Halo, saya sahabat Raga - II

Mulanya Weni tidak yakin sepenuhnya dengan Anwar jika dia memang sahabatnya Raga, karena jika benar sahabat Raga kenapa dia tidak memberitahu keberadaan anaknya secara langsung ketimbang melakukan hal seperti ini, namun setelah banyak mengobrol dengan Anwar entah kenapa perasaan Weni jadi berubah yakin bahwa Anwar yang ada dihadapannya ini seperti ada sosok Raga di dalamnya. Entah perasaannya saja atau bagaimana yang jelas Weni bisa merasakan itu.

Lalu

Weni menarik nafasnya secara perlahan. Ia ingin melanjutkan obralan dengan Anwar tanpa ada rasa emosional yang berlebihan. Ia ingin terlihat tenang meskipun Raga tidak ada disisinya.

"Oke apa yang harus saya lakukan sekarang setelah menerima uang ini dari anak saya?"

"Ya itu terserah ibu sendiri. Tugas saya disini hanya memberikan apa yang seharusnya saya lakukan."

"Kalau gitu ini untukmu." Ujar Weni setelah ia berhasil membuka amplop dari Raga berisikan uang ini lalu niatnya ia akan bagikan kepada Anwar.

"Tidak usah, ini bukan milik saya. Gunakanlah semuanya sama ibu jangan diberikan kepada saya."

"Kalau gitu tunggu sebentar." Perintah Weni

Weni meninggalkan Anwar sebentar diruang tamu tentunya ia akan mengambil sesuatu untuk ia tunjukkan kepada Anwar namun kali ini tujuan adalah kamar Raga yang mana jaraknya pun tidak jauh dari kamar Weni, hanya sebelah saja. Tak lama dari itu Weni kembali sembari menenteng jaket berwarna biru tua.

"Ini jaket kesayangan Raga. Dia tidak sempat membawa jaket ini jadi saya mohon jika kamu bertemu dengan Raga lagi tolong berikan ini kepadanya dari ku, ibunya Raga. Saya paham jika Raga masih marah atau ada rasa kecewa tapi saya mohon kembali tolong sampaikan kepada Raga kalau saya masih peduli dan sayang sama dia, tidak ada sedikitpun rasa untuk menyakiti hatinya semua tentang kesalahpahaman kita."

Lalu Weni memberikan jaket tadi kepada Anwar dengan harapan apa yang dikatakan oleh Weni tadi tersampaikan pesannya dengan selamat kepada Raga.

"Kalau saya tidak ketemu dengan Raga kembali apakah jaketnya boleh saya pakai atau harus saya kembalikan lagi kepada ibu?"

"Pakailah sesuka mu."

"Baiklah kalau begitu tugas saya sudah selesai disini. Senang rasanya bisa bertemu dengan ibu Raga secara langsung. Tapi percayalah Raga tidak akan punya rasa kecewa padamu Bu, mungkin Raga hanya salah paham saja seperti yang ibu katakan tadi."

Dan

"Anwar...   kalau kamu tidak keberatan saya ingin menulis surat juga untuk Raga."

Anwar menatap ke Arah Weni dengan serius lalu kembali mengurung kan niatnya untuk pulang dan terduduk kembali dengan posisi semula.

"Sama sekali tidak keberatan, saya akan menunggu ibu untuk menulis surat dan saya rasa hal itu lebih manis ketimbang seperti tadi. Walaupun saya tidak tahu apakah akan bertemu dengan dia lagi tapi yang jelas ibu ada niatan yang manis untuk Raga."

"Yasudah kalau gitu tunggu."

Entah benar atau tidak, entah yakin atau tidak. Weni tetap percaya jika Raga masih hidup.

***

"Apakah bapak benar benar yakin jika dia sahabatnya Raga? Apakah ada gelagat yang mencurigakan dari dia saat dia berbicara dengan bapak?"

Ucap Umbar yang malam ini sudah berada di rumah Amang. Tentunya kehadiran Umbar kali ini atas permintaan dari Amang sendiri, yang mana Amang menghubungi Umbar untuk kerumahnya malam ini juga setelah tadi siang ia bertemu dengan seseorang pemuda yang bernama Anwar dan dia mengaku sahabatnya Raga.

"Kenapa tidak langsung hubungi saya ketika bapak ketemu dengan Anwar alias sahabatnya itu. Kenapa baru sekarang?" Tanya Umbar lagi

"Saya tidak kepikiran ke arah sana. Anwar sendiri pun baru bilang kepada saya saat dia sedang menyantap baksos terakhirnya dan satu lagi saya tidak ingin berdebat dengan kau Umbar. Saya menyuruh kau kesini untuk mendengar cerita saya lalu kau selidiki sendiri."

Rupanya Umbar terlalu semangat dengan pertanyaan sendiri sampai ia lupa bahwa ia tidak memiliki kedekatan khusus dengan Amang.

"Maaf saya terbawa suasana." Ungkap Umbar dengan nada suaranya yang sengaja ia rendahkan.

"Tapi umbar, ketika saya melihat wajah Anwar entah kenapa perasaan saya seperti merasakan kehadiran Raga ada di sana. Mungkin saat ini kau akan bilang  saya ini berlebihan tapi kenyataan itu yang saya rasakan dan sebelum pergi, Dia memberikan saya berupa Amplop yang berisikan uang berserta surat yang katanya ini tulisan Raga untuk saya baca."

Namun Umbar lebih tertarik dengan isi suratnya ketimbang amplop berisi uang atau hal lainnya. Didalam surat tersebut Raga menuliskan bahwa ia begitu beruntung mempunyai seseorang seperti Amang, ketika Raga sulit selalu ada Amang yang membantu bahkan ketika dunia sudah tidak berpihak padanya diri Raga, Amang selalu memberikan dukungan positif kepada Raga. Sampai pada paragraf terakhir Raga menuliskan bahwa dirinya mungkin tidak akan bertemu dengan orang orang di masa lalu termasuk Amang, jikapun ia bertemu Raga, Raga yang dulu sudah hilang."

Ketika membaca kalimat terakhir tentunya membuat Umbar semakin penasaran dengan hilangnya Raga ini.

"Apa semua ini masih ada bersangkutan dengan ibunya Raga. Dia pun sama menerima uang dalam bentuk koper mini dan surat, tapi surat yang disana berbeda, surat yang disana adalah ancaman. Hanya saja pengirim nya bukan Anwar." Ujar Umbar yang mana kali ini giliran Amang yang penasaran tentang apa yang dibicarakan oleh Umbar ini

"Maksud kau ada orang yang melakukan ini selain Anwar?"

"Bisa dibilang seperti itu dan hal itu membuat saya semakin penasaran apa motif serta tujuan mereka. Terutama orang yang mengakui sahabat Raga. Bapak Amang apakah anda sempat meminta nomer telepon Anwar?"

"Mulai sekarang panggil aku Amang saja tidak usah ada kata bapak, anggap saja kau ini adalah kakaknya Raga."

Umbar tersenyum penuh arti.

"Baiklah mulai sekarang saya akan memanggil Amang, jadi bagaimana dengan pertanyaan ku tadi?"

"Saya tidak kepikiran kearah sana juga."

Umbar berpikir secepat mungkin

"Kalau gitu saya pinjam amplop dan surat ini untuk saya bawa ke kantor yang mana akan di analisis tes dna atau sidik jari yang masih menempel disini. Meksipun amplop dan surat ini sudah dipegang orang lain, tapi dengan analisis tes dna atau sidik jari pada suatu benda seperti ini tentunya masih bisa ditemukan siapa orang pertama yang memegang nya. Dengan hal ini pun setidaknya saya bisa mengetahui identitas Anwar ini."

"Silakan kalau bisa bawa saja beserta isinya."

Setelah mendapatkan persetujuan dari Amang, umbar langsung membukanya ranselnya yang ia bawa, di dalamnya terdapat berupa plastik zip lock yang sering ia gunakan untuk menyimpan barang agar steril dan tidak dipegang oleh yang lainnya lagi. Lalu ia masukkan amplop berserta surat yang Amang dapatkan dari Anwar kedalam plastik zip lock tersebut.

"Baiklah kalau gitu saya akan membawa semua barang memberi dari Anwar ini untuk di analisis serta menyelediki motif nya tersebut."

"Jika hasilnya sudah keluar beritahu saya secepatnya." Tegas Amang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!