Aku memesan taksi dengan tujuan ke club. Jam 6 sore, club itu sudah dibuka. Club yang biasa di datangi oleh Celina dan Natasha. Aku menghampiri mobil ayla yang terparkir dipinggir jalan. Kaca mobilnya diturunkan begitu aku datang. Nampak laki - laki paruh baya seusia papaku.
"Neng Jenifer yah,,?" Tanya sambil melihat aplikasi di ponselnya.
"Iya pak,," Aku langsung membuka pintu belakang dan duduk di sana dengan menyenderkan tubuhku.
"Sesuai aplikasi ya neng,,," Ujarnya.
"Iya,," Aku menjawab singkat. Ku lihat dia memperhatikanku dari kaca spion. Tatapannya terlihat prihatin padaku. Bagaimana tidak, gadis belia seusia ku akan menyambangi tempat terlarang yang seharusnya tidak aku datangi. Mungkin begitu pikirnya.
"Masih sekolah neng,,?" Tanyanya sopan dan hati - hati. Mungkin dia tidak mau membuatku tersinggung.
Sepertinya pak driver sangat penasaran denganku. Aku memasukan ponsel yang sejak tadi ku mainkan, lalu menatap pak driver dari kaca spion.
"Masih pak, kelas 3 SMA,," Jawabku.
"Berarti seumuran sama anak ke tiga saya neng. Anak saya juga kelas 3 SMA. Tapi sambil kerja jaga toko setelah pulang sekolah. Biaya daftar kuliah sekarang mahal neng, saya juga harus bekerja ekstra dari pagi sampai malam buat nambahin daftar kuliah,,, Jadi supir majikan sekaligus driver taksi. Hasilnya pun dibagi dua sama yang punya mobil,," Tuturnya panjang lebar.
Aku diam mendengarkan curhatan pilu pak driver. Hatiku sedikit tersentuh. Aku tau setiap orang tua akan bekerja keras tak mengenal waktu demi keluarga dan masa depan anaknya.
Aku bisa memahami pak driver yang tidak punya waktu untuk keluarganya. Bekerja dari pagi sampai malam saja dia masih kekurangan. Aku yakin anak mereka bisa memaklumi dan malah bangga padanya.
Tapi lain cerita denganku. Kedua orang tuaku masih bisa mendapatkan pundi - pundi dolar meskipun mereka hanya bekerja beberapa jam saja, karena mereka sudah punya asisten dan orang kepercayaan yang bisa menghandle pekerjaan mereka. Namun tetap saja, mereka enggan meluangkan waktunya untukku. Selalu sibuk memikirkan untuk terus mengembangkan bisnisnya yang sudah merambah ke luar negeri.
"Aduh,, maaf ya neng. Saya jadi nggak enak karna tiba - tiba curhat. Habisnya liat si eneng, jadi ke ingat sama anak saya,,," Katanya. Aku bisa merasakan penyesalan dalam permintaan maafnya.
"Nggak apa - apa pak,,, santai saja. Saya boleh minta nomor rekening bapak.?" Aku berencana akan memberikan sedikit uang jajanku untuk pak driver. Aku ingin membuat anaknya semakin bangga pada beliau karna mendaftarkan kuliahnya.
"Buat apa neng,,,?"
"Saya ada sedikit uang buat tambahan daftar kuliah anak bapak,," Kataku.
Wajah pak driver berubah, dia seperti menahan malu dan terlihat salah tingkah.
"Ya ampun nggak usah neng. Saya cuma cerita, nggak maksud buat dikasihani neng. Alhamdulillah saya masih sehat dan mampu cari rezeki dengan keringat saya neng."
Aku tau pak driver tidak memiliki tujuan seperti itu. Murni ingin bercerita karna melihat ku yang seumuran dengan anaknya namun sudah berkeliaran ke club.
"Rejeki nggak boleh di tolak loh pak,, kata orang sih pamali."
Aku terus membujuk si bapak untuk memberikan nomor rekeningnya padaku. Dengan usaha yang ekstra, akhirnya bapak itu mau memberikan nomor rekeningnya.
Mobil yang aku tumpangi sudah terparkir di depan club, tapi aku belum juga turun karna sedang mentransfer uang untuk pak driver.
"Sudah saya transfer ya pak. Semoga nanti kuliah anak bapak lancar dan jadi orang sukses,,," Kataku. Ku masukan kembali ponselku kedalam tas.
"Aamiin,, makasih banyak ya neng,," Ujarnya dengan mata yang berkaca - kaca. Kemudian beliau melihat notifikasi yang masuk si ponselnya.
"Masya Allah neng,,, Alhamdulillah Ya Allah. Ini beneran neng, nggak salah transfernya,,?" Katanya dengan berurai air mata. Aku jadi ikut menangis karna terbawa sedih.
"Makasih neng,,, ini lebih dari cukup buat daftar kuliah anak saya neng. Sekali lagi makasih. Semoga kebaikan neng dibalas oleh Tuhan. Semoga neng dan keluarga selalu sehat dan bahagia,,,"
Si bapak terus mengucapkan do'a untukku.
"Amin,,, sama - sama pak." Kataku.
Aku memberikan tiga lebar uang padanya. Lagi - lagi pak driver menolak. Dia bilang uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup, jadi tidak perlu lagi membayar ongkos taksinya. Namun aku kembali memaksanya.
Aku masih menangis selepas kepergian pak driver tadi. Aku merasa hidupku semakin menyedihkan.
Untuk sebagian orang lain, uang yang tak seberapa jumlahnya itu sangat berarti. Bahkan tadi nampak raut kebahagiaan diwajah bapak driver itu saat menerimanya. Tapi hal itu berbanding terbalik denganku. Aku benci dengan semua yang aku miliki, karna uang, kedua orang tua ku jadi mengabaikan ku.
"Hai cantik,,, kok diluar aja,,? Masuk yuk,,,"
Aku menghapus air mataku, lalu menoleh pada pria yang berbicara padaku. Aku memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Masih muda, sepertinya usianya tidak jauh dari kak Nicho.
Lumayan, keren dan sedikit tampan.
Batinku.
Aku tersenyum ramah padanya.
"Leo,,," Ucapnya mengenalkan diri sembari mengulurkan tangan padaku.
"Leonard,,," Katanya lagi. Mungkin karna aku tak kunjung membalas uluran tangannya.
"Jenifer,, panggil Jeje aja,," Kataku, lalu menjabat tangannya. Dia tersenyum padaku, senyumnya manis, mengingatkan ku pada om Kenzo.
Hufftt,,, menyebalkan.!
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Gombalnya dengan tawa kecil. Aku hanya ikut tertawa.
"Abis putus ya.? Sampai nangis begitu pas keluar dari mobil,,," Sambungnya lagi.
Aku menatapnya bingung, ternyata sejak tadi dia memperhatikanku.
"Iya nih. Wajah doang boleh cantik, tapi nasibnya tragis,,," Sahutku dengan candaan.
"Kamu bisa aja. Tenang aja masih ada aku. Masuk yuk,,,"
Aku mengikuti langkah Leo, dia memesan wine pada bartender dan membawaku ke sudut ruangan yang gelap, jauh dari keramaian. Aku menutup kuping, rasanya gendang telingaku akan pecah mendengar dentuman musik DJ yang menggema. Pengunjung disini belum banyak, mungkin karna masih sore.
"Kenapaaaa,? Berisik yaa,,,?" Tanya Leo. Dia berteriak di sampingku. Aku mengangguk.Sepertinya sudah menggunakan tenaga dalam, tapi suaranya masih kalah dengan musik di ruangan ini.
Aku dan Leo duduk bersebelahan di sofa panjang. Suasana yang gelap membuatku merasa sesak untuk bernafas.
"Jangan bilang kamu baru pertama kali datang kesini,,," teriaknya di telingaku.
"Iyaa,, ini pertama kali aku kesini,,,!" Jawabku. Tanpa ragu, aku juga berteriak di telinganya.
Aku lihat Leo mengulas senyum nakal, tapi tidak aku pedulikan. Wine pesanan Leo sudah datang, dia menuangkan untuk ku dan juga untuknya sendiri.
"Minum sayang,,,!" Serunya.
Dia menyodorkan gelas kecil itu padaku. Aku ragu menerimanya, namun akhirnya aku menerima gelas itu. Aku juga penasaran seperti apa rasanya
Aku mulai meneguknya sedikit, namun saat itu juga aku langsung memuntahkannya. Rasanya sangat aneh di mulutku, tidak enak dan terasa panas.
"Astaga Je,, kamu nggak apa - apa.?" Leo terlihat panik. Dia memanggil pelayan dan memesankan air meneral untukku.
"Nggak apa - apa Le, aku belum terbiasa,," Jawabku.
"Minum dulu Je,,," Aku menerima botol mineral di tangannya. Meneguk air mineral itu untuk menetralisir mulutku yang tidak karuan.
Leo tidak lagi menyuruhku minum, namun dia terlihat asik menenggak minumannya. 1 botol wine sudah habis ditenggak olehnya. Aku menggelengkan kepala, bisa - bisanya Leo menghabiskan minuman tak enak itu dengan cepat.
"Je,,," Panggilnya. Aku menoleh, Leo menatapku begitu dalam, pandangan matanya seperti sedang menelanjangiku.
"Apa,,,?"
Leo mendekatkan wajahnya.
"Cek in yuk,,," Bisiknya. Namun tangan Leo mulai nakal, menyusup dibalik dress mini yang aku kenakan.
"Leo.!" Aku menahan tangannya, dia hampir saja menyentuh milikku.
"Why,,,?" Leo meminta penjelasan. Namun sebelum aku menjawab, dia sudah membungkam mulutku dengan ciuman panasnya.
"Leoo,,,," Desahan ku lolos begitu saja saat Leo m******p leherku. Perlahan Leo membaringkanku, aku menurut begitu saja karna terbuai oleh cumbuannya.
Buuuggghhh,,,,!!!
Aku membelalakan mata saat melihat Leo yang sudah tersungkur dilantai akibat tinjuan dan tarikan dari seseorang.
"Brengs*k,,,! Siapa kau,,!" Umpat Leo tak terima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 212 Episodes
Comments
nobita
siapa lagi klau bukan si Kenzo...
2025-01-23
0
Firan Senja
thats my herooo...
2024-12-30
0
juhaina R💫💫
pastiiii om Ken kan....
2024-02-17
0