Menuju aksi selanjutnya

Bertemu dengan orang dimasa lalu itu ternyata menguras banyak energi di tambah beberapa dari mereka itu terlalu banyak bicara dan kebingungan. Bagaimana tidak membuat bingung ditengah tengah hilang nya Raga ini tiba tiba muncul seseorang Anwar yang mengakui dirinya itu adalah sahabat Raga. Padahal yang mereka temui itu adalah Raga dengan wujud Anwar.

"Kemarin adalah hari yang paling lelah yang pernah aku rasakan meksipun nantinya akan menemui orang lagi tapi setidaknya lelah ku kemarin terobati dengan rumah besar seperti ini, ini baru namanya hidup." Gumam Anwar yang mana ia sekarang sedang melakukan aktivitas berenang di pagi hari sembari ditemani dengan menu breakfast yang tentunya dibuatkan oleh Gadis.

"Andaikan dari dulu aku sudah bertemu dengan tuan, mungkin aku tidak perlu repot-repot mengejar peringkat kelas, jadi siswa berprestasi sampai mencari beasiswa hanya untuk mendapatkan pendidikan gratis ataupun mendapatkan uang tambahan menjadi buruh di kedai bakso. Tapi tidak masalah yang terpenting kehidupan ku sekarang sudah berubah meksi nantinya,"

"Kau akan masuk neraka bersama tuan dan menjadi budak selama lamanya." Singgung Gadis melanjutkan perkataan Anwar.

Lagi lagi Gadis selalu hadir kapan pun tanpa memberi tahu Anwar.

"Kau ini hobinya suka datang secara tiba tiba begini yah. Apa kau tidak memikirkan perasaan ku?"

"Perasaan apa maksud mu?"

"Maksudku bagaimana jika aku langsung jantungan apa kau akan tanggung jawab."

Bukannya menjawab Gadis malah tertawa puas seakan apa yang diucapkan Anwar ini adalah lelucon paling lucu.

"Kenapa kau tertawa? Apakah aku salah bicara?" Katanya yang sekarang sudah naik ke permukaan darat dirinya tidak lagi berenang melainkan saat ini setengah badannya sedang dibalut handuk kering.

"Kau rupanya tidak pembaca benar benar buku yang diberikan tuan?"

Batin Anwar kesal sendiri kenapa setiap ia kebingungan selalu disangkut pautkan dengan buku itu padahal apa susahnya tinggal beri tahu secara langsung tanpa mengejek dia seperti ini sungguh menyebalkan.

"Budak tuan seperti kau atau kita tentunya tidak akan merasakan hal hal penyakit yang manusia umumnya punya. Kalau mati itu pasti tapi kalau penyakit seperti manusia normal itu tidak akan pernah kamu miliki lagi alasannya karena kau sudah menjadi pengikut tuan." Ucap Gadis menghentikan tawanya ini setelah melihat ekspresi Anwar yang dilihat sedang cemberut

"Ya aku lupa dan akan mengingatnya." Ketusnya

"Baiklah aku minta maaf soal tawa ku tadi Raga, maksudku Anwar. Sekarang tujuan kita kemana?"

"Entahlah aku belum pemikirannya yang jelas perutku masih lapar breakfast seperti tadi tidak membuat ku kenyang jadi tolong buatkan ku lagi makanan yang enak, tolong yah Gadis."

"Baik."

Sudah kewajiban Gadis mengabdi kepada Anwar seperti ini. Gadis mengabdi seperti ini kepada pengikut baru tentunya akan mendapatkan benefit dari tuannya yaitu venom maka dari itu dirinya rela di perintah apapun oleh Anwar.

"Terimakasih Gadis, aku bangga punya partner seperti mu. Pokoknya habis aku mandi makanan itu sudah ada dimeja makan yah dan kita makan bersama oke."

"Oke." Singkat Gadis

***

Sekarang dihadapan nya sudah ada beberapa lauk pauk yang kelihatannya enak untuk dimakan detik ini juga. Anwar tidak menyangka jika Gadis budak venom ini mempunyai jiwa skill memasak makanan enak yang luar biasa malah rasa masakan pun seperti restoran bintang lima.

"Apa kau dulu seorang koki lalu dihidupkan lagi oleh tuan?"

"Kira kira seperti itu dan aku lupa memberitahu mu jika aku tidak suka ada orang atau siapapun itu termasuk kau mengulik dan penasaran tentang masa lalu ku."

"Tapi kau sendiri tahu masa laluku, Kenapa aku tidak boleh mengetahui masa lalumu? Bukannya enak jika aku mengetahui nya kita akan kompak dan chemistry kita akan dapat."

"Anwar?"

"Oke maafkan aku."

Lalu Anwar menyodorkan piring kosong ke hadapan Gadis yang tentunya diterima baik oleh Gadis. Sebenarnya Gadis tidak ingin ikut makan bersama dengan Anwar namun karena sifat paksaan nya membuat Gadis mengiyakan.

"Kenapa kau selalu menolak ajakan ku ini?"

"Tapi sekarang aku tidak menolak lagi kan?"

"Iya aku tahu itu dan untuk seterusnya kita harus makan bersama seperti ini. Sayang loh meja makan seluas dan senyaman ini hanya aku saja yang menggunakannya."

"Apakah perkataan ku salah lagi?" Lanjutnya menunggu jawaban dari Gadis

Namun Gadis tidak menggubrisnya ia lebih memilih untuk makan saja.

"Baiklah, selamat makan."

Anwar tidak tahu sepenuhnya masa lalu Gadis. Dia hanya cerita sedikit jika ia sudah hidup lebih dari seratus lima puluh tahun di dunia, hanya itu yang Anwar ketahui tidak lebih. Meksipun begitu Anwar tetap beruntung memiliki seseorang yang berguna di kehidupan yang baru ini.

Terimakasih tuan, ucap batinnya.

Sampai Gadis pun akhirnya bersuara kembali

"Habis ini kau pikirkan apa yang ingin dilakukan dan selama kau merencanakan kegiatan hari ini aku yang akan membereskan semua ini. Jika tugas ini sudah selesai aku akan menghampiri mu."

"Siap bos."

***

Rasanya setelah makan tadi, Anwar ingin tidur saja ketimbang merencanakan kegiatan apa yang ingin ia lakukan hari ini. Balas dendam memang penting tapi kehidupan baru ini jauh lebih mengasyikkan.

"Menemui orang yang selalu menagih hutang, terus apa lagi yah.." Gumamnya kembali sembari matanya melihat atap langit balkon menandakan bahwa ia sedang berpikir keras.

"Sudah?" Ucap Gadis lalu duduk di bangku yang sama dengan Anwar

"Apa aku masih bisa daftar sekolah di sekolah ku yang dulu?"

"Tentunya masih."

"Caranya?"

Gadis berdiri kembali dari duduknya itu dan langsung menarik tangan Anwar untuk mengikuti langkahnya masuk menuju ke dalam ruangan khusus yang berada dirumah ini. Namun dimata Anwar ruang ini seperti perpustakaan banyak rak buku maupun tumpukan buku yang bahasa atau hurufnya tidak Anwar ketahui.

"Sepertinya banyak sekali tempat yang aku tidak ketahui dirumah ku sendiri."

Anwar masih terkesima dengan tempat yang mungkin ini memang bisa disebut perpustakaan. Matanya tak henti henti melirik ke setiap sudut ruangan ini. Sementara itu Gadis membuka sebuah laci yang tidak jauh dari jaraknya berdiri lalu Gadis mengeluarkan map plastik berwarna transparan.

"Kemari lah." Perintah Gadis.

"Ini berkas apa?" Tanya Anwar setelah mendekati Gadis

"Coba baca."

Kemudian Anwar membaca bentuk surat besar yang namanya tertera jelas bahwa surat ini adalah akte dan yang paling mengejutkan bagi dirinya yakin akte ini bertuliskan nama dirinya yang baru.

"Anwar Pattimura?"

"Ini Akte kelahiran mu namun tidak hanya ini saja semua datamu sudah tercatat di kependudukan sipil. Termasuk orang tuamu yang baru dan riwayat pendidikanmu."

"Bagaimana bisa? Sialan." Ungkap Anwar sembari tertawa heran dan kebingungan. Menurutnya sendiri ini benar benar menakjubkan. Apakah menjadi budak tuan (iblis) bisa melakukan ini dengan mudah?

Ini benar benar diluar akal sehat manusia.

"Orang yang seperti mu tidak hanya ada satu di dunia ini salah satunya aku. Jumlahnya tidak sebanyak manusia pada umumnya namun perlu di ingat yang seperti kita tidak hanya kita saja. Kau paham maksud ku?"

"Apakah ini jawaban dari pertanyaan ku tadi? Coba ceritakan lebih banyak lagi."

Gadis menghela nafas

"Sebenarnya aku sudah malas menyuruh kau untuk membaca buku dari tuan. Tapi setelah aku bercerita kau harus sering membaca buku dari tuan. Aku tahu sebagai orang yang baru mungkin ada rasa malas tapi percayalah semakin di baca, kau akan paham dan kemungkinan kau juga bisa lama hidup seperti ku saat ini, dalam artian menjadi budak yang taat kepada tuan."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!