Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: "TITIK DIAM YANG BERGEJALA" part 1
Udara pagi di rumah kayu milik kakek Budi Santoso terasa sejuk, dibantu kipas angin yang berputar pelan dan suara kipas AC yang menggelegak lembut di sudut ruang tamu. Jay sedang menekan tombol kontroler dengan jari yang terbiasa bergerak cepat, mata tidak pernah menyimpang dari layar TV yang menampilkan adegan pertempuran karakter game yang sedang mengejar misi akhir. Tumpukan bungkus snack jagung bakar dan keripik singkong berserakan di atas meja bundar kayu tua, bersebelahan dengan gelas plastik berisi soda yang sudah separuh habis. Di kursi kayu besar di pojok kamar, ada sosok yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan—Malakos, makhluk dari dimensi lain yang sudah jadi teman baik Jay.
“Serangan akhir dong! Jangan sampai kalah sekarang…” bisik Jay sambil mengunyah snack dengan suara yang jelas terdengar di antara ledakan dan musik latar game.
“Kamu sudah ulang level ini tiga kali, Jay. Kali ini pasti bisa menang.” suara Malakos terdengar lembut di udara, seolah datang dari segala arah sekaligus. Jay mengangguk tanpa melihat ke arah mana suara itu datang—dia sudah terbiasa berkomunikasi dengan Malakos yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Di kursi kayu empuk sebelahnya, Rara duduk dengan sikap tegak, kedua tangan menyilang di depan dada. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi dengan karet gelang hitam, dan jaket denimnya yang sedikit lusuh tampak tidak sesuai dengan suasana ruangan yang penuh dengan barang-barang hiburan Jay. Dia sudah menunggu lebih dari satu jam, kadang-kadang melihat ke arah Jay, kadang-kadang melihat ke luar jendela ke pagar bambu dengan pola melingkar yang kini sudah mulai berkilau dengan cahaya kebiruan yang sangat lembut. Kadang dia juga melihat ke arah kursi pojok di mana Malakos berada, meskipun tidak bisa melihatnya—hanya merasakan keberadaan makhluk itu.
Setelah beberapa menit lagi, suara kemenangan terdengar dari TV. Jay melepas napas lega, menjatuhkan kontroler ke kursi dan meraih bungkus snack berikutnya. “Yeay! Akhirnya menang juga. Level ini susah banget lho.”
“Bukannya kamu yang main saja, saya juga membantu bilang langkahnya kan.” ucap Malakos dengan nada sedikit bercanda. Jay mengangkat tangan ke arah kursi pojok sebagai bentuk kesetujuan.
Baru saat itu dia menyadari bahwa Rara masih ada di sana. “Wah, kamu masih ada ya? Maaf ya, lupa aja karena lagi fokus main sama Malakos.”
Rara menghela napas perlahan, tampaknya sudah terbiasa dengan sikap santai Jay yang kadang menjadikannya terlupakan. “Mas Jaya, sudah cukup belum ya? Kita harus segera berangkat ke Desa Cemara—Titik Diam di sana mulai bermasalah!”
Jay mengangkat bahu, masih menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik game yang masih berlanjut di latar belakang. “Ntar dulu dong, lagi mau nikmati kemenangan nih bareng Malakos. Selain itu, saya gak mau keluar jauh-jauh kok. Udah biasa tinggal di sini aja, rumahnya juga nyaman, ada AC, ada konsol game. Bisa aja mereka yang ada di Desa Cemara datang kesini aja kan? Bisa diskusi santai bareng, makan snack bareng—Malakos juga pasti suka bisa ketemu makhluk dari dimensi lain yang baru.”
“Saya memang penasaran dengan kondisi Titik Diam di sana,” suara Malakos terdengar lagi. “Namun seperti yang dikatakan Bu Rara, mungkin tidak bisa ditunda.”
Rara menggeleng dengan wajah yang semakin serius. Matanya yang warna coklat tua tampak penuh kekhawatiran. “Tidak bisa! Titik Diam di sana adalah seorang anak kecil yang baru berusia tujuh tahun bernama Lila. Dia baru saja menemukan bahwa dirinya adalah Titik Diam dan mulai panik karena tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Ketakutannya membuat batas antar dimensi retak parah—kalau kita tidak segera menanganinya, celah itu akan semakin lebar dan bisa merusak semua dimensi yang ada.” Dia menjeda sejenak, menatap mata Jay dengan tatapan yang jelas menyampaikan urgensi. “Termasuk dunia hiburan ini—game yang kamu mainkan, konsol yang kamu punya, bahkan buku tua yang selalu kamu bawa bisa hilang tanpa bekas. Malakos juga bisa kehilangan jalan untuk tetap berkomunikasi dengan dunia ini.”
Kata ‘dunia hiburan’ dan nama Malakos seolah menusuk langsung perhatian Jay. Dia segera menekan tombol untuk mematikan konsol, suara musik game pun hilang dan hanya tersisa bunyi kipas AC dan suara gemericik air dari sumur di belakang rumah. Dia berdiri perlahan, mengambil tas ransel besar yang biasanya dia gunakan untuk menyimpan barang-barang pentingnya, lalu mulai mengemas bungkus snack satu per satu dengan hati-hati.
“Dunia hiburan bisa hilang? Malakos juga bisa terpengaruh? Itu masalah besar nih. Gak bisa dong begitu saja hilang, saya belum selesai main semua game yang ada di konsol saya, dan Malakos juga belum bisa merasakan semua jenis snack yang ada.”
Saat Jay sedang mengemas, buku tua berjudul Sunyi yang Berisik yang biasanya terletak di atas meja buku tiba-tiba menyala dengan cahaya putih lembut. Sampulnya yang dulunya hanya ada pola melingkar sekarang sudah berubah—muncul peta dengan banyak titik kecil yang bersinar terang, masing-masing dengan warna yang berbeda. Salah satu titik yang berwarna merah menyala lebih terang dari yang lain, dengan tulisan kecil di bawahnya: Desa Cemara, Jawa Tengah. Suara Malakos terdengar lebih dekat saat buku menyala:
“Saya bisa merasakan kekacauan dari sana. Batas antar dimensi benar-benar sudah tidak stabil.”
Jay mengambil buku itu dengan hati-hati, melihat peta yang muncul dengan mata yang penuh rasa penasaran tapi tetap dengan sikap santainya yang khas. “Wah, buku ini makin ajaib ya. Dulu cuma buku biasa, sekarang jadi peta elektronik gitu. Malakos, kamu bisa lihat apa aja dari buku ini kan?”
“Beberapa hal saja, Jay. Sisanya masih belum bisa saya pahami.”
Rara mendekat sedikit, melihat buku yang dipegang Jay. “Itu tandanya masalah di Desa Cemara sudah tidak bisa ditunda lagi. Setiap titik yang bersinar adalah Titik Diam yang ada di seluruh Indonesia, dan titik merah berarti dalam kondisi darurat. Pak Joko dari Desa Wening juga sudah diberitahu tentang perjalanan kamu—dia bilang akan menjaga rumah dan pagar bambu selama kamu tidak ada.”
Jay menutup buku dan menyimpannya ke dalam tasnya, kemudian mengambil botol minum yang sudah diisi air mineral dan memasukkannya ke dalam kantong samping tas. Dia menoleh ke arah di mana Malakos berada, lalu ke Rara dengan wajah yang sudah siap, meskipun masih terlihat tidak terlalu suka harus keluar rumah.
“Oke deh, saya setuju berangkat aja. Tapi janji ya kita naik kendaraan yang ada AC dan ada tempat yang bisa tidur ya? Jalan jauh-jauh kan pasti capek, saya gak mau sampai sana sudah lelah parah dan nggak bisa berpikir dengan jelas. Selain itu, saya sudah bawa banyak snack jadi kita tidak perlu bolak-balik cari makan di jalan. Malakos juga bisa ikut ya melalui buku kan?”
“Saya akan selalu menyertaimu, Jay,” jawab Malakos dengan suara yang menenangkan.
Rara mengangguk dengan sedikit senyum di wajahnya. Akhirnya Jay bersedia untuk bergerak keluar dari zona nyamannya. “Baiklah Mas Jaya, kendaraannya sudah siap di depan rumah. Kita bisa berangkat kapan saja. Pak Joko juga sudah menunggu di luar sebentar untuk menyampaikan pesan dari yayasan.”
Jay mengambil kunci rumah dari laci meja, lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah yang santai. Sebelum keluar, dia melihat sekali lagi ke arah pagar bambu yang sudah menjadi bagian penting dari kehidupannya sejak Season 1 dimulai, lalu ke arah sumur di belakang rumah yang kini terlihat tenang. Pola melingkar pagar bambu kini berkilau lebih terang, seolah sedang memberikan perlindungan pada rumahnya dan pada semua makhluk dari dimensi lain yang terkadang muncul di sekitarnya.
“Semoga rumah tetap aman ya… Pak Joko juga harus jaga diri. Malakos, tolong jaga saya ya di jalan. Dan semoga game saya tidak hilang sebelum saya kembali.” bisik Jay sebelum menutup pintu dengan lembut dan mengikuti Rara yang sudah keluar duluan, menyapa Pak Joko yang sedang berdiri di depan pagar bambu dengan tas kecil berisi snack buatan tangannya sendiri.
Jay menerima tas dengan hati-hati, mengucapkan terima kasih. Di dalam tasnya, buku yang tadinya bertuliskan Sunyi yang Berisik mulai berubah—huruf-huruf pada sampulnya bergerak perlahan, menyusun kalimat baru yang bersinar dengan cahaya kebiruan sangat lembut: SUNYI YANG BERISIK - SEASON 2. Sampulnya yang dulunya hanya ada pola melingkar kini juga menampilkan gambar kecil mobil jeep yang sedang melaju menuju lereng gunung, seolah sudah siap untuk memulai perjalanan baru.
Jay melihat perubahan itu dengan mata yang sedikit terkejut tapi tetap santai. “Wah, buku ini bahkan bisa ganti judul sendiri ya. Kayaknya sudah tahu kita mau mulai cerita baru nih.”
Malakos terdengar dengan suara yang lebih jelas dari arah buku: “Ini tandanya babak baru sudah dimulai, Jay. Buku ini selalu mengikuti alur yang sedang terjadi.”
Rara sudah berdiri di depan mobil jeep putih yang telah dimodifikasi khusus, parkir rapi di jalan depan. Pintu sisi belakang terbuka lebar, memperlihatkan ruang dalam yang jauh lebih luas dari jeep biasa—dengan kasur lipat tebal yang sudah diatur rapi, meja kecil yang bisa ditarik keluar, bahkan ada soket listrik tambahan yang siap untuk menghubungkan konsol. Dia melihat cahaya kebiruan dari tas Jay dan sedikit tersenyum.
“Jangan khawatir Mas Jaya, mobil ini bukan jeep standar. Sudah kami modifikasi agar sesuai dengan permintaan kamu—bisa rebahan, main game, bahkan ada AC yang lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Semua sudah dipersiapkan agar kamu bisa tetap santai selama perjalanan menuju Desa Cemara,” ucapnya sambil menggeser rambutnya yang tertiup angin.
Jay melihat ke dalam mobil dengan mata yang langsung bersinar. Di sudut dalam sudah terpasang sebuah layar kecil yang bisa disambungkan ke konsolnya, dan bantal serta selimut sudah disiapkan rapi di atas kasur.