THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: FAJAR YANG TERLALU CERAH
Cahaya itu datang terlalu cepat.
Raka menyipitkan mata, tangannya reflek naik menutupi wajah saat dinding asrama yang tadinya gelap gulap mendadak berubah menjadi oranye terang. Tidak ada suara alarm yang bising, tidak ada teriakan sersan mayor yang menyuruh bangun. Hanya ada dengungan halus dari panel langit-langit yang mengumumkan, "Siklus Fajar Dimulai. Efisiensi hari ini: 98%. Selamat pagi, Kadet."
"Siapa yang butuh efisiensi jam segini?" gerutu Raka sambil menarik selimut tipisnya kembali sampai menutupi kepala. "Fajar seharusnya pelan-pelan, bukan kayak lampu disco yang dipencet tombol 'maksimal'."
Di ranjang sebelah, sesuatu berguling jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk berat, diikuti erangan tertahan.
"Aduh... Bimo, lo nggak bisa bangun tanpa nyeret kasur ya?" suara cempreng terdengar dari sudut lain ruangan. Itu Kai, si jenius kurus yang sepertinya sudah duduk tegak di depan meja belajarnya sejak satu jam lalu, jari-jarinya menari-nari di atas hologram keyboard.
Bimo, si raksasa berambut keriting yang baru saja terjatuh, menggosok pantatnya sambil tersenyum lebar, seolah sakit itu cuma lelucon kecil. "Pagi yang indah, Kai! Lihat tuh cahayanya. Rasanya seperti dipeluk sama matahari raksasa. Ayo bangun, Rak! Hari pertama kita di Squadron Aurora!"
Raka akhirnya menyerah. Ia melempar selimut, duduk, dan meregangkan badan sampai persendelannya berbunyi kretek. Di cermin dinding, ia melihat pantulan dirinya: rambut hitam acak-acakan yang menolak disisir, mata cokelat yang masih sayu, dan seragam abu-abu standar kadet yang terlihat sedikit kebesaran di badannya yang sedang.
"Squadron Aurora," ulang Raka pelan, mencoba membiasakan lidahnya dengan nama itu. Terdengar heroik. Terlalu heroik untuk sekumpulan anak muda yang kemarin masih ribut soal siapa yang dapat jatah makan malam lebih banyak.
"Lo siap, Rak?" tanya Elara. Gadis itu muncul dari balik partisi kamar mandi dengan rambut pirangnya diikat rapi ke belakang, seragamnya licin tanpa satu pun kerutan. Tatapannya tajam, seolah sudah menganalisis seluruh rencana hari ini dalam tiga detik. "Ketua bilang briefing pagi itu wajib. Telat satu menit, lo dapat hukuman lari keliling kubah."
"Lari? Di gravitasi nol sektor 7 atau gravitasi normal?" tanya Raka sambil mencari sepatu botnya yang entah kenapa masuk ke bawah tempat tidur Bimo.
"Normal. Yang bikin kaki lo pegal selama tiga hari," jawab Elara datar, tapi sudut bibirnya berkedut sedikit. Hampir tersenyum. Hampir.
Mereka berempat—Raka, Bimo yang selalu optimis, Kai yang hidup di dunia data, dan Elara si perfeksionis—berjalan berdampingan menyusuri koridor markas. Dinding logam putih bersih memantulkan cahaya oranye dari lampu-lampu simulasi matahari. Di mana-mana terdapat poster besar bertuliskan slogan Squadron: "Kami Adalah Penjaga Cahaya."
Raka merasa agak sesak. Bukan karena udaranya, tapi karena ekspektasi. Bergabung dengan Squadron Aurora berarti menjadi garis pertahanan terakhir umat manusia di Neo-Solara. Tanggung jawab besar. Tapi melihat Bimo yang sedang memperagakan gerakan tinju imajiner ke arah Kai, dan Elara yang menghela napas panjang setiap kali Bimo hampir menabrak pot tanaman, rasa cemas itu sedikit mereda. Mungkin ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan.
Mereka tiba di Aula Utama tepat waktu. Ratusan kadet lainnya sudah duduk rapi di bangku-bangku melingkar. Di tengah ruangan, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan seragam berwarna emas dan putih. Itu Komandan Varen, legenda hidup yang katanya pernah menahan runtuhnya Sektor 9 sendirian.
"Duduk tegak. Punggung lurus. Mata ke depan," bisik Elara sambil menyikut lengan Raka pelan.
Komandan Varen mulai berbicara. Suaranya tidak perlu mikrofon; terdengar jernih di setiap sudut ruangan berkat teknologi akustik ruangan.
"Selamat pagi, Kadet Angkatan 42," sapa Varen. Matanya menyapu ruangan, berhenti sebentar di setiap wajah. "Kalian ada di sini karena kalian terpilih. Bukan karena nilai ujian tertinggi, bukan karena fisik terkuat. Tapi karena kalian punya satu hal yang tidak dimiliki mesin: Harapan."
Ia menekan tombol di podiumnya. Di belakangnya, layar raksasa menampilkan gambar matahari terbit yang indah di atas puing-puing kota tua—gambar arsip dari zaman sebelum kubah dibangun.
"Tugas kita sederhana," lanjut Varen, suaranya memberat. "Memastikan fajar selalu terbit. Setiap hari. Tanpa gagal. Karena jika fajar berhenti, harapan itu mati. Dan jika harapan mati, kita semua hanya menunggu waktu untuk menghilang."
Suasana hening. Berat. Raka merasakan dada mereka berdebar serempak. Ini dia momen inspirasional yang biasanya ada di film-film lama. Saat di mana semua orang bersumpah akan mati demi tugas.
Varen tersenyum tipis. "Sekarang, giliran kalian. Satu per satu, majulah. Sebutkan nama dan motivasi kalian bergabung dengan Squadron Aurora. Jangan berikan jawaban klise seperti 'ingin menyelamatkan dunia'. Saya ingin tahu alasan manusia-nya."
Barisan dimulai. Kadet-kadet maju dengan jawaban beragam.
"Saya ingin membuktikan pada ayah saya bahwa saya cukup kuat," kata seorang gadis.
"Saya ingin melihat apa yang ada di luar kubah suatu hari nanti," kata seorang cowok berkacamata.
"Saya butuh beasiswa penuh untuk adik saya," jujur seorang kadet lain.
Semua jawaban terdengar tulus. Sampai giliran Raka.
Ia melangkah maju, mencoba terlihat santai meski lututnya sedikit gemetar. Ia menatap Komandan Varen yang tatapannya setajam elang.
"Nama: Raka," ucapnya jelas. Lalu ia berhenti sejenak, berpikir. Ia bisa menjawab serius. Ia bisa bilang ingin melindungi teman-temannya. Tapi entah kenapa, suasana terlalu tegang, dan otak isengnya mengambil alih.
Raka tersenyum miring. "Motivasi saya? Kalau fajar udah terbit terus dan aman, aku boleh tidur seharian dong? Janji ya, Pak Komandan, kalau aku nggak bangun-bangun nanti, anggap aja aku lagi nikmatin fajar selamanya!"
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Lalu, ledakan tawa pecah di seluruh aula. Bahkan Kai yang biasanya kaku sampai terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Bimo tertawa sampai air matanya keluar. Elara menutupi wajahnya dengan tangan, tapi bahunya berguncang hebat menahan tawa.
Bahkan Komandan Varen, pria yang konon tidak pernah tersenyum selama sepuluh tahun terakhir, mengangkat satu alisnya. Sudut bibirnya berkedut. "Dasar pemalas," gumamnya, tapi nadanya tidak marah. Justru terdengar... geli. "Kalau kau tidur terus, siapa yang akan menjaga kami?"
"Nah, itu gunanya teman-teman saya," Raka menunjuk ke arah Bimo, Kai, dan Elara yang masih terkekeh. "Mereka bakal siram air kalau aku kebanyakan tidur. Kan, El?"
Elara akhirnya menurunkan tangannya. Wajahnya masih merah karena menahan tawa, tapi matanya berbinar. "Dasar pemalas," ulang Elara, meniru kata Komandan. "Nanti kita siram air satu ember penuh. Biar kau sadar."
Tawa kembali menggema. Ketegangan di ruangan itu pecah seketika. Sesuatu berubah. Mereka bukan lagi sekumpulan orang asing yang takut dihakimi. Mereka adalah sekumpulan manusia yang baru saja berbagi lelucon di pagi hari.
Setelah sesi briefing selesai, Komandan Varen memberi instruksi terakhir. "Angkatan 42, kalian resmi diterima di Squadron Aurora. Sekarang, kumpul di halaman depan untuk dokumentasi tim. Pastikan kalian tersenyum. Ini akan jadi foto pertama kalian sebagai keluarga baru."
Mereka berlarian kecil keluar aula menuju halaman luas di mana langit kubah disetel pada warna biru cerah sempurna. Drone kamera melayang di depan mereka, lensanya berputar-riang.
"Bimo, jangan ngos-ngosan!" seru Kai sambil merapikan kerah seragamnya.
"El, senyum dikit napa? Nanti kelihatan galak lho," goda Raka sambil menyenggol bahu Elara.
"Diem, Rak. Aku udah senyum dari tadi," bantah Elara, tapi kali ini senyum itu nyata. Terbentuk lebar di wajahnya.
"Oke, Kadet! Lihat ke sini! Tiga... dua... satu... Aurora!"
Klik.
Cahaya kilatan flash menyilaukan sesaat. Foto itu terpampang di layar drone beberapa detik kemudian: Empat wajah muda dengan seragam abu-abu, berdiri di bawah langit biru buatan yang terlalu cerah. Bimo tersenyum lebar sampai matanya sipit, Kai memberikan tanda damai dengan canggung, Elara tersenyum manis meski masih terlihat rapi, dan Raka... Raka tersenyum santai, tangannya melambai malas di samping kepala.
Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Seolah dunia tidak akan pernah berakhir. Seolah badai merah tidak pernah ada dalam kamus kehidupan mereka.
"Gimana? Bagus kan?" tanya Bimo sambil menepuk punggung Raka hingga hampir membuatnya tersungkur.
"Bagus banget," jawab Raka, menatap foto digital itu. "Simpan baik-baik, ya. Siapa tahu nanti kita butuh bukti kalau kita pernah sekeren ini."
"Masa sih?" tanya Kai. "Kita bakal lebih keren lagi nanti!"
"Pastinya," sahut Elara. "Kita Squadron Aurora. Kita nggak bisa kalah."
Raka hanya tersenyum, tidak menjawab. Ia menatap langit biru di atas mereka. Di kejauhan, sangat jauh di batas penglihatan, ada garis tipis warna ungu gelap yang nyaris tak terlihat di pinggiran kubah. Garis yang tidak diperhatikan oleh siapa pun saat itu.
Tapi Raka merasakannya. Ada getaran aneh di ujung jarinya, sensasi kesemutan hangat yang perlahan menjalar ke lengannya. Ia mengepalkan tangan, menyembunyikan gejala itu di saku celananya.
Nikmati saja hari ini, batinnya. Nikmati tawa mereka. Nikmati fajar yang terlalu cerah ini.
Karena Raka tahu, meski ia belum mengerti sepenuhnya mengapa, bahwa fajar seperti ini mungkin tidak akan bertahan selamanya. Dan ketika langit berubah merah, foto inilah yang akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa dari mereka.
"Ayo!" seru Bimo, menarik Raka keluar dari lamunan. "Katanya ada makan siang gratis buat kadet baru! Ayam goreng sintetis favoritku!"
"Ah, sekarang itu baru motivasi yang bagus!" Raka tertawa, berlari kecil mengejar teman-temannya, meninggalkan bayangan kecil di bawah kakinya yang mulai berkilau sangat samar, seperti debu emas yang enggan menempel di tanah.
Hari pertama mereka di Squadron Aurora telah dimulai. Dan bagi Raka, itu adalah awal dari segalanya, sekaligus hitungan mundur yang tak terlihat menuju akhir.
...( BERSAMBUNG... )...