Aku terus mendekatkan wajahku dengan mata yang terpejam. Aroma parfum maskulin dari tubuh om Kenzo semakin menusuk dan memanjakan hidungku.
"Mau ngapain kamu,,," Tegur om Kenzo dengan menahan tawa. Namun kejahilan om Kenzo membuatku kesal. Dia menutup wajahku dengan handuk basah. Handuk yang baru saja dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Om Kenzo sedikit menekan handuk diwajahku dan mengusapnya pelan.
"Om Ken,,,!!" Teriakku dengan suara yang lantang. Aku menyingkirkan handuk dari wajahku. Tatapan kesal ku berikan padanya dengan bibir yang mengerucut.
"Ngeselin banget sih,,!" Protesku. Om Kenzo malah tertawa geli padaku.
Aku beranjak dari sofa, berniat untuk mengambil minum di dapur. Aku jadi merasa haus setelah om Kenzo membuatku kesal sekaligus malu. Bisa - bisanya dia menolak ciumanku.
Aku mengambil 2 minuman kaleng dari dalam lemari es. Ku hampiri om kenzo dan menyodorkan 1 kaleng untuknya.
"Ini om,,," Kataku.
Om Kenzo mendongak, menatap wajahku yang sedang berdiri didepannya. Perlahan pandangan mata om Kenzo terus turun kebawah. Aku bisa merasakan jika saat ini om Kenzo sedang memperhatikan baju yang aku kenakan. Sepertinya dia baru menyadari jika aku sudah melepaskan jaket, menyisakan kain minim ditubuh tinggiku.
Harusnya aku senang karna om Kenzo terlihat mulai masuk dalam rencanaku. Namun yang ada, aku justru merasa canggung.
Aku langsung meletakan minuman itu di atas meja, karna om Kenzo tak kunjung menerimanya. Aku kembali duduk disofa, sedikit menjauh dari om Kenzo. Aku seperti tidak punya pendirian. Sebelumnya aku telah mencoba menggodanya, berusaha untuk mencium om Kenzo. Tapi saat om Kenzo terus memperhatikanku, aku malah menjauh. Sebenarnya ada apa denganku.?
Apa aku masih punya malu setelah menawarkan diri untuk menjadi sugar baby.
Aku membuka minuman kaleng di tanganku, lalu meneguknya perlahan.
"Pake jaketnya,,," Seru om Kenzo, dia meletakan jaket diatas pangkuanku.
Sebelum menanggapi ucapan om Kenzo, aku meletakan lebih dulu minumanku diatas meja.
"Nggak mau,, aku gerah om,," Tolak ku dengan alasan palsu. Mana mungkin aku gerah dalam ruangan bersuhu rendah.
Kulihat om Kenzo menautkan alisnya. Mungkin dia menyadari jika alasanku tidak masuk akal.
Tanpa membalas ucapanku, om Kenzo beranjak dari duduknya. Mendekat pada dinding dimana terdapat remote pengatur suhu disana. Om Kenzo mulai memencet remote itu, sudah pasti dia sedang menurukan suhunya. Aku panik dibuatnya, om Kenzo pasti akan mengerjaiku dengan mengatur suhu terendah. Aku bisa menggigil jika terlalu lama membiarkan tubuhku terbuka seperti ini.
"Sekarang pake jaketnya kalau nggak mau kedinginan,," Perintahnya.
Astaga, om Kenzo sama sekali tidak peka dengan apa yang aku lakukan. Jangan - jangan memang benar kalau om Kenzo tidak normal. Dia enggan melihat tubuh seksiku.
Dengan malas dan ogah - ogahan, aku pakai kembali jaketku. Jeket yang sengaja aku lepas untuk menggoda om Kenzo, namun sia - sia.
Aku memakai jaket itu tanpa menutup resletingnya.
Aku mendengus kesal saat om Kenzo masuk kedalam ruang kerjanya. Dia bilang, dia akan menyelesaikan sedikit pekerjaannya lebih dulu sebelum menonton pertandingan bola.
Lalu untuk apa aku dibawa kesini kalau di abaikan seperti ini.?
Karna merasa bosan dan om Kenzo tidak kunjung keluar, aku memilih untuk pergi kedapur. Aku akan memasak untuk makan malam kami.
Sambil memasak, aku terus tersenyum karna membayangkan kehidupanku setelah menikah nanti. Membayangkan saat ini aku sedang memasak untuk suamiku. Tentu saja om Kenzo yang aku bayangkan sebagai suamiku. Aku tau itu tidak akan mungkin terjadi karna om Kenzo milik orang lain. Tapi apa salahnya jika aku mengkhayal seperti itu. Ini khayalanku, aku bebas menjadikan siapapun sebagai suamiku dalam khayalanku.
Aku menghampiri ruang kerja om Kenzo setelah selesai memasak dan menatanya di atas meja.
"Om,,,!" Teriakku sembari mengetuk pintu.
"Makan dulu yuk om,,," Seruku lagi.
"Kamu pesen makanan dulu aja Je. Makananku samain aja kayak kamu,,!" Sahut om Kenzo.
"Aku udah masak om,,,!"
Sejujurnya aku ingin membuka pintu dan masuk kedalam, tidak enak sekali bicara sambil teriak - teriak begini.
Tidak ada jawaban dari om Kenzo. Karna tidak sabar, aku langsung membuka pintu. Dan,,, jedduuuggg,,,
"Aduh,,,!! Jeje,,!!" Pekik om Kenzo. Dia memegangi keningnya yang terbentur pintu akibat ulahku.
"Ya ampun om,,! Maaf om, aku nggak sengaja,," Aku mendekat, mengusap - usap kening om Kenzo dengan perlahan.
"Sakit banget ya om,,? Aku nggak tau kalau om Ken juga mau keluar. Habisnya dari tadi om diem a,,,,
Untuk kesekian kalinya, om Kenzo mendadak menciumku. Tangannya menarik pinggangku, membuat tubuh kami tanpa jarak. Aku membalasnya, juga mengalungkan kedua tangaku di leher om Kenzo dengan erat. Om Kenzo menggiringku untuk berjalan mendekati sofa, tanpa melepaskan ciumannya. Kedua tangan om Kenzo berada di tubuh bagian belakangku, merabanya lembut. Saat ini aku tidak memakai jaket setelah tadi melepaskannya ketika akan memasak.
Om Kenzo langsung mendudukan dirinya disofa, dia membawaku duduk dipangkuannya. Kami saling pandang, om Kenzo menatapku begitu dalam.
"Aku tidak akan melewati batas, jadi jangan berusaha menggodaku,," Ujarnya. Lalu kembali melu**t bibirku.
Aku mematung setelah mendengar pernyataan om Kenzo. Apa maksudnya melewati batas.? Bukankah dalam suarat perjanjian tidak ada batasan apapun. Disana bahkan tertulis untuk melakukan hubungan. Lalu apa maksud ucapannya.?
"Eumm,,," Desahanku tertahan karna dibungkam oleh mulut om Kenzo, ciumanya pun semakin dalam.
Aku langsung memeluk om Kenzo, begitu om Kenzo menghentikan aksinya. Aku sangat malu, dia pasti akan meledekku lagi karna terlalu menikmati cumbuannya.
"Benerin dulu baju kamu, kamu nggak dingin,,?" Katanya sambil berusaha melepaskan pelukanku.
"Gerah om,,, panas,," Jawabku jujur. Cumbuan om Kenzo membuat badanku terasa panas karna diselimuti gairah.
Om Kenzo terkekeh mendengar jawabanku. Dia membenarkan bajuku yang tadi dibuat berantakan olehnya.
"Kamu masak apa.? Ayo makan,,,"
Om Kenzo menurunkanku dari pangkuannya, dia juga berdiri dari duduknya.
Mataku berbinar menatap om Kenzo. Dengan antusias, aku menjawab pertanyaan om kenzo dan langsung menarik tangannya untuk menuju meja makan.
Kami kembali duduk di sofa setelah makan. Aku senang karna om Kenzo selalu menyukai masakanku, dia bahkan terus memuji kemahiranku dalam memasak.
Om Kenzo sudah stand by didepan tv, tinggal beberapa menit lagi pertandingan bola akan di mulai.
"Kamu ngapain aja seminggu ini,,?"
Om Kenzo menatapku yang asik memainkan ponsel, aku sedang membalas pesan grup dari kedua sahabatku. Segera ku matikan ponselku, lalu meletakannya diatas meja.
"Nggak ngapa - ngapain om, cuma sekolah aja. Om kemana aja,? Kok nggak hubungin aku sih,,"
Karna om Kenzo memulai pembicaraan, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya balik padanya.
...*****...
Awas jangan senyum - senyum bacanya, nanti baper. wkwk
Budayakan like setelah baca ya😁
Happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 212 Episodes
Comments
nobita
yang pastinya para readers pada baper berjamaah
2025-01-23
0
andi hastutty
kaya orang jatuh cinta baca ini hahahha senyum senyum sendiri hahahahha
2023-01-26
1
pipitW⃠✰͜͡v᭄085811558605
dingin dan tiis😅😅😅
2022-08-30
0