Menarik!

Seperti pagi tadi yang sudah dijelaskan kepada Amang, langkah pertama yang akan dilakukan oleh Umbar yaitu mendatangi kembali sekolah Raga diwaktu siang hari. Sebelum bertemu dengan beberapa siswa yang dicurigai oleh Umbar, dirinya meminta izin terlebih dahulu kepada kepala sekolah setempat untuk kembali mewawancarai beberapa siswa yang dianggap teman Raga dan tidak lupa Umbar meminta ruangan kemahasiswaan untuk dijadikan tempat menjalankan perintahnya tanpa sepengetahuan Kapolda Hadi. Meksipun begitu, Umbar menjelaskan kepada mereka bahwa perintah ini adalah tugas tambahan dari atasannya serta menunjukkan surat tugas buatan ia sendiri agar pihak sekolah percaya. Walaupun apa yang dikatakan itu bohong dan tidak benar namun Umbar percaya apa yang sedang dikerjakan olehnya saat ini secara diam diam akan membuahkan hasil meksi akhirnya ia akan mendapatkan konsekuensi.

Sebenarnya pun Umbar bisa melakukan hal ini diluar sekolah namun resikonya lebih besar. Menurutnya seperti itu meksipun keduanya mempunyai resiko setidaknya melakukan di sekolah jauh lebih efesien dan efektif.

Dan siswa pertama yang Umbar temui untuk di wawancara yaitu Wisnu teman satu angkatannya di kelas 3 SMA.

"Seneng bertemu kembali dengan mu nak Wisnu, bagaimana kabarmu hari ini?" Umbar mulai membuka pembicaraan untuk Wisnu dengan sapaan yang begitu hangat.

Wisnu menatap Umbar dengan kebingungan. Dari cara tatapan Wisnu kepada dirinya, Umbar merasakan seperti ada yang disembunyikan dan penuh kewaspadaan.

"Saya baik pak polisi. Bagaimana dengan kabar bapak? Terus kalau boleh tahu ada keperluan apalagi bapak bertemu dengan saya dan kalau bapak bertanya tentang Raga maaf saya tidak tahu."

Sesuai dengan dugaan Umbar bahwa Wisnu akan berkata seperti ini. Tentunya hal itu pun semakin memperkuat keyakinan Umbar bahwa hilangnya Raga pasti masih ada bersangkutan dengan Wisnu.

"Kabar saya baik juga Wisnu. Soal Raga seperti yang kamu katakan tadi saya akan menanyakan sesuatu diluar kasus yang menimpa Raga apakah kamu bisa membantu saya."

"Kenapa harus saya kenapa tidak pacarnya saja Desi."

"Nanti siswi yang bernama Desi pun akan saya wawancarai kembali dan sebelum ke yang lainnya kamu yang pertama terlebih dulu, jadi gak masalah kan?"

Umbar memilih Wisnu terlebih dahulu untuk di wawancarai Alasannya karena dia yang pertama melapor kepada kepala sekolah soal obat terlarang yang berada di tas Wisnu..

Ya alasannya hanya itu.

Dan terlihat dari raut wajah Wisnu nampaknya sedikit ragu ragu menjadi siswa pertama untuk diwawancarai kembali diluar kasus Raga.

"Apakah kamu berteman baik dengan Raga?"

"Tidak, saya cuman temen biasa saja tidak terlalu dekat seperti pada umumnya teman di sekolah saja."

"Apakah kalian pernah bertengkar gara gara sesuatu selama disekolah atau semacamnya yang membuat kalian saling tidak suka sama lain."

"Pernah dan masalahnya hanya sepele yaitu gara gara main bola."

Detik berikutnya umbar terus menanyakan hal hal kedekatan Wisnu bersama Raga. Tidak seperti pernyataan sewaktu wisnu menemukan bahwa di tas sekolah Raga terdapat obat terlarang yang langsung di klaim oleh pihak sekolah bahwa memang Raga lah yang membawa obat terlarang tersebut dari sana pun pihak sekolah langsung melaporkan kejadian ini kepada pihak polisi. Salah satu polisi yang menanganinya yaitu Umbar. Namun sayangnya kasus ini sudah ditutup, tujuan umbar kali ini lebih dari itu.

Setelah selesai dengan Wisnu, Umbar lanjut mewawancarai siswa yang bernama Hanif Kelas 2 serta Nando dan Akbar satu angkatan dengan Raga yaitu kelas 3. Rata rata jawaban dari mereka semuanya sama tidak ada hal yang baru hanya saja Umbar merasa kalau ketiga siswa ini pun sama seperti menutupi sesuatu yang sebentar lagi mungkin bangkai nya akan tercium. Umbar bisa merasakan hal itu dari cara mereka menatap lawan bicara, sama seperti Wisnu seperti sedang menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui banyak orang.

Menarik.

***

"Benar kalau kamu tahu rumah orang tua Raga." Tanya Umbar

"Tahu pak tenang saja dan kenapa bapak selalu mengatakan hal seperti ini dari tadi, lagi pula sebentar lagi kita akan sampai." Desi pun keheranan dengan pertanyaan sama yang dilontarkan oleh Umbar seakan Desi ini sedang membohongi dirinya. padahal jelas jelas Umbar sekarang sedang diantar oleh siswi yang bernama Desi menuju rumahnya Raga meski harus masuk gang seperti ini.

Sampai langkah Desi berhenti lalu diikuti oleh Umbar dan mereka terdiam di depan rumah. Umbar yang langsung paham pun menatap ke arah wajah Desi seolah mata mereka berkata bahwa ini adalah rumah orang tuanya Umbar. Rumah yang memiliki cat abu pudar serta pagar besi berkarat ini di penglihatan umbar seperti tidak layak huni. Umbar berani berpikir seperti ini disebabkan rumah rumah di sekeliling nya ini penampakan tidak seperti rumah orang tuanya Raga. Kalau kata lainnya rumah ini perlu banyak direnovasi.

"Apakah tugas saya sudah selesai? Apakah saya di izinkan untuk pulang?" Ungkap Desi seolah dia sekarang ini adalah polisi.

Umbar yang mendengar hal itu pun mengangguk pelan serta berpesan kepada Desi untuk langsung pulang ke rumahnya. 

"Terimakasih nak Desi, hati hati dijalan."

Tugas Desi hanya ini. Disekolah tadi pun Umbar tidak mewawancarai Desi kembali hanya saja sebagai penggantinya Desi harus mengantarkan Umbar untuk mendatangi rumah asli orang tua Umbar.

Aneh bukan? Dia tahu alamat rumah Amang tapi dia tidak tahu alamat rumah orang tuanya Raga. Hal ini disebabkan rumah orang tua raga sendiri sering berpindah pindah maka dari itu tidak ada alamat rumah tetap di catatan sipil keluarga Raga. Bisa dibilang rumah orang tua Raga ini semacam rumah sewaan atau kontrakan jika ada uang diperpanjang dan jika telat membayar diusir.

Setelah Desi tidak ada dihadapannya lagi langkah Umbar masuk menuju kedalam gerbang berkarat dan hendak mengetuk pintu sang pemilik rumah. Lalu Umbar menyiapkan senyuman wibawa terlebih dahulu agar dia tidak dicurigai yang tidak tidak.

Kemudian Umbar mulai mengetuk pintunya dengan beberapa kali ketukan tak selang dari itu sang pemilik rumah membuka pintu dan muncul dihadapan Umbar seorang wanita berusia empat puluh tahun yang tentunya kenali.

"Selamat sore." Katanya, sambil tersenyum yang sudah di siapkan tadi.

"Sore? Anda siapa?"

"Apakah masih ingat dengan saya? Saya yang menangani kasus anak ibu bernama Raga."

Setelah Umbar berkata seperti itu wanita yang berada dihadapan ini langsung memperhatikan situasi diluar terlebih dahulu seolah memastikan apakah ada yang mengawasi mereka saat ini atau tidak Lalu detik berikutnya menyuruh Umbar untuk masuk ke dalam rumah.

Satu hal yang membuat menarik perhatian Umbar ketika masuk rumah ini adalah piala dan medali yang sepertinya sengaja di pajang oleh sang pemilik di lemari ruang tamu rumah ini. Umbar bisa memastikan jika itu milik Raga.

"Silahkan duduk. Maaf jika rumahnya terlihat tidak nyaman, biar saya buatkan minum terlebih dahulu." Ragu wanita ini.

Umbar tersenyum. Ia tidak mementingkan hal itu yang Umbar penting yakin bertemu dengan orang tua Raga.

"Tidak udah repot repot saya tidak akan lama disini."

Wanita ini pun duduk kembali

"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih telah mengizinkan masuk ke dalam rumah ini. Saya kagum dengan pajangan piala dan medali yang ada di lemari itu." Lanjut Umbar.

"Itu milik Raga, tapi sayang Raga sudah tidak ada."

"Saya paham apa maksud ibu. Kalau boleh tahu sebelum Raga menghilang seperti ini apakah ada pesan pesan tertentu kepada ibu?" Ulik Umbar. Karena kalau boleh jujur ketika orang tuanya melapor yang lebih dominan berbicara pada saat itu yaitu pria tua berkepala botak. Umbar masih ingat laporan pria itu. Namun sekarang Umbar tidak melihat pria itu berada disini.

Tentunya Umbar mengetahui jika wanita ini adalah ibunya dan pria yang di maksud tadi adalah bapaknya Raga.

"Tidak ada pak, Raga tidak meninggalkan pesan apapun kepada saya dan tentunya saya sebagai ibunya pun merasa bingung dengan hilang dan kasusnya Raga ini. Padahal dia anak baik, banyak cita cita yang ingin dia wujudkan namun semuanya sirna. seakan bumi tidak mengetahui keberadaan nya lalu ditelan begitu saja dan saya.. sekarang juga tahu, jika kasus yang menimpa Raga semuanya sudah ditutup."

Dari melihat tatapan wanita ini saja Umbar bisa merasakan jika dia tidak ada harapan apapun lagi bagi masa depan keluarganya dan Raga.

"Saya begitu prihatin atas apa yang menimpa kepada keluarga ibu terutama Raga. Apakah saya boleh tanya sesuatu?"

"Silahkan pak."

"Siapa yang memberi tahu ibu jika kasus Raga ini sudah ditutup oleh pihak kepolisian?"

"Seseorang dari kepolisian seperti bapak, dia datang kemarin di pagi hari sambil membawa surat edarannya yang mengatakan bahwa kasus anak saya ditutup. Saya hanya bisa pasrah saat mengetahui nya. Saya sadar diri kalau kita rakyat kecil. Marah dan protes pun sepertinya percuma saya lakukan terlebih anak saya masih dalam tahapan penyelidikan."

"Apakah ibu tahu ciri ciri orang tersebut? Apakah dia memakai seragam atau pakaian biasa?"

"Saya lupa detail seperti apa orang itu, tapi menurut saya lebih baik lupakan saja musibah yang menimpa anak saya ini. Sejujurnya ketika di tidak pulang ke rumah selama sebulan bukan karena saya tidak peduli mencari, tapi karena bapaknya yang mengusirnya lalu mencegah saya untuk bertemu dengan Raga dan kalau saya berani mencari Raga nyawa saya akan dibunuh, tanpa diperjelas Raga pasti mengerti." Suaranya berubah menjadi serak dan gemetar. Wanita yang bernama Weni ini seperti sedang menahan nangisnya yang tidak ingin ia tunjukkan lagi kepada siapapun termasuk kepada Umbar.

"Saya menikah dua kali dan dia bapak tirinya Raga. Bapaknya hanya butuh uang Raga saja tidak dengan orangnya. Terkadang saya ingin kabur membawa Raga dan anak saya yang kedua hasil dari pernikahan saya ini tapi entah kenapa saya selalu kalah dengan rasa takut terhadap suami saya, Raga seperti ini karena salah saya, seharusnya Raga mempunyai kehidupan yang lebih baik dari ini, maafkan ibu nak." Lanjutnya dengan suara yang masih serak dan gemetar. Namun matanya mulai berkaca-kaca tapi dengan sekejap ia menepis perasaannya itu agar air matanya tidak keluar kembali dan diakhiri dengan senyuman ikhlas weni setelah mengatakan hal ini kepada Umbar.

Umbar tentunya tersentuh, perasaan nya sekarang campur aduk.

"Bu... Saya tidak tahu jika Raga seperti ini. Yang saya ketahui Raga itu adalah orang berprestasi di sekolahnya sama persis seperti yang ibu katakan tadi. Tapi saya janji akan mencari Keadilan untuk Raga."

"Tidak usah repot repot pak. Jika takdirnya Raga sudah begini mau gimana lagi? Lebih baik bapak mengurusi hal hal yang penting dalam hidup bapak karena bapak sendiri punya masa depan yang cerah dan jangan sia siakan hal itu."

"Saya tidak percaya jika Raga ini hilang. Saya percaya kalau Raga ini diculik dan disembunyikan oleh sebuah kelompok tertentu." Sembur Umbar langsung begitu saja tanpa mempertimbangkan perkataan nya sendiri.

"Pak saya cerita tadi bukan berniat ingin dibantu lagi. Saya hanya ingin cerita saja. Lebih baik bapak pulang saja, sebelumnya saya ucapkan terimakasih juga telah perhatian kepada kami terutama Raga."

"Bu tolong dengarkan saya dulu. Mungkin saat ini ibu sudah ikhlas tapi saya yakin ikhlas nya ibu ini dipaksa oleh keadaan bukan benar benar dari hati, jadi izinkan saya berbicara dulu sebentar."

Mendengar hal itu Weni menatap wajah umbar dengan penuh keseriusan, lalu dirinya mengizinkan umbar berbicara.

"Silahkan saya dengarkan."

"Intinya saya akan tetap penyelidikan kasus Raga tanpa izin dari atasan saya. Sebenarnya saya tidak ingin berbicara rencana saya kepada ibu tapi setelah mendengar cerita tadi saya rasa apa yang akan dilakukan oleh saya ini keluarga nya harus tahu. Maka dari itu jika ada hal aneh ataupun apa hubungin saya secepatnya mungkin. Satu lagi saya ikhlas melakukan ini."

Weni terdiam sejenak lalu masuk kedalam kamar yang jaraknya tidak jauh dari ruang tamu dan kembali sambil membawa koper mini yang mana ketika Weni buka dan ia pertunjukan kepada Umbar koper itu berisikan gepokan uang pecahan seratus ribu. Umbar sendiri tidak tahu ada beberapa banyak uang di dalam koper tersebut namun Umbar rasa ini ada kaitannya dengan Raga.

"Saya tadi bilang kan bahwa pagi kemarin ada yang datang kesini membawa surat sambil mengatakan bahwa kasus Raga ditutup."

Umbar mengangguk cepat

"Malamnya datang seseorang membawa koper mini yang berisikan uang sebanyak ini. Didalamnya tidak hanya ada uang saja tapi ada surat yang mengatakan jika ada seseorang yang hendak mencari kebenaran tentang Raga maka orang itu akan dibunuh."

Weni menujukan surat yang dimaksud kepada Umbar.

Jadi ini alasan mereka ikhlas atas hilangnya Raga.

Menarik.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!