut ruangan karna baru beberapa jam yang lalu mereka sampai di apartemen.

Belum lagi kamar yang akan tempatnya tidak satupun pakaian yang sudah di pindahkan ke dalam lemari. Seperti ibu pada umumnya, Nayra pasti mendahulukan kebutuhan anaknya.

"Kapan-kapan aja, Ma. Aduh... sekarang Rayyan gerah banget nih, pengen nyebur ke kolam renang." Keluh Rayyan terdengar dari ruangan tengah berhasil membuat Nayra mendengus.

"Karna ngga mau bantuin jadi kapan-kapan aja ke kolam renangnya," balas Nayra santai, tapi yakin kalau sekarang putranya sedang bangkit dari sofa untuk menghampirinya.

Nayra sambil melipat celana menahan senyum mendengar suara pintu terbuka pelan. Ia diam saja pura-pura tidak tahu ketika anak itu duduk tak jauh darinya.

"Sini sini biar Rayyan aja yang lanjutin, mendingan Mama pindahin baju di kamar Mama aja."

"Tumben jadi rajin gini."

"Kan Mama bilang kalau aku bantuin Mama bakal izinin aku ke kolam renang." Rayyan meraih baju kaosnya lalu melipat dengan rapi dan meletakkan di dalam lemari. Anak itu terus melakukannya guna mencari hati sekaligus muka pada ibunya.

Saat baru menginjakkan kaki di gedung apartemen, yang pertama kali Rayyan inginkan adalah mengunjungi kolam berenangnya. Nayra tentu saja melarangnya karna masih banyak pekerjaan yang memerlukan bantuan sang putra yang langsung saja di tolaknya lalu sebagai aksi protes anak itu memilih bermain game di ruang tengah.

Sebenarnya Rayyan anak yang baik dan suka membantu orang, tapi karna ia tidak mengizinkan anak itu berenang membuatnya sedikit marah.

"Tadinya iya." Nayra memutuskan untuk mengusili anaknya. Tak bisa di pungkiri dirinya kesal dengan Rayyan setelah tidak izinkan.

"Sekarang iya juga dong!"

"Kok jadinya kamu yang ngatur Mama?" Heran Nayra membuat Rayyan terdiam dengan kecewa lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi kembali melipat pakaiannya.

Sementara Nayra menahan tawa. Sebenarnya ia juga iba tapi mengingat masih tengah hari di mana menurutnya adalah waktu yang salah untuk berenang. Selain itu, ia tak yakin kalau tempat itu ada orang dewasanya karna Nayra tak bisa menemani putranya di sana karna masih banyak yang perlu di selesaikannya di sini.

"Harusnya kita ngga tingal di apartemen, tapi di rumah kita bagian yang belum di renovasi atau di kontrakan aja biar lebih bebas." Gumam Rayyan.

"Kok gitu ngomongnya? Mama ngga sudah, Ray."

"Lagian Mama yang salah! Kita di sini bayar jadi rugi kalau nggak bisa menikmati semua fasilitasnya."

"Ray, sekarang masih siang, Mama juga ngga bisa nemenin kamu di sana karna beresin baju-baju dulu."

"Kalau aku bantuin Mama sampai selesai Mama bakal izinin ngga? Ah, tapi kayaknya enggak." Ungkapnya sambil menatap Nayra putus asa. "Mau renang pagi, siang, sore bahkan malam ngga ada salahnya kata coach, Rayyan juga udah gede jadi ngga pernah di temani."

Nayra diam dengan terus melakukan pekerjaannya. Bukannya Nayra tak kasihan, tapi ia selalu merasa tidak tenang melepas Rayyan pergi ke kolam renang tanpa ada pengawasan.

"Aku bisa, Ma. Percaya deh. Ada atau enggak ada orang di kolam, aku ngga akan kenapa-kenapa kok. Jadi boleh yaa, Ma?" Pintanya penuh permohonan sambil menatap Nayra yang kebetulan sedang memandangnya dengan harapan agar di izinkan. "Maa, boleh–"

"Jangan lama-lama, soalnya Mama–"

"Jadi boleh? Yeee, oke oke ngga akan lama kok!" Sela Rayyan senang lalu meraih pakaian renangnya dan berlari keluar dari apartemen sewaan mereka.

Sementara Nayra kembali pada pekerjaannya, percaya pada anaknya yang tidak akan tersesat karna sudah sering datang ke apartemen milik kakak dari sahabatnya.

Dulu, saat sahabatnya masih tinggal di sini, Nayra bersama Rayyan sering berkunjung. Beberapa kali mereka mengelilingi apartemen dan menikmati fasilitasnya hingga yakin putranya masih mengingat letak kolam renangnya.

Nayra kembali melanjutkan aktivitasnya dengan cepat karna ingin menyusul sang anak. Walau Rayyan sudah mengikuti les renang sudah mengerti bahayanya, tapi ia selalu tak yakin anaknya bisa berhati-hati.

Sementara Rayyan sudah sampai di lantai tiga letak kolam renang berada. Sepanjang mata memandang hanya ada gedung-gedung tinggi yang terlihat dari pembatas kaca.

Rayyan berdecak karna kolam di sisi kanan yang sudah jelas untuk anak-anak masih kosong serta terlihat dangkal lalu sisi kiri adalah kolam untuk dewasa.

Di sana ada seorang pria baru saja naik dari kolam. Rambutnya basah, air menetes seiring langkah itu meninggalkan kolam untuk meraih handuk di salah satu tempat duduknya.

Hai,” sapanya ramah menyadari ada orang lain di sana. "Kamu ngapain masih berdiri di sana? Mau renang kan?"

"Iya, Om."

"Terus kenapa masih di situ?"

"Pengen aja, Om." Setelah diam cukup lama mempertimbangkan akhirnya Rayyan mendekati pria yang sepertinya adalah orang baik. "Kolam ini dalam ngga, Om?"

"Dalam bangat, ngapain kamu malah berdiri di sana? Jauhan dikit soalnya lantai di sekitar kolam lumayan licin mendingan kamu sana ke kolam anak-anak aja." Jelas pria itu sambil mengeringkan tubuh dengan handuk kecil lalu meraih baju dan memakainya.

Rayyan mengerutkan kening sedikit tidak suka dengan pria asing tukang ngatur itu. "Rayyan bisa renang bahkan ikut les juga," katanya tanpa menunggu jawaban orang dewasa langsung masuk ke dalam.

“Eh... dek, itu kolam dewasa!"

Tapi terlambat, Rayyan sudah berenang dengan lincah seperti sedang menunjukkan pada pria dewasa yang sedang berdiri di tepi kolam kalau ia bisa berenang bahkan di kolam yang dalam.

Selama berenang Rayyan mengabaikan peringatan dari pria dewasa itu. Sampai kemudian Rayyan muncul ke permukaan dengan senyum terkesan angkuhnya.

"Rayyan udah bisa berenang dari umur sepuluh tahun, Om." Ungkapnya pada pria dewasa yang seperti menatapnya tidak suka.

"Tapi... terserah, yang penting saya udah peringati kalau kolam itu dalam."

Sementara itu Rayyan menunjukan kemampuannya pasa pria dewasa itu, melakukan banyak gerakan yang menurutnya cukup keren di lakukan oleh anak kelas tujuh SMP.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!