Menurut laporan yang masuk, orang yang pertama melaporkan Raga menghilang ialah orang tuanya sendiri. Dalam laporan nya tersebut orang tua Raga mengatakan bahwa Raga sudah tidak pulang ke rumah mereka lebih dari satu bulan namun menurut Amang dan Desi mereka sudah tidak bertemu Raga lebih dari dua Minggu. Dari segi waktu yang berbeda dapat di simpulkan jika Raga memang tidak pulang ke rumahnya selama satu bulan dan lebih memilih bertemu dengan Amang dan Desi lalu tinggal bersama Amang. Setelah itu ia menghilang.
"Saya masih tidak percaya jika Raga ini memang hilang lalu mati. Yang saya percayai, Raga pasti sedang mengasingkan dirinya kembali. Anak itu memang labil persis seperti usianya yang masih muda. Sebelum anak itu menghilang seperti ini, dia sudah berjanji akan tinggal bersama saya karena menurutnya semua orang termasuk orang tuanya sendiri tidak ingin bertemu lagi dengan dia maka dari itu saya mengajaknya untuk tinggal bersama saya."
Ucapan Amang begitu teguh kepada seorang polisi yang hampir dua minggu belakang ini kerap mampir ke kedai baksonya di waktu sore hanya untuk menanyakan seputar tentang Raga.
"Hanya saya dan Desi pacarnya yang dia anggap masih baik. Kalau dia tahu saya mengatakan Desi pacarnya, seketika ekspresi muka anak itu langsung berubah tidak enak di pandang." Amang tertawa miris
Sebenarnya kasus ini bukanlah kasus besar. kasus ini hanyalah kasus orang hilang pada umumnya. Namun kasus ini lebih spesial dikarenakan Raga sedang menjadi tahapan penyelidikan kepolisian yang dirinya sedang diselidiki dalam keterlibatan penjualan obat terlarang disaat dirinya masih SMA. Kerena penyelidikan inilah Raga di keluarkan oleh pihak sekolah. Padahal dirinya adalah siswa prestasi yang sering mendapatkan gelar juara satu baik di bidang akademik maupun non-akademik. Dengan semua prestasi yang raga miliki juga tak heran ia mendapatkan uang saku bulanan serta biaya sekolah gratis sampai lulus. Maka dari itu Raga percaya jika setelah keluar SMA ia sangat percaya diri akan langsung diterima kerja karena ia siswa berprestasi.
"Sebenarnya saya juga tidak percaya siswa seperti Raga ini terlibat dalam penjualan obat terlarang. Selama masa penyelidikan kepada Raga saya sangat kagum dengan semua riwayat prestasi yang anak ini miliki dan saya curiga raga ini di kambing hitamkan oleh seseorang karna motif iri? dan hilangnya Raga ini adalah penculikan." Polisi itu ikut bersuara dengan jujur seolah ia sudah lama ingin mengatakan seperti ini kepada seseorang yang mempunyai jalinan dekat dengan Raga, yaitu Amang.
"Raga memang bilang seperti itu kepada saya. Apa yang terjadi kepada dirinya hanyalah korban kambing hitam. Anak itu pun bilang kepada saya kalau dia sudah mencurigai beberapa teman satu angkatan yang kemungkinan melakukan tindakan keji kepadanya. Namun Raga tidak memberitahu saya siapa saja orang yang dimaksud. Anak itu mencoba untuk ikhlas dan ingin melanjutkan hidupnya sebaik mungkin namun sayangnya nasib buruk selalu berpihak padanya."
"Kalau boleh tahu kapan Raga bilang seperti itu?"
"Kira kira tiga minggu kebelakang. Meskipun saya tidak sedarah dengan anak itu namun saya merasa amat kehilangan yang mendalam."
"Kalau misalnya Raga telah mati apa yang akan bapak lakukan."
"Sudah saya bilang, saya tidak percaya kalau dia mati. Dia menghilang dan bukan diculik. Lagi pula tidak ada dasar kuat yang mengatakan bahwa dia diculik."
"Maaf saya tidak bermaksud untuk berkata seperti tadi hanya saja saya berasumsi." Ucap Umbar. Polisi yang sekarang sedang berada di kedai bakso Amang ini namanya Umbar.
"Baiklah kalau bapak sudah tidak ingin menyampaikan hal apapun tentang Raga lagi, saya izin Pamit. Untuk semua yang bapak katakan tadi sudah saya rekam dan tentunya menjadi informasi terbaru mengenai Raga yang mana rekaman ini akan menjadi laporan terbaru dan pembahasan terbaru untuk kasus Raga." Umbar beranjak dari duduknya. Sebelum ia benar benar pergi dari hadapan Amang, dirinya terlebih dahulu merapihkan pakaian serta atribut kecil yang menurutnya tidak rapih.
"Semoga Raga bisa ditemukan."
Detik berikutnya polisi yang bernama Umbar itu sudah menghilang dari penglihatan Amang dan sekarang yang Amang pikiran tentunya ucapan polisi tadi, apakah benar kalau kenyataannya Raga ini diculik dan kenapa orang tuanya Raga dengan sigap langsung melaporkan anaknya itu ke dalam daftar orang hilang. Menurut memikirkan Amang selama dua minggu kebelakang ia tidak bertemu Raga itu mungkin karena anak itu sedang merasa tidak baik baik saja. Tapi ternyata memikirkan Amang salah sampai dimana polisi yang bernama Umbar tadi kerap mampir ke kedai baksos di waktu sore atau malam hari selama dua minggu belakangan ini hanya untuk mewawancarai dirinya seputar hilangnya Raga.
***
"Reserse Umbar. kamu sudah menemui lagi orang orang yang bersangkutan dengan Raga?"
"Soal itu saya sudah menjalankan perintah dengan baik bahkan ada kabar baik bagi kita mengenai informasi Raga, bahwa dia bukan menghilang akan tetapi diculik."
"Atas dasar?" Pria tua yang warna rambut sudah putih semua itu mengerutkan keningnya.
"Atas dasar riwayat prestasi selama dia bersekolah dan selama saya menyelidiki Raga tidak ada tanda tanda bahwa dia seorang pengedar atau anak buah dari bandar yang di bilang oleh pelapor ketika di sekolah. Saya curiga kalau Raga ini di jebak, dia di kambing hitamkan oleh lingkungan pertemanan."
"Reserse Umbar, pertama saya salut atas penyelidikan kamu tentang Raga ini. Kita ikut mencari Raga bukan karena dia orang hilang saja kan? Dia siswa kriminal. Lagi pula kalaupun dia di jebak siapa yang berani membawa obat terlarang itu kalau bukan orang pengedar?"
"Justru itu kita jangan fokus kepada Raga saja. Kita harus fokus kepada temen temen sekelasnya terutama yang melaporkan dia."
"Sudahlah lupakan masalah itu sekarang tugasmu cabut semua laporan mengenai Raga. Kita tidak akan mengurus masalah itu lagi semuanya sudah selesai."
Sekarang giliran Umbar yang terheran-heran dengan perkataan dari atasannya ini
"Apakah saya salah dengar? Bagaimana bisa kita mencabut laporan mengenai Raga. Saya mengerti jika Kapten Hadi tidak setuju dengan opini tentang Raga diculik, tapi tidak dengan kasus pengedar obat terlarang yang mengakibatkan Raga dikeluarkan dari sekolah bahkan masa depan dia hilang. Kita harus menyelidiki yang lainnya juga."
"Dari dulu saya suka dengan semangat api yang kamu miliki tidak salah jika saya memiliki anak buah sepertimu Umbar, tapi untuk kasus Raga kita tutup dan berakhir sampai sini. Semua ini perintah dari pusat jika kamu berani silakan mengajukan banding langsung ke pusat. Jaga kondisimu baik baik Reserse Umbar, masih ada kasus yang lebih penting dari pada Kasus Raga."
Umbar masih berusaha mencerna baik baik ucapan dari atasannya ini, yaitu Kapten Hadi. Tidak ada komentar lain yang ia berikan ketika atasannya sudah mengatakan hal seperti itu. Umbar tidak bisa menolak apalagi perintah itu dari pusat. Hal ini yang membuat Umbar ingin resign dari pekerjaan menjadi seorang polisi semua masalah yang lapor disini akan tiba tiba di tutup tanpa diberi alasan yang jelas. Entah apa tujuannya namun tindakan ini membuat Umbar sudah terlalu muak. Namun kali ini Umbar akan bergegas kembali, dirinya tidak akan diam begitu saja. Karna Umbar sudah terbesit sebuah rencana yang akan ia lakukan tanpa diketahui oleh atasannya bahkan rekan sebayanya. Karena menurut umbar sendiri kasus Raga ini sangat menarik banyak rahasia di dalamnya maka dari itu ia butuh bantuan seseorang yang berniat tulus berkerja sama dengannya.
"Amang."
***
Amang membuka pintu rumah nya secara perlahan dan mengetahui bahwa orang yang dari tadi membunyikan bel rumahnya itu yakni Umbar, lalu Amang tersenyum heran.
"Bahkan sekarang kau tahu alamat rumah ku? Ini masih pagi dan apakah seorang reserse seperti mu memang suka memaksa seperti ini atau kau saja?"
"Ada yang harus saya bicarakan kepada bapak ini tentang Raga." Ucap Umbar dengan lantang seolah takut bahwa Amang Akan menutup pintunya lalu menyuruh dia untuk pergi dan sebenarnya Umbar merasa bersalah telah mampir ke rumah Amang di pagi hari seperti ini namun bagaimana lagi Umbar ingin semua ini segera cepat selesai.
"Kau tunggu dan duduk disana." Ucapnya sembari menunjuk apa yang dimaksud nya tadi. Seketika itu Umbar langsung menuruti perintah Amang untuk menunggu dan duduk di kursi teras rumah.
Sebelum menghampiri Umbar yang duduk di kursi teras, Amang kembali masuk ke dalam rumah berniat membuatkan dua gelas teh hangat tawar berukuran sedang untuk di suguhkan kepada umbar dan satu lagi tentunya untuk dirinya sendiri, tak butuh banyak waktu Amang keluar dan menghampiri Umbar
"Silahkan di minum dulu Umbar." Amang menyodorkan teh hangat tawarnya kemudian di terima baik oleh umbar.
Umbar meniup teh hangat nya terlebih dahulu sebelum ia teguk lalu membuka obrolan dengan Amang.
"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih untuk teh hangat tawarnya serta mengizinkan saya kembali untuk mengobrol bersama bapak di pagi hari ini dan bagaimana saya tahu alamat bapak sepertinya saya tidak usah menjelaskan tentang itu"
"Ya saya tahu kau seorang reserse jadi langsung ke intinya saja apa tujuan mu kesini." Sembur Amang yang mana basa basi umbar ini terlalu umum dan bertele tele
"Baik kalau gitu. Semua laporan dan kasus mengenai Raga resmi ditutup oleh pusat. Raga bisa tenang dan pihak polisi tidak menangani kasus apapun tentang Raga termasuk hilangnya Raga."
"Secara mendadak seperti ini?"
"Saya pun tidak tahu alasan kenapa bisa menjadi seperti ini."
"Sekarang saya tahu kenapa masyakarat begitu tidak suka kepada polisi."
Jujur ada rasa iba ketika Amang berkata seperti ini apalagi dirinya masih menjadi bagian dari mereka akan tetapi rasa iba tidak akan membuahkan hasil apapun niatnya kesini adalah menyampaikan hal ini secara langsung dan mengajak Amang untuk berkerja sama.
"Meskipun demikian saya sendiri akan tetap mengawal kasus hilangnya Raga tanpa sepengetahuan atasan saya dan pusat. Karena bagaimana pun juga dari awal Raga terlibat kasusnya sama hilang nya Raga bisa dikatakan saya menyaksikan semua rangakaian penyelidikannya dan tujuan saya kesini ingin mengajak Amang untuk berkerja sama."
"Saya bukannya tidak percaya sama kau Umbar. Hanya saja saya tidak sepenuhnya merasa terbantu dengan tindakan yang akan nantinya kamu lakukan. Dari pusat mu saja sudah menutup nya kenapa kau begitu ingin menyelidiki semua ini?"
Umbar tidak percaya jika pada akhirnya ia akan dipojokkan lagi dengan perlakukan yang sama. Sebenarnya tidak salah juga jika Amang berkata seperti tadi namun apa salahnya mencoba daripada penasaran sampai mati
"Karena saya merasa sudah dekat dengan sosok Raga meksipun saya baru sekali bertemu secara fisik namun anehnya ketika saya melihat foto Raga, saya merasakan seperti ada sesuatu yang membuat saya ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi kepada Raga dan saya ikhlas melakukan ini."
"Begitu yah. Kalau gitu jelaskan apa tugas ku nantinya dan apa saja yang akan kau lakukan. Bagaimana dengan tugas wajib kau dan apa konsekuensinya bila kau melakukan ini tanpa perintah atasan mu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments
novi
kan mesti wes. ayo umbar kamu harus usut tuntas
2025-03-23
1
novi
emg masih ada ya polisi yg kya gini?
2025-03-23
1
novi
uang gasii
2025-03-23
1