Bab 18

Jose mendapat panggilan ke mansion Alex pagi itu.

Ia berdiri didepan kamar bosnya menunggu perintah.

"Kamu urus semua yang ada dan diperlukan, pastikan jangan sampai ada kesalahan,"

"Baik bos," Jose berbalik badan.

"Tunggu...kamu urus gadis yang ada didalam," Jose menatap bosnya dengan alis berkerut. Ia akhirnya mengerti kenapa sang bos seperti orang kesetanan mengamuk, semua karena gadis yang ia bawa ke kamarnya, hmm tidak seperti biasanya, alex bukan tipe laki-laki yang mudah tertarik dengan seorang wanita, bahkan bisa dibilang ia tidak tahan berlama-lama dengan perempuan.

"Baik bos," Jawabnya singkat, tanpa ingin tahu, siapa dan dimana?

Jose berjalan menuju keruangan anak buahnya berkumpul, terlihat pria-pria berbadan tegap dan sangar tengah mengobati luka leonor.

"Ini bang ekor matanya sepertinya butuh jahitan," ucap salah satu dari pria berbadan tegap itu.

"Biar aku periksa,"

Jose datang mendekat tiba-tiba matanya menatap terkejut.

"Kamu bukan nya....!"

Ia menghentikan pertanyaan nya, melihat Leonor.

"Apaa masih sakit..?" tanya Jose dengan sangat lembut.

Leonor menatap jose dengan tatapan sendunya, dari semua pria dirumah ini baru Jose yang bersikap lembut dan ramah padanya.

"Iya," Jawab Leonor dengan mengangguk pelan.

"Tahanlah sedikit, aku akan memberikan zalf mungkin agak perih nanti,"

Mengoleskan zalf luka pada ekor mata Leonor.

Leonor meramas ujung bajunya kuat daripada meringis didepan pria asing ini.

"Kemarilah...aku akan membantu mu menunjukkan kamar untuk mu" Jose berdiri menuntun Leonor.

Sedangkan Alex duduk diruang tengah bersama beberapa orang, Leonor memilih bersembunyi dibalik badan tegap Jose, tangannya memegang ujung baju kemeja hitam JoseJose, ia sangat takut melihat tatapan Alex yang ingin menguliti nya hidup-hidup.

Alex menatap tajam kearah nya dengan menaikan kan alisnya.

"Santai saja...jangan takut tidak apa-apa," kata Jose menenangkan Leonor yang terlihat ketakutan.

Ia menunduk takut sambil memegang kuat baju Jose, Jose merupakan tangan kanan Alex ia hanya dipanggil saat Alex membutuhkan bantuan nya.

"Ini kamar kamu, kamu menempati ini untuk sementara, disamping kamar kamu ada kamar milik mbok atin dan buk ina asisten rumah tangga disini.

Kamu boleh bertanya-tanya apapun yang kamu butuhkan," kata Jose dengan tatapan mata tulus, ia sangat kasihan melihat keadaan tubuhnya yang penuh luka.

"Baiklah..hmm kalau boleh tahu siapa nama kakak?"

"Aku Jose, kamu bisa panggil Jose."

"Saya Agatha Leonor, terimakasih banyak untuk bantuan nya." Menundukkan kelapa menunjukkan hormati.

"Baik, istirahatlah aku pergi,"

Leonor terduduk di lantai kamar itu, mengingat kembali kejadian awal semua ini terjadi.

'Kenapa dia melakukan semua ini kepada ku, jujur aku tidak kuat, aku baru pertama kali melihat pria sejahat itu.'

Leonor mengusap bulir-bulir kristal yang mengalir dari pipinya, ia tidak bisa membendung semuanya lagi, rasa sakit dari sudut mata, hidung dan bibir, yang terluka membuat nya meratapi nasib, seumur hidup baru kali ini dia merasakan sakit dengan luka yang begitu dalam.

Didalam kamar itu hanya ada sebuah karpet, satu bantal, dan selimut tipis, dan ada satu lemari khusus.

"Tidak apa-apa!..aku lebih memilih dikamar ini daripada harus bertemu dengan pria itu,"

Leonor membenahi dirinya, dan membersihkan ruangan kamar itu supaya bisa dikatakan layak huni.

Setidaknya tidak ada lipan, kecoa, dan binatang-binatang melata lain nya, yang datang bertamu kedalam kamarnya nanti.

Kamar yang ditempati oleh leonor adalah kamar paling belakang di mansion itu, kamar dekat pencucian, tempat terkucil kan, dan disamping gudang penyimpanan barang-barang.

Bu ina belum menyadari apapun yang terjadi, karena ia baru pulang belanja bulanan untuk rumah besar alex, kadang wanita itu pergi pagi-pagi sekali dan pulang kadang sore, ia juga terkadang mendapat perintah membersihan rumah alex yang ada ditengah hutan.

Bu ina baru sampai dan melihat lampu kamar paling belakang dirumah itu menyala.

"Siapa yang tinggal disana," tanya wanita itu mendekat,

Karena kamar ini terakhir dihuni oleh salah anak buah alex, tapi saat dia membocorkan rahasia alex ke musuh ia lenyap tanpa jejek.

Tok...Tok...

Pintu kamar itu terbuka sedikit dan terdengar suara perempuan dari dalam, bu ina seperti mengenal suara itu.

"Siapa iya?"

"Ini aku bu ina," jawab bu ina, sedangkan orang di dalam mencoba mengingat.

"Nona, apa kamu didalam?" panggil bu ina.

Leonor membuka pintu dan melebarkan sedikit, setelah tahu yang datang bu ina.

"Astaga..!"

Buk ina membekap mulutnya melihat Leonor lah yang muncul.

"Non apa yang terjadi, nona kemana aja selama ini? Kenapa baru kelihatan." bu ina mencerca Leonor dengan banyak pertanyaan.

Ia khawatir melihat penampilan Leonor yang sangat berantakan.

Setelah ia masuk dan mengobrol dengan Leonor, baru ia paham dan tahu.

Segera ia membawakan pakaian untuk Leonor dan makan untuknya.

"Apa tuan lion marah pada anda" tanya wanita paru baya itu dengan sangat lembut.

"Iya" Jawab Leonor mengangguk sambil menyendok makan kedalam mulutnya dengan hati-hati karena luka dibibirnya belum sembuh.

"Apa kamu mau tidur di kamar bibir saja, tidak apa-apa biar bibi ada temannya nanti,"

"Tidak usah bu Leonor disini saja, nanti bu ina kena marah," Kata Leonor menghabiskan makanan nya.

"Baiklah bibi tidak bisa memaksa kamu, kalau kamu lapar kedapur aja kamar ibu dekat dapur, dekat kamar kamu," bu ina menjelaskan.

"Apa tuan lion sering kedapur bu?" Tanya Leonor memastikan, ia memastikan supaya tidak bertemu lagi dengan pria bertato singa dipunggung nya.

Sejak dari gubuk dihutan alex terlihat sangat berbeda dari waktu mereka berdua dihutan ia seperti melihat alex yang berbeda saat ini, ia sangat takut melihat tatapan pria itu.

"Iya, kadang kalau makan ia sering di dapur, tapi sangat jarang, kami sering mengantarkan keruangan nya diatas," kata bu ina.

"Tidak usah saja buk, lebih baik aku mati kelaparan daripada harus bertemu dengan pria kejam itu lagi," kata Leonor sambil mengunyah makanan.

Saat malam tiba, alex suka menghabiskan waktunya dengan mengurus bisnisnya dan mengatur pekerjaan untuk anak buahnya.

Matanya mulai lelah, ia melirik jam sudah 11 ia merebahkan tubuhnya disofa Kantor, namun belum terlelap

Ia kembali ke kamar, ia sengaja mandi dan berendam air hangat, untuk merilekskan tubuhnya supaya tidur lelap seperti saat ia bersama dengan Leonor sebelumnya.

Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang mencoba untuk bisa tidur.

Sayang, kejadian tadi terlintas dipikiran, itu membuat tidak bisa tertidur.

'Sial aku tidak bisa tertidur, padahal tadi aku bisa tidur' batin alex.

Ia melakukan semua cara supaya matanya bisa tidur, baca buku, olahraga, menonton TV, namun tidak ada yang berhasil, Tiba-tiba ingatan nya tertuju kepada Leonor.

"Sialan kenapa harus dia, lupakan," ucapnya mendesis kesal.

"Sepertinya aku harus menghitung bintang supaya bisa tidur," ujar alex.

Rumah alex besar berlantai tiga, lantai atas adalah landasan helikopter. Alex punya tempat khusus untuk memenangkan diri, sebuah taman yang dipenuhi aneka tanaman dan bunga-bunga hias, tempat alex menenangkan diri.

Alex keluar jalan keatas atap, ia sengaja membawa satu buku ditangan nyanya untuk ia baca, agar bisa tidur, tapi saat ia tiba di lantai atas, ia melihat seseorang yang ingin melompat dari lantai paling atas rumah itu, ia mengambil posisi yang tepat.

Jika dia terjatuh dipastikan ia akan langsung mati, karena persis di bahwa nya lapangan luas yang dicor kasar, Batu-batu koral ada yang masih tersisa.

***bersambung***

Ayo mampir ke novel author, jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah!

Melihat kurangnya peminat baca author kurang semangat untuk up lagi.🙏

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!