NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:70.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."

​Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
​Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
​Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.

​Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Balutan Jaket Kebesaran

Pagi itu, SMA Garuda Kencana tampak lebih bising dari biasanya. Karline Dharmajaya berdiri di depan gerbang, menarik napas panjang di balik masker hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia membetulkan letak topi baseball yang sengaja ditarik rendah hingga menutupi dahi. Jaket oversized berwarna abu-abu gelap yang ia kenakan tampak kontras dengan rok seragamnya, menyembunyikan lekuk tubuh yang sebenarnya proporsional di balik tumpukan kain longgar.

​"Eh, murid baru ya?" tegur seorang guru piket di gerbang.

​Karline hanya mengangguk kecil. Ia tidak bersuara, hanya menyodorkan map dokumen perpindahan sekolahnya.

​"Oh, Karline. Langsung ke ruang kepala sekolah di lantai dua, ya. Mari saya tunjukkan arahnya."

​"Terima kasih, Pak. Saya bisa sendiri," jawab Karline singkat. Suaranya lembut, namun terdengar diredam oleh masker.

​Ia berjalan menyusuri koridor dengan kepala tertunduk. Di balik kacamatanya yang tidak berlensa hanya properti tambahan untuk mengalihkan perhatian ia bisa melihat kerumunan siswi yang berteriak histeris di pinggir lapangan voli.

​"Dean! Kak Dean, semangat!"

​"Aduh, keringatnya Kak Dean kenapa estetik banget sih!"

​Karline menghentikan langkah sejenak. Pandangannya terjatuh pada lapangan outdoor. Di sana, seorang pemuda jangkung dengan kulit kecokelatan yang terbakar matahari tampak melompat tinggi. Tubuhnya atletis, tingginya pasti di atas 185 senti. Dengan satu gerakan smash yang tajam, bola menghujam keras ke area lawan.

​Itu Deandra. Atau Dean, sebagaimana semua orang memanggilnya.

​"Gila, servisnya nggak ada obat," gumam seorang siswa di sebelah Karline.

​Karline tidak tertarik lebih lama. Ia kembali berjalan, namun sialnya, sebuah bola voli melambung liar keluar lapangan, memantul keras ke arah koridor, dan tepat menggelinding di depan kakinya.

​"Woi, tolong ambilin dong!" teriak sebuah suara berat dari tengah lapangan.

​Karline terpaku. Ia melihat Dean berjalan santai ke arah pinggir lapangan. Keringat membasahi jersey tanpa lengannya, memperlihatkan otot bisep yang kencang. Dean berdiri di sana, menatap Karline dengan tatapan cuek yang melegenda.

​Karline membungkuk, mengambil bola itu dengan jemari lentiknya yang putih pucat hampir sewarna susu dengan rona pink tipis di kuku namun segera ia sembunyikan di balik lengan jaket yang panjang.

​"Ini," ucap Karline sambil menyodorkan bola tanpa menatap mata Dean.

​Dean menerima bola itu. Ia sempat terdiam sesaat, memperhatikan sosok di depannya yang tampak aneh. "Anak baru?"

​"Iya," jawab Karline pendek.

​"Kelas berapa?"

​"Sebelas."

​Dean memutar-mutar bola di tangannya. "Kenapa pakai jaket sama masker? Gerah tahu. Ini sekolah, bukan pasar pagi."

​Karline tidak menjawab. Ia justru memutar tubuh dan melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.

​"Heh, ditanyain malah pergi," gumam Dean. Ia hanya mengangkat bahu, lalu kembali ke tengah lapangan tanpa memikirkan kejadian itu lebih jauh. Baginya, gadis itu hanyalah satu lagi orang asing yang berusaha mencari perhatian dengan cara yang berbeda.

​Di ruang kelas barunya, XI-IPA 2, suasana mendadak hening saat wali kelas masuk membawa Karline.

​"Anak-anak, kita kedatangan teman baru. Silakan perkenalkan dirimu, Nak."

​Karline berdiri di depan kelas. Topinya sudah dilepas sesuai aturan, namun maskernya tetap terpasang erat. Rambutnya yang hitam legam disanggul asal ke atas, namun beberapa helai jatuh menjuntai di tengkuknya yang putih bersih.

​"Nama saya Karline Dharmajaya. Pindahan dari Bandung. Salam kenal," ucapnya datar.

​"Lho, Karline, maskernya boleh dibuka? Biar teman-temannya tahu wajahmu," ujar Bu Siska, sang wali kelas.

​Karline menggeleng cepat. "Maaf, Bu. Saya sedang flu berat. Khawatir menular."

​"Oh, begitu. Ya sudah, kamu duduk di kursi kosong paling belakang itu, ya."

​Karline berjalan cepat menuju kursinya. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik dari teman-teman sekelasnya. Beberapa siswi berbisik-bisik, menertawakan jaketnya yang kedodoran.

​"Dih, sok misterius banget," bisik seorang gadis berambut pendek di barisan depan.

​"Palingan aslinya jerawatan, makanya ditutupin," timpal yang lain sambil tertawa kecil.

​Karline tidak peduli. Ia justru merasa lega. Semakin mereka menganggapnya aneh atau tidak menarik, semakin tenang hidupnya. Ia hanya ingin belajar, menyelesaikan sekolah, dan menulis novelnya dengan tenang tanpa gangguan drama remaja.

​Saat jam istirahat tiba, Karline memilih untuk tetap di kelas, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Namun, ketenangannya pecah saat segerombolan siswa kelas tiga lewat di depan kelasnya. Di tengah rombongan itu, tentu saja ada Dean.

​"Dean, kantin yuk! Gue yang traktir," ajak salah satu temannya, seorang cowok berambut ikal bernama Raka.

​"Gue mau ke perpus. Ada tugas Pak mamat," jawab Dean malas.

​"Sejak kapan lo rajin? Paling mau numpang tidur doang kan karena AC nya dingin?"

​Dean hanya nyengir tipis senyum yang nyaris tidak terlihat tapi mampu membuat siswi di sepanjang koridor menahan napas. "Tahu aja lo."

​Langkah kaki mereka berhenti tepat di depan pintu kelas Karline. Dean secara tidak sengaja menoleh ke dalam dan melihat gadis "masker" tadi sedang asyik menulis.

​"Eh, itu kan cewek yang tadi di lapangan?" tunjuk Raka. "Gila, penampilannya mirip ninja gitu. Siapa sih?"

​Dean memperhatikan Karline dari kejauhan. Dari posisi ini, ia bisa melihat tangan gadis itu yang bergerak lincah di atas kertas. Kulit tangan itu terlihat sangat bersih, kontras dengan jaket kusam yang dikenakannya.

​"Nggak tahu. Anak baru katanya," jawab Dean singkat.

​"Lo nggak penasaran? Biasanya kan lo jago nebak spek cewek," goda Raka.

​"Biasa aja. Paling cupu," sahut Dean ketus sebelum melanjutkan langkahnya.

​Karline mendengar itu. Jemarinya sempat berhenti menulis. Ia menghela napas, lalu menyentuh masker yang menutupi pipinya. Di balik kain itu, tersimpan sebuah rahasia sebuah senyum manis dengan lesung pipi kecil di sebelah kanan yang bisa membuat siapa pun terpana. Namun, biarlah rahasia itu tetap tersimpan. Baginya, menjadi "si cupu yang tidak terlihat" jauh lebih aman daripada menjadi pusat perhatian.

​"Lagian, siapa juga yang mau urusan sama cowok sombong kayak dia," batin Karline sambil menutup buku catatannya rapat-rapat.

​Namun, takdir sekolah menengah biasanya tidak pernah membiarkan seseorang bersembunyi selamanya. Dan Karline belum tahu, bahwa pertemuannya dengan bola voli tadi pagi hanyalah awal dari rangkaian kejadian yang akan memaksa jaket kebesarannya itu terlepas.

1
Wifasha
hhmm..smkin rumit ntar kmna arh ny
brawijaya Viloid
jadi tertarik sm david 🤭
Anonim
makin seru ni
Anonim
mantap bgt ceritanya g bisa ditebak! 😍
Rita Rita
maka nya De jadi orang itu punya batasan, percaya diri itu penting tapi jangan ego dan gede rasa di gedein. kan nyungsep juga akhirnya diri mu De,,, karline juga butuh perhatian,,
Anonim
kelanjutannya gimana 🥲
Anonim
jadinya sama" melupakan diri 🥲
Anonim
lanjut 😎
Qaisaa Nazarudin
Kompliknya terlalu Rumit dan Bertele-tele..
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Halo kak, salam kenal. Aku penulis novel baru di NT berjudul "Chef Do". Kalau tertarik boleh mampir ya kak, kasih saran utk penulis novel nuansa Korsel baru seperti aku 👩🏻‍🍳makasih kak🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Alaahhh yang ada hujung2 nya pasti kamu akan LULUH lagi dengan DRAMA PENYESALAN DAN KATA MAAF..KAMU KAN EMANG OGEB BIN BODOH DARI DULU..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu aku SETUJU..
Qaisaa Nazarudin
BUKAN CINTA DARI DULU ITU CUMAN RASA KEKAGUMAN SESAAT DAN OBSESI DOANG YA..INGAT CINTA DAN OBSESI ITU BEDA TIPIS..
Qaisaa Nazarudin
Dari awal juga aku gak suka Karline bisa CEPAT Luluh setelah perlakuan Dean,Rio dan Raka dulu ke Karline saat SMA,Karline aja yg Bego kebangetan,Rasain tuh..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan,untung aja aku baca ya loncat2 ,Sesuai dugaan ku Karline bukan bukanlah cewek idola ku, peran MC Cewek nya yg gak sesuai harapan..
Qaisaa Nazarudin
Dasar Karline aja yang Ogeb,Sudah dihina2 jadi simpanan om om oleh Dean,dituduh macam2 oleh Dean, Rio dan Raka, Tapi hanya dengan kata MAAF dan PENYESALAN langsung aja Luluh,Ku pikir Alur nya akan putar arah dari novel2 yg lain yg udah pernah ku baca,Eh ternyata sama aja.. Setelah baca sinopsis ku fikir gak segitunya cacian dan hinaan dari Peran utama cowoknya makanya aku langsung tertarik untuk bacanya.. Tapi setelah baca aku langsung kecewa karena PERAN Cewek nya yg awal2 Tangguh dan bisa melawan dari segala arah,tiba2 langsung MELEMPEM dan seakan2 gak bisa apa2 kalau gak ada Dean.Kecewa deh gak sesuai Ekspektasi..🙏🙏
Ra H Fadillah: Terima kasih atas kritik dan masukannya, Kak 🙏
Ikuti terus ceritanya ya, karena perjalanan Karline masih panjang dan belum semuanya terungkap 😊
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Ckk di gombalin dikit aja udah luluh 🙄🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Apaan nih si nenek??
Qaisaa Nazarudin
Satu kata SKAKMATT buat si PECUNDANG..🫵🫵🫵👎👎👎👎
Qaisaa Nazarudin
Aelah gesit BANGET dari kemaren gak ada habis2 nya minta maaf,Karena apa?? Karena Karline itu CANTIK,PINTER, Coba kalau identintas nya belum kebuka,apa Dean akan segesit itu utk minta maaf?? 🙄🙄😏😏
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang ntar Ortu nya Dean punya pikiran buat JODOHIN mereka,Maka disitu Dean MENANG tanpa BERJUANG .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!