NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Operasi Senyap

Keringat dingin mulai membasahi pelipis Saga saat melihat Tante Sofia berjalan mendekati lorong kamar tamu. Di sana, di balik pintu kayu itu, tersimpan "bom waktu" berupa tumpukan kardus mi instan, koleksi sepatu yang berserakan, dan jemuran daster Nala yang bisa membuat tensi darah ibunya naik seketika.

"Kamar tamu ini sepertinya sedikit berdebu, Saga. Mama mau taruh tas di sana dulu," ujar Tante Sofia, tangannya sudah menyentuh gagang pintu.

"MAMA JANGAN!" teriak Saga dan Nala serempak.

Tante Sofia tersentak, alisnya bertaut curiga. "Kenapa? Kalian menyembunyikan selingkuhan di dalam?"

"Bukan! Itu... anu..." Nala memutar otak secepat kilat.

"Ada tikus raksasa, Tante! Tadi Mas Saga baru saja pasang racun dosis tinggi di sana. Bahaya kalau Tante masuk sekarang, aromanya bisa bikin pusing!"

Saga langsung menangkap umpan itu. "Betul, Ma. Sangat beracun. Mama tunggu di ruang tengah saja, biar aku buatkan teh herbal kesukaan Mama. Nala, bantu Mama duduk."

Dengan gerakan paksa namun dibungkus senyuman manis, Nala menggiring Tante Sofia kembali ke sofa wilayah Saga. Begitu punggung Tante Sofia menghadap lorong, Saga memberikan kode mata yang tajam. Sekarang!

Inilah awal dari misi paling menegangkan dalam sejarah Unit 402. Saga dan Nala bergerak seperti agen rahasia yang sedang menjinakkan bom.

Saga masuk ke kamar tamu, menyambar koper merah muda Nala dan tiga buah tas kain berisi perlengkapan mandi dengan kedua tangannya.

Ia keluar dengan langkah seringan kucing, berusaha agar roda koper tidak berbunyi di atas lantai parket. Sementara itu, Nala bertugas melakukan "pengalihan isu" dengan terus mengajak Tante Sofia mengobrol tanpa henti.

"Tante tahu nggak, Mas Saga itu diam-diam suka dengerin lagu dangdut kalau lagi gambar maket!" celetuk Nala asal bunyi, membuat Tante Sofia tertawa kaget.

Di belakang mereka, Saga melintas dengan wajah merah padam sambil mendekap tumpukan daster ayam jago Nala yang hampir merosot dari pelukannya. Ia masuk ke kamar utamanya, melempar barang-barang itu ke dalam walk-in closet, lalu keluar lagi untuk ronde kedua.

Nala melirik dari sudut mata. Saga sedang berusaha menyeret kardus besar berisi stok makanan Nala. Sialnya, kardus itu berdecit saat ditarik.

Sreeek..

Tante Sofia menoleh sedikit. "Suara apa itu?"

Nala langsung memukul meja dengan keras. BRAK! "Aduh! Cicak, Tante! Ada cicak gede banget di meja, saya kaget!"

Saga berhasil menghilang ke dalam kamar utama tepat sedetik sebelum Tante Sofia menatap penuh ke arah lorong. Napas Saga memburu. Ia merasa lebih lelah memindahkan barang Nala selama lima menit daripada menggambar cetak biru gedung tiga puluh lantai.

Ronde terakhir adalah yang paling berisiko: memindahkan alat rias dan tumpukan novel Nala yang tercecer di atas meja rias kamar tamu.

Saga menyapu semuanya ke dalam satu pelukan besar. Namun, saat ia melangkah di tengah ruang tamu, sebuah botol parfum milik Nala meluncur jatuh.

Ting!

Botol kaca itu berdenting keras di atas lantai. Tante Sofia berdiri. "Saga? Kamu di sana?"

Nala segera bangkit dan melakukan gerakan tak terduga. Ia menarik tangan Tante Sofia dan mengajaknya berdiri menuju balkon.

"Tante, lihat deh! Lampu kota malam ini bagus banget dari sini, mumpung kabutnya lagi nggak ada!"

Saga memanfaatkan celah sempit itu untuk melakukan diving penyelamatan. Ia menyambar botol parfum itu dan masuk ke kamar utama secepat kilat, lalu menutup pintunya dengan sangat pelan hingga hampir tak bersuara.

Ceklek.

Saga bersandar di balik pintu kamar utamanya, jantungnya berdegup kencang. Di dalam sini, pemandangannya sudah kacau. Kamarnya yang minimalis kini dipenuhi oleh barang-barang Nala yang "berwarna-warni" di setiap sudut.

Saat Saga baru saja akan menghela napas lega setelah berhasil menyelundupkan koper terakhir, sampai matanya menangkap sesuatu yang tertinggal di atas sandaran kursi kamar tamu.

Sebuah benda kecil, berbahan renda tipis berwarna merah muda cerah, yang sangat kontras dengan palet warna abu-abu monokrom di apartemen itu.

Itu adalah lingerie cadangan Nala yang tadi pagi dicuci dan digantung asal di sana.

Saga membeku. Tangannya yang biasa memegang penggaris presisi kini gemetar hebat. Ia menoleh ke arah ruang tamu, di mana suara tawa Tante Sofia dan ocehan Nala masih terdengar.

"Saga? Kamu masih di dalam? Mama mau masuk sebentar ambil kacamata Mama yang tertinggal di tas!" teriak Tante Sofia dari luar.

Langkah kaki Tante Sofia mulai mendekat.

Saga panik. Tidak ada waktu untuk mencari plastik atau tisu. Dengan wajah memerah sampai ke telinga dan napas yang tertahan, ia terpaksa menyambar benda kecil nan tipis itu dengan ujung jarinya.

Tahan, Saga. Tahan. Ini demi kelangsungan hidupmu, batinnya meratap.

Ia tidak punya tempat untuk menyembunyikannya karena tangannya sudah penuh dengan tumpukan buku Nala.

Dalam kepanikan tingkat dewa, Saga akhirnya menjejalkan benda berbahan renda itu ke dalam saku celana kainnya yang mahal. Ia bisa merasakan tekstur lembut itu menyentuh pahanya, dan rasanya seperti sakunya sedang terbakar api.

Tepat saat Saga keluar dari kamar tamu dan menutup pintu dengan tumitnya, Tante Sofia muncul di ujung lorong.

"Loh, Saga? Kamu kok keringatan begitu?" tanya Tante Sofia curiga sambil memperhatikan putranya yang berdiri kaku seperti manekin toko baju.

"Eh... panas, Ma. AC-nya sepertinya butuh diservis," jawab Saga dengan suara satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. Tangannya yang satu lagi masuk ke saku celana, mencoba menekan benda itu sedalam mungkin agar tidak ada bagian renda yang mengintip keluar.

"Kamu aneh sekali. Dan kenapa tanganmu satunya kaku begitu di dalam saku?"

"Lagi... lagi kram, Ma! Efek terlalu banyak menggambar," sahut Saga cepat sambil berjalan cepat mendahului ibunya menuju kamar utama.

Begitu sampai di dalam kamar dan mengunci pintu, Saga langsung mengeluarkan benda itu dari sakunya seolah-olah itu adalah granat aktif yang siap meledak. Ia melemparkannya ke arah Nala yang baru saja masuk.

"NALA! Ambil ini! Dan jangan pernah, SAYA BILANG JANGAN PERNAH, meninggalkan benda seperti ini di wilayah terbuka lagi!" bentak Saga dengan suara bisikan yang penuh penekanan.

Nala menangkap benda itu dengan wajah polos, lalu menyeringai jahil saat menyadari apa yang baru saja dipegang oleh si arsitek dingin itu.

"Oh, ini? Mas Saga suka ya warnanya? Cocok kan sama selera artistik Mas?"

"Diam atau saya buang kamu dari balkon sekarang juga!" desis Saga, sambil buru-buru mencuci tangannya di wastafel kamar mandi, seolah-olah ia baru saja menyentuh zat radioaktif.

Nala tertawa kecil melihat telinga Saga yang masih merah padam.

"Galak banget. Padahal tadi di saku awet banget tuh disimpennya."

Saga hanya bisa memejamkan mata, merutuki nasibnya. Garis selotipnya sudah hilang, dan sekarang harga dirinya sebagai pria berwibawa pun ikut terbang bersama selembar renda merah muda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!