Chapter 20 – Cabut Akar Takdir

Langkah mereka bertiga bergema di ruang putih yang tak berujung.

Shen Xi berjalan paling depan, matanya terpaku pada titik hitam di kejauhan yang perlahan tumbuh menjadi sebuah pintu melingkar raksasa.

Lu San menyusul di belakangnya, diam, sementara Ling Yue berjalan sambil sesekali melirik sekeliling, rasa tidak nyaman memenuhi pikirannya.

“Gerbang itu…” Shen Xi berhenti, berdiri tepat di bawah bayangan pintu hitam yang kini menjulang hingga langit putih yang tidak memiliki batas.

Dia mengangkat tangan kirinya.

Di sana ada simbol yang mulai terbentuk di punggung telapak tangannya—garis spiral yang meliuk seperti akar pohon.

Tanda itu perlahan menyala, lalu pintu hitam bergetar pelan.

Lu San menghela napas.

“Benih Takdir… Tempat asal semua narasi yang berjalan.”

Shen Xi menoleh sekilas, senyum tipisnya seperti biasa menghiasi wajah.

“Tunggu sampai kau melihat bagian dalamnya.”

Ling Yue meneguk ludah.

Dia merasa ada sesuatu di balik pintu itu, sesuatu yang bahkan dengan kekuatannya sekarang terasa seperti… dasar dari semua rasa takut.

GUBRAK!

Pintu hitam itu terbuka perlahan.

Suara beratnya menggemuruh, bergema ribuan kali lipat.

Gelombang energi hitam melesat keluar seperti kabut tebal.

Namun, di balik kabut itu, mereka bertiga bisa melihat sebuah jalan setapak yang bercahaya merah redup.

Tanpa banyak bicara, mereka melangkah masuk.

Begitu mereka menyeberangi ambang pintu, udara seolah berubah.

Waktu tidak lagi lurus.

Setiap langkah yang mereka ambil, mereka merasa melangkah ke depan… sekaligus mundur… dan ke samping… semua di saat yang sama.

Ling Yue hampir kehilangan keseimbangan, tapi Shen Xi menangkap pundaknya.

“Jangan pikirkan alurnya,” kata Shen Xi.

“Di sini, logika tidak bekerja. Ikuti saja nalar instingmu.”

Lu San tampak tenang, meskipun sesekali pupil matanya berputar aneh, mencerminkan distorsi realitas di sekitarnya.

Di ujung jalan, mereka tiba di sebuah dataran melingkar.

Di tengah dataran itu… berdiri Pohon Benih Takdir.

Berbeda dengan Pohon Akibat sebelumnya yang menjulang dan bercabang, pohon ini kecil, setinggi manusia biasa.

Namun, batangnya seperti terbuat dari cahaya murni, akar-akarnya membenam dalam ruang kosong, dan tiap daunnya bersinar seperti fragmen bintang.

Ling Yue terpana.

“Inikah… asal semua takdir?”

Lu San melangkah mendekat, mengulurkan tangannya.

Namun, sebelum ia sempat menyentuh pohon itu, suara berat menggetarkan udara.

“Berhenti.”

Dari balik kegelapan, muncul sosok berjubah panjang berwarna abu-abu kabur, wajahnya tersembunyi di balik tudung lebar.

Tubuhnya tidak benar-benar menyentuh tanah.

Dia melayang, tetapi tidak tampak ringan—seperti planet yang mengambang dalam kekosongan.

“Siapa kau?” tanya Lu San dengan datar.

“Aku… adalah Penjaga Akar,” jawab suara itu.

“Selama jutaan siklus, aku menjaga Benih Takdir tetap tumbuh.”

Shen Xi tertawa kecil.

“Lalu kenapa sekarang muncul? Waktu kami memutus Sebab Akibat, kau diam saja.”

“Aku hanya menjaga Akar, bukan Cabang,” jawabnya.

Lu San mendekat satu langkah.

“Kami akan mencabut Akar itu. Kami akan menghapus Takdir.”

Penjaga Akar menunduk sedikit.

“Jika Akar dicabut, semesta akan kehilangan arah. Bukan hanya masa lalu atau masa depan yang hilang, tapi semua… makna.”

Ling Yue melangkah maju.

“Itu tujuan kami.”

Penjaga itu terdiam, lalu mengangkat tangannya.

“Kalau begitu… bertahanlah.”

Dari balik jubah abu-abu itu, muncul sesuatu yang aneh.

Tangannya bukan daging, melainkan kumpulan aksara bercahaya.

Aksara-aksara itu berputar membentuk pedang tipis.

Lu San mengangguk pelan.

“Sudah lama sejak terakhir kali aku bertarung.”

Shen Xi tersenyum.

“Anggap saja pemanasan sebelum Rewrite selesai.”

Penjaga Akar menyerang lebih cepat dari yang bisa diduga.

Pedangnya mengiris ruang, membelah dimensi.

Ling Yue nyaris terkena, tapi Lu San menangkis serangan itu dengan dua jari saja.

“CRAAANG!”

Percikan aksara terbang ke segala arah, jatuh ke tanah seperti serpihan puing narasi yang telah mati.

Shen Xi mengayunkan tangannya ke udara, menciptakan formasi lingkaran simbol kuno.

Lingkaran itu melepaskan gelombang getaran, memaku Penjaga Akar di tempat.

Namun, Penjaga itu berbalik arah dengan tiba-tiba, memutar tubuhnya seperti pusaran, dan melepaskan badai huruf bercahaya.

Lu San mengayunkan tangan, menciptakan dinding yang terbuat dari hukum realitas.

Badai huruf itu menabrak dinding, membuat retakan seperti kaca pecah.

“Dia tidak bertarung seperti makhluk lain,” gumam Ling Yue.

“Dia bertarung seperti… cerita yang dihapus.”

Penjaga Akar bergerak cepat, namun Lu San lebih cepat.

Dalam satu kedipan mata, Lu San telah ada di belakangnya.

Jari-jarinya menusuk punggung Penjaga, menembus jubah dan mengoyak simbol di dalamnya.

Penjaga itu mengerang pelan, lalu tubuhnya mulai hancur seperti lembaran naskah yang terbakar.

Sebelum lenyap, dia sempat berkata,

“Jika Akar dicabut… bahkan kalian… tidak akan lagi disebut ‘Ada’.”

Lu San menatapnya datar.

“Itulah yang kami mau.”

Penjaga Akar lenyap menjadi abu cahaya.

Sunyi kembali melingkupi tempat itu.

Ling Yue menatap Pohon Benih Takdir.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Shen Xi melangkah ke akar pohon, lalu menunduk.

“Akar ini tumbuh karena ‘Makna’.”

Dia menengadahkan tangan, dan pena hitam legam itu muncul lagi.

“Kita hapus Makna itu,” ucapnya sambil menulis di udara:

“Takdir: Tidak Ada.”

Tulisan itu melayang ke pohon.

Akar-akar pohon mulai melonggar, seperti kehilangan pegangan.

Cahaya yang dulu bersinar dari batangnya mulai padam.

Satu per satu, daunnya gugur dan lenyap sebelum menyentuh tanah.

Lu San melangkah ke batang pohon, lalu meraih akarnya.

“Siap?”

Ling Yue ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk.

“Kita sudah sampai sejauh ini.”

Lu San mencabut akarnya.

Pohon itu hancur seketika, berubah menjadi debu cahaya.

Dan pada saat itu juga, sesuatu berubah.

Segalanya menjadi… kosong.

Bukan kosong seperti ruang hampa… tapi kosong dari arti.

Tak ada lagi ‘kenapa’.

Tak ada lagi ‘karena’.

Mereka masih berdiri di sana… tapi mereka tidak tahu kenapa mereka berdiri.

Mereka bergerak… tanpa alasan.

Mereka ada… tanpa maksud.

Ling Yue berusaha berbicara, tapi suaranya hanya keluar sebagai bunyi tanpa konteks.

Shen Xi menulis sesuatu di udara, tapi kata-katanya hanya bentuk, tidak punya arti.

Namun, Lu San tersenyum.

Dia tahu inilah yang mereka cari.

Tanpa Sebab.

Tanpa Akibat.

Tanpa Takdir.

Tinggal satu langkah lagi.

Satu langkah menuju Rewrite.

--------

Bersambung.....

Episodes
1 1.Awal Mula
2 2. Sang Wanita dan takdir klise
3 3. Membalikan Keadaan
4 4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5 5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6 6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7 7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8 8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9 9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10 10. Bayangan Di Balik Pena
11 11. Pena Yang Terbelah
12 12. Percakapan Di Ujung Realitas
13 13. Perpustakaan Tanpa Nama
14 14. Dibalik Halaman Putih
15 Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16 Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17 Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18 Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19 Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20 Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21 Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22 Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23 Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24 Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25 Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26 Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27 Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28 Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29 Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30 Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31 Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32 Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33 Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak
Episodes

Updated 33 Episodes

1
1.Awal Mula
2
2. Sang Wanita dan takdir klise
3
3. Membalikan Keadaan
4
4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5
5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6
6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7
7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8
8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9
9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10
10. Bayangan Di Balik Pena
11
11. Pena Yang Terbelah
12
12. Percakapan Di Ujung Realitas
13
13. Perpustakaan Tanpa Nama
14
14. Dibalik Halaman Putih
15
Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16
Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17
Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18
Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19
Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20
Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21
Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22
Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23
Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24
Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25
Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26
Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27
Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28
Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29
Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30
Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31
Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32
Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33
Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!