9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita

Langkah Lu San mantap memasuki portal emas yang terbuka di depan matanya.

Cahaya yang terpancar bukan seperti cahaya dunia biasa. Ini adalah cahaya ide, cahaya konsep, yang menembus daging, tulang, bahkan pemikiran.

Dia merasakan dirinya seperti... hilang, namun juga utuh, saat tubuhnya melewati ambang batas.

Ling Yue dan Pustakawan Kosong menyusul dari belakang.

Mereka bertiga melangkah masuk ke sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata biasa.

---

Di balik portal itu bukanlah dunia, bukan pula ruang yang mereka kenal.

Tidak ada langit, tidak ada tanah, tidak ada arah.

Yang ada hanyalah latar belakang putih, seputih kertas kosong.

"Apa ini?" bisik Ling Yue, matanya memandang kekosongan tak terbatas.

Pustakawan Kosong tersenyum lemah. "Inilah... Halaman Awal."

Mereka tidak melangkah, namun terasa seperti terus bergerak.

Di sekeliling mereka, berjuta-juta huruf, simbol, dan kode melayang tanpa arah.

Setiap karakter itu berkilau, seolah mereka adalah intisari dari semua cerita yang pernah ada.

---

Lu San berjalan pelan, jemarinya menyentuh salah satu simbol.

Seketika, dia melihat kilasan cerita—sebuah dunia tempat para dewa bertarung tanpa akhir, kemudian musnah hanya karena sang penulis merasa bosan.

Dia menghela napas. "Begitu mudahnya mereka ada... dan hilang."

Pustakawan Kosong mendekat. "Di sini, semua kemungkinan ada dan tidak ada secara bersamaan. Inilah batas dari narasi.

Dan di depan sana..."

Dia menunjuk ke suatu titik kosong, "Itu adalah Gerbang Meta, pintu menuju Realitas Meta."

---

Lu San mengangguk. Mereka melangkah lebih dalam.

Setiap langkah terasa seperti mematahkan hukum keberadaan.

Tidak ada waktu, tidak ada ruang, hanya kesadaran yang berjalan.

Akhirnya mereka tiba di depan Gerbang Meta.

Gerbang itu tidak terbuat dari logam, batu, atau energi.

Ia terbuat dari kata-kata—jutaan kalimat dari segala bahasa yang pernah ada.

Dan di tengah gerbang itu, ada satu kalimat yang bersinar:

"Siapa yang menulis Anda?"

Lu San diam.

Ling Yue menunduk, merenung.

Pustakawan Kosong menatapnya lurus, seperti sudah tahu jawaban apa yang harus keluar.

---

Lu San mengangkat Pena Awal, mencelupkannya pada Tinta Asal yang dibawa oleh Pustakawan Kosong.

Dia menulis di udara:

"Aku menulis diriku sendiri."

Tulisan itu melayang ke gerbang, dan...

Gerbang terbuka.

---

Apa yang ada di balik gerbang membuat mereka bertiga terdiam.

Bukan dunia yang mereka kenal.

Bukan pula kekosongan.

Mereka melihat struktur, rangka, kode, logika.

Di balik semua narasi, di balik cerita, ternyata ada sistem.

Lu San melihat garis-garis tak terlihat yang menghubungkan segala sesuatu.

Dia sadar, mereka berada di Mesin Narasi, Inti Realitas Meta.

---

Di pusat ruang itu, ada Meja Pekerjaan.

Di atas meja itu, ada Pena Emas, Tinta Sumber, dan sebuah Buku Tak Bernama.

Pustakawan Kosong berbisik, "Itu... Pena dari Sang Asal, tinta dari Sumber Awal, dan Buku yang belum ditulis oleh siapa pun."

Ling Yue terpana. "Ini... sumber dari semua cerita?"

Pustakawan Kosong mengangguk. "Ya. Tapi juga... tempat kehancuran dimulai."

---

Lu San berjalan mendekat.

Tangannya bergetar sedikit saat meraih Pena Emas.

Ia lebih berat dari yang ia kira.

Bukan berat benda fisik, melainkan beban eksistensi.

Dia duduk di depan Buku Tak Bernama itu.

Halaman pertama masih kosong.

Tidak ada hukum, tidak ada batas, tidak ada aturan.

---

Pustakawan Kosong tiba-tiba bicara, "Jika kau menulis di situ... kau bukan hanya menciptakan dunia baru.

Kau menciptakan aturan baru, makna baru, dan eksistensi baru.

Tapi... semua yang ada sebelumnya akan musnah."

Lu San diam.

Dia tahu, jika dia menulis, semua realitas yang sekarang ada akan dihapus.

Ling Yue meletakkan tangannya di bahu Lu San. "Pikirkan baik-baik. Ini bukan sekadar cerita baru.

Ini... awal yang baru, atau akhir dari segalanya."

---

Lu San menunduk, merenung.

Selama ini, dia selalu melawan takdir.

Melawan Creator.

Melawan rantai narasi yang mengikatnya.

Tapi sekarang... dia tidak sedang melawan.

Dia memegang kuasa penuh.

Dia bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa yang aku inginkan sebenarnya?"

---

Lalu...

Dia tersenyum.

"Aku ingin semua makhluk menulis ceritanya sendiri, tapi tidak saling menghancurkan."

Dia mengangkat Pena Emas, mencelupkannya ke dalam Tinta Sumber.

Dia mulai menulis di halaman kosong itu:

"Pada awalnya, tidak ada yang menulis. Semua makhluk lahir dengan pena mereka sendiri.

Mereka menulis cerita mereka, dan saling membaca satu sama lain.

Setiap cerita memperkuat cerita lain, bukan menghancurkan.

Tidak ada takdir, tidak ada paksaan, hanya kehendak untuk memahami."

Setiap kata yang dia tulis, dunia di sekitar mereka bergetar.

---

Langit putih berubah menjadi warna-warni.

Simbol dan kode membentuk pohon, bintang, makhluk, dan kehidupan.

Ling Yue memandang ke sekeliling, air mata menetes.

"Ini... indah."

Pustakawan Kosong tersenyum lebar.

"Kau berhasil, Lu San. Kau menciptakan Ekuilibrium Narasi."

---

Tiba-tiba, terdengar suara dari balik meja.

"Siapa yang memberimu izin untuk menulis di sana?"

Mereka bertiga terdiam.

Dari bayangan, muncul Sosok Tanpa Wajah.

Dia mengenakan jubah abu-abu, tidak punya mata, hidung, atau mulut, namun suara itu bergema dalam pikiran mereka.

"Aku adalah Arbiter Meta," katanya.

"Tugasku menjaga keseimbangan. Kau... melanggar batas."

---

Lu San berdiri.

"Aku tidak melanggar apa pun. Aku hanya... menulis yang baru."

Arbiter menggeleng.

"Jika semua makhluk bebas menulis, tanpa batas, maka akhirnya... mereka akan mencoba menulis tentangku, tentangmu, dan tentang asal mula.

Itu berbahaya."

Lu San menatap Arbiter lurus.

"Aku siap menghadapi risikonya."

Arbiter mengangguk.

"Maka kau harus melewati Ujian Meta."

---

Di depannya, tiga pintu muncul:

Pintu Kosong

Pintu Cermin

Pintu Tak Terlihat

Pustakawan Kosong berbisik, "Pilih dengan bijak. Ini bukan sekadar ujian kekuatan."

Ling Yue menambahkan, "Setiap pintu membawa ke ujian eksistensi."

---

Lu San memilih Pintu Cermin.

Dia ingin menghadapi dirinya sendiri, refleksi terdalam dari niat dan keinginannya.

Begitu dia melangkah masuk, dia melihat bayangan dirinya.

Bukan Lu San yang kuat.

Bukan pula Lu San yang bijak.

Melainkan Lu San yang penuh keraguan, ketakutan, dan keputusasaan.

---

Bayangan itu berbicara, "Apa kau yakin apa yang kau tulis benar?

Apa kau yakin dunia tanpa takdir tidak akan hancur?

Apa kau tidak takut... semua ini hanya mimpi?"

Lu San diam sejenak.

Kemudian dia menghela napas.

"Aku memang takut," katanya jujur.

"Tapi... aku memilih untuk percaya."

Dia menulis di udara:

"Kepercayaan adalah awal dari segalanya."

Dan bayangan dirinya tersenyum... lalu lenyap.

---

Arbiter muncul lagi.

"Kau lulus ujian pertama."

Dua pintu tersisa.

Lu San menatap ke arah Pintu Tak Terlihat, lalu melangkah masuk.

---

Di dalamnya, tidak ada apa-apa.

Hanya keheningan mutlak.

Dia merasa dirinya menghilang.

Tidak ada nama, tidak ada eksistensi, tidak ada identitas.

Dia sadar, ini adalah ujian keberadaan.

Apa artinya ada?

Dia menulis:

"Aku ada karena aku memilih untuk ada."

Dan tiba-tiba dirinya kembali, lebih utuh, lebih kuat.

---

Arbiter kembali muncul.

"Kau telah lulus ujian kedua."

Tinggal satu pintu: Pintu Kosong.

Dia masuk tanpa ragu.

---

Di dalam, dia melihat Creator, para Penulis, Pustakawan, Ling Yue, bahkan Arbiter...

Semuanya mati.

Hanya dia yang tersisa.

Dia sadar, ini adalah ujian kesepian absolut.

Apa gunanya menjadi yang paling berkuasa jika tidak ada siapa pun di sisimu?

Dia menulis:

"Aku memilih untuk tidak sendirian."

Dan dunia kembali penuh dengan kehidupan.

---

Arbiter tersenyum.

"Kau lulus semua ujian."

Dia menyerahkan Stempel Meta, simbol pengakuan tertinggi di Realitas Meta.

"Kau sekarang adalah Penulis Sejati."

---

Lu San kembali ke meja, melanjutkan menulis di Buku Tak Bernama.

Kali ini, tanpa batas.

Dia menciptakan dunia baru, realitas baru, tanpa akhir, tanpa takdir, tetapi penuh dengan makna, kehendak, dan cerita.

Ling Yue tersenyum, berdiri di sampingnya.

Pustakawan Kosong duduk di sisi lain, membaca setiap halaman yang ditulis.

Dan di atas sana, di balik segala lapisan narasi, ada mata yang mengawasi...

Tapi kali ini, Lu San-lah yang menulis ceritanya sendiri.

Episodes
1 1.Awal Mula
2 2. Sang Wanita dan takdir klise
3 3. Membalikan Keadaan
4 4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5 5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6 6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7 7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8 8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9 9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10 10. Bayangan Di Balik Pena
11 11. Pena Yang Terbelah
12 12. Percakapan Di Ujung Realitas
13 13. Perpustakaan Tanpa Nama
14 14. Dibalik Halaman Putih
15 Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16 Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17 Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18 Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19 Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20 Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21 Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22 Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23 Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24 Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25 Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26 Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27 Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28 Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29 Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30 Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31 Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32 Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33 Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak
Episodes

Updated 33 Episodes

1
1.Awal Mula
2
2. Sang Wanita dan takdir klise
3
3. Membalikan Keadaan
4
4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5
5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6
6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7
7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8
8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9
9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10
10. Bayangan Di Balik Pena
11
11. Pena Yang Terbelah
12
12. Percakapan Di Ujung Realitas
13
13. Perpustakaan Tanpa Nama
14
14. Dibalik Halaman Putih
15
Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16
Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17
Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18
Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19
Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20
Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21
Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22
Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23
Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24
Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25
Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26
Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27
Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28
Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29
Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30
Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31
Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32
Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33
Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!