NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Dari Sebuah Kekuatan

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu gubuk yang sudah rapuh, mengenai wajah Arlan yang tampak sangat pucat. Meskipun semalam dia berhasil membuka Gerbang Pertama (Gerbang Pembuka) hal itu tidak datang tanpa bayaran. Saat Arlan mencoba bangkit dari tempat tidur kayunya, seluruh otot di tubuhnya terasa seperti ditarik paksa oleh ribuan jarum panas. Ini adalah efek samping dari memaksa tubuh seorang anak berusia tujuh tahun untuk menampung energi murni yang begitu besar.

Arlan mendesis pelan, menahan rasa sakit yang luar biasa di persendiannya. Di kehidupan sebelumnya, dia tahu bahwa setiap kesuksesan memiliki biaya operasional. Di dunia ini, biaya untuk kekuatan adalah rasa sakit fisik yang tak terbayangkan. Dia tidak mengeluh. Dia justru menikmati rasa sakit ini karena rasa sakit adalah bukti nyata bahwa dia masih hidup dan sedang berproses menjadi lebih kuat.

"Arlan? Kamu sudah bangun?" suara Elena terdengar dari balik tirai kain yang menjadi pembatas ruangan.

Elena masuk membawa sebuah mangkuk kayu berisi air hangat dan kain kusam. Wajahnya terlihat sangat cemas. Dia mendengar kabar dari tetangga bahwa kemarin Arlan terlibat perkelahian dengan Bram, putra kepala desa. Di desa sekecil ini, berita buruk merambat lebih cepat daripada api yang membakar jerami kering.

"Ibu mendengar apa yang terjadi kemarin di dekat balai desa," ucap Elena sambil mulai menyeka wajah Arlan dengan lembut. "Bram terluka parah di tangannya. Arlan, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kamu melakukan itu?"

Arlan menatap mata ibunya dengan datar. Dia melihat ketakutan yang mendalam di sana. "Dia menyerangku duluan, Ibu. Aku hanya membela diri. Jika aku tidak membalas, mungkin aku yang sekarang tidak bisa bangun lagi."

Elena menghela napas panjang, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ibu tahu, tapi mereka adalah keluarga penguasa di desa ini. Kita adalah keluarga Vandermir, Arlan. Kita sudah dianggap sebagai sampah sejak awal. Melawan mereka hanya akan membuat hidup kita semakin sulit. Kepala desa, Tuan Gort, tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja."

"Biarkan saja mereka datang," jawab Arlan singkat. Dia mencoba menggerakkan jari jarinya yang kaku. "Ketakutan tidak akan mengubah nasib kita, Ibu. Hanya kekuatan yang bisa melakukannya."

Elena terdiam seribu bahasa. Dia merasa tidak mengenali anaknya sendiri. Arlan yang dulu sangat pendiam dan selalu bersembunyi di balik punggungnya, kini bicara dengan nada yang begitu dingin dan penuh keyakinan. Ada aura otoritas dalam suara Arlan yang membuat Elena tidak berani mendebat lebih jauh.

Setelah dipaksa makan sedikit bubur gandum yang sangat encer, Arlan memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Dia harus pergi ke hutan. Dia tahu bahwa kakek tua itu (sang Dewa Pengembara) pasti sedang menunggunya. Selain itu, berlatih dalam kondisi tubuh yang cedera adalah bagian dari metode "penghancuran dan pembangunan kembali" yang diajarkan mentornya.

Saat Arlan berjalan keluar rumah, dia menyadari suasana desa hari ini terasa berbeda. Orang-orang yang biasanya hanya berbisik kini menatapnya dengan terang-terangan penuh ancaman. Di kejauhan, dia melihat dua orang pria dewasa mengenakan zirah kulit ringan (penjaga desa) sedang berdiri di persimpangan jalan sambil menatap ke arah gubuknya. Arlan tahu, waktu tenang baginya sudah habis. Namun, dia tidak melarikan diri. Dia justru berjalan dengan tenang menuju hutan, mengabaikan tatapan mata yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

Sesampainya di tempat latihan biasa di bawah pohon besar, kakek misterius itu sudah duduk bersila sambil memejamkan mata. Dia tampak sangat tenang, seolah sedang menyatu dengan alam sekitarnya.

"Kamu terlambat lima menit, bocah," ucap kakek itu tanpa membuka mata.

"Tubuhku terasa seperti akan hancur," jawab Arlan sambil menjatuhkan dirinya di atas rumput.

Kakek itu membuka matanya, kilatan cahaya aneh muncul di pupilnya saat melihat Arlan. Dia tersenyum kecil, sebuah senyum yang terlihat menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Tentu saja. Kamu membuka Gerbang Pertama tanpa persiapan nutrisi yang cukup. Tubuhmu kekurangan energi dasar untuk menyeimbangkan aliran Prana yang meluap. Tapi, aku terkesan. Kamu tidak pingsan atau mati mendadak."

Kakek itu melemparkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hijau pekat ke arah Arlan. "Minum itu. Itu adalah ekstrak akar hutan yang akan membantu meregenerasi serat ototmu yang robek. Jangan berharap rasanya enak."

Arlan membuka tutup botol itu dan langsung meminumnya tanpa ragu. Rasanya sangat pahit, seperti empedu yang dicampur dengan tanah basah. Dia hampir muntah, namun dia memaksakan cairan itu masuk ke lambungnya. Sesaat kemudian, rasa hangat mulai menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh, meredakan sedikit rasa sakit yang menyiksa sejak pagi tadi.

"Kenapa kakek membantuku?" tanya Arlan setelah napasnya mulai stabil. "Di dunia ini tidak ada yang gratis. Apa yang kakek inginkan dariku?"

Kakek itu tertawa terbahak-bahak hingga jenggotnya yang dekil bergoyang. "Hahaha! Kamu benar-benar tidak seperti anak kecil. Benar, tidak ada yang gratis. Aku membantumu karena aku sedang melakukan eksperimen. Aku ingin melihat apakah teknik Taijutsu Surgawi yang selama ini dianggap mustahil dipelajari oleh manusia biasa, bisa dikuasai oleh seseorang yang jiwanya sudah mati sepertimu."

Kakek itu berdiri, wajahnya tiba-tiba menjadi sangat serius. "Sekarang, karena kamu sudah membuka Gerbang Pertama, latihanmu akan meningkat sepuluh kali lipat. Hari ini, kamu tidak akan memukul pohon lagi. Kamu akan masuk ke sungai yang arusnya paling deras di utara hutan ini. Kamu harus berdiri tegak di tengah arus itu selama empat jam tanpa bergeser satu inci pun."

"Berdiri di arus sungai?" Arlan mengernyitkan kening.

"Taijutsu bukan hanya soal memukul. Ini soal keseimbangan dan kontrol penuh atas setiap inci tubuhmu. Jika kamu bisa menahan arus sungai yang deras, maka sihir air atau sihir tekanan udara lawan tidak akan bisa menggerakkan tubuhmu sedikit pun. Bergeraklah!"

Arlan tidak banyak tanya. Dia mengikuti kakek itu menuju bagian utara hutan di mana terdapat sebuah air terjun kecil dengan arus sungai yang sangat ganas dan penuh dengan bebatuan licin. Arlan melepaskan pakaiannya yang penuh tambalan dan melangkah masuk ke dalam air yang sedingin es.

Seketika, arus air yang kuat menghantam tubuh kecilnya. Arlan hampir saja terseret jika dia tidak segera menancapkan kakinya di antara celah batu. Air itu terus menekan dadanya, mencoba menjatuhkannya. Dinginnya air mulai membuat kulitnya membiru, namun Arlan memejamkan mata dan mulai mengatur pernapasannya seperti yang diajarkan semalam.

Dia mencoba mengalirkan energi dari Gerbang Pertama yang baru dibukanya ke arah kaki. Dia memvisualisasikan kakinya sebagai akar pohon yang menancap sangat dalam ke dasar bumi. Di tengah deru suara air yang memekakkan telinga, Arlan mencoba mencari keheningan di dalam dirinya sendiri.

Satu jam berlalu. Tubuh Arlan gemetar hebat karena hipotermia.

Dua jam berlalu. Kesadaran Arlan mulai memudar, namun dia terus memaksa dirinya untuk tetap tegak.

Di saat itulah, pikirannya kembali melayang ke masa lalunya sebagai Adit. Dia teringat bagaimana dia harus bertahan di tengah persaingan bisnis yang kejam. Dia teringat bagaimana dia tetap berdiri tegak saat para pemegang saham menghujatnya karena fitnah Rendra. Kekuatan mental yang dia asah selama puluhan tahun di kehidupan lamanya kini menjadi jangkar yang menahan tubuh kecilnya agar tidak hanyut oleh arus sungai.

Aku tidak akan jatuh. Tidak di sini, tidak oleh air ini, dan tidak oleh siapa pun di dunia ini, batin Arlan dengan penuh amarah yang terkendali.

Tiba-tiba, dia merasakan aliran energi di tubuhnya berubah. Energi yang tadinya liar kini mulai mengikuti irama pernapasan dan detak jantungnya. Dia merasa seolah air sungai yang menghantamnya bukan lagi musuh, melainkan bagian dari latihan yang harus dia terima.

Kakek tua yang memperhatikan dari pinggir sungai mengangguk puas. "Fokus yang luar biasa. Dia tidak hanya melawan arus, dia sedang mencoba memahami arus itu sendiri."

Namun, di tengah latihan yang krusial itu, telinga tajam kakek tersebut menangkap suara langkah kaki yang banyak dari arah desa. Sekitar sepuluh orang pria bersenjata sedang menuju ke arah mereka dengan aura permusuhan yang kental. Di barisan paling depan, seorang pria bertubuh besar dengan pakaian mewah dan wajah merah padam tampak memimpin rombongan. Itu adalah Gort, kepala desa Oakhaven.

"Di mana sampah kecil itu?!" teriak Gort dengan suara menggelegar. "Dia sudah berani melukai anakku, dan aku akan memastikan dia membayar setiap tetes darah yang keluar dari tangan Bram!"

Kakek tua itu melirik ke arah Arlan yang masih berendam di sungai, tampak tidak menyadari kedatangan rombongan tersebut karena fokusnya yang dalam. Kakek itu tersenyum licik.

"Yah, sepertinya ujian pertama untuk mentalmu datang lebih cepat dari perkiraanku, Arlan," gumam kakek itu. Dia tidak pergi untuk membantu, melainkan melompat ke dahan pohon yang lebih tinggi untuk menonton pertunjukan yang akan terjadi.

Gort dan anak buahnya akhirnya sampai di pinggir sungai. Mereka melihat Arlan yang sedang berdiri diam di tengah arus deras. Gort mendengus jijik melihat anak kecil yang dianggapnya lemah itu sedang melakukan hal yang terlihat konyol.

"Arlan Vandermir! Keluar dari sana sekarang juga atau aku akan menyeretmu keluar dan mematahkan kedua kakimu di depan ibumu yang menyedihkan itu!" teriak Gort sambil mengaktifkan kekuatan berkahnya. Tanah di sekitar kaki Gort mulai bergetar hebat.

Arlan perlahan membuka matanya. Mata biru dinginnya menatap lurus ke arah Gort. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan. Dia perlahan melangkah keluar dari sungai dengan gerakan yang sangat stabil, seolah-olah arus deras itu tidak memberikan beban apa pun padanya.

Dia berdiri di depan Gort, tubuhnya yang kecil masih basah kuyup dan mengeluarkan uap karena panas internal tubuhnya yang sedang bekerja.

"Kamu mencariku?" tanya Arlan dengan nada yang sangat tenang, yang justru membuat suasana menjadi semakin tegang.

Konflik antara kekuatan fisik murni yang baru saja dibangkitkan dan kemarahan seorang penguasa desa dengan berkah sihirnya akan segera meledak. Arlan tahu, ini bukan lagi sekadar latihan. Ini adalah pembuktian pertama bahwa dia bukan lagi orang yang bisa diinjak injak.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!