Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Takdir yang datang tiba-tiba
Pagi itu, suasana rumah Alya terasa berbeda. Sejak subuh, uminya sudah sibuk masak di dapur. Sampai aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, sementara ruang tamu terlihat jauh lebih rapi dari biasanya.
Alya yang baru saja selesai merapikan kamarnya setelah sholat subuh, melangkah pelan menuju dapur. Ia memperhatikan ibunya yang tampak begitu serius menyiapkan sesuatu.
“ Umi… ” panggil Alya lembut.
Ia menatap sekeliling rumah yang terasa berbeda dari biasanya.
“ Kenapa hari ini terasa berbeda…..., apakah hari ini kita akan kedatangan tamu? ”. Tanya Alya dengan raut wajah sedikit penasaran.
Uminya menoleh kearah Alya, lalu tersenyum hangat.
“ Iya, Nak. Nanti juga kamu akan tahu. Sekarang, kamu cepat mandi dan pakai baju yang rapi, ya ”
Alya mengangguk pelan, meski hatinya mulai dipenuhi rasa penasaran. Namun ia memutuskan tidak bertanya lagi. Baginya, mengikuti perkataan orang tua adalah hal yang utama baginya.
Beberapa saat kemudian, suara kendaraan terdengar berhenti di depan rumah Alya. Suasana tiba-tiba terasa lebih sunyi, seolah menunggu sesuatu yang besar akan terjadi.
“Assalamu’alaikum…”
Suara itu terdengar dari ruang tamu.
“Wa’alaikumussalam,” jawab kedua orang tua Alya.
Alya yang sudah rapi dengan gamis sederhana dan hijabnya, duduk di kamarnya dengan hati yang berdebar pelan. Ia tidak tahu kenapa, tapi perasaannya tidak seperti biasanya.
Tak lama, pintu kamarnya diketuk.
“Alya, sini sebentar, Nak,” panggil Uminya.
Dengan langkah pelan, Alya berjalan menuju ruang tamu. Saat ia sampai, pandangannya tertuju pada tiga orang tamu yang sudah duduk dengan rapi. Sepasang suami istri, dan seorang pemuda yang duduk di samping mereka dengan sikap santai.
Sekilas, mata Alya bertemu dengan pemuda itu. Namun ia segera menunduk untuk mengalihkan pandangannya dari laki laki yang baru dia temui tersebut.
“Alya, duduk di sini,” ujar Abinya lembut.
Alya pun duduk dengan sopan, menjaga sikap dan pandangannya.
Kemudian Abinya menarik napas sejenak, lalu mulai berbicara,
" Nak… perkenalkan, ini Pak Ahmad dan Ibu Siti. Beliau adalah teman lama Abi dan Umi, dulu kami mondok bersama di pesantren Kyai Mahmud .”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Dan ini anak mereka… Zidan.”
Alya menatap ayahnya dengan tenang, meski hatinya mulai terasa berat.
“Jadi , kedatangan keluarga ini kesini dengan niat baik… mereka ingin melamar kamu untuk anak mereka.”
Dunia seolah berhenti sesaat. Alya terdiam. Ia mencoba memahami kata-kata itu, meski hatinya mulai bergetar. Perlahan, ia melirik ke arah pemuda itu " Zidan ". Nama pemuda yang disebutkan oleh Abinya. Pemuda yang sejak tadi terlihat tenang, bahkan sedikit acuh, seolah tidak terlalu peduli dengan semua yang sedang terjadi.
Kemudian Alya kembali menunduk wajahnya.
Sesungguhnya dalam hatinya, berbagai rasa bercampur menjadi satu saat itu, dia kaget, bingung, dan takut. Namun di balik itu semua, ia teringat satu hal yang selalu diajarkan sejak kecil: bahwa setiap takdir yang datang adalah pilihan terbaik dari Allah.
Dan beberapa saat kemudian, Alya menarik napas perlahan.
“ Jika ini memang jalan yang Allah pilihkan… ” bisiknya dalam hati,
“ aku ingin menjalaninya dengan cara yang baik. ”
Sementara itu, di seberangnya, Zidan hanya bersandar santai, dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dua hati yang sangat berbeda,
dipertemukan dalam satu takdir yang sama.
Dan hari itu…
menjadi awal dari perjalanan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Alya menarik napas perlahan.
“ Jika ini memang jalan yang Allah pilihkan untukku dan jika dengan ini aku bisa menunjukkan baktiku kepada kedua orang tuaku . Maka aku insyaallah ikhlas Ya Allah…” bisiknya dalam hati,
“aku ingin menjalaninya dengan cara yang baik. ”
Sementara itu, di seberangnya, Zidan hanya bersandar santai, dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Dua hati yang sangat berbeda—
dipertemukan dalam satu takdir yang sama.
Dan hari itu…
menjadi awal dari perjalanan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Alya perlahan mengangkat wajahnya.
“Abi… Umi… Alya akan menerima keputusan ini,” ucapnya pelan.
Suasana seketika hening. Namun Alya kembali melanjutkan,
“Tapi… Alya ingin bertanya sesuatu.”
Ia menoleh perlahan ke arah Zidan, dengan tetap menjaga sikapnya.
“Apakah ini juga keinginan kamu?” tanyanya lembut.
Zidan sedikit terdiam, lalu menjawab singkat,
“ Iya.”
Jawaban sederhana itu membuat Alya menarik napas sedikit lebih tenang. Tapi alya kembali menunduk dan lalu berkata pelan,
“Kalau begitu… Alya menerimanya .”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas namun tetap lembut,
“ Tapi… Alya punya satu syarat. ”
Semua orang kembali terdiam.
Alya menggenggam tangannya pelan.
“ Alya ingin… semuanya dijalani dengan cara yang Allah ridai. Alya ingin kita berdua tetap menjaga batas sebelum halal, dan Alya berharap… setelah menikah nanti, kita bisa berubah menjadi lebih baik lagi karena Allah dan saling mengingatkan dalam kebaikan . Apakah kamu setuju dengan syarat dari saya ? ” Meskipun sebenarnya Alya ragu dengan laki laki yang akan menjadi calonnya tersebut, tapi disana dia berusaha memantapkan keputusannya tersebut.
Sejenak, suasana menjadi hening. Syarat itu sederhana, namun penuh makna. Zidan kemudian menatap Alya sekilas. Dan mengatakan kalau dia setuju dengan syarat dari Alya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah, meski hanya sedikit. Seolah… ada sesuatu yang mulai berbeda.