NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: tamat
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:341.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Aturan Tiga Detik

​​"Satu."

​Suara bariton itu membelah keheningan ruang rapat di lantai 50 Gedung Vance Corp. Dingin, datar, dan mematikan.

​"Maksud saya... eh, begini, Pak Dominic. Target pasar untuk kuartal ini sebenarnya... eh..."

​"Dua."

​Dominic Vance mengetuk jari telunjuknya ke permukaan meja mahoni yang mengkilap. Ketukan itu pelan, tapi bagi lima belas eksekutif yang duduk mengelilinginya, suaranya terdengar seperti detak bom waktu. Keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis pria paruh baya yang sedang berdiri di ujung meja. Dia adalah Manajer Pemasaran baru, lulusan terbaik dari universitas ternama di luar negeri, tapi di hadapan Dominic, dia terlihat seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.

​"Saya hanya butuh sedikit waktu untuk menjelaskan grafik ini, Pak. Ada sedikit kesalahan teknis di slide sebelumnya, jadi data yang masuk..."

​"Tiga."

​Dominic berhenti mengetuk. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit seharga mobil mewah itu, lalu menatap pria malang di depannya dengan tatapan bosan. Sangat bosan.

​"Keluar."

​Pria itu ternganga. "M-maaf?"

​"Kau tuli atau bodoh? Aku bilang keluar," ucap Dominic santai, seolah dia baru saja memesan menu makan siang, bukan menghancurkan karir seseorang. "Kau baru saja membuang tiga detik waktuku dengan suara 'eh' dan 'uh' yang tidak berguna itu. Kau tahu berapa nilai satu detik waktuku?"

​"Pak, tolong beri saya kesempatan—"

​"Satu detik waktuku bernilai dua ribu dolar. Kau baru saja membakar enam ribu dolar hanya untuk memamerkan kegugupanmu yang menyedihkan," potong Dominic tajam. Dia mengibaskan tangannya ke arah pintu. "Kemas barangmu. HRD akan mengurus pesangonmu. Pastikan mejamu bersih sebelum aku selesai rapat ini."

​"Tapi saya baru bekerja dua minggu!"

​"Dan itu dua minggu yang paling sia-sia dalam sejarah perusahaan ini. Minggir."

​Pria itu memandang berkeliling, mencari pembelaan. Tapi tidak ada yang berani menatap matanya. Direktur Keuangan pura-pura sibuk membetulkan kacamata, sementara Kepala Divisi IT menunduk dalam-dalam, seolah pola serat kayu di meja adalah hal paling menarik di dunia. Di ruangan ini, melawan Dominic Vance sama saja dengan bunuh diri profesional.

​Pria itu akhirnya menyerah. Dengan bahu merosot, dia membereskan berkasnya yang berantakan dan berjalan gontai keluar ruangan. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan yang terasa sangat nyaring.

​Hening.

​Dominic memutar kursi ke arah sisa karyawannya yang masih mematung.

​"Siapa selanjutnya?" tanyanya.

​Tidak ada yang menjawab. Keheningan itu begitu mencekam sampai suara AC sentral terdengar seperti deru mesin pesawat.

​"Kenapa diam? Apa otak kalian juga buffering?" Dominic mengambil gelas kristal berisi air mineral di depannya, lalu meletakkannya kembali dengan kasar karena ada bekas sidik jari tipis di gelas itu. "Kalian lihat gelas ini? Kotor. Presentasi tadi? Sampah. Kinerja kalian bulan ini? Menyedihkan."

​Seorang wanita muda dari divisi kreatif memberanikan diri mengangkat tangan dengan gemetar. "Pak... s-soal desain logo untuk peluncuran produk Olexa..."

​"Jangan mulai kalimatmu dengan gagap atau kau menyusul temanmu tadi ke pintu keluar," ancam Dominic tanpa menoleh.

​Wanita itu langsung diam, wajahnya pucat pasi. Dia menurunkan tangannya perlahan, memilih untuk menyelamatkan karirnya daripada memperjuangkan logo.

​Dominic mendengus kasar. Dia berdiri, berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan hiruk-pikuk kota metropolis di bawah sana. Mobil-mobil terlihat seperti semut, dan orang-orang tidak terlihat sama sekali. Dari ketinggian ini, dia merasa seperti dewa yang dikelilingi oleh manusia-manusia tidak kompeten.

​"Kalian semua dibayar mahal untuk berpikir, bukan untuk menjadi patung," gerutu Dominic sambil memandangi pantulan dirinya di kaca.

​Dia menyipitkan mata. Ada yang salah.

​Sesuatu yang sangat kecil, tapi sangat mengganggu.

​Dominic mendekatkan wajahnya ke kaca. Matanya terkunci pada leher kemejanya. Dasinya. Dasi sutra Italia berwarna biru navy itu... miring.

​Miring sekitar dua milimeter ke kiri.

​Napas Dominic tercekat. Detak jantungnya naik. 

Bagaimana bisa? Dia sudah bercermin tiga kali sebelum masuk ke sini. 

Siapa yang berani menyentuh dasinya? Angin? Atau karena dia tadi bergerak terlalu kasar saat mengusir manajer bodoh itu?

​Rasa gatal mulai menjalar di kulitnya. Bukan gatal fisik, tapi gatal mental yang membuatnya ingin mengamuk. 

Baginya, ketidaksempurnaan adalah musuh. Ketidaksempurnaan adalah dosa. Dan dasi yang miring ini adalah penghinaan terbesar hari ini.

​Dia berbalik menatap para eksekutif yang masih menunduk ketakutan. Mereka semua tampak berantakan. Baju kusut, rambut berminyak, dasi murahan. Pemandangan itu membuatnya semakin mual.

​"Rapat bubar," desis Dominic.

​"T-tapi Pak, kita belum membahas anggaran—" sela Direktur Keuangan.

​"Aku bilang BUBAR!" bentak Dominic.

​Para eksekutif itu langsung berhamburan keluar seperti tikus yang melihat kucing garong. Mereka berebut pintu, menyenggol kursi, bahkan ada yang meninggalkan pulpen mahalnya saking paniknya. Dalam hitungan sepuluh detik, ruangan itu kosong. Hanya menyisakan Dominic dan dasinya yang miring.

​Dominic mencoba membetulkannya sendiri di depan pantulan kaca. Tapi tangannya gemetar karena emosi. Semakin dia mencoba, simpulnya malah semakin tidak simetris.

​"Sialan!" umpatnya. Dia menarik dasi itu kasar, membuatnya semakin miring. Sekarang miring lima milimeter. Bencana. Ini bencana nasional.

​Dia butuh "Penyelesai Masalah". Dia butuh satu-satunya orang yang tangannya tidak gemetar saat berada di dekatnya. Satu-satunya manusia yang tahu persis di derajat kemiringan berapa dasinya harus bertengger.

​Dominic menekan tombol interkom di meja dengan beringas, tapi kemudian dia sadar itu terlalu lambat. Dia butuh orang itu sekarang. Detik ini juga.

​Dominic berjalan lebar ke arah pintu, membukanya dengan kasar hingga gagang pintu menghantam dinding, lalu berteriak sekuat tenaga ke arah koridor di mana meja sekretaris berada.

​"HARPER!!!"

1
David Daniel
edaaannnn...boss gendeng...🤣🤣🤣🤣
mety
udah kasih aja racun 🤣🤣🤣
Meliana Siregar
Oke banget, semangat buat authornya
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh Tamat, ga terasa baca marathon tau² sudah Happy Ending...👍👍👍
Eh Tamat, ga terasa baca marathon tau² sudah End meskipun bikin adrenalin karna bikin sedikit menguras emosi tapi seru.👍👍👍😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat Do Harper kalian sudah resmi jadi Suami Istri.👏👏👏

Lho Ryland sudah bebas Kah, kok ada hadir di pernikahan Do Harper... perasaan masih baru di penjarakan dan di kirain cuma keluarga CaldWell doang yang hadirnya.🤔🤔🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
🤣🤣🤣 Ya ampuuuunnn Dom, mulai lagi alasan konyolMu, padahal sudah lama ga denger tuh Dasi miring... untung Pawangnya datang kalau ngga bisa ngompol di tempat tuh perias, Bagas dan Alvin.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sekarang tanpa ragu dan malu lagi lansung ngaki BUCIN juga ya Dom... Terbaik pokoknya mah.👍😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Duh Dom jangan sampai musuh Mu merusak hari bahagia Mu tar..
apa lagi Ryland CaldWell sudah kamu penjarakan dan bisnisnya kamu bantai jangan sampai mereka masih dendam.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lagi mode akur.🤭

Thor kalau ada percakapan tertawa itu coba cantumkan juga gimana bunyi tertawanya biar lebih dapet adegannya.
karna setiap ekspresi, bunyi adegan, benda atau apapun yang terlihat sepele tapi justru itu membuat cerita juga lebih hidup.🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Semenit tanpa ada keributan kayaknya ada yang kurang di antara hubungan Dom Harper karna sama² keras kepala dan punya ego tinggi jadi kalau ga ada yang sadar salah satu bakal cepat ambyar tuh hubungan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ampuuunn deh si Dom ini.🤭🤭🤭

O ya kok nama Desainernya mirip dengan nama dokter hewan teman kencannya Harper.🤣🤣✌️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah kalau gini Dom sudah benar Harper biar baagaimana pun Dia seorang pengusaha besar dan mempunyai banyak kolega bisnis yang ga kaleng² jadi selagi di batas wajar Kamu harus bisa menerimanya Harper.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
MANTAP Harper, ga perlu hambur²kan Banyak uang ratusan miliyar hanya buat untuk dapat pujian dari para penjilat dan menguntungkan orang² licik.👍👍👍

Dom ga semua kekayaanMu mampu membungkam para klienMu tapi cukup percayakan pada Harper karna Dia cukup tau jadi turunkan Ego mu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Makin Makin si Dom ini, bisa kacau itu Perusahaan Dom kalau urusan Kantor keganggu terus akibat CEOnya gangguin mulu kerja COOnya.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
🤣🤣🤣 Kacau Kacau semua akibat ulah Dom yang Bicinnya ga ketulungan.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hahahaaa... Dom, Kamu Lucu sekali kayak Bocil kehilangan Ibunya.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Harper T O P pokoknya.👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Romantisnyaaaa... Manis banget sih Dom.👍👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat Dom lamaranMu di terima Harper.👍👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Cara melamar Dom lain dari yang lain... tapi yang penting bukan di lihat dari niat gantl.👍🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!