"Aku bingung kenapa semua orang yang bertemu ku selalu bilang jika aku ini mirip Raga. Meski sebenarnya memang aku ini masih jiwa Raga tapi wajah ku sudah berubah, aku adalah Anwar." Ucapnya yang masih menggunakan seragam SMA. Jangan ditanya kenapa masih menggunakan seragam sekolah karena Anwar baru saja pulang dari kedai baksos Amang dan langsung bercerita seperti ini kepada Gadis
"kau pulang sekolah langsung bertemu dengan orang orang dan apa yang harus kulakukan?" Imbuh Gadis
"Iya tadi aku bertemu dengan orang yang ku kenal. Tapi tidak usah lakukan apapun. Aku hanya sedikit merasa kesal saja."
"Memang siapa yang bilang kau mirip Raga? Tidak mungkin orang baru kan?"
"Siapa lagi kalau bukan orang yang ku kenal dan ku temui tadi alias dia orang terdekat ku."
Gadis tersenyum
"Ya wajar jika orang orang dekat mu mengatakan hal seperti ini. Toh mereka bisa merasakan sosok Raga dan kau juga bukan berarti bisa begitu saja menjadi Anwar. Terkecuali roh mu pun di ganti dengan yang baru. Jadi menurut ku wajar saja."
Anwar termenung sejenak bahwa apa yang dikatakan Gadis ini memang benar adanya. Dirinya hanya berganti wajah tidak dengan roh nya.
"Awal mula kau jadi Anwar aku sama sekali tidak mengenali Raga dan aku menganggap kau adalah Anwar. Tapi mendengar kau bercerita seperti tadi aku jadi yakin kalau kau ini masih Raga hanya muka dan nama saja yang beda. Tapi hal itu bukan menjadi penghalang kau untuk rencana yang sudah kau susun, justru hal itu bisa membuat mereka alibi terutama orang orang yang ingin kau bunuh, misalnya seperti itu."
"Benar. Kau memang selalu berpikir benar. Tuan pasti sangat senang memiliki budak seperti kau Gadis."
"Tugasku hanya mengingatkan dan menjaga mu tidak lebih. Lebih baik ganti pakaian pun terlebih dahulu setelah itu kita akan berangkat menemui orang orang yang telah menyakiti ibu mu."
"Bagaimana kau bisa tahu jika nanti aku akan menemui orang tersebut?"
"Insting."
Gadis pergi begitu saja setelah berkata seperti tadi.
"Dasar." Keluhnya karena Anwar sangat hafal jika tindakan Gadis ini dilakukan sudah lebih dari satu kali.
***
Anwar sudah berganti dengan pakaian yang ia pilih. Dirinya sekarang sedang mencari keberadaan Gadis. Dipikir pikir lagi jika rumah ini terlalu besar untuk ditinggali oleh dua orang. Sebelumnya ia sudah memikirkan orang tambahan di rumah ini. Yaitu dengan adanya pembantu di rumah ini. Meski Anwar mengakui jika masakan Gadis ini terlalu enak tapi menurut Anwar dengan adanya pembantu pun bisa membuka lowongan pekerjaan baru.
"Rupanya ini tempat favorit di rumah ini yah." Ujar Anwar setelah mendapati Gadis sedang duduk di gazebo balkon belakang.
"Ada apa? Apakah kau sekarang butuh bantuan aku?" Gadis membalas perkataan Anwar
"Wah, kau bener budak tuan yang taat. Dilihat lihat kau sering sekali membawa buku ini. Apakah aku boleh ikut membacanya?"
"Tidak usah mengalihkan topik awal, ada apa kau mencariku?"
Anwar sumringah dalam benak berkata jika Gadis ini galak juga yah.
Anwar kemudian duduk disebelah Gadis, lalu.
"Aku punya rencana namun aku tidak tahu apakah kau setuju dengan rencana ku yang ini atau tidak."
"Rencana apa? Katakan secepatnya tidak udah bertele-tele seperti ini."
"Aku ingin jika rumah ini ada pembantu tambahan."
"Budak tuan yang lain?"
"Bukan itu, maksudku pembantu orang biasa yang tugasnya dia bersih bersih rumah."
"Lalu?"
"Dan jika kau setuju aku ingin pembantu itu adalah ibu ku sendiri. Dengan begitu aku bisa merasa aman jika ibu ada disini dan aku pun bisa leluasa melakukan apapun yang aku suka sekalipun aku membunuh orang."
"Unik juga memikirkan mu Anwar. Namun untuk itu tentunya aku harus berdiskusi dengan tuan terlebih dahulu karena bagaimana pun apa yang kau katakan tadi tidak tertulis di kontrak kau dengan tuan. Jadi yang bisa melakukan ini untuk diskusi hanyalah aku."
"Sesulit itu yah ternyata. Jika kau tak mau, tak masalah."
"Aku mau." Ucap Gadis "Tapi sebelum ke arah sana mari kita bermain main terlebih dahulu dengan orang yang menyakiti ibumu. Aku sudah tidak sabar melihat penderitaan nya." Sambungnya Gadis
***
Sesuai yang direncanakan Anwar, mereka berdua sudah tiba di sebuah tempat yang dilihat nya ini adalah ruko gorengan yang cukup besar tentunya ruko gorengan ini buka dari pukul enam pagi sampai jam sepuluh malam dan tentunya mereka datang ke mari pada malam hari yaitu pukul delapan malam.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini?" Bisik Anwar kepada Gadis disaat kondisi mereka sedang mengantri gorengan dan menurut informasi yang ada bahwa gorengan yang sedang mereka kunjungi adalah gorengan terenak yang berada di kota ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan antrian yang terlihat panjang hanya untuk menikmati sebuah gorengan dan gorengan yang paling sering dibeli oleh pelanggan yaitu Cireng isi pedas dengan ukuran jumbo.
"Ya aku yakin. Ini belum seberapa tapi kita mulai dari sini."
"Silahkan mau pesan gorengan apa?" Ucap kasir di depan mereka
Hati Anwar berkata bahwa ruko gorengan ini keren juga mempunyai seorang kasir seperti restoran rumah makan.
"Cireng isi pedas jumbo 2 dan sekoteng 2 juga, kita makan disini mba."
"Baik silahkan ditunggu dan cari tempat duduk kursi yang kosong yah." Ucapnya sambil ramah tersenyum.
Cantik juga kasirnya.
"Kau menyukaiku kasir tadi?" Tegur Gadis sambil berjalan mencari meja yang kosong.
"Sembarangan." Ketus Anwar
"Aku tidak bermaksud tidak sopan hanya saja mimik muka mu tidak bisa berbohong."
"Kau juga sekarang pandai menjadi pakar mimik muka yah?" Sindir Anwar yang masih tidak terima bahwa dirinya menyukai kasir perempuan tadi. Padahal dalam hatinya ia hanya berkata cantik tidak lebih.
"Atau kau bisa mendengar isi hatiku?"
Namun Gadis hanya tersenyum membiarkan pertanyaan Anwar ini selalu diambang penasaran dan tak lama dari itu mereka menemukan meja yang kosong.
"Aku tidak menyangka jika ada ruko gorengan yang nuansa nya seperti restoran rumah makan." Ungkap Gadis sambil memperhatikan sekitar tempat ini. Dimata nya tidak ada yang aneh. Pemilik gorengan ini rupanya tidak memakai pesugihan atau semacamnya untuk meramaikan dagangannya.
"Aku juga tidak menemukan tanda tanda aneh disini. Pemilik gorengan nya bersih." Ucapnya lagi kepada Anwar.
Anwar yang mendengar hal itu pun dibuat kagum kembali. Ternyata wanita yang ada dihadapannya ini kemampuan nya lebih dari itu.
"Wah aku baru tahu jika kau juga seorang dukun atau kemampuan yang kau miliki saat ini adalah benefit dari tuan karena kau sudah mengabdi lama kepadanya?"
"Aku sudah bilang jangan sebut dia." Tegur Gadis sambil berbisik dengan tatapan mata yang dilihat Anwar kali ini cukup menyeramkan.
"Maaf aku tidak sengaja. Lagi pula tidak ada yang mendengar percakapan kita suasana disini juga bising bukan hanya kita saja yang mengobrol."
Lagi lagi Gadis menatap Anwar penuh dengan tatapan intimidasi.
"Iya maaf siap salah." Ungkapnya
"Permisi." Salah satu pelayan menghampiri meja mereka sembari membawa pesanan yang mereka tunggu.
"Selamat menikmati."
Ucapnya lalu pergi.
"Apa kau pernah makan gorengan?" Tanya Anwar membuka obrolan kembali
"Pernah namun tidak sebesar ini."
"Jangan salah meksipun besar seperti ini gorengan Cireng isi pedas jumbo tuh paling favorit disini." Penjelasan Anwar
"Anwar kau jangan kaget aku sudah melakukan tugas ku."
"Maksud mu?"
Tidak lama dari Gadis berkata seperti tadi tiba tiba di ujung dekat kasir seseorang perempuan tua yang duduk bersama pria tua dan seorang anak kecil berteriak dengan begitu histeris. Sontak semua orang yang berada di sana termasuk orang orang yang masih mengantri pandangan nya mengarah ke arah mereka.
"Kenapa bu?"
"Isi cireng pedasnya kepala ular."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments