[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peristiwa Enam Tahun Silam #01
^^^Jade Dragon Sect Residence, Spring morning, 8th day of the tenth month, year one thousand and seven^^^
Suasana di pelataran utama Sekte Naga Giok pagi itu tampak tenang. Di bawah naungan atap paviliun yang berukir giok berwarna biru langit, sang Pemimpin Sekte tengah berdiri tegak—terlibat dalam diskusi serius bersama Penasihat Hao yang berwajah bijak dan Paman Jitian yang bertubuh tegap dengan pedang besar di punggungnya.
Tiba-tiba, keheningan diskusi itu pecah oleh suara langkah kaki kecil yang terburu-buru. "Papa, Lingxi datang!" Seorang gadis bertubuh kerdil muncul dari balik pilar pelataran.
Surai Putih bersih, panjang, dan bergelombang lembut melambai-lambai seperti helaian sutra. Tidak lupa di rambutnya dihiasi dengan pita putih dan ornamen kupu-kupu yang tengah mengepakkan sayap. Sementara mata biru miliknya berbinar-binar bak permata berlian yang berkilau, memancarkan tatapan lembut yang mempesona. Kulit seputih porselen yang mulus, menonjolkan kecantikannya yang murni. Hanfu putih yang elegan dengan ornamen kupu-kupu yang serasi dengan rambutnya—menampilkan keindahan permata paling berharga bagi Sekte Naga Giok pada masa itu.
"Paman Jitian! Penasihat Hao! Papa!" serunya dengan napas yang sedikit terengah.
Alih-alih merasa terganggu oleh interupsi di tengah pembicaraan penting, raut wajah ketiga pria kuat itu justru melembut seketika. Sebelum Lingxi sempat berhenti total, Paman Jitian melangkah maju, ia mengangkat tubuh mungil gadis itu dan mendudukkannya dengan santai di atas bahunya yang kokoh.
Paman Jitian tertawa terbahak-bahak, tawanya menggelegar memenuhi paviliun. "HAHAHA, LIHAT SIAPA YANG DATANG MENJENGUK KITA!" katanya sambil menepuk pelan lutut Lingxi yang kini berada di ketinggian bahunya.
"Oho! Naga Kecil tak ku sangka kau akan datang kemari mengacaukan rapat membosankan ini," timpal Penasihat Hao dengan langkah kecil. "Kau semakin tinggi saja, Naga Kecil."
Paman Jitian mengelus tersenyum dengan mata menyipit ramah. "Tentu saja, ia makan dengan baik. Bagaimana pelajaran meditasimu pagi tadi, Lingxi? Apa kau sudah bisa merasakan aliran energi di sekitarmu?"
Lingxi mengangguk antusias, jemari mungilnya memegang erat helai rambut Paman Jitian agar tetap seimbang. "Sudah, Paman Jitian! Rasanya seperti ada kupu-kupu kecil yang menggelitik di telapak tanganku!"
Melihat kegembiraan di wajah Lingxi, Paman Jitian menolehkan kepalanya sedikit ke atas, menatap gadis itu dengan seringai bangga. "Karena kau sudah rajin berlatih, Paman punya hadiah. Nanti sore, setelah urusan ini selesai, Paman akan menunjukkan sebuah jurus pedang baru yang baru saja Paman sempurnakan. Namanya Tarian Api Langit!"
"Hei, Jitian! Jangan hanya kau yang ingin pamer," sela Penasihat Hao dengan nada kompetitif yang jenaka. Ia berpaling pada Lingxi dan berbisik, "Lingxi, abaikan pedang karatan Paman mu itu. Besok, aku akan membawakanmu sekotak kue salju yang sedang populer di Kota Baili. Rasanya seperti memakan permen kapas yang manis."
Mata berlian Lingxi membulat sempurna, berkilau lebih terang dari biasanya. Ia bertepuk tangan kecil dengan wajah yang merona merah karena bahagia.
"Benarkah? Wah, aku ingin melihat jurus pedangnya dan juga ingin mencoba kuenya!" seru gadis itu riang. Ia kemudian menunduk, menatap mereka bergantian dengan senyum paling manis yang ia miliki. "Lingxi akan menunggu dengan sabar! Janji, ya?"
"Janji!" jawab Paman Jitian dan Penasihat Hao serempak, sementara sang Pemimpin Sekte hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa mudahnya kedua tokoh besar sekte itu takluk di bawah pesona putri kecil mereka.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
^^^That night at the Jade Dragon Sect^^^
"Kakak Senior Xingluo ...? Apa yang sudah k-kau lakukan ..."
"Membunuh."
Hari itu gemuruh saling bersahut-sahutan. Tapi, kemunculan guntur ini bukanlah diciptakan oleh Dewa itu sendiri. Di tengah atap beton berukiran tiga kepala naga bersimbol Teratai Suci di dahi masing-masing menampakkan cahaya ilahi dari Dewa Naga yang sudah lama tertidur pulas di dalam sekte. Butiran-butiran air tak henti-hentinya menyerang murid sekte yang saat itu tengah dikepung paksa oleh Sekte Iblis Guntur.
Di tengah riuh kekacauan dan jeritan, dari cakrawala berwarna kelabu—tiba-tiba rintik air yang merembes membasahi bumi kembali ke asalnya. Namun, tidak sepenuhnya hilang. Dalam hitungan menit, air itu dengan cepat membentuk pusaran angin yang siap menelan jiwa siapa pun yang menghalangi tujuannya.
Murid sekte mulai berlari tak tentu arah. Ada yang sampai tersungkur ke rataan tanah karena tersandung, ada yang hanya diam seribu bahasa di tempat, ada pula yang mencoba memberanikan diri untuk melawan. Sedangkan di sisi lain, gadis kecil yang masih menginjak usia 10 tahun itu duduk bersimpuh di hadapan penasihat dan pamannya seorang diri.
Dengan lembut ia meraih pipi Penasihat Hao yang sudah dipenuhi lebam keunguan. "B-bagaimana bisa ini t-terjadi ...?"
Kedua bola mata Lingxi menelisik saksama tubuh Penasihat Hao dan Paman Jitian. Dapat dilihat olehnya lumuran bercak merah dengan bau menyengat berasal dari tubuh mereka. Darah segar mengalir deras membuat Lingxi semakin lemas. Bahkan, kubangan danau yang menggenang di pelupuk maniknya sudah tak bisa tertahan dan memilih untuk menciptakan air terjun yang secara perlahan membasahi kedua pelipisnya.
Apa y-yang harus Lingxi lakukan ...? Ma-Mama, Papa, Paman Jitian, Penasihat Hao, murid sekte ..., batin Lingxi dengan sepasang netra kembar bergetar hebat.
Di satu sisi, angin berembus semakin kencang, membantu Xingluo menciptakan angin puting beliung bertekanan guntur di sekelilingnya. Ribuan murid sekte lambat laun tumbang satu per satu. Lima ratus tersambar, dua ratus delapan terkena tusukan, seribu lima ratus empat puluh tumbang akibat racun yang diperoleh dari air hujan yang mengguyur tubuh. Di sini, dapat disimpulkan oleh Lingxi bahwa korban jiwa Sekte Naga Giok memakan dua ribu dua ratus empat puluh delapan korban jiwa.
Melihat para anggota sekte yang semakin lama semakin menipis membangkitkan Lingxi dari keterpurukan. Dengan mantap ia berdiri dan berjalan menghampiri Xingluo. Ia melangkah anggun dengan tubuh proporsional yang memikat, aura azure di sekitar gadis itu begitu mengintimidasi. Bahkan, aura itu menimbulkan tekanan dahsyat yang membuat para murid dari Sekte Iblis Guntur yang awalnya mengandalkan sayap mereka pada akhirnya terjatuh ke permukaan tanah yang dipenuhi oleh bau menyengat darah segar.
"Kakak Senior Xingluo, berani sekali kau ... kau membunuh Penasihat Hao dan Paman Jitian, serta murid Sekte Naga Giok ...!" suara Lingxi sedikit bergetar, tapi cukup lantang untuk suara seorang gadis seusianya.
"Hm? Kenapa kau menyalahkan ku?" Xingluo mengernyitkan kening. "Justru salahkan dirimu karena tidak bisa menjadi lebih kuat dariku, gadis kecil," sambungnya dengan sarat mengejek.
Nada bicara laki-laki yang kini sudah berada di bawah tekanan aura namun tetap berdiri gagah di nabastala kelabu membuat Lingxi semakin tersulut amarah yang sudah membara di hatinya.
Udara di sekitar Kediaman Utama Sekte Naga Giok seakan membeku saat sosok Lingxi melesat. Ia terbang menuju puncak tertinggi Kediaman Utama Sekte Naga Giok, didorong oleh dendam yang meluap-luap.
Tanpa peringatan, gadis itu menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan retakan menjalar. Tubuhnya melambung tinggi, melintasi jarak puluhan meter dalam satu lompatan epik bak seekor burung feniks yang menantang langit. Tatapannya, yang biasanya lembut, kini berkobar dengan amarah yang mendidih, mengunci sosok Xingluo yang berdiri di kejauhan.
Begitu kakinya menyentuh genteng atap yang melengkung, dia tidak berhenti. Alih-alih berlari, dia langsung merapalkan mantra. Udara di sekitarnya berdesir hebat, dan dalam sekejap mata, wujudnya lenyap.
"Teknik Ketiga, Teleportasi Void diaktifkan."
Dengan mengandalkan aliran petir milik Xingluo, dalam hitungan menit menatap nyalang ke arah Xingluo. Udara di sekitar laki-laki itu mendadak bergetar hebat. Dalam sekejap mata, wujud Lingxi lenyap dari atap dan muncul kembali tepat di ruang hampa di hadapan Xingluo. Tanpa memberikan waktu untuk bernapas, telapak tangan Lingxi siap menghantam dengan kekuatan penuh.
"Teknik Kedua, Delapan Belas Pukulan Penghancur Rembulan!" teriaknya dengan suara yang bergetar oleh amarah.
Lingxi bergerak layaknya bayangan yang mengamuk. Pukulan pertamanya melesat secepat kilat menuju rahang Xingluo, disusul dengan tendangan berputar yang mengincar rusuk. Gerakannya adalah perpaduan antara kekuatan kasar yang menghancurkan dan kelincahan yang mustahil diikuti mata telanjang. Pukulan ketiga, kelima, hingga kesepuluh menghujani Xingluo dari berbagai sudut, menciptakan suara dentuman angin yang pecah di setiap serangannya.
Namun, pemandangan berikutnya membuat darah Lingxi semakin mendidih.
Xingluo tidak mundur selangkah pun. Dengan ketenangan yang menyebalkan, ia menggeser tumitnya hanya beberapa inci untuk membiarkan tinju Lingxi lewat di samping telinganya. Tangannya bergerak dengan efisiensi yang mematikan—menangkis serangan ketiga belas dengan punggung tangan, lalu menepis tendangan ketujuh belas Lingxi menggunakan sikunya. Setiap serangan yang Lingxi kerahkan dengan tenaga penuh, seolah-olah hanya dianggap seperti lalat yang mengganggu oleh Xingluo.
Saat pukulan kedelapan belas—yang merupakan serangan terkuatnya—berhasil ditangkis dengan telapak tangan terbuka oleh Xingluo, bunyi tulang yang pelan terdengar—namun getarannya merambat hingga ke bahu Lingxi.
Lingxi menarik tangannya dengan kasar, napasnya memburu. Matanya menyipit tajam, menatap Xingluo dengan rasa jengkel yang memuncak. "Kau ... berani-beraninya kau hanya bermain-main denganku?!" desisnya, sementara tangannya gemetar karena kombinasi antara sisa tenaga dan emosi yang merajalela tanpa henti.
Xingluo menurunkan tangannya dengan santai, seolah-olah baru saja menepis debu dari pakaiannya. Ia menatap Lingxi dengan tatapan kosong yang jauh lebih menyakitkan daripada makian. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh penghinaan tersungging di sudut bibirnya.
"Hanya ini?" suara Xingluo terdengar rendah, namun bergema di keheningan atap. "Delapan belas pukulan, dan tak satu pun yang layak membuatku mengeluarkan keringat. Kau menyebut ini kekuatan?"
"Bagiku, ini tak lebih dari amukan anak kecil yang kehilangan mainannya," sarkasnya menatap tajam ke wajah Lingxi yang terlihat panik.
Xingluo melangkah maju satu tindak, membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa berat dan menyesakkan. "Sekte Naga Giok pasti sudah sangat putus asa jika mereka mengandalkan seseorang sepertimu, Lingxi. Kau bukan ancaman. Kau hanya ... gangguan."
Sebelum Lingxi sempat membalas dengan kata-kata atau serangan baru, tanpa peringatan dan tanpa gerakan awalan yang terlihat—lengan Xingluo menyambar secepat kilat yang membelah malam. Sebelum saraf Lingxi sempat bereaksi, jemari dingin Xingluo sudah mengunci rapat di sekeliling lehernya.
BRUK!
Xingluo menyentakkan tubuh Lingxi hingga punggung gadis itu menghantam pilar beton kediaman dengan keras. Cengkeraman itu tidak memiliki belas kasih sedikit pun—jari-jari Xingluo sekeras baja, menekan trakea Lingxi hingga suara napasnya berubah menjadi ringkikan pendek yang tersendat.
Lingxi mencengkeram lengan Xingluo, mencoba melepaskan diri, namun ia hanya mendapati kekuatan yang tak tergoyahkan. Dunianya mulai menggelap di pinggiran penglihatan. Paru-parunya berteriak meminta oksigen, sementara ia dipaksa mendongak—menatap mata Xingluo yang tidak menunjukkan emosi apa pun selain kejijikan yang mendalam.
"Seorang gadis kecil dengan Ranah Inti Emas Tahap Prima Level 2 ingin bersaing denganku yang sudah menerobos Ranah Jiwa Baru Tahap Prima Level 5? Sungguh menggelikan."
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/