Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Bekas di Langit
# Bab 4 — Bekas di Langit
**POV: Hime**
---
Aku duduk di kamar losmen yang ku sewa—sebuah kamar sempit dengan satu jendela yang menghadap ke sawah. Di luar, desa masih gelap. Listrik belum pulih sepenuhnya sejak insiden kemarin. Tapi itu tidak masalah. Perangkatku punya baterai cadangan yang bisa bertahan seminggu.
Di depanku, perangkat perak itu menyala. Layarnya menampilkan data yang baru saja kurekam dari Reiki. Grafik energi, spektrum aura, dan pola frekuensi yang tidak bisa berbohong.
Aku sudah tahu sejak pertama kali melihatnya. Tapi sekarang, dengan data ini, aku tidak bisa lagi mengabaikannya.
Kemiripan empat puluh persen.
Empat puluh persen dengan data yang kumiliki tentang *dia*—Dewa Psikis yang kucari selama 38 tahun terakhir.
Aku menekan tombol, membuka file lama. File yang sudah ribuan kali kubuka. Data tentang seseorang yang mati di pelukanku, yang berjanji akan kembali, dan yang telah aku cari melintasi waktu.
Dan sekarang, di desa terpencil ini, aku menemukan seorang anak SMA dengan pola energi yang empat puluh persen mirip dengannya.
*Ini tidak mungkin.*
Aku menutup layar dan merebahkan diri di tempat tidur. Langit-langit kamar losmen ini retak-retak, sama seperti pikiranku saat ini.
*Empat puluh persen. Itu belum cukup. Itu bisa berarti apa saja. Mungkin pola energi psikis level tinggi memang mirip satu sama lain. Mungkin ini kebetulan.*
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu bukan kebetulan.
Aku menutup mata. Dan untuk sesaat, aku kembali ke masa lalu.
---
*38 tahun yang lalu.*
*Aku masih muda—secara fisik\, aku tidak pernah benar-benar tua. Tapi saat itu\, aku lebih muda. Dan aku sedang duduk di taman istana\, di pangkuan seorang pria dengan mata ungu yang hangat.*
*"Kau tahu\," katanya\, "suatu hari nanti aku harus pergi."*
*Aku menatapnya. "Pergi ke mana?"*
*"Ke tempat yang tidak bisa kau ikuti."*
*Aku menggeleng. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi."*
*Ia tersenyum. Senyum yang sedih. "Kau tidak bisa menghentikan takdir\, Hime."*
*"Lalu aku akan mencari takdir itu. Aku akan menemukanmu di mana pun kau berada."*
*Ia tertawa pelan. "Kau keras kepala."*
*"Aku serius."*
*Ia menatapku lama. Lalu ia berkata\, "Kalau begitu\, aku berjanji. Aku akan kembali. Mungkin tidak dalam bentuk yang sama. Tapi aku akan kembali."*
*Dan ia mati tiga hari kemudian.*
---
Aku membuka mata. Kamar losmen itu masih sama. Retak-retak di langit-langit. Bau apek. Suara jangkrik dari luar.
Aku sudah terlalu sering mengingat kenangan itu. Setiap kali aku melompat ke masa depan, setiap kali aku gagal menemukannya, kenangan itu kembali menghantuiku.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku punya petunjuk nyata.
Empat puluh persen.
Aku duduk dan meraih perangkatku lagi. Data Reiki masih ada di layar. Aku memperbesar grafik energi, mempelajari setiap detailnya. Pola ini... pola ini tidak biasa. Seorang psikis biasa tidak akan memiliki spektrum energi selebar ini. Bahkan Psikis Keajaiban pun tidak.
Ini adalah pola energi seorang Dewa Psikis. Atau setengahnya. Atau... reinkarnasinya.
Tapi aku tidak bisa langsung percaya. Aku sudah terlalu sering kecewa. Setiap lompatan waktu, setiap petunjuk palsu, setiap harapan yang kandas—semuanya meninggalkan bekas.
Aku menyimpan perangkat itu dan berdiri. Dari jendela, aku bisa melihat desa yang gelap. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu—generator darurat mungkin—tapi suasana masih terasa mencekam.
Dan di suatu tempat di desa ini, ada Reiki. Anak SMA yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya sendiri. Yang kekuatannya baru saja bangkit dengan cara yang paling spektakuler.
Aku harus mengawasinya. Melindunginya. Sampai aku yakin.
Atau sampai aku harus pergi lagi.
---
Pagi itu aku memutuskan untuk mengunjungi Reiki. Ia tinggal di rumah pamannya—sebuah rumah kecil di dekat sekolah. Aku berdiri di depan pintu, ragu sejenak, lalu mengetuk.
Pintu dibuka oleh seorang pria paruh baya dengan wajah lelah. Pamannya, kurasa.
"Ya? Ada perlu apa?"
"Saya Hime. Saya... guru les tambahan Reiki."
Paman itu mengerutkan dahi. "Reiki tidak bilang ada les tambahan."
"Baru diatur kemarin. Sekolah meminta saya untuk membantunya mengejar ketertinggalan."
Kebohongan yang mulus. Paman itu mengangguk, meskipun masih tampak curiga. "Ia di kamar. Sebentar, saya panggilkan."
Tidak lama kemudian, Reiki muncul. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah tidak bercahaya biru lagi. Ia menatapku dengan campuran rasa ingin tahu dan kecurigaan.
"Les tambahan?" tanyanya pelan.
"Ikut aku."
Kami berjalan ke pinggir desa, ke tempat yang sepi. Reiki berjalan di sampingku, diam. Aku bisa merasakan auranya—masih tidak stabil, seperti api yang baru menyala.
"Kau merasa bagaimana?" tanyaku.
"Lelah. Tapi anehnya... aku merasa lebih kuat."
"Itu efek sampingnya. Tubuhmu sedang beradaptasi."
Reiki berhenti. Ia menatapku. "Kau tahu apa yang terjadi padaku, kan? Kau tahu sejak awal."
Aku berhenti juga. "Aku curiga. Tapi tidak yakin."
"Lalu sekarang? Kau yakin?"
Aku menatapnya. Di matanya—mata ungu itu—aku melihat sesuatu yang familiar. Sesuatu yang membuat dadaku sesak.
"Belum," jawabku. "Tapi aku sedang dalam proses."
Reiki menghela napas. "Aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak."
"Kau tidak harus percaya padaku. Tapi kau harus percaya bahwa aku tidak akan menyakitimu."
"Kenapa aku harus percaya itu?"
Karena aku sudah mencarimu selama 38 tahun.
Tapi aku tidak bisa mengatakan itu. Belum.
"Karena jika aku ingin menyakitimu, aku sudah melakukannya kemarin, saat kau pingsan."
Reiki diam. Lalu ia mengangguk pelan. "Baik. Aku percaya. Untuk sekarang."
Kami melanjutkan perjalanan dalam diam.
---
Sore harinya, aku kembali ke losmen dan membuka perangkatku lagi. Kali ini, aku membandingkan data Reiki dengan data dari lompatan waktu sebelumnya. Tujuh lompatan. Tujuh masa depan yang berbeda. Tujuh kali gagal menemukannya.
Tapi kali ini berbeda. Aku bisa merasakannya.
Aku memperbesar salah satu grafik—pola frekuensi energi Reiki. Lalu aku membuka data dari lompatan ketiga, saat aku hampir menemukannya di sebuah kota di Jawa Timur. Polanya mirip. Tapi tidak sama.
Kemiripan empat puluh persen.
*Tidak cukup. Tapi lebih dekat dari sebelumnya.*
Aku menyimpan perangkat itu dan berdiri. Dari jendela, aku melihat langit senja yang berwarna jingga. Cantik. Tapi pikiranku tidak ada di sana.
Pikiranku ada pada Reiki. Pada kemungkinan bahwa anak SMA itu adalah reinkarnasi yang kucari. Pada kenyataan bahwa jika itu benar, aku harus menghadapi konsekuensinya: ia tidak akan mengingatku. Ia tidak akan tahu siapa aku. Dan aku harus memulai dari awal lagi.
Tapi itu tidak masalah. Aku sudah menunggu 38 tahun. Aku bisa menunggu lebih lama lagi.
---
Malam tiba. Aku duduk di kursi dekat jendela, menatap bintang-bintang. Perangkatku diam di sampingku, sudah kumatikan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, aku merasa sedikit tenang.
Lalu aku mendengarnya.
Suara deru mesin. Bukan pesawat biasa—suaranya lebih halus, lebih dalam. Seperti sesuatu yang dirancang untuk tidak terdengar, tapi tetap meninggalkan jejak di udara.
Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Di langit, aku melihatnya: sebuah pesawat tanpa tanda, meluncur turun di kejauhan. Lampu navigasinya berkedip dalam pola yang tidak biasa.
Pola yang kukenal.
*Penjaga Gerbang.*
Atau mungkin bukan. Mungkin ini yang lain. Tapi siapapun mereka, kedatangan mereka di desa ini tidak bisa diartikan sebagai pertanda baik.
Aku meraih perangkatku dan menekan tombol panggil darurat. Tidak ada jawaban. Tentu saja—Reiki tidak punya perangkat komunikasi psikis.
Aku harus menemuinya. Sekarang.
Aku berlari keluar losmen, meninggalkan pintu terbuka. Di langit, pesawat itu mendarat di suatu tempat di balik bukit. Dan aku tahu, apa pun yang akan terjadi mulai besok, segalanya tidak akan pernah sama lagi.
---
Aku tiba di gudang tua tempat kami bersembunyi kemarin. Reiki sudah ada di sana—KSAN juga. Mereka berdua menatapku dengan wajah bertanya.
"Ada pesawat," kataku tanpa basa-basi. "Mendarat di balik bukit."
KSAN mengerutkan dahi. "Pesawat? Di desa ini? Satu-satunya landasan pacu cuma lapangan di balik balai desa, itu pun cuma untuk pesawat kecil."
"Ini bukan pesawat kecil."
Reiki berdiri. "Kau tahu siapa mereka?"
Aku menatapnya. "Belum. Tapi aku punya firasat."
"Apa yang harus kita lakukan?"
Aku diam sejenak. Pikiranku bekerja cepat. Jika ini adalah Penjaga Gerbang, mereka sudah tahu tentang anomali energi kemarin. Jika ini organisasi lain... mungkin lebih buruk.
"Kita tunggu," jawabku akhirnya. "Dan kita bersiap."
"Bersiap untuk apa?" tanya KSAN.
Aku menatap ke luar jendela, ke arah bukit di mana pesawat itu mendarat.
"Untuk apa pun yang akan datang."
---
Malam itu, kami bertiga duduk di gudang, menunggu. Tidak ada yang bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Aku memikirkan data di perangkatku. Kemiripan empat puluh persen. Pesawat misterius. Organisasi yang mungkin sudah tahu tentang Reiki.
Dan aku memikirkan tentang janji 38 tahun lalu. Tentang seseorang yang berjanji akan kembali.
*Mungkin kali ini aku benar-benar menemukanmu.*
*Atau mungkin aku hanya bermimpi.*
Tapi untuk pertama kalinya dalam 38 tahun, aku merasa bahwa mimpiku mungkin menjadi kenyataan.
Di luar, bulan bersinar terang. Dan di kejauhan, di balik bukit, lampu pesawat itu masih menyala.
Menunggu.
Seperti aku.
---
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku terus berputar pada pesawat itu, pada data di perangkatku, pada Reiki. Aku duduk di kursi dekat jendela, menatap bulan yang bersinar terang.
Perangkatku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
*"Kami tahu kau di sini\, Hime Hafitis. Jangan ikut campur."*
Aku menatap layar itu lama. Lalu aku menghapus pesan itu dan mematikan perangkatku.
Mereka sudah tahu. Penjaga Gerbang—atau mungkin Markas—sudah tahu tentang Reiki. Dan mereka tidak ingin aku terlibat.
Tapi mereka tidak tahu bahwa aku sudah terlibat sejak 38 tahun lalu. Sejak aku berjanji pada seorang pria bermata ungu bahwa aku akan mencarinya sampai aku menemukannya.
Dan sekarang, setelah 38 tahun, aku akhirnya berada di jalur yang benar.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangiku.
---
Pagi harinya, aku kembali ke gudang. Reiki dan KSAN sudah ada di sana. Wajah Reiki masih pucat, tapi matanya lebih cerah dari kemarin.
"Ada pesawat," kataku tanpa basa-basi. "Mendarat tadi malam."
"Kami tahu," kata KSAN. "Aku melihatnya dari rumah."
"Kau tahu siapa mereka?" tanya Reiki.
Aku menggeleng. "Belum. Tapi aku punya firasat."
"Firasat buruk?"
"Belum tahu."
Aku duduk di lantai, mengeluarkan perangkatku. Layarnya masih gelap—aku sengaja mematikannya setelah pesan tadi malam. Tapi aku perlu mengecek sesuatu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya KSAN.
"Mencari tahu siapa pemilik pesawat itu."
Aku menekan beberapa tombol, mengakses database yang kukumpulkan selama bertahun-tahun. Database tentang organisasi psikis, tentang Penjaga Gerbang, tentang Markas Pusat. Dan tentang dia.
Butuh beberapa menit, tapi akhirnya aku menemukan kecocokan.
Pesawat itu terdaftar atas nama Markas Psikis Pusat. Tapi pola navigasinya—cara pesawat itu mendarat, frekuensi yang digunakannya—menunjukkan sesuatu yang lain.
Ini adalah pesawat Hubble Telesta.
Aku menahan napas. Hubble Telesta. Pemimpin pasukan psikis yang dikenal karena kekejamannya terhadap psikis liar. Dan yang lebih penting: ia adalah salah satu korban selamat dari pembantaian 36 tahun lalu.
Pembantaian yang dilakukan oleh Dewa Psikis.
*Jika Hubble ada di sini... dan jika ia tahu tentang Reiki...*
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Kita harus pergi," kataku.
"Apa?" Reiki menatapku bingung. "Pergi ke mana?"
"Ke mana pun. Yang penting jauh dari sini."
"Tapi..."
"Dengar." Aku meraih bahunya. "Orang yang datang kemarin bukan sembarang orang. Ia adalah Hubble Telesta. Dan jika ia tahu tentang kemampuanmu, ia tidak akan ragu untuk..."
Aku berhenti. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
"Untuk apa?" desak Reiki.
Aku menatap matanya. Mata ungu itu. Mata yang sama seperti yang kulihat 38 tahun lalu.
"Untuk melakukan apa pun yang diperlukan," jawabku pelan.
Reiki diam. Ia menatapku, lalu menatap KSAN, lalu kembali menatapku. Dan untuk sesaat, aku melihat ketakutan di matanya.
Tapi kemudian ketakutan itu berubah menjadi tekad.
"Aku tidak akan lari," katanya.
"Reiki..."
"Aku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan menghabiskan hidupku dengan berlari."
Aku ingin membantah. Tapi sesuatu dalam kata-katanya menghentikanku.
Itu adalah kata-kata yang sama yang pernah diucapkan olehnya. 38 tahun lalu.
"Baik," kataku akhirnya. "Tapi kita harus bersiap."
"Bersiap untuk apa?" tanya KSAN.
Aku menatap ke luar jendela. Di kejauhan, pesawat itu masih di sana. Menunggu.
"Untuk perang."
---
Kata-kata itu menggantung di udara. Berat. Tapi tidak ada yang membantah.
Reiki duduk di lantai, menatap tangannya sendiri. "Aku tidak pernah minta semua ini," katanya pelan. "Aku hanya ingin hidup biasa. Sekolah. Teman. Mungkin sesekali main game."
"Dunia tidak peduli apa yang kau mau," jawabku. "Dunia hanya peduli apa yang kau bisa lakukan."
"Kedengarannya tidak adil."
"Memang tidak adil."
KSAN, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Jadi apa rencananya? Kita diam di sini dan menunggu mereka datang?"
Aku menggeleng. "Kita harus mencari tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan. Jika mereka dari Markas, mungkin kita bisa bernegosiasi. Jika mereka dari Penjaga Gerbang..."
Aku tidak menyelesaikan kalimatku.
"Jika mereka dari Penjaga Gerbang, bagaimana?" desak Reiki.
Aku menatapnya. "Maka kita dalam masalah besar."
---
Aku menghabiskan sisa hari itu dengan memeriksa perangkatku, mencari informasi tentang Penjaga Gerbang. Database yang kukumpulkan selama bertahun-tahun cukup lengkap, tapi tidak sempurna. Yang aku tahu, mereka adalah organisasi yang menjaga keseimbangan antar-dimensi. Mereka tidak suka intervensi manusia. Dan mereka memiliki kekuatan yang bisa menandingi psikis level tinggi.
Tapi ada satu hal yang tidak kumengerti: kenapa mereka tertarik pada Reiki? Apa hubungan anak SMA ini dengan gerbang antar-dimensi?
Atau... mungkin mereka tidak tertarik pada Reiki. Mungkin mereka tertarik padaku.
Aku menggelengkan kepala. *Jangan paranoid\, Hime. Tidak semua orang mencarimu.*
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa mungkin saja mereka mencariku. Aku sudah melompat terlalu sering. Mungkin jejak waktuku mulai terdeteksi.
---
Sore harinya, aku memutuskan untuk mendekati pesawat itu. Bukan untuk konfrontasi—hanya untuk melihat dari dekat. Aku berjalan menyusuri jalan setapak di balik bukit, bersembunyi di balik pepohonan.
Pesawat itu besar. Lebih besar dari yang kukira. Bentuknya ramping, gelap, dengan permukaan yang tampak seperti menyerap cahaya di sekitarnya. Teknologi militer—atau mungkin teknologi psikis.
Di sekitar pesawat, aku melihat beberapa orang. Mereka berpakaian seragam hitam, bergerak dengan disiplin militer. Salah satu dari mereka—seorang pria tua dengan janggut putih—berdiri di dekat pintu pesawat, berbicara dengan seseorang di dalam.
Aku mengeluarkan perangkatku dan mencoba memindai pesawat itu dari jarak jauh. Layarku berkedip merah.
*Perisai energi. Tentu saja.*
Pesawat ini dilindungi. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara energi. Aku tidak bisa menembusnya dari sini.
Aku menyimpan perangkatku dan mundur perlahan. Cukup sudah yang kulihat. Sekarang aku tahu siapa yang harus dihadapi.
Atau setidaknya, aku tahu mereka punya teknologi yang lebih canggih dari yang kuduga.
---
Malam harinya, aku kembali ke gudang. Reiki dan KSAN sedang duduk di lantai, berbicara pelan. Mereka berhenti ketika aku masuk.
"Ada yang baru?" tanya KSAN.
"Pesawat itu dilindungi perisai energi. Aku tidak bisa memindainya dari jarak jauh."
"Berarti kita butuh akses langsung," kata Reiki.
Aku menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Mungkin aku bisa mendekat. Mereka tidak kenal aku. Aku bisa berpura-pura menjadi anak desa yang penasaran."
"Itu terlalu berbahaya."
"Tapi mungkin satu-satunya cara."
Aku ingin membantah. Tapi aku tahu ia benar. Kami butuh informasi, dan satu-satunya cara mendapatkannya adalah dengan mendekat.
"Baik," kataku akhirnya. "Tapi aku yang akan pergi."
"Hime..."
"Kau terlalu penting, Reiki. Jika mereka menangkapmu, semua usahaku selama ini sia-sia."
Reiki menatapku, ingin membantah. Tapi aku sudah berbalik dan berjalan keluar.
"Tunggu di sini. Aku akan kembali."
---
Aku berjalan menuju pesawat itu di bawah sinar bulan. Langkahku mantap, meskipun hatiku berdebar. Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi. Tapi aku harus mencoba.
Ketika aku sampai di lapangan, dua orang berseragam hitam menghadangku.
"Berhenti. Area ini terlarang."
"Aku ingin bicara dengan pemimpin kalian," kataku.
Mereka saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka menekan tombol di kerahnya, berbicara pelan. Beberapa detik kemudian, seorang pria muncul dari pintu pesawat.
Pria itu tinggi. Berjalan dengan percaya diri seorang pemimpin. Wajahnya keras, tapi matanya... matanya menyimpan sesuatu. Kesedihan yang dalam.
"Siapa kau?" tanyanya.
"Hime Hafitis."
"Aku Hubble Telesta. Dan aku pikir kau tahu kenapa aku di sini."
Aku menatapnya. Nama itu familiar—terlalu familiar. Hubble Telesta. Pemimpin pasukan psikis. Korban selamat dari pembantaian 36 tahun lalu.
Dan musuh bebuyutan Dewa Psikis.
"Aku tahu," jawabku. "Kau di sini untuk Reiki."
Hubble tersenyum tipis. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Bukan. Aku di sini untukmu, Hime Hafitis. Atau lebih tepatnya... untuk mesin waktumu."
---
**— Bersambung —**