Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Pagi di kediaman Prayudha tidak pernah diawali dengan kicauan burung atau hangatnya sinar matahari yang menembus jendela. Bagi Isvara, pagi adalah upacara penyiksaan yang dibalut kemewahan. Ia berdiri mematung di depan cermin besar, membiarkan dua pelayan merapikan blazer wol dari rumah mode ternama Paris yang membalut tubuhnya. Pakaian itu tertutup rapat, elegan, dan sangat sopan mencitrakan sosok Nyonya Besar yang tak tersentuh. Namun, di balik kain mahal itu, kulit Isvara tampak sepucat pualam.
Setelah seuntai kalung berlian melingkar di lehernya, Isvara melangkah keluar. Suara ketukan high heels-nya di atas lantai marmer bergema di lorong-lorong sunyi yang dingin. Ia menuju ruang makan formal, tempat di mana "perjamuan sunyi" selalu dilakukan setiap hari.
Di ujung meja kayu ek yang panjangnya hampir lima meter, Andra Kalandra Prayudha sudah duduk dengan posisi tegak. Kemeja hitamnya yang licin tanpa celah menunjukkan betapa disiplinnya pria itu. Ia fokus pada tablet di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang cangkir porselen berisi kopi hitam pekat. Tidak ada sapaan. Tidak ada dongakan kepala. Kehadiran Isvara di ruangan itu hanya dianggap sebagai pergeseran udara yang tidak penting.
Isvara menarik kursi di ujung meja yang berseberangan dengan Andra. Jarak di antara mereka begitu jauh, seolah-olah mereka berada di dua pulau yang berbeda. Seorang pelayan dengan gerakan yang sangat halus menyajikan piring berisi sarapan Isvara. Semuanya diatur dengan presisi tinggi, namun Isvara hanya menatap makanannya dengan pandangan kosong.
Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara denting sendok yang beradu dengan piring terdengar seperti dentuman keras. Isvara menyuap makanannya perlahan. Setiap kunyahan terasa hambar. Di seberang sana, Andra masih tidak melepaskan pandangannya dari layar tablet, sesekali menyesap kopinya dengan gerakan kaku.
"Proyek di pusat kota butuh revisi terakhir hari ini," suara Andra tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya rendah, datar, dan tajam seperti sembilu. Pria itu masih tidak menatap Isvara. "Pastikan firma desainmu tidak merusak citra Prayudha Group karena detail kecil yang ceroboh. Aku tidak ingin mendengar keluhan dari klien."
Isvara menghentikan gerakan tangannya. Ia meletakkan sendok peraknya dengan suara denting yang sengaja ia buat tegas. "Detail adalah keahlianku, Tuan Kalandra. Anda tidak perlu khawatir. Semua dokumen akan berada di meja Anda sebelum jam makan siang."
Andra hanya merespons dengan dengusan tipis, sebuah isyarat dingin yang menandakan pembicaraan selesai. Pria itu meletakkan cangkir kopinya, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat berwibawa. Tanpa menoleh, tanpa pamit, ia melangkah meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang berat dan dominan.
Isvara tidak langsung bangkit. Ia menghabiskan air putihnya, membersihkan sudut bibirnya dengan serbet kain linen, lalu berdiri dengan anggun. Ia memastikan dagunya tetap tegak saat berjalan keluar menuju area depan rumah.
Di teras lobi yang megah, dua mobil mewah sudah terparkir berjajar dalam posisi siap berangkat. Dua sopir pribadi sudah berdiri tegak di samping pintu mobil masing-masing. Andra tidak menoleh sedikit pun ke arah istrinya; ia langsung masuk ke dalam sedan hitam metaliknya. Pintu mobil ditutup dengan suara debuman yang solid, dan mobil itu meluncur pergi lebih dulu, meninggalkan debu tipis di pelataran rumah.
Isvara berdiri sejenak di depan SUV putih miliknya. Ia menatap gerbang tinggi Prayudha yang mulai terbuka otomatis. Baru setelah mobil Andra menghilang di tikungan, Isvara menarik napas panjang. Di saat itulah, ia merasa oksigen di sekitarnya mendadak tipis. Rasa nyeri yang samar mulai merambat di balik tulang rusuknya—sebuah peringatan bahwa detak jantungnya sedang tidak stabil akibat tekanan emosional yang baru saja ia lalui di meja makan tadi.
Ia menekan dadanya pelan, mencoba mengatur napas agar tetap tenang. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan para sopir dan pelayan. Dengan sisa kekuatan yang ada, Isvara masuk ke dalam mobilnya. Saat pintu tertutup rapat dan kedap suara, ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok, memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya memerintahkan sopirnya untuk berangkat menuju kantornya. Sandiwara sebagai "Nyonya Kalandra" yang hebat baru saja dimulai untuk hari ini.
Aku sesak Isvara...