2. Sang Wanita dan takdir klise

Suasana di kota itu tak jauh berbeda dari dunia immortal lainnya. Hiruk-pikuk pedagang yang menawarkan barang-barang mereka, suara anak-anak kecil yang berlarian, serta aroma makanan yang menggoda tercium di setiap sudut jalan. Semua tampak begitu nyata, begitu hidup. Tapi bagi Lu San, semuanya hanyalah pola yang telah dia lihat jutaan kali sebelumnya.

“Dunia ini... rekaan yang sangat sempurna,” gumamnya, melangkah perlahan di antara kerumunan.

Dia menyesuaikan langkahnya, menghindari takdir yang terasa menjerat di sekitarnya. Dia tahu, setiap pergerakan di dunia ini bisa saja sudah direncanakan oleh sang Creator. Meski begitu, dia tetap memilih untuk berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang mengaturnya.

Namun, takdir tetaplah takdir.

Bruggh!

Seseorang menabraknya dari belakang. Sebuah tubuh mungil terpental, terjatuh ke tanah dengan suara pelan. Di tangannya, sebuah gulungan bambu jatuh tergelincir, hampir menggelinding ke selokan sebelum gadis itu dengan cepat menangkapnya.

“Aduh...” Gadis itu meringis, memegang lututnya yang lecet. Namun, tatapannya tetap tegas, matanya bersinar dengan keteguhan yang aneh.

Lu San memandangi gadis itu tanpa berkata-kata. Ini... terlalu klise. Di dunia seperti ini, bertemu seseorang di tengah jalan, lalu melibatkan diri dalam takdir panjang yang rumit, adalah plot yang sudah ia tebak sejak awal.

Dia menghela napas.

“Maaf,” ucap gadis itu buru-buru, membungkuk singkat, lalu bersiap pergi. Tapi Lu San, untuk pertama kalinya, merasa ada sesuatu yang berbeda. Gulungan itu. Dia tidak merasakan energi spiritual, tidak ada pola Dao, bahkan tidak ada aliran karma di dalamnya.

Kosong.

Seolah-olah benda itu... tidak ditulis oleh narasi manapun.

“Sebentar,” ucap Lu San, langkahnya menghalangi gadis itu. “Boleh aku lihat gulungan itu?”

Gadis itu tampak waspada. “Tidak! Ini milikku! Aku harus membawanya ke... ke tempat yang aman!”

Tatapannya keras, tangannya erat menggenggam gulungan bambu itu seolah nyawanya bergantung padanya.

Namun, sebelum Lu San sempat bertanya lebih jauh, angin kencang tiba-tiba bertiup. Langit berubah kelam, awan hitam menggulung seperti pusaran neraka. Suara raungan naga dan teriakan burung gagak bersatu, menciptakan atmosfer mencekam di atas kota.

“Ah, akhirnya muncul,” gumam Lu San pelan, senyumnya tipis.

Beberapa sosok berjubah hitam melayang turun dari langit. Ada tujuh dari mereka, semuanya memancarkan aura pembunuh yang berat. Orang-orang di kota itu langsung panik, berhamburan lari meninggalkan pasar, meninggalkan harta dan dagangan mereka tanpa ragu.

Salah satu pria berjubah maju, wajahnya tertutup, namun suaranya dingin dan penuh kebencian.

“Serahkan gulungan itu, atau kota ini hancur dalam waktu tiga napas.”

Lu San melirik gadis itu. Tubuhnya gemetar, namun dia tidak mundur. Dia mengencangkan pelukannya pada gulungan bambu itu. Meski takut, dia tetap berdiri.

“Kau benar-benar keras kepala,” komentar Lu San santai. “Apa isi gulungan itu sampai orang-orang seperti mereka turun tangan?”

Gadis itu tak menjawab. Napasnya memburu, keringat menetes di pelipisnya.

Sementara itu, ketujuh pria itu mulai bersiap menyerang. Aura pembunuh mereka membentuk pusaran, menekan udara hingga membuat orang-orang tercekik.

Lu San menghela napas malas.

“Ah, ini membosankan.”

Dia mengangkat tangan kanannya pelan. Satu jentikan jari, dan waktu di sekelilingnya berhenti. Bukan hanya gerakan, tetapi eksistensi mereka seperti membeku. Ketujuh pria berjubah hitam itu tiba-tiba membatu, tubuh mereka retak seperti porselen pecah.

Crack!

Dalam sekejap, mereka hancur berkeping-keping, lenyap tanpa sisa, seperti mereka tak pernah ada.

Waktu kembali mengalir normal. Angin berhembus lembut, langit kembali cerah. Orang-orang yang semula berlari panik tiba-tiba tersadar, bingung karena ancaman itu seolah menghilang begitu saja.

Lu San menurunkan tangannya, lalu menatap gadis itu dengan tenang.

“Sekarang, ceritakan siapa kamu dan apa isi gulungan itu.”

Gadis itu gemetar. Matanya membelalak, jelas-jelas baru sadar siapa sebenarnya pria di depannya. Tapi, dia tetap berusaha tenang, menarik napas panjang.

“Namaku... Ling Yue. Aku... pewaris terakhir Klan Penjaga Gerbang.”

“Penjaga Gerbang?” Lu San mengernyit. Nama itu baru pertama kali ia dengar, padahal dia tahu semua garis keturunan yang pernah ada di triliunan semesta.

Ling Yue membuka gulungan bambu perlahan. Tulisan kuno yang aneh mulai muncul. Tidak ada energi, tidak ada aura Dao. Hanya karakter-karakter asing, yang bahkan Lu San tak kenali.

Namun, ada satu kalimat yang langsung menarik perhatiannya.

“Kunci menuju Domain Realitas.”

Episodes
1 1.Awal Mula
2 2. Sang Wanita dan takdir klise
3 3. Membalikan Keadaan
4 4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5 5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6 6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7 7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8 8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9 9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10 10. Bayangan Di Balik Pena
11 11. Pena Yang Terbelah
12 12. Percakapan Di Ujung Realitas
13 13. Perpustakaan Tanpa Nama
14 14. Dibalik Halaman Putih
15 Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16 Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17 Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18 Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19 Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20 Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21 Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22 Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23 Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24 Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25 Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26 Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27 Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28 Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29 Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30 Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31 Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32 Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33 Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak
Episodes

Updated 33 Episodes

1
1.Awal Mula
2
2. Sang Wanita dan takdir klise
3
3. Membalikan Keadaan
4
4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5
5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6
6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7
7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8
8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9
9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10
10. Bayangan Di Balik Pena
11
11. Pena Yang Terbelah
12
12. Percakapan Di Ujung Realitas
13
13. Perpustakaan Tanpa Nama
14
14. Dibalik Halaman Putih
15
Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16
Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17
Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18
Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19
Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20
Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21
Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22
Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23
Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24
Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25
Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26
Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27
Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28
Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29
Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30
Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31
Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32
Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33
Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!