NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Jejak Kertas yang Terbakar dan Makan Malam Bersama Sipir

BAB 5: Kepingan yang Berteriak di Bawah Debu

​Ada semacam simfoni sunyi yang dimainkan oleh dinding-dinding apartemen ini pada pukul tiga pagi. Suara dengung kulkas di dapur menyatu dengan desau angin yang menabrak kaca jendela balkon, menciptakan kebisingan statis yang persis sama dengan frekuensi di dalam kepalaku. Aku duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kakiku menyentuh lantai parket yang dingin. Di telapak tanganku, sobekan kertas dari Devan terasa seperti bongkahan bara api yang siap membakar sisa-sisa kewarasanku.

​Oren.

​Nama itu berdenyut di belakang pelipisku. Setiap kali aku mencoba membayangkan sosok kucing itu, kepalaku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum mikroskopis. Dokter Frans selalu bilang bahwa ini adalah reaksi psikosomatik—bahwa pikiranku mencoba menciptakan narasi palsu untuk mengisi lubang hitam akibat trauma. Namun, jika ini hanya narasi palsu, mengapa detak jantungku terasa begitu nyata? Mengapa rasa perih di mataku saat membayangkan anak laki-laki yang menangis itu terasa jauh lebih jujur daripada semua senyum tenang yang diberikan Ayah padaku selama tiga tahun terakhir?

​Aku melangkah menuju lemari besar di sudut kamar. Apartemen ini memang baru, tapi Ayah menyuruh Bi Minah memindahkan semua barang dari kamar lamaku, termasuk beberapa kardus yang selama ini tersegel rapat di gudang bawah tangga. Ayah bilang itu hanya tumpukan buku pelajaran SMA dan pakaian lama yang sudah tidak muat, tapi sekarang aku tahu ada sesuatu yang lebih berharga—atau mungkin lebih berbahaya—di sana.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku menarik sebuah kardus berlabel "Anya - Koleksi SMA". Debu halus beterbangan, menari-nari di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan. Aku merobek lakban cokelatnya dengan kuku, tidak peduli jika ujung jariku sedikit perih. Di dalamnya, tumpukan buku Sastra Klasik dan catatan harian yang kosong menyapaku. Aku terus menggali, melemparkan sweter lama dan alat tulis ke lantai, hingga jemariku menyentuh permukaan logam yang dingin dan keras.

​Laptop itu.

​Sebuah perangkat perak yang layarnya retak seribu, seolah-olah telah dihantam oleh kekuatan yang sangat besar. Ayah bilang laptop ini hancur dalam kecelakaan mobil itu. Ia bilang harddisk-nya sudah tidak bisa diselamatkan. Tapi jika laptop ini benar-benar sampah, mengapa Devan memintaku memeriksanya? Mengapa ia tampak begitu yakin bahwa ada sesuatu di dalamnya yang bisa membawaku pulang pada diriku sendiri?

​Aku mencoba menekan tombol power, meski aku tahu itu sia-sia. Layarnya tetap hitam, membisu seperti ingatanku. Aku menghela napas, rasa frustrasi mulai membakar dadaku. Tepat saat itu, aku teringat pada tas kecil yang terselip di bagian bawah kardus. Di dalamnya, aku menemukan sebuah harddisk eksternal lama berwarna hitam dengan stiker kucing oranye kecil yang sudah memudar di sudutnya.

​Jantungku berhenti berdetak sesaat. Stiker itu. Itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah "Oren".

​Aku segera menyambar laptop baru pemberian Ayah dari meja belajar. Dengan tangan gemetar, aku menghubungkan kabel data. Suara putaran piringan di dalam harddisk itu terdengar seperti bisikan masa lalu yang sedang terbangun. Sebuah jendela pop-up muncul di layar laptop baruku, menanyakan kata sandi.

​Password.

​Aku mematung. Pikiranku melayang kembali ke kilas balik di bawah pohon kamboja. Anak laki-laki itu. Tangisannya. Dan kotak kardus. Aku mencoba mengetik: O-R-E-N.

​Access Denied.

​Salah. Aku mencoba lagi. Mungkin tanggal kematiannya? Tapi aku tidak tahu kapan itu terjadi. Aku mencoba memejamkan mata, membiarkan kegelapan di luar jendela membantuku masuk kembali ke masa kecil itu. Apa yang paling kuingat saat kami mengubur kucing itu?

​Aku ingat anak laki-laki itu—Devan kecil—membisikkan sesuatu ke arah makam mungil itu. Ia tidak menyebut nama kucing itu dengan sebutan biasa. Ia memanggilnya dengan nama lengkap yang kami berikan secara asal-asalan saat bermain "rumah-rumahan".

​Aku mengetik: O-R-E-N-M-A-H-E-N-D-R-A.

​Klik.

​Duniaku seolah bergeser dari porosnya. Folder-folder itu terbuka. Ribuan foto, video pendek, dan catatan harian digital tumpah di hadapanku. Mataku tertuju pada sebuah folder tersembunyi berlabel "14 Juli". Tanggal yang disebut Devan dalam catatannya.

​Aku membukanya dengan napas tertahan. Di dalamnya hanya ada satu file video.

​Aku menekannya. Video itu mulai berputar. Kualitasnya buruk, goyang, sepertinya direkam dengan ponsel lama. Di sana, aku melihat diriku sendiri—tiga tahun lebih muda, dengan rambut panjang yang dikuncir kuda. Aku sedang tertawa, duduk di atas kap sebuah mobil tua yang terparkir di pinggir sebuah bukit yang indah. Dan di sampingku... seorang pemuda merangkul bahuku dengan posesif.

​Itu Devan. Tapi bukan Devan yang kulihat di koridor apartemen dengan mata penuh kebencian. Devan di video ini sedang tersenyum. Senyumnya sangat lebar hingga matanya menyipit, dan ia sesekali mengecup puncak kepalaku.

​"Anya, lihat kamera!" suara Devan di video itu terdengar jernih, penuh kehangatan yang membuat hatiku nyeri.

​"Aku sedang merekam, Devan! Hentikan, kau membuatku malu," suaraku di video itu terdengar begitu hidup. Begitu bahagia. Jauh berbeda dengan suara robotik yang kumiliki sekarang.

​"Hari ini tanggal 14 Juli," suara Devan kembali terdengar, kali ini ia mengambil alih kamera dan menyorot wajah kami berdua. "Dan aku bersumpah, apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan ayahmu mengirimmu ke Swiss sendirian. Kita akan lari, Nya. Malam ini. Kau sudah siap?"

​Aku di dalam video itu mengangguk dengan tekad baja di mataku. "Aku siap, Van. Aku lebih baik hidup di jalanan bersamamu daripada di istana itu sendirian."

​Video itu berakhir dengan suara decit rem mobil yang sangat jauh di latar belakang, disusul dengan layar statis yang pecah.

​Aku jatuh terduduk di lantai, laptop di pangkuanku nyaris tergelincir. Napasku pendek-pendek, seolah paru-paruku baru saja dicabut dari dadaku. Kebohongan itu... kebohongan itu begitu masif. Ayah bilang aku tidak pernah dekat dengan siapa pun. Ayah bilang kecelakaan itu terjadi saat aku sedang dalam perjalanan pulang dari les piano. Ayah bilang Devan adalah orang asing yang ingin memanfaatkanku.

​Ternyata, malam itu... aku sedang mencoba melarikan diri. Bersama Devan.

​"Neng Anya? Kok belum tidur?"

​Suara Bi Minah di balik pintu kamar membuatku tersentak. Dengan gerakan panik, aku menutup laptop dan menyembunyikan harddisk itu di bawah bantal. Aku segera menarik selimut hingga sebatas leher tepat saat pintu kamarku terbuka sedikit.

​Bi Minah berdiri di sana, siluetnya terlihat mengancam di bawah cahaya remang koridor. Ia memegang nampan berisi segelas susu hangat dan botol obat.

​"Bibi dengar suara berisik tadi. Neng Anya tidak apa-apa?" tanyanya, matanya yang tajam memindai kamarku yang sedikit berantakan karena kardus yang kubongkar.

​"Aku... aku hanya mencari buku lama, Bi. Aku tidak bisa tidur," suaraku terdengar serak. Aku mencoba menenangkan detak jantungku yang bergemuruh.

​Bi Minah melangkah masuk, meletakkan gelas susu itu di atas meja nakas. Ia tidak langsung keluar. Ia justru menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Neng, Tuan Hendra berpesan... jangan terlalu banyak menggali masa lalu. Itu tidak sehat untuk kepala Neng. Lebih baik minum obat ini, biar mimpinya tenang."

​Ia menyodorkan pil putih itu. Aku menatap benda kecil itu dengan rasa mual yang mendalam. Selama ini, pil inilah yang menjagaku tetap "aman". Pil inilah yang membuatku menjadi putri penurut yang tidak banyak bertanya. Apakah pil ini benar-benar obat? Ataukah ini adalah racun yang menjaga lubang hitam di kepalaku tetap terbuka?

​"Minum, Neng. Nanti Bibi lapor ke Tuan kalau Neng tidak mau minum obat," ancamnya halus, namun tetap terasa seperti pisau yang menekan leherku.

​Aku mengambil pil itu, memasukkannya ke mulut, lalu meminum susu itu hingga habis di bawah pengawasan ketat Bi Minah. Begitu ia melihatku menelan pil itu, ia tersenyum puas, merapikan selimutku, lalu keluar dari kamar tanpa suara.

​Aku menunggu hingga langkah kakinya menghilang di ujung koridor. Begitu suasana benar-benar sepi, aku memuntahkan kembali pil yang sengaja kuselipkan di bawah lidahku ke dalam tisu di samping tempat tidur. Aku tidak akan membiarkan mereka menidurkanku lagi. Tidak malam ini.

​Pukul empat pagi. Efek adrenalin membuatku tidak bisa berdiam diri. Aku melangkah menuju balkon, membutuhkan udara segar untuk mendinginkan otakku yang terasa seperti mendidih.

​Saat aku membuka pintu kaca, aku tertegun. Devan sudah ada di sana.

​Ia sedang duduk di atas pagar balkonnya, kaki kanannya berayun santai di atas ketinggian lantai sepuluh. Di jemarinya, sebuah rokok yang belum dinyalakan terselip. Ia menoleh perlahan, menatapku dengan mata yang tampak lebih lelah daripada kemarin.

​"Kau menemukannya?" tanyanya tanpa basa-basi.

​Aku melangkah mendekati sekat balkon, mencengkeram besi pembatasnya. "Kenapa kau tidak bilang padaku secara langsung, Devan? Kenapa kau harus memberiku petunjuk seperti permainan teka-teki gila ini?"

​Devan melompat turun dari pagar, berdiri tepat di depan sekat kaca yang memisahkan kami. "Karena jika aku memberitahumu secara langsung, otakmu akan menolaknya sebagai serangan. Kau akan menganggapku berbohong, sama seperti kau menganggap Ayahmu jujur. Kau harus menemukannya sendiri, Anya. Kebenaran yang ditemukan sendiri adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dihapus oleh obat-obatan mereka."

​"Video itu..." suaraku bergetar. "Tanggal 14 Juli. Kita mau kabur?"

​Mata Devan seketika meredup. Ada kilat kepedihan yang sangat dalam di sana, sebuah luka lama yang dipaksa terbuka kembali. "Kita hampir berhasil, Anya. Kita hanya butuh sepuluh menit lagi untuk sampai ke stasiun. Tapi mobil ayahmu... mobil hitam besar itu... dia tidak hanya menabrak kucing sepuluh tahun lalu. Dia menabrak hidup kita malam itu."

​Aku terkesiap. "Ayah yang menabrak kita?"

​Devan mengepalkan tangannya di pagar besi. "Dia tidak ingin kau pergi. Dia lebih baik melihatmu hancur daripada melihatmu bebas bersamaku. Dan saat kau terbangun di rumah sakit tanpa ingatan apa pun, dia menggunakan kesempatan itu untuk membangun kembali dirimu. Dia mencuci otakmu, memberimu obat-obatan agar kau tetap bingung, dan mengirimku ke penjara dengan tuduhan penculikan."

​"Penjara?" duniaku seolah runtuh sekali lagi. "Kau dipenjara?"

​"Tiga tahun, Anya. Tiga tahun aku membusuk di sana, membayangkan kau sedang tersenyum bahagia di rumah besar itu, lupa bahwa aku pernah ada," Devan tertawa getir, suaranya pecah di tengah dinginnya angin subuh. "Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Begitu aku keluar, aku akan menemukanmu. Aku akan membuatmu ingat, meski aku harus menghancurkan seluruh dunia yang Ayahmu buat untukmu."

​Aku menatap pergelangan tanganku sendiri. Ada sebuah bekas luka kecil di sana, yang selama ini Ayah bilang adalah bekas kecelakaan. Tapi sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku melihatnya sebagai rantai yang selama ini mengikatku pada kebohongan.

​Tiba-tiba, suara sirene mobil polisi terdengar dari bawah apartemen, disusul dengan lampu biru-merah yang berkedip-kedip di jalan raya. Devan menatap ke bawah, lalu menatapku dengan sorot mata yang mendesak.

​"Waktumu tidak banyak, Anya. Ayahmu tahu aku ada di sini. Dia akan segera datang. Dan kali ini, dia tidak akan hanya memberimu pil putih. Dia akan mengirimmu pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau."

​"Apa maksudmu?"

​"Swiss. Dia sudah menyiapkan paspormu. Keberangkatanmu dipercepat menjadi lusa pagi," Devan mengulurkan tangannya melewati sekat balkon. Tangannya besar, penuh bekas luka, namun memancarkan keamanan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. "Ikut denganku sekarang, atau kau akan selamanya menjadi bayangan di sudut ruang ini."

​Aku menatap tangan itu. Aku menatap pintu kamarku di mana Bi Minah dan Ayah sedang mengintai. Dan aku menatap laptop di dalam sana yang menyimpan satu-satunya bukti bahwa aku pernah benar-benar hidup.

​Pening di kepalaku kembali menyerang, namun kali ini aku tidak melawannya. Aku membiarkan rasa sakit itu membimbingku.

​Aku meraih tangan Devan.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​EXT. JALAN RAYA PINGGIR KOTA - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Hujan badai yang dahsyat. Cahaya lampu mobil membelah kegelapan.

​Kamera berada di dalam mobil yang melaju kencang. DEVAN (18 tahun) memegang kemudi dengan fokus tinggi, sementara ANYA (16 tahun) duduk di sampingnya, memegang peta dan ransel kecil. Mereka berdua terlihat sangat ketakutan namun bahagia.

​DEVAN

"Sedikit lagi, Nya! Di depan ada pertigaan stasiun. Begitu kita naik kereta, mereka tidak akan bisa menemukan kita."

​ANYA

"Aku mencintaimu, Devan. Terima kasih sudah membawaku keluar."

​Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah mobil SUV hitam besar melaju dengan kecepatan gila, menabrak bagian belakang mobil mereka. Mobil Devan terpelintir, kehilangan kendali di atas aspal yang licin.

​Kamera menangkap Close-Up wajah ANYA yang menjerit saat mobilnya terguling berkali-kali.

​Layar menjadi hitam sejenak, hanya terdengar suara napas terengah-engah.

​INT. RUMAH SAKIT - BEBERAPA JAM KEMUDIAN

​ANYA terbaring di ranjang, kepalanya diperban. Ia baru saja membuka matanya. Di sampingnya, AYAH ANYA (Hendra) berdiri dengan ekspresi dingin.

​HENDRA

"Dokter Frans, mulai regimen dosisnya sekarang. Pastikan dia tidak ingat apa pun tentang malam ini. Terutama tentang anak laki-laki itu."

​DOKTER FRANS

(Menyiapkan suntikan berisi cairan bening)

"Amnesia yang diinduksi secara medis bisa bersifat permanen jika kita menjaga dosisnya, Pak Hendra. Dia akan bangun sebagai kertas kosong."

​Kamera fokus pada jarum suntik yang menembus selang infus Anya. Pandangan Anya yang linglung perlahan-lahan meredup menjadi kegelapan total.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!