Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama

Seribu Tahun Kedamaian yang Palsu

Seribu tahun telah berlalu sejak Lu San menjadi dunia itu sendiri.

Ling Yue hidup sebagai Penulis Pertama, membangun dunia yang bebas dari belenggu.

Kota-kota tumbuh, peradaban maju, dan tak ada batasan bagi siapa pun untuk menulis takdir mereka sendiri.

Namun, kedamaian itu adalah tipuan.

Di balik segala kebebasan itu, bayangan emas masih mengintai.

Para Editor menunggu, mencari celah, mengintip di sudut-sudut realitas.

Dan hari itu tiba.

Langit Berguncang

Suatu pagi, langit di atas Pohon Lu San—pohon tempat para Penulis menyimpan cerita mereka—retak.

Celah-celah gelap terbuka, seolah-olah halaman dunia itu sendiri sedang disobek oleh tangan tak kasat mata.

Ling Yue yang sedang menulis cerita di bawah pohon itu langsung berdiri.

Matanya menatap tajam ke langit.

“Sudah waktunya...”

Namun, yang muncul dari celah itu bukan tangan emas.

Melainkan pena hitam, panjang dan mengkilap, dengan aura kematian yang pekat.

Pena itu melayang perlahan, menusuk ke tanah di hadapan Ling Yue.

Begitu menyentuh tanah, pena itu berubah menjadi manusia.

Seorang pria berjubah kelabu, wajahnya seperti topeng porselen tanpa ekspresi.

Di dadanya, ada simbol berbentuk lingkaran tak sempurna—seolah gambar dunia yang belum selesai digambar.

Sang Penulis Tak Bernama

“Aku mencium bau pena kosong,” suara pria itu berat, seperti dua dunia bertabrakan.

Ling Yue menatap tajam.

“Siapa kau?”

“Aku? Hanya Penulis dari Dunia Tak Bernama,” jawabnya datar.

Dia melangkah maju, setiap jejak langkahnya membuat tanah di sekitarnya menghitam.

Ling Yue merasa tekanan kuat menusuk jiwanya.

“Apa maumu?”

Pria itu mendongak menatap langit.

“Mengambil kembali halaman yang bukan milikmu.”

Konflik Dimulai

Ling Yue mengangkat Pena Kosong milik Lu San, yang kini menjadi warisan sakral dunia ini.

“Dunia ini bebas. Tidak ada yang memiliki halaman ini kecuali mereka yang menulis dengan kebebasan.”

Penulis Tak Bernama tertawa pelan, namun suaranya seperti pisau yang mengiris kertas.

“Bebas? Tidak ada kebebasan. Hanya halaman yang belum diperiksa.”

Tiba-tiba, pena kelamnya menciptakan garis di udara, dan realita di sekitarnya hancur.

Bangunan-bangunan di sekitar Pohon Lu San terhapus, seolah tak pernah ada.

Orang-orang berteriak, tapi suara mereka padam dalam sekejap, menjadi diam mutlak.

Ling Yue berlari ke depan, menulis di udara dengan cepat:

“Warga kembali dan terlindungi!”

Tulisan itu menjadi cahaya putih, membentuk perisai besar yang menutupi kota.

Namun, Penulis Tak Bernama hanya mengayunkan tangannya lagi.

Perisai itu retak.

Tinta hitam dari penanya menyerap kalimat itu, mencemari makna yang sudah ditulis Ling Yue.

Pertarungan Dua Pena

Ling Yue sadar, ini bukan pertarungan kekuatan fisik.

Ini adalah pertempuran narasi.

Siapa pun yang bisa menulis lebih cepat, lebih kuat, dan lebih dalam akan mengontrol kenyataan.

Dia berlari, menulis di tanah, di udara, di tubuhnya sendiri.

“Realita ini menolak tinta hitam.”

Namun, pria itu membalas:

“Tinta hitam adalah awal dari segalanya.”

Pertarungan kata-kata mereka memecah langit, meruntuhkan gunung, dan membelah laut.

Mereka bukan sekadar menulis takdir, tapi memaksakan makna baru pada dunia yang mereka injak.

Ling Yue berkeringat, tangannya mulai gemetar.

Pena Kosong di tangannya bergetar keras, seperti menolak perintahnya.

“Kenapa sekarang?” bisiknya.

Pria berjubah kelabu itu tersenyum samar.

“Karena Pena Kosong itu bukan milikmu. Kau hanya pewaris. Pena itu... milik Lu San.”

Lu San Masih Hidup?

Ling Yue terdiam.

Dunia ini adalah Lu San.

Tapi pria ini bicara seolah Lu San masih ada sebagai sesuatu yang lain.

“Kau tahu sesuatu...” desis Ling Yue.

Penulis Tak Bernama mengangguk.

“Lu San tidak mati. Dia hanya... tertidur.”

Ling Yue mengepalkan tangan.

Dia mulai menulis sesuatu yang tidak pernah ia tulis sebelumnya.

“Lu San terbangun.”

Panggilan ke Dunia Bawah Sadar

Tinta putih dari Pena Kosong menyebar di tanah.

Getaran terasa di seluruh dunia.

Pohon Lu San menggigil, daunnya berjatuhan, namun dari batang pohon itu, cahaya mulai menyala.

Penulis Tak Bernama menyipitkan mata.

“Berani sekali kau membangunkannya.”

Ling Yue tidak peduli.

Dia terus menulis:

“Lu San mengingat dirinya.”

“Lu San kembali sebagai dirinya sendiri.”

Tanah di bawah mereka mulai terbelah.

Cahaya hitam dan putih bertabrakan di udara, menciptakan suara yang tak bisa didengar, namun terasa sampai ke tulang.

Dari dalam tanah, sebuah tangan muncul.

Tangan putih bersih, familiar.

Lalu, suara itu terdengar:

“Aku tertidur cukup lama...”

Lu San muncul perlahan dari tanah, seperti manusia biasa.

Namun, di matanya, ada bintang tak terbatas.

Lu San Kembali

Ling Yue tertegun.

Dia hampir tidak percaya bahwa pria di hadapannya adalah Lu San yang sama.

Namun, saat Lu San menoleh dan tersenyum padanya, dia tahu.

“Sudah kubilang aku bosan sendirian,” kata Lu San pelan.

Penulis Tak Bernama mengangkat penanya.

Namun, Lu San hanya mengangkat satu jari.

Jentikan.

Pena hitam itu hancur sebelum menyentuh tanah.

Pria berjubah kelabu itu mundur beberapa langkah, wajah tanpa ekspresinya retak.

“Kau... tidak seharusnya bangkit!” teriaknya.

Lu San mengangkat Pena Kosong yang baru terbentuk dari telapak tangannya.

“Aku adalah dunia ini. Aku adalah halaman yang kalian coba tulis ulang.

Sekarang giliran aku menulis cerita kalian.”

Dia menulis cepat di udara:

“Penulis Tak Bernama, pulang ke dunia asalnya dan dikunci di sana.”

Pria berjubah kelabu itu menjerit, tubuhnya berubah menjadi huruf-huruf abu-abu, lalu diserap ke dalam celah yang tiba-tiba menutup rapat.

Ling Yue berdiri terpaku.

“Lu San... kau...”

Lu San tersenyum tipis.

“Aku... baru mulai menulis ceritaku sendiri.”

Ancaman yang Lebih Besar

Namun, langit tidak cerah kembali.

Dari jauh, awan emas bergulung.

Para Editor sudah mengetahui kebangkitan Lu San.

Ling Yue menggenggam erat Pena Kosong miliknya.

“Kita gak punya waktu buat senang-senang.”

Lu San mengangguk.

“Benar. Kita mulai babak baru.”

Mereka menatap langit yang mulai bersinar emas.

Perang Dunia Realita baru saja dimulai.

...........

Bersambung.,

Episodes
1 1.Awal Mula
2 2. Sang Wanita dan takdir klise
3 3. Membalikan Keadaan
4 4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5 5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6 6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7 7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8 8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9 9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10 10. Bayangan Di Balik Pena
11 11. Pena Yang Terbelah
12 12. Percakapan Di Ujung Realitas
13 13. Perpustakaan Tanpa Nama
14 14. Dibalik Halaman Putih
15 Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16 Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17 Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18 Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19 Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20 Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21 Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22 Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23 Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24 Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25 Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26 Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27 Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28 Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29 Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30 Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31 Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32 Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33 Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak
Episodes

Updated 33 Episodes

1
1.Awal Mula
2
2. Sang Wanita dan takdir klise
3
3. Membalikan Keadaan
4
4. Pertemuan yang tidak seharusnya ada
5
5. Jejak pembaca dan bayang bayang yang terhapus
6
6. Fragmen tinta pencipta dan pintu kosong
7
7. Pena Hitam dan perang halaman terakhir
8
8. Pena Awal, tinta asal dan pena yang hilang
9
9. Dimensi meta, dunia tanpa cerita
10
10. Bayangan Di Balik Pena
11
11. Pena Yang Terbelah
12
12. Percakapan Di Ujung Realitas
13
13. Perpustakaan Tanpa Nama
14
14. Dibalik Halaman Putih
15
Chapter 15 – Cahaya Emas di Atas Segalanya
16
Chapter 16 – Penulis dari Dunia Tak Bernama
17
Chapter 17 – Serangan Pertama Para Editor
18
Chapter 18 – Rencana Rewrite Realita
19
Chapter 19 – Memutus Sebab dan Akibat
20
Chapter 20 – Cabut Akar Takdir
21
Chapter 21 – Langkah Keempat: Rewrite
22
Chapter 22 – Dunia Tanpa Narasi
23
Chapter 23 - Gerbang Perpustakaan Asal
24
Chapter 24 - Tinta Realitas dan Awal Narasi Baru
25
Chapter 25 - Benteng Narasi dan Serangan Pertama Para Pemberontak
26
Chapter 26 - Perjalanan Menuju Domain Realitas Mutlak
27
Chapter 27 - Ketika Pena Bergetar dan Takdir Berubah
28
Chapter 28 - Titik Nol: Dimulainya Realitas yang Sebenarnya
29
Chapter 29 - Para Pemberontak Kuno: Bangkitnya Ancients di Lapisan Tersembunyi
30
Chapter 30 - Gerbang yang Mengarah ke Beyond
31
Chapter 31 - Pena Tanpa Tangan, Dunia Tanpa Akhir
32
Chapter 32 - Dunia Tanpa Nama, Realitas Tanpa Batas
33
Chapter 33 - Jejak Sang Pemberontak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!