Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
"Kisses."
Mata Azalia membola. Lambat laun kedua mata yang selalu berbinar ceria menutup saat sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Jemari Gavin meraba sebelum mengecup mesra kelopak mata Azalia yang tertutup, kemudian turun pada puncak hidung istrinya. Kecupan kasih sayang itu mendarat di dua sisi pipi yang merona sebelum beralih pada bibir Azalia yang sedikit bergetar. Gavin pun menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, setelah melepaskan kecupan di bibir istrinya. Dia belum pernah segugup ini dalam hidup. Lama dia berdiri dan menatap penuh cinta pada istrinya yang mengatupkan sepasang matanya.
Azalia baru saja hendak membuka mata, dia merasa Gavin berdiam diri terlalu lama saat tiba-tiba bibirnya dilumat dengan ganas. Gadis itu tergagap. Dia mengeratkan cengkraman tangan pada bahu suaminya saat tanpa jeda bibirnya dikulum dan dihisap. Tak mampu berkelit dan membalas ciuman Gavin, saat lidah mereka saling membelai, saat ciuman mereka seiring waktu semakin dalam.
Manis dan memabukkan, membuat candu dan mendebarkan.
Suara ketukan pintu seketika menghentikan mereka. Azalia memejamkan mata dan mengulum bibir bawahnya sendiri saat pangutan bibir mereka terlepas. Gavin menatap istrinya dengan mata berkabut. Dia tak rela karena harus melepaskan gadis dalam rengkuhan tangan kokohnya ini. " Ada yang datang." Cicit gadis itu.
Azalia melepaskan lengan dari leher suaminya, pelan-pelan rengkuhan kokoh tangan Gavin di pinggang gadis itu pun terlepas. Azalia kemudian membalik badan, membelakangi Gavin yang masih bergeming dan hendak kembali ke meja. Sedetik kemudian Gavin menarik lengan istrinya dan memeluk tubuh mungil Azalia dari belakang dengan begitu obsesif. Hembusan napas hangat Gavin mengaliri bahu dan leher telanjang istrinya. Mereka berdua tak mengindahkan suara ketukan pintu yang masih dan semakin nyaring di depan, masih tak rela melepaskan satu sama lain.
Azalia menoleh dan berbisik lirih setelah beberapa saat mereka berdiam diri. "Siapa tahu ada yang penting."
Gavin tak mengindahkan penuturan gadis yang berstatus sebagai istrinya selama 2 tahun terakhir. Dia mengeratkan lengan kokohnya pada tubuh mungil Azalia. Gavin menyesali waktu 2 tahun yang terbuang sia-sia. Selama mereka menikah, baru sekali ini dia mencium bibir Azalia.
Manis.
Memabukkan.
Dan....
Bikin candu untuk di ulang kembali.
"Apa yang lebih penting darimu?"
Azalia menunduk, demi meredam rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Jika bukan karena sesuatu yang menekan otaknya, mungkin dia akan mengenang momen ini sebagai pengalaman termanisnya selama menikah. Namun Tuhan tak memberikan kesempatan untuk itu. Mungkin 5 menit ke depan, momen yang baru saja terjadi sudah ia lupakan. Seolah yang maha kuasa ingin mengingatkan bahwa ini hukuman darinya untuk Azalia dan Gavin karena telah bermain-main dengan pernikahan yang seharusnya sakral.
"Apakah aku cukup baik sebagai seorang istri?" Azalia bertanya setelah Gavin meminta orang yang mengetuk pintu pergi.
"Perfect!" Balas Gavin. Laki-laki itu mendaratkan satu kecepatan terakhir di puncak kepala istrinya setelah menjawab pertanyaan Azalia.
Azalia tersenyum getir. Baginya itu cukup. Jika dia cukup baik sebagai istri selama 2 tahun terakhir untuk Gavin, itu cukup baginya.
Gavin kembali diam, sementara Azalia mulai menyiapkan makan siang Gavin yang tertunda.
Makanan itu tandas setelah beberapa saat, Gavin menerima air yang Azalia tuangkan.
Seusai makan siang, tak buang waktu Gavin langsung mengajak Azalia berbelanja.
Gaya belanja Gavin tak jauh beda dengan Alvin, semua baju yang Azalia coba di ruang ganti di beli sesuai ukuran Azalia.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Azalia di gandeng oleh Gavin. Dia memakai mini dress of shoulder berwarna putih gading. Dress terakhir yang dicobanya. Dia hampir memprotes tapi Gavin buru-buru kembali membungkam mulut Azalia dengan tangan kokohnya. Azalia hanya bisa membelalakkan mata saat satu tangan Gavin lainnya menyentil dahi.
Azalia tak diizinkan mengeluarkan sepatah kata pun yang mengisyaratkan penolakan. Gavin meraih tangan istrinya, mengaitkan jari jemari mereka berdua dan menuju bioskop di lantai paling atas. Mereka menonton. Setelah memesan satu buah popcorn dalam ukuran jumbo dan dua cola, mereka menunggu sebentar sebelum masuk. Mereka menonton sebuah film romantis yang sedang hits, walaupun Azalia tak sedikitpun bisa mencerna isinya. Dia lebih banyak menatap laki-laki di sampingnya dibandingkan layar bioskop. Satu tangannya masih digenggam erat oleh Gavin selama mereka berada dalam ruangan gelap itu. Sesekali jari jemari yang saling bertautan erat diletakkan di dada suaminya dan tak terhitung berapa kali kecupan sayang menghangatkan buku-buku jari Azalia.
Azalia menunduk setiap kali tak kuasa menahan perasaan sakit yang memenuhi dadanya. Saat pasangan-pasangan di kursi lain dalam bioskop itu tertawa karena kelucuan dalam setiap adegan, Azalia dan Gavin hanya diam. Popcorn dan cola yang mereka beli tadi tak sedikit pun tersentuh hingga film selesai diputar.
Mereka keluar paling akhir, seolah tak rela beranjak pergi karena film yang berakhir sungguh mirip dengan kisah mereka.
Cinta hadir disaat yang tidak tepat. Sungguh real dengan kehidupan mereka berdua.
Gavin membawa Azalia pada sebuah garden dinner. Ada kolam di samping meja makan mereka yang dihias dengan lilin-lilin dan lampu-lampu temaram. Hanya ada satu meja makan, sangat privat. Makanan mereka pun disajikan tepat setelah keduanya duduk. Kemudian para pramusaji itu pergi menghilang begitu saja, tersisa hanya Azalia dan Gavin di tempat yang begitu romantis dan indah malam ini. Azalia berdehem sebelum bicara, "Belanja, nonton, dan makan malam, ini semua definisi kencan oleh Tuan Gavin Najendra rupanya, " ujar Azalia sembari menatap laki-laki di depannya.
"Kau menyukainya?"
Azalia menangkup wajahnya dengan satu tangan, mengerling dari seberang pada Gavin yang menatapnya. Tiba-tiba Gavin tersenyum simpul. Sangat manis, dan Azalia rasanya ingin menyimpan senyuman itu untuk dirinya sendiri seumur hidup.
"Suka, sangat suka."
Waktu terus berjalan, hingga mereka menikmati hidangan penutup.
Alunan musik jazz memenuhi meja makan setelah keduanya menyelesaikan makan malam.
Laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangan, untuk sebuah acara dansa malam ini. Azalia tertawa sebelum meraih tangan suaminya. "Sungguh aku tidak pandai berdansa, aku pasti menginjak kakimu nanti."
"Injak saja."
Gavin meletakkan dua tangan istrinya di bahunya sedangkan tangannya sendiri melingkari pinggang Azalia. Mereka bergerak pelan mengikuti alunan musik, saling menatap lekat mata masing-masing.
"Andai bisa aku ingin membawa kenangan indah ini di akhir hayatku."
Perkataan Azalia menghujam jantung Gavin.
Laki-laki itu mulai merasa kehilangan. Azalia yang dulu dianggap perempuan asing yang sudah pasti menerima pernikahan atas iming-iming harta, selama beberapa minggu terakhir telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
"Apa selama ini kau selalu menganggap ku sebagai keluarga?" Sesak dada Gavin menanyakan hal itu.
"Tentu saja." Azalia berdecak pelan.
Gavin membawa Azalia untuk kembali duduk, dia tak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu karena kelelahan.
"Terima kasih, Gavin.. untuk dua tahun ini," ucap Azalia setulus hatinya.
"Terima kasih untuk apa?" Gavin tak mengerti.
"Terima kasih untuk segalanya, kau tahu menikah denganku akan sangat merugikanmu, tapi kau tetap menikahiku untuk meredam gosip."
"Aku melakukannya untuk diriku sendiri, bagaimanapun aku tidak ingin menghancurkan nama baikku."
Azalia tersenyum dan mengangguk pelan. "Kau benar, tapi aku tetap ingin berterimakasih."
Gavin tidak ingin membahas masa lalu, baginya itu terlalu menyakitkan.
"Gavin, ada apa?" Melihat Gavin hanya diam, Azalia pun bertanya.
Gavin mendongak, menemukan Azalia yang sedang menatapnya. Dia menggeleng. "Bisa jangan bahas masa lalu, itu hanya mengingatkanku pada kebodohan yang telah ku perbuat padamu."
Mata Azalia nanar saat menemukan dua bola mata Gavin yang berkaca-kaca.
ta kirain bakal ada keajaiban gtu d ruang operasi,, secara dunia novel gtu lho... lhaaaaaa ujungnya realistis banget 🤭🤭
pasti ini akhirnya JD mimpi ..iya kannn
apakah mungkin gavin menduda seumur hidup ?
kisah alvin dan renata tidak ada .
TAAAAAMMMMAAATTTTTTT ????!!!!!!
GAK....gak..gak
aku gak bisa terimaaaaaaa 😢😭😭😭😭