Bertamu ke rumah Anwar

Umbar baik Anton sekarang sudah berada di depan pintu rumah Anwar yang mana menurut mereka rumah ini terlihat elegan dengan sentuhan gaya eropa. Alamat rumah Anwar ini pun tentunya mereka dapatkan hasil dari hasil menjual drama mereka bersama divisi lain. Dan sebelum mereka memutuskan untuk ke rumah Anwar, pagi sampai siang tadi mereka sudah menyelesaikan tugas penyeledikan kasus pembunuhan di komplek mawar.

"Apa ini bener rumah Anwar? Kita sudah beberapa kali membunyikan bel ini tapi sama sekali belum ada orang yang keluar."

"Sabar kita disini belum terlalu lama." Jawab Anton

"Sekarang aku tahu kenapa rumah ini tidak ada pagar."

"Kenapa?" Heran Anton sambil mengajak Umbar untuk duduk di tepi teres jangkung yang berada tidak jauh dari halaman rumah Anwar

"Menurutku sih agar rumah ini terlihat elegan dan simpel."

Anton yang mendengar hal itu pun langsung menatap sinis pendapat dari Umbar. Ia mengira alasan rumah ini tidak memiliki pagar karena ada hal lain yang membuat nya tercengang tapi ternyata pendapat Umbar sangatlah menjengkelkan.

Kira kira seperti itulah sebelum penghuni rumah ini membuka pintunya mereka berdua lebih memilih untuk mengobrol hal hal yang tidak penting seperti di atas tadi contohnya.

"Anton ini terlalu lama apa sebaiknya kita pulang saja lalu besok pagi kita kesini."

"Sabar sebentar lagi pasti dibuka dan kalau besok aku tidak bisa mengantarmu karena besok aku ada jatah izin. Bagaimana kalau kita tunggu satu jam lagi jika tidak ada respon kita pulang saja."

Umbar mengangguk tidak masalah juga sebenarnya jika besok ia tidak ditemani oleh Anton yang terpenting saat ini mereka berdua terutama Umbar sudah lelah menunggu. Mungkin tenaga mereka sudah habis waktu mengatasi tkp kejadian pembunuhan di komplek mawar.

"Siapa?" Saut seseorang perempuan yang suaranya di dalam rumah Anwar

"Akhirnya."ucap batin mereka berdua. Dengan langkah tergesa gesa mereka berdua kembali menghampiri pintu rumah ini bersamaan dengan pintu rumah telah terbuka lalu mendapati sosok perempuan itu tengah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan keheranan.

"Apa benar ini rumah bapak Anwar?" Tanya Umbar

"Benar ini rumah orang tua Anwar. Kalau boleh tahu kalian berdua ada urusan apa datang ke mari."

"Kalau kita diperkenankan masuk mungkin kita akan menjelaskan apa maksud tujuan kami berdua datang kesini."

Tanpa mengeluarkan suara lagi perempuan yang ada dihadapannya Umbar dan Anwar ini langsung mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.

Benar dugaan mereka berdua jika rumah ini bergaya eropa tidak lupa ada sentuhan vintage dan banyak sekali patung hias di ruang tamu rumah ini namun patung yang paling mencolok di mata mereka berdua adalah patung ular yang lidah nya menjulur keluar dan menurut mereka ini cukup menakutkan.

"Silahkan."

Perempuan ini hanya mengantarkan mereka pada ruang tamu dalam entahlah sebutan nya apa di rumah sebesar ini namun mereka bisa tahu jika rumah ini nampaknya memiliki dua ruang tamu, perkiraan mereka seperti itu.

"Silahkan ceritakan maksud dan tujuan yang kalian inginkan katakan."

"Sebelumnya saya mohon izin mengulang ucapan saya kembali.Tujuan kami datang ke sini tentunya ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Anwar. Apakah pak Anwar ada?"

"Oh tunggu." Hanya dua kalimat yang perempuan itu utarakan. Lalu perempuan itu beranjak dari duduknya yang kemungkinan dia akan memanggil seseorang yang bernama Anwar.

"Ekspresi muka perempuan itu menyebalkan sekali." Bisik umbar kepada Anton namun Anton tidak menanggapinya ia malah menyuruh Umbar untuk berjaga sikap dan ucapan.

Tak lama dari itu sosok lelaki yang mereka berdua sudah menduga bahwa itu Anwar datang menghampiri kepada mereka dan langsung duduk di sofa bergabung bersama Anton dan Umbar.

"Selamat sore apa benar kalian mencari saya?" Ucap Anwar sambil tersenyum sopan. Namun entah kenapa Umbar merasakan jika pemuda yang ada di hadapannya ini seperti Raga dan apa yang diucapkan oleh Amang tempo hari itu ada benarnya.

"Apa kau benar Anwar?" Tanya Anton basa basi. Padahal dirinya sendiri sudah yakin seratus persen jika dia adalah Anwar. Akan tetapi budaya basa basi harus tetap dilestarikan agar terlihat sopan

"Benar saya Anwar dan kalau boleh tahu ada keperluan apa yah?"

Umbar baik Anton saling menatap satu sama lain. Saatnya melayangkan beberapa pertanyaan

"Sebelumnya mohon izin kami sudah menganggu istirahat bapak Anwar."

"Tidak masalah tapi saya masak remaja umur saya sekarang 16 tahun jadi jangan panggil saya bapak. Panggil saya nama saja."

Umbar dan Anton pun mengangguk dengan sopan sambil tersenyum

"Baik sebelumnya kami berdua mohon maaf dengan panggilan seperti tadi hanya saja kami memanggil bapak Anwar itu adalah salah satu bentuk sop kerja kami." Jelas Anton "Dan keran saya yang bernama Umbar ini akan menjelaskan maksud kedatangan kami pada sore hari ini." Sambungnya sembari menepuk pelan bahu Umbar yang mana hal itu menandakan bahwa Umbar yang harus berbicara terkait ini.

"Mungkin saya langsung ke inti pertanyaan nya saja. Apa benar kau sahabatnya Raga? Karena kami berdua datang kesini tentunya mendapatkan laporan dari orang terdekatnya Raga yang kau mampiri dan tidak hanya itu saja kau memberikan mereka sejumlah uang dan surat yang katanya itu pemberian dari Raga, apa itu benar?"

Benar dugaan Anwar jika mereka berdua kesini akan menanyakan hal semacam tadi karena sebelumnya pun anwar sudah mengetahui siapa dua orang ini.

"Soal itu tentunya apa yang mereka katakan kepada kedua bapak ini benar. Saya sahabatnya Raga." Jawab Anwar dengan santai

"Tapi surat yang kau berikan itu bukan asli tulisan Raga melainkan tulisan kau Anwar. Kami berkata seperti itu karena kami sudah melakukan tes dna terhadap surat ini dan orang pertama yang memegang surat ini yaitu Anwar. Karena jika bener ini adalah surat asli dari Raga namamu di hasil tes akan jadi orang kedua yang menerima surat ini."

Rupanya Umbar tidak segan menembak pertanyaan yang mana pertanyaan ini langsung pada intinya sarinya. Sementara Anton yang berada disisi Umbar hanya bisa memberikan isyarat lewat kode tangan yang artinya hanya diketahui oleh mereka berdua saja. Dan sebelum Anwar menjawab pertanyaan itu tentunya Anton langsung mengambil surat dan mengeluarkan dari tas untuk ditujukan kepada Anwar lalu meminta keterangan lebih jelas mengenai surat tersebut.

"Baiklah baiklah aku akan menjelaskan kebenaran yang asli." Anwar terlebih dahulu menarik napasnya dalam dalam "Surat ini memang aku yang tulis dan aku juga membuatnya tapi semua kalimat yang ada di dalam surat itu sepenuhnya dari Raga."

"Apa yang dikatakan Anwar ini benar. Raga mendatangi rumah kamu. Keadaan nya sangat kotor dan lesu. Dia tinggal disini selama satu hari saja. Aku saksinya ketika Raga memohon untuk menyuruh Anwar menulis surat tersebut dan meminjamkan uang itu untuk diberikan kepada orang terdekatnya. Semua itu ide dari Raga." Ungkap Gadis yang ikut bersuara dari arah belakang sofa yang sedang di duduki oleh Umbar dan Anton.

"Dan saya rasa penjelasan yang saya katakan sudah cukup mewakili apa yang menjadi rasa penasaran kalian berdua." Sambungnya lagi

Umbar ataupun Anton sempat terkejut dengan kemunculan Gadis yang tidak diketahui kedatangannya. Entah sejak kapan Gadis berdiri di belakang sofa yang mereka duduk yang jelas ketika Gadis ini datang entah kenapa hawanya menjadi berubah.

"Baik kalau begitu dan apakah kami bisa bertanya kepada anda juga?" Ucap Umbar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!