"Bilang - bilang dong om kalau mau cium. Aku jadi nggak bisa nafas,,," Protesku dengan nafas yang tersenggal.
"Sorry,,," Hanya satu kata yang keluar dari mulut om Kenzo. Dia terus saja menatapku, dan itu membuat jantungku berdetak kencang.
"Duduk sini,,," Kata om Kenzo seraya menepuk pahanya. Om Kenzo menyuruhku untuk duduk dipangkuannya. Kepalaku reflek menggeleng. Ternyata aku masih punya rasa malu.
"Mau duduk disini atau mau pulang.?" Katanya lagi, dia kembali menepuk pahanya.
Aku kalah,,,! Om Kenzo berhasil mengancamku. Sepertinya dia tahu jika aku akan lebih memilih untuk duduk di pangkuannya dari pada harus pulang.
Tanpa penolakan lagi, aku berdiri dan duduk di pangkuan om Kenzo dengan posisi menyamping. Aku menundukan kepala, tidak berani menatap om Kenzo. Aku benar - benar sangat malu. Ini pertama kalinya aku duduk dipangkuan laki - laki lain, selain papa dan kak Nicho saat aku masih kecil dulu.
"Kenapa.? Kamu malu.?"
Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan om Kenzo.
"Tadi yang kamu lakuin di club sama laki - laki itu, lebih parah dari ini. Kenapa nggak malu,,?"
Aku langsung mengangkat wajah dan menatap om Kenzo. Aku tidak punya niatan untuk menjawab pertanyaan om Kenzo, aku memang tidak malu saat bercumbu dengan Leo di tempat itu. Saat ini aku justru jadi penasaran dan ingin bertanya pada om Kenzo.
"Kenapa tiba - tiba om ada disana.? Om ngikutin aku ya,,? Om nyesel sempat nolak aku.? Sampai akhirnya ngikutin aku dan nawarin aku lagi buat jadi,,, eummm,,,
Jantungku hampir saja melonpat dari tempatnya. Kenapa om Kenzo suka sekali mendadak menciumku.
Aku membuka mata begitu om Kenzo melepas ciumannya. Sudut bibir om Kenzo terangkat, dia tersenyum padaku.
"Jangan ngeliatin mulu om,,, aku malu,," Aku menutup mata om Kenzo dengan satu telapak tanganku.
"Baru diliatin udah malu. Gimana kalau dit*l*nj*ngin. Sugar baby macam apa ka,,,,
Kini giliran aku yang membungkam mulut om Kenzo dengan bibirku. Tidak ku pedulikan lagi dimana rasa malu ku. Aku tidak mau om Kenzo membatalkan perjanjian yang sudah aku tanda tangani. Aku ingin menunjukan pada om Kenzo jika aku layak untuk menjadi sugar babynya. Bukankah sugar daddy suka perempuan yang agresif.? Begitu kata Celina dan Natasha.
Meskipun aku masih kaku dalam hal mengadu bibir, tapi aku tidak melepaskan ciumanku. Aku terus mencoba mempraktekkan yang om Kenzo lakukan saat menciumku.
"Boleh.?" Tanya om Kenzo meminta ijin untuk menyentuh kedua aset berharga milikku. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk. Memberikan lampu hijau pada om Kenzo untuk menyentuh tubuhku. Aku begitu pasrah, bukankah memang ini yang aku inginkan sejak awal.
Om Kenzo menghentikan aksinya. Dia kembali merapikan dressku yang sudah berantakan. Aku menatap kecewa padanya, padahal aku sedang menikmati permainan om Kenzo dan mengharapkan lebih.
Apa yang om Kenzo lakukan padaku, membuatku ingin melakukan lebih dari itu. Kenikmatan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan sebelumnya, memberikan candu tersendiri dalam diriku. Aku menutup mata jika apa yang kami lakukan adalah salah. Aku sangat menyukai apa yang om Kenzo lakukan.
"Kok udahan sih om,,,?" Tanyaku polos. Aku benar - benar tidak rela om Kenzo mengakhiri cumbuannya. Aku masih ingin merasakan sentuhan dari om Kenzo. Sentuhannya membuatku candu. Aku benar - benar sudah menjadi gadis liar yang tidak punya malu dan harga diri. Tapi aku bahagia saat ini, aku menikmatinya. Aku tidak peduli jika suatu saat mama dan papa akan tau apa yang aku lakukan. Mungkin saat itu mereka akan menyesal karna sudah mengabaikanku. Atau mungkin sebaliknya, mereka tidak akan peduli padaku.
"Kenapa,? Enak.?" Ujar om Kenzo.
Aku langsung mengangguk cepat dengan raut wajah polosku. Kini om Kenzo menertawakanku, tawa yang begitu renyah hingga membuatku terus ternyum menatapnya.
"Kamu itu sugar baby, harusnya kamu yang muasin, bukan sebaliknya." Katanya masih dengan menahan tawa, om Kenzo mengacak gemas rambutku. Benar juga apa yang om Kenzo katakan. Sekarang aku justru merasa jadi pihak yang paling diuntungkan dalam hal ini. Bukankah tugasku untuk memberikan kepuasan padanya.? Lalu kenapa malah jadi aku yang terpuaskan.
"Terus aku harus gimana om.? Om mau begituan sekarang.?"
Ya ampun,,, sepertinya aku salah bicara lagi. Om Kenzo kembali menertawakanku.
"Kamu itu masih polos, sok - sokan jadi sugar baby. Gimana mau muasin aku hemm.??" Om Kenzo mencubit lembut pipiku sembari menurunkan aku dari pangkuannya.
"Kita makan dulu ya. Mau makan disini atau diluar,,?" Tanyanya.
Aku kembali duduk disebelah om Kenzo. Aku terus memandangi wajah tampannya sampai lupa untuk menjawab pertanyaan om Kenzo.
Aku merasa sangat beruntung, Tuhan begitu baik padaku. Meskipun aku sudah salah langkah, namun aku mendapatkan sugar daddy yang menurutku sangat baik, beda dari sugar daddy yang biasa Celina dan Natasha ceritakan padaku.
"Je,,!" Aku terkesiap kala om Kenzo menepuk pundakku.
"Eh,,,i,,ya kenapa om.?" Sepertinya ekspresi wajahku saat ini sangat lucu, karna om Kenzo kembali tertawa. Aku tidak peduli dengan hal itu, melihatnya tertawa saja sudah membuatku senang.
"Aku jadi seperti memelihara bayi sungguhan, bukan memelihara sugar baby,,"
Entah apa maksud dari ucapan om Kenzo, dia memuji, menyindir, kecewa atau senang, aku tidak tau. Namun om Kenzo sambil tersenyum saat mengatakannya.
"Ayo makan diluar,,," Om Kenzo beranjak dari duduknya, segera ku tahan tangan om Kenzo.
Aku tidak mau makan diluar, aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua saja dengan om Kenzo. Tanpa adanya gangguan dari orang - orang diluar sana.
"Kita makan disini aja ya om. Atau nggak biar aku yang masak, om Ken punya bahan makanan.?" Aku berdiri, mensejajarkan badanku dengan om Kenzo.
"Bayi mau masak.? Masak apa.? Air.?" Ujarnya meremehkanku. Dia belum tau saja kalau aku sangat pandai mengolah makanan enak. Dirumah, kedua orang tuaku menggunakan jasa chef untuk menghidangkan makanan. Jadi semua makanan dari pagi sampai malam, dibuat khusus oleh chef. Semua makanan yang dibuat sudah pasti sehat, begizi dan lezat tentunya. Aku sering belajar memasak dengan chef itu jika aku tidak punya kesibukan.
"Om itu terlalu meremehkanku,,," Aku menyelonong begitu saja. Masuk kedalam untuk mencari letak dapur di apartemen ini.
"Je,,! Kamu mau ngapain.?" Terdengar teriakan om Kenzo yang menyusul dibelakangku. Aku menghentikan langkah dan menatap om Kenzo.
"Maaf om, masuk nggak ijin dulu. Aku mau buat makan malam kita om,,," Setelah menjawab, aku menghampiri lemari es. Membukanya dan mencari bahan yang mungkin bisa aku olah untuk makan malam kami.
...*****...
Terus dukung novel baru othor dengan cara vote ya.
Jangan lupa tinggalkan like juga😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 212 Episodes
Comments
@☠⏤͟͟͞R Atin 🦋𝐙⃝🦜
Tapi semoga aja Ken masih bujangan
2024-09-26
0
andi hastutty
senyum senyum sendiri bacanya hahahah
2023-01-26
4
Adi Zainal
detak napas tak terkontrol
2022-04-25
0