"Jika tolak ukurmu mengenai cinta adalah pengorbanan seorang yang rela mati demi cinta. Maka itu bukan cinta, tapi obsesi, nafsu."
Prince mengucapkan kata itu dengan tegas. Dia ingin Isma membuka pikirannya. Dia ingin Isma lebih rasional dalam mengartikan cinta.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu sangat mencintaiku. Kamu bahkan mengatakan akan menikahiku." Ucap Isma terisak. Tangisnya masih belum usai.
"Aku belum siap pindah keyakinan, Isma. Aku masih sangat percaya pada Tuhanku, sama halnya dengan kamu yang sangat yakin akan Allah Tuhan-mu."
"Kalau begitu, aku saja yang..." Ucapan Isma terhenti. Prince menghempaskan HP-nya tepat di hadapan Isma, bahkan hampir mengenai Isma.
"Pergilah, menikahlah dengan pria sholeh pilihan Orangtua mu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang mudah goyah dengan keyakinannya." Bentak Prince dengan amarah yang menggebu namun masih ditahannya. Dan tanpa memperdulikan Tangis Isma, Prince pun pergi meninggalkan Isma yang masih menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Want to Die
Episode 1
Sebelum berangkat kerja, Isma Ramadhani atau yang lebih akrab di panggil Iis, menyempatkan diri untuk membantu teh Fitri kakak iparnya untuk mencuci piring bekas sarapan pagi.
"Is, apa benar Bos mu itu seorang non Muslim?" Tanya Fitri sambil menyusun piring yang telah selesai di cuci oleh Isma.
Mendengar pertanyaan itu Isma gugup, dia bahkan sempat berhenti menggosok piring kotor itu. Tidak lama kemudian Isma mengangguk pelan nyaris tidak terlihat.
"Abah sama Umi tau soal ini?" Selidik Fitri.
Isma menggelengkan kepalanya, kemudian dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku berangkat Teh, nanti pulangnya agak telat. Ada rapat Kantor." Jelasnya sambil berpamitan. Lalu Isma pun berangkat dengan mengendarai mobil miliknya sendiri.
Fitri hanya diam, tersenyum sambil melambaikan tangan mengiringi kepergian Isma.
"Jika mas Arya dan Abah sampai tahu hal ini, bisa-bisa Isma akan di larang kerja." Gumamnya sendiri sambil terus memandangi mobil Isma yang sudah menghilang dari pandangan.
Sedangkan Isma kini tengah fokus menatap jalanan sambil mendengarkan radio di mobilnya yang terus melaju menyusuri jalan raya kota Jakarta.
Drrriiiittt…
Suara getar HP miliknya. Di layarnya tertera tulisan 'Umi sayang', tapi Isma tidak menyadari itu karena suara radio yang distel dengan volume yang cukup lantang.
HP Isma bergetar berkali-kali dan masih tetap orang yang sama, Umi menelponnya dan sudah tertera 4 panggilan tidak terjawab.
Setelah hampir 25 menit perjalanan, Isma pun tiba di Kantor tempatnya bekerja. King Holding Grup atau yang lebih dikenal dengan nama Perusahaan K.H.G yang merupakan perusahaan terbesar yang memiliki beberapa cabang antaranya Korea, Singapura dan Malaysia.
"Pagi Neng Isma." Sapa Sekuriti penjaga, begitu Isma tiba.
"Pagi juga pak." Sambut Isma ramah sambil memberikan kunci mobil pada pak Sekuriti untuk di bawa ke tempat parkir.
Begitu mobil di bawa oleh Sekuriti, Isma pun melangkah masuk ke gedung kantor. Ruang kerja Isma terletak di lantai delapan tepat di depan ruangan CEO.
Ting…
Pintu Lift terbuka, Isma pun masuk dan kebetulan hanya sendiri di dalam lift itu.
"Huh, selalu saja sendiri…" gumamnya, sambil memeriksa HP yang memang sejak tadi ada di dalam genggamannya.
"Umi? ya ampun aku nggak sadar ternyata umi menelpon sejak tadi." Rutuknya memaki diri sendiri. Dengan segera dia mengirim pesan pada Umi.
Ting…
Pintu lift terbuka, tapi ini masih di lantai empat. Rupanya ada seseorang yang masuk ke lift yang sama dengannya. Isma sibuk dengan HP miliknya tanpa menghiraukan siapa penumpang lift yang baru saja masuk dan berdiri tepat di depannya.
"Kamu telat satu menit empat belas detik, Nona Isma." Ucap lelaki itu, yang sontak membuat Isma kaget dan hampir saja menjatuhkan HP dari genggaman tangannya.
"B…b…Bo..Bos???" Ucapnya gugup bercampur takut.
Tidak, Isma bukan takut dengan Bosnya itu, hanya saja Isma bosan dan lelah jika harus mendengarkan celoteh setiap pagi dari pria berdarah Inggris itu.
"Langsung ke ruangan saya. Bawa semua berkas untuk rapat dan jangan lupa jadwal saya juga." Tegasnya tanpa menoleh pada Isma yang tengah memperagakan gerak mulut si Bos nya itu, lengkap dengan gerak-gerik tangannya.
"Paham?" Menegaskan kembali sambil menoleh pada Isma yang akhirnya tertangkap basah tengah memperagakan omelan Bos.
Alhasil, Isma mematung diam menundukkan wajahnya, sedangkan pria tinggi berbadan kekar, berwajah tampan itu menatap sinis penuh amarah dengan raut wajah yang berapi-api seakan hendak menerkam Isma saat itu juga.
"Do you want to die today?" Ucapnya dengan suara serak berat tertahan namun tegas dan menyiratkan amarahnya.
Bersambung…
Alhamdulillah kami skrg sdh menikah dan dikaruniai anak2 yg lucu.